Atas Nama Hukum

Posted: October 25, 2013 in Catatan

Ndy

(Migrasi Blog, tulisan asli diposting 14 Februari 2013)

SEBENARNYA judul di atas ga terlalu merefleksikan cerita berikut. Itu diambil dari salah satu judul komik Agen Polisi 212 yang pernah gue baca jaman masih kecil. Sekarang sedang gue baca ulang dan tampak tambah kocak.

Eniwei, karena cerita ini melibatkan polisi, jadi masih boleh lah ya pake judul ‘Atas Nama Hukum’ :D

Januari 2008, musim dingin. Pukul 2 dini hari, gue bersama tiga teman lainnya menunggu kedatangan bus Public Express di halte. Kami hendak menuju Bandara Bremen untuk selanjutnya menaiki penerbangan paling pagi ke Budapest.

Pemandangan dari sebuah bukit menghadap Sungai Potamac dengan Jembatan Rantai yang melintasinya. (Budapest, Januari 2008)

Bus seperti biasa datang tepat waktu. Di perjalanan, kami ga banyak mengobrol. Dari Groningen ke Bremen, waktu tempuh menumpang bus Public Express adalah hampir 3 jam. Biasanya bus akan tiba di bandara sebelum pukul 05.00.

Saat itu mungkin sekitar pukul 03.00, ketika bus dihentikan oleh mobil polisi. Gue sudah mengira bahwa polisi Jerman hendak memeriksa identitas/paspor penumpang. Posisi bus waktu itu tidak begitu jauh dari perbatasan Belanda-Jerman.  Sebelumnya gue juga udah pernah mengalami.

Polisi menghentikan bus di spot yang sama. Bus digiring masuk ke pelataran pos polisi.  Satu per satu para penumpang menunjukkan identitas kepada seorang polisi yang masih muda. Khusus warga negara asing dimintai paspor untuk kemudian mereka bawa ke pos.

Lima menit, 10 menit, 15 menit..kami mulai gelisah karena si polisi tidak kunjung datang untuk mengembalikan paspor. Jelas aja gelisah karena kami terancam ketinggalan pesawat yang akan berangkat pukul 6 pagi.
Apalagi sebelumnya pemeriksaan ga berlangsung selama itu.

Akhirnya si polisi datang juga. Ia langsung mendatangi tempat duduk kami. Dengan tempo bicara yang agak lambat ia berkata dalam bahasa Inggris, “Maaf sepertinya ada masalah dengan paspor-paspor Anda. Visanya…”

“Sudah kedaluarsa. Iya, kami tahu. Kami ada resident permit,” kata gue dan teman gue sambil berbarengan mengeluarkan kartu ijin tinggal terbitan kantor kependudukan Belanda.

Polisi itu mengangguk. Lalu membawa pergi lagi kartu-kartu kami. Huaahhhh, gimana ga makin senewen. Masih berapa lama lagi harus menunggu, pikir gue.

Kami menggerutu kenapa polisi itu ga sekalian minta resident permitnya. Barangkali yang lebih pas adalah kenapa kami ga menyerahkan dari awal. “Abis dia mintanya paspor. Ga kepikiran ngasih resident permit,” kata seorang teman. Hehehehe…ga mau donk nyalahin diri sendiri.

Lima menit kemudian si polisi kembali lagi. Ia mengembalikan kartu-kartu ijin tinggal kami dan mengatakan semuanya beres. Lalu ia turun dari bus dan memberi isyarat kepada sopir untuk berangkat.

Meski sedikit lega, rasa was-was bahwa kami akan ketinggalan pesawat tetap menghantui. Gue ga bisa tidur selama sisa perjalanan. Beruntung ternyata kami ditakdirkan untuk menginjak Budapest. Kami tiba ketika counter check in untuk penerbangan ke sana belum ditutup.

Satelah semuanya beres, ketika sedang menunggu masuk pesawat, mulailah gue berpikir. Sesungguhnya kami benar-benar sangat beruntung. Apa yang kami lakukan di bus tadi bisa saja disebut ‘mempermainkan’ polisi. Meskipun tidak ada niatan sama sekali untuk itu.
Tapi yang namanya pihak berwenang, apalagi kalau merasa kesal karena (mungkin) harus memverifikasi passpor kami ke sana kemari, bukan hal mustahil bila kemudian memutuskan untuk menahan kami.

Untung polisi Jerman sabar dan baik hati. Ga kayak si Agen Polisi 212, polisi Belgia yang gampang naik darah dan kadang suka mencari-cari kesalahan orang :p

Cuplikan komik Agen Polisi 212

Belum selesai nih ceritanya. Trip Budapest itu ternyata disertai dag-dig-dug takut ketinggalan pesawat tidak hanya berangkatnya. Pulangnya juga.

Di hari kepulangan, kereta yang mengantar kami ke bandara tidak memasang keterangan nama stasiun tempat tiap kali berhenti. Kondektur pun ga nampak batang hidungnya dari mulai kami naik. Penumpang lain juga ga kelihatan, ga ada yang bisa kami tanya.

Jadi ketika merasa sudah dekat, kami harus memperhatikan stasiun di luar, mencari nama stasiun. Kuno,  seperti kereta antarkota KAI tiga tahun yang lalu.

Ga nemu kondektur sama dengan tidak bayar tiket, karena tiket bisa dibeli di kereta. Padahal udah nenteng-nenteng recehan forint yang jumlahnya pas buat bayar tiket :p

Di sebuah stasiun yang keliatannya agak besar, kami turun, dengan merasa ragu. Ternyata memang belum sampai bandara. Tapi kereta sudah telanjur berangkat lagi.

Menunggu kereta berikutnya jelas tidak mungkin, pasti terlambat. Kami melihat keterangan jalur kereta. Stasiun bandara berjarak satu stasiun lagi.

Berdasarkan pengalaman saat baru tiba di Budapest, waktu tempuh antara stasiun bandara dan stasiun berikutnya tidak lama, mungkin sekitar 5-10 menit. Kami memutuskan meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki, menyusuri rel kereta. Berharap tidak terlambat sampai bandara.

Sumpah deh, kalau ada yang nge-shoot kami berjalan di sebelah rel sambil memanggul ransel, pasti mirip banget film Lima Sekawan..huehehehe… Bedanya, kami berempat ga nuntun anjing :D

Teman-teman seperjalanan trip Budapest di seberang funicular, sebelah terowongan, yang tarifnya (rasanya) kemahalan. (Budapest, Januari 2008)

Entah berapa lama kami berjalan, yang jelas akhirnya sampai juga di bandara. Tentunya dengan girang, karena ternyata masih ada cukup waktu bagi kami untuk check in.

Selanjutnya semua lancar. Perjalanan itu pun berakhir dengan menyisakan kenangan yang tidak terlupakan.

****

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s