Antara Banci dan Terdampar

Posted: October 25, 2013 in Catatan

Ndy

(Migrasi Blog, tulisan asli diposting 4 Agustus 2013)

BAYANGKAN mendapat tugas mengikuti pelatihan statistik, di kota pemerintahan yang nyaris ga ada sesuatu yang menarik. Misalnya di Putrajaya, Malaysia.

Pelatihan berlangsung mulai pagi hari hingga menjelang magrib. Apa yang Anda lakukan untuk menikmati waktu di luar pelatihan?

Barangkali banyak yang memilih istirahat sendirian di kamar hotel sambil menonton siaran tv kabel. Tapi tidak bagi orang yang punya penyakit gatal-gatal berpetualang seperti gue.

Sumpah deh, kadang-kadang penyakit ini sungguh menjadi beban. Panggilan untuk keliling kota asing sama sekali ga bisa diabaikan.

Alhasil, di hari pertama ketika semua orang merasa lelah seusai pelatihan seharian, gue pergi sendirian naik bus menuju terminal Putrajaya Sentral. Ongkos bus 50 sen, harus pakai uang pas dan dimasukkan ke tempat khusus yang disediakan dekat sopir.

Kebetulan gue ga punya 50 sen. Gue masukkan 1 ringgit sambil bilang “Ga apa-apa lebih.” Lalu nyelonong aja ke belakang, langsung duduk, walaupun si sopir masih mengatakan beberapa patah kata. Gue agak kesulitan (lebih tepatnya malas mencoba) mengerti bahasa melayu :P

Di tengah perjalanan, terlihat ada tenda-tenda yang ramai. Langsung turun di halte tepat di depan lokasi tenda-tenda tersebut. Ketika itu gue ga tau ada di mana. Ga ada nama di halte bus.

Rupanya ada bazar Ramadhan tiap sore mulai pukul 4 hingga sesaat setelah magrib. Tampak deretan tenda pedagang menjajakan berbagai makanan dan minuman untuk berbuka puasa. Mirip-miriplah kayak di Indonesia.

Bazar Ramadhan Putrajaya di Presint 2

Seneng juga lihat sedikit keramaian di tengah kota yang sepi (relatif dibandingkan dengan Jakarta). Setelah puas lihat-lihat, gue melanjutkan perjalanan ke Putrajaya Sentral. Kali ini gue punya 50 sen, dari tukang cempedak goreng :D

Di Putrajaya Sentral yang lagi-lagi relatif sepi (dan jauh lebih rapi) jika dibandingkan dengan terminal Kampung Rambutan, gue cari-cari info transportasi menuju Kuala Lumpur. Rencananya di malam kedua atau ketiga gue mau ke city center-nya alias KLCC. Biarpun kurang merasa tertarik, tetep aja kalau yang namanya belum pernah ke situ, pasti penasaran juga.

Dari Putrajaya Sentral gue ambil bus dengan jalur yang berbeda dengan yang tadi sore. Bus tersebut juga melewati halte dekat hotel tempat gue menginap. Waktu itu hampir pukul setengah sembilan malam. Jalan sudah semakin sepi. Beberapa waktu kemudian tinggal dua penumpang lain yang tersisa.

Sampai sebuah halte, kedua penumpang itu turun. Situasi di luar tampak seperti halte dekat hotel tempat gue memulai perjalanan tadi sore. Gue mendekat ke sopir dan bertanya “Ini Alamanda?” Si sopir mengangguk. Gue pun ikut turun.

Beberapa detik setelah bus berlalu, baru nyadar bahwa gue salah turun. Halte di situ tanpa lampu, hanya diterangi lampu jalan yang remang-remang. Ga ada nama halte. Papan nama jalan juga ga nampak.

Kurang lebih seperti ini halte bus di Putrajaya. Ga ambil foto sendiri karena kurang terlatih jadi pewarta foto. Saat krisis malah lupa moto. (Sumber : skycrapercity.com)

Mau nanya orang, ga ada satu pun manusia yang terlihat. Kalau jin mungkin ada, sayang ga kelihatan. Mobil hanya sesekali lewat. Tidak ada satu pun di antaranya berupa taksi.

Pukul setengah sembilan lebih sedikit, jalanan udah kayak jalan depan komplek rumah gue pukul 12 malam. Merinding juga lama-lama.

Mau menelepon hotel minta dipesankan taksi, gue ga tahu ada di mana. Akhirnya cuma bisa pasrah nunggu bus berikutnya, duduk sendiri di kegelapan. Hampir setengah jam nunggu, nongol juga tuh bus. Gue bertanya ke sopir, memastikan bus itu lewat tempat tujuan gue. Cuma ada gue dan seorang penumpang di situ. Kali ini gue duduk di depan, supaya kelhatan sopir.

Penumpang lain turun di suatu tempat. Lalu si sopir mulai mengajak ngobrol. Gue menimpali dengan kadang-kadang kayaknya ga nyambung karena gue ga ngerti pertanyaannya :P

Setidaknya kali ini gue yakin ga akan salah turun. Bener aja, begitu sampai tujuan, sopir itu berkata, “Nah, sudah sampai, ini Alamanda.” Lega juga akhirnya bisa sampai hotel lagi. Kaki udah pegel soalnya…maklum udah mulai uzur :p

Kembali gue diingatkan betapa sulitnya orang asing atau yang belum pernah ke Jakarta bila harus bepergian menuju satu tempat ke tempat yang lain memakai kendaraan umum. Halte ga ada nama dan ga ada pula keterangan jalur-jalur bus. Semua itu kelihatannya remeh, tapi merupakan penentuan ‘hidup dan mati’ buat orang asing…Lebaaaay..

Eh, udah selesai nih win? Kok ga ada cerita banci?
Oiya, maaf, banci itu hanya sisipan. Waktu pelatihan dibagikan pulpen yang bertuliskan ‘BANCI PENDUDUK DAN PERUMAHAN 2010 JABATAN PERANGKAAN MALAYSIA’ yang bikin ketawa. Ga ada pikiran sama sekali bahwa ternyata ‘banci’ itu artinya ‘sensus’ dalam bahasa Malaysia.

Setelah ini, mohon jangan cengar-cengir kalau didatangi petugas banci, eh, sensus ya. Serius dikit napa.

****

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s