Balada Tiket Bekas

Posted: October 25, 2013 in Catatan

Ndy

(Migrasi Blog, tulisan asli diposting 5 Oktober 2012)

“Ini karcisnya beli di mana, Pak?”
“Di bandara tadi, yang jual mbak-mbak.”
“Tapi ini karcisnya udah dipakai. Jurusannya Rambutan pula. Ini bisnya kan ke Blok M. Kondekturnya bisa nombok nanti, kasihan.”

Keributan itu terdengar dari deretan bangku paling belakang di bus Damri yang gue tumpangi. Gue baru saja menempuh perjalanan dari Solo ke Jakarta dan sedang menuju kantor di bilangan Kedoya.

Saat mendengar suara sahut menyahut di belakang, gue menoleh. Sang sopir bus sedang memegang potongan tiket berwarna putih.
Di hadapannya duduk bapak-bapak agak tua.

Si bapak berkukuh mengatakan tiket tersebut dia beli di bandara. Sedangkan si sopir berusaha meyakinkan bahwa tiket tersebut adalah tiket bekas. Segi untuk kondektur sudah dirobek.
Lagipula, menurut Pak Sopir, tiket yang dijual di bandara berwarna kuning. Sedangkan yang putih adalah karcis yang didapat dengan membeli di atas bus.

Bapak itu tetap ngotot bahwa dia baru saja membeli tiket tersebut. Dengan nada yang lebih halus, sopir bus meminta si bapak memeriksa kembali kantongnya, mungkin tiket yang dibelinya terselip.
Permintaan itu diturutinya. Si bapak mengeluarkan semua isi kantongnya.

“Nahh, yang itu bener Pak karcisnya,” ujar Pak Sopir ketika menyaksikan si bapak melepaskan kertas berwarna kuning dari lembaran-lembaran uang kertas.
“Ooh, maaf, saya yang lupa.”
Semua tertawa lega. Belakangan diketahui bahwa si bapak datang ke bandara dengan menggunakan bus Damri dari Kampung Rambutan. Jadi, tiket yang ditunjukkannya di awal memang tiket bekas.

Lembar tiket bus Damri yang dibeli di Bandara. Tiket yang dijual di bus berwarna putih. (Jakarta, Oktober 2012)

Gue tersenyum melihat kejadian itu. Teringat peristiwa yang hampir serupa menimpa gue dan 2 orang teman beberapa tahun yang lalu.

Musim semi 2008. Kami tiba di Bandara Beauvais, sekitar 85 km dari pusat Kota Paris, Prancis. Untuk menuju ke pusat kota, kami hendak memakai layanan bus transfer bandara.

Belilah kami tiket bus di loket yang tersedia. Gue ga ingat berapa harga tiketnya ketika itu. Tapi sekarang harganya 15 euro (sekitar Rp180 ribu)  untuk sekali jalan.

Tiga tiket sudah di tangan. Sambil menunggu waktu keberangkatan bus kami mengobrol. Tidak lama kemudian, kami pun menuju ke bus yang sudah siap berangkat. Gue yang memegang tiket naik duluan dan menyerahkan tiket ke sopir.

Sang sopir sejenak mengamati tiket-tiket tersebut. Kemudian ia memanggil petugas yang ada di dekat bus, berbicara sebentar dalam bahasa Prancis dengan si petugas sambil menunjukkan tiket yang dipegangnya.
Si petugas kemudian bertanya ke gue (dengan bahasa Inggris) di mana kami membeli tiket itu. Dia bilang tiket itu tidak bisa dipakai.

Tentu saja kami kaget bin bingung, ga mengerti kenapa tiket yang baru kami beli dikatakan ga bisa dipakai.
Kami diminta menunjukkan lokat tempat kami membeli tiket-tiket tersebut. Si petugas tampak berbicara dengan penjaga loket. Kemudian kembali ke bus berbicara lagi dengan sopir bus.

Selanjutnya, ia mencoba menjelaskan kepada kami bahwa tiket-tiket itu tidak valid karena tidak utuh. Ada bagian yang hilang.
Gue tiba-tiba tersadar.

Tiket itu memang tidak utuh lagi. Karena waktu menunggu jam bus berangkat, gue iseng-iseng  merobeki bagian pinggir atas tiket. Tahu kan bentuk tiket pada umumnya? Segi untuk penumpang/konsumen dengan segi untuk awak/panitia dipisahkan garis lubang-lubang kecil. Fungsi lubang-lubang kecil itu agar tiket mudah disobek.

Gue mengira bagian atas tiket bus cuma tambahan, ga penting. Soalnya lebarnya hanya sekitar setengah cm.
Segi yang gue robek, gue buang ke tempat sampah.

Saat gue menyadari kesalahan itu, ada lagi yang bikin gue kayak disamber geledek. Btw, ini cuma istilah aja lho, bukan berarti gue pernah disamber geledek :p
Gue teringat bahwa tempat sampah tempat gue membuang sebagian tiket adalah yang bersifat portabel, alias yang didorong-dorong petugas sampah. Ga menetap di satu tempat.
Kebetulan petugas sampah memarkirnya di dekat kami.

Dengan cemas kami bergegas menuju tempat ‘parkir’ tersebut. Gue sebenarnya udah agak hopeless. Menurut gue agak ga mungkin si petugas sampah memarkirnya selama itu.
Makanya begitu melihat ‘sosok’ tempat sampah tersebut, wajah gue langsung cerah. Tanpa berpikir panjang langsung ‘ngudek-ngudek’ isinya.

Alhamdulillah…ketemulah bagian-bagian tiket yang kami cari. Ga jadi deh beli tiket lagi :p

Kami cepat-cepat kembali ke bus dan menyerahkan potongan kecil tiket-tiket tersebut ke sopir. Sang sopir mengangguk dengan muka datar. Tanpa memedulikan pandangan penumpang-penumpang bis lainnya, kami langsung masuk ke belakang bus dan duduk. Terbayang kekesalan penumpang-penumpang lainnya karena kami sudah membuat keberangkatan bus tertunda sekian lama.
Tapi yang penting lega rasanya…

Saat-saat paling menyenangkan = traveling gaya bebas, terutama bareng UK traveling team. (Paris, April 2008)

Bener-bener gue merasa bodoh banget. Itu menjadi salah satu pengalaman traveling gue yang menancap dalam ingatan. Suatu memori yang menguatkan pendapat bahwa seringkali perjalanan justru lebih tidak terlupakan ketimbang destinasinya. Apalagi Paris, cuma gitu doank kok. Overated

*****

Advertisements
Comments
  1. infan says:

    tangan iseng memang dari kecil….urek2 sebuku penuh seakan jadi wartawan :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s