Ke Singapura Beli Sepatu

Posted: October 25, 2013 in Sela

Ndy

(Migrasi Blog, tulisan asli dipsoting 26 Maret 2012)

DULU…duluuu banget. Waktu baru lulus kuliah S1 di Bogor. Belum wisuda dan belum dapat ijazah. Hanya berbekal surat keterangan lulus. Gue diterima kerja di sebuah perusahaan UKM yang bergerak di bidang ekspor kerajinan.

Titel posisinya adalah staf administrasi. Saat wawancara ditawari gaji Rp200 ribu per bulan. Gue terima aja, itung-itung buat pengalaman.

Sebagai perbandingan, waktu itu gaji pembantu di rumah juga segitu. Bapak dan ibu tertawa waktu gue bilang digaji segitu. Tapi seperti biasa mereka memberi kebebasan. Terserah gue yang mau menjalani.

Ternyata pekerjaannya lebih mirip sekretaris atau asisten pribadi. Gue harus mendampingi si ‘bos’ ke mana-mana. Mulai dari memberi ceramah, mengajar, menengok show room sampai belanja dengn istri dan pembantunya.

Sebagaimana sekretaris, gue harus terbiasa pakai kostum blouse, rok span pas lutut dan sepatu hak tinggi. Setiap hari berangkat saat matahari belum terbit dan pulang setelah magrib.

Perjalanan pulang perlu waktu 2 jam, hampir selalu berdiri di bis. Lanjut naik angkot. Begitu turun dr angkot di depan komplek, sepatu langsung gue lepas dan gue tenteng sampai rumah. Iyalah, nyeker…rasanya nyaman banget terbebas dari sepatu yang menyiksa itu.

Suatu waktu si ‘bos’ bilang kalau bagus kerja gue, 3-4 tahun lagi akan diajak ke Singapura berjalan-jalan dengan keluarganya. ‘Nanti kamu bisa beli sepatu, bagus-bagus di sana.’ Sepertinya dia bilang begitu setelah melihat keadaan sepatu gue. Ga ngerti deh, mungkin jelek banget tuh sepatu…pantesan menyiksa :p

Iming-iming ‘beli sepatu di Singapura’ sama sekali ga menggugah minat gue pergi ke sana. Lagipula masa suruh kerja yang bagus selama bertahun-tahun hanya supaya bisa beli sepatu di Singapura. Ga ada yang lebih menarik apa? :p

Kenyataannya gue cuma betah kerja dengannya selama 1,5 bulan. Masalahnya bukan sekadar soal kostum ataupun gaji. Tetapi lebih karena perilaku si ‘bos’ yang tidak segan membentak-bentak  saat menurut dia gue melakukan kesalahan.

Sampai sekarang, meski sudah berkali-kali ke Singapura, dalam rangka tugas liputan, ga sekalipun gue pernah beli sepatu di sana. Lagipula di Jakarta juga banyak…

 

****

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s