Kecele

Posted: October 25, 2013 in Catatan

Ndy

(Migrasi Blog, tulisan asli diposting 8 Februari 2012)

CERITA berikut ini adalah kisah perjalanan favorit gue, setidaknya sampai tulisan ini di-publish. Sudah pernah gue publish di blog terdahulu, jadi beberapa teman mungkin sudah membacanya.

Atau, pernah mendengar cerita dari gue. Maklum kisah favorit, makanya sering gue ungkit-ungkit :p

Buat para backpacker menginap di bandara mestinya merupakan hal biasa. Tapi, pernahkah menghabiskan separuh malam (bagian dini harinya) di luar bandara, di tengah musim dingin?

Rasanya begini…

13 Januari 2009. Kuliah hari itu akhirnya selesai juga. Bergegas gue balik ke kos dan bersiap berangkat ke stasiun kereta. Tujuan : Bandara Eindhoven, lalu lanjut ke Pisa, Italia. Tiket sudah di tangan. Solo travelling.

Karena penerbangan pagi, yaitu jam 08.50, gue berencana menginap di bandara. Jika gue berangkat langsung dari Groningen esok paginya, tidak akan terkejar. Kereta paling pagi jam 5, sedangkan perjalanan ke Eindhoven memakan waktu sekitar 3 jam. Gue ga punya kenalan di Eindhoven, jadi opsi menginap di sana tidak menjadi pertimbangan.

Gue sengaja memilih kereta yang ketibaan di Stasiun Eindhoven-nya sekitar jam 10 malam. Kemudian ikut bis terakhir ke bandara. Maksudnya supaya ga terlalu lama ngendon di bandara.

Sesampai di halte bandara, yang tampak seperti halte di perumahan, gue turun. Hawa dingin langsung menerpa. Agak ragu sebenarnya karena di luar situasinya hampir gelap gulita. Sebelumnya gue belum pernah terbang dari Bandara Eindhoven.

Tapi memang itulah halte bandaranya.

Bagian depan Bandara Eindhoven, Belanda. Foto diambil dari http://www.fids.com/?page_id=16

Gue perhatikan sekeliling, mencari petunjuk arah menuju bandara. Setelah terbiasa dengan pencahayaan yang remang-remang, baru ketemu tulisan gede-gede ‘Eindhoven Airport’ di atas gedung tepat di seberang halte. Gedung itu gelap gulita.

Deg! Tertegun gue melihatnya. Gue sama sekali ga kepikiran bahwa bandara itu tutup di malam hari. Selama ini mengira semua bandara di Belanda buka 24 jam.

Ya Tuhan! Gimana nih? Sambil berusaha ga terkena serangan panik, gue memeriksa sekeliling. Sepi banget. Jangankan orang, anjing aja ga ada. Persis kayak di film2 zombie, tapi minus zombienya.

Gue sampai pada keadaan bahwa gue harus menerima kenyataan. Dengan kata lain, mesti menunggu di luar gedung sampai bandara buka. Mau balik ke stasiun ga bisa karena udah ga ada bis. Lagipula stasiun juga tutup setelah kereta terakhir.

Di saat begitu gue menguatkan diri sendiri. Pasti ada penerbangan lebih pagi. Bandara mestinya sudah buka sebelum jam 6. Gue menengok jam, kalo ga salah waktu itu sudah pukul 12 lewat. Berarti, ‘hanya’ sekitar 5 jam gue menunggu di luar. Ga terlalu lamalah.

Gue mencari tempat yang cukup nyaman untuk menunggu. Ada deretan kursi di depan gedung. Tapi kursinya terbuat dari besi, jadi dingin sekali. Batal deh duduk di situ.

Akhirnya gue memilih spot di belakang deretan kotak pos dekat tembok samping gedung. Biar agak terlindung dari angin sekaligus bisa duduk nyender di tembok.

Hawa semakin dingin. Saat itu gue memakai kaos dua lapis plus jaket. Kaos kaki juga lapis dua, dengan sarung tangan. Tapi tanpa syal di leher.  Tudung jaket gue naikkan ke kepala supaya sedikit lebih hangat.

Gue ga tau pasti berapa suhu di luar. Selama beberapa malam sebelumnya, suhu selalu di bawah nol derajat. Tetapi gue merasa suhu ga sedingin malam-malam sebelumnya, jadi bisa saja sekitar 2-3 derajat celsius.

Mungkin sudah sekitar 10 menit gue duduk-duduk sambil baca e-book, ketika terdengar suara orang bercakap-cakap. Suara itu semakin dekat. Kemudian terlihat dua sosok muncul dari balik tembok gedung.

Gue berdiri dan menyapa ketika mereka sudah dekat. Rupanya kedua orang cowok itu turis Italia. Mereka menempuh perjalanan pulang pergi hari itu dari Pisa ke Eindhoven. Mumpung tiketnya murah, kata salah satunya.

Potongan bookingan tiket online ke Pisa pp. Special offer

Sama seperti gue, mereka ga menyangka kalau Bandara Eindhoven ga buka 24 jam. Makanya mereka ga memesan penginapan. Setelah puas jalan-jalan di kota, mereka balik ke bandara pakai bis terakhir. Ternyata masih ada bis lagi setelah yang gue naiki.

Kami bercakap-cakap selama beberapa lama, kemudian terdiam, seakan meresapi dingin yang menyengat. Salah seorang dari mereka sempat menawari gue rokok. “Untuk menghangatkan badan,” katanya. Gue menolak sambil mengucapkan terima kasih.

Mereka bercakap-cakap dengan bahasa Italia. Kadang tertawa cekikikan. Dari bau asap yang tercium seperti ada sedikit ganja di rokok yang mereka hisap.

Sepanjang malam itu gue lewati dengan membaca.  Beberapa kali gue terpaksa berdiri dan berjalan-jalan sebentar karena jari-jari kaki dan tangan mulai kebas. Sekarang pertanyaannya, apakah ga terasa pingin pipis? Ya iyalah…Ini yang lupa gue ceritakan dalam tulisan di blog terdahulu.

Di satu waktu pada malam itu, rasanya udah ga tertahankan mau buang air kecil. Gue pura-pura berjalan-jalan untuk mengurangi rasa dingin. Sambil membawa sebotol air mineral, santai gue jalan melipir ke belakang. Terlihat hidung pesawat di balik pagar non-permanen yang terbuka. Gue melewati pagar itu, lalu menunaikan buang air kecil pas di dekat pesawat kecil itu.

Di antara yang membaca tulisan ini mungkin ada yang pernah pipis deket mobil. Tapi pasti belum pernah pipis deket pesawat. Iya kan? hahahaha…malam yang ajaib.

Sekitar pukul setengah 5 kabut mulai turun. Bandara buka sekitar pukul 5 pagi. Sejumlah calon penumpang tampak berdatangan. Lega rasanya. Berasa peserta uji nyali :p

Sudah selesaikah ujiannya? Belum. Setelah beberapa lama menunggu counter check in buka, ada pengumuman bahwa penerbangan ke Pisa yang hanya satu-satunya hari itu dibatalkan karena cuaca yang berkabut. Hhhhh…cape deh.

Pihak maskapai kemudian menawari calon penumpang dua alternatif. Terbang ke Pisa keesokan harinya atau ganti rute, ke Roma, dengan jam penerbangan menjelang tengah hari. Tanpa berpikir panjang, gue memilih alternatif kedua. Agak girang juga sih, karena tujuan utama gue ke Roma.

Semula rute yang gue rencanakan adalah Pisa, kemudian langsung naik kereta ke Roma. Di Roma menginap 2 malam,  setelah itu ke Florensia, menginap dua malam dan terakhir kembali lagi ke Pisa. Tiket pesawat yang gue pegang untuk perjalanan pp Eindhoven-Pisa. Harga tiket 11,01 euro, atau sekitar Rp150 ribu dengan kurs waktu itu.

Pengalihan rute ke Roma tentu saja berita gembira. Gue sebenarnya agak khawatir akan jatuh sakit akibat terlalu lama mendekam di suhu mendekati nol derajat celsius. Tapi udah kepalang tanggung. Gue ga mau balik sebelum menginjak Roma.

Kamar hostel di Roma lengkap dengan tv layar datar. (Roma, Januari 2009)

Tempat tidurnya. Kapasitas kamar : 2 orang. (Roma, Januari 2009)

Plus shower dengan air hangat. Harga : 7 euro (sekitar Rp90 ribu) semalam. (Roma, Januari 2009)

Sampai di kamar hostel di Roma yang sudah gue pesan sebelumnya, rasanya lelah sekali. Setelah mandi air hangat, gue hanya tiduran di kasur sambil nonton tv. Sama sekali ga berminat keluar. Teman sekamar gue, cewek India, sampai heran. Dia bilang, “You are in Rome and you want to spend the rest of the day staying in the room?”

Gue ketawa dan bilang ke dia bahwa gue ngantuk. Besok saja jalan-jalannya.

Jadi sekarang ketauan ya, sebenarnya kegiatan favorit gue adalah tidur. Bukan jalan-jalan :D

****

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s