Kereta nan Panjang

Posted: October 25, 2013 in Catatan

Ndy

(Migrasi Blog, tulisan asli diposting 13 Oktober 2012)

MEMENG menyambut prospek menempuh perjalanan selama 17 jam dengan kereta api. Itu tema kondisi mental gue saat ini.

Memeng (baca dengan pengucapan ‘e’ seperti di kata ‘seru’) artinya apa? Ibu seringkali memakai kata tersebut ketika menghadapi suatu pekerjaan/kegiatan yang seakan tidak bakal ada akhirnya.

Bermula dari keinginan gue untuk menjajal moda transportasi kereta api jarak jauh yang konon kabarnya sudah jauh lebih manusiawi ditambah berbagai fasilitas tambahan. Bahkan, naik kereta ekonomi (katanya) juga nyaman.

Kira-kira bagaimana ya sekarang rasanya menumpang kereta Martamaja ke Malang. Penasaran banget.
Keluarga gue punya kenangan tersendiri dengan kereta ekonomi yang satu itu. Duluuu, saat kami pindah dari Malang ke Jakarta, Martamaja-lah yang mengantarkan. Hampir satu gerbong kami pakai karena selain kami sekeluarga ada sanak saudara yang turut mengantar.

Setelah menggali info sana sini tentang kereta menuju Malang, akhirnya gue mengurungkan niat memakai kereta Martamaja. Terlalu sempit sepertinya dan durasinya 18 jam 21 menit (fiuuhh!).

Pilihan gue berpindah ke kereta ekonomi Majapahit. Biarpun kelas ekonomi, Majapahit setara dengan kelas bisnis sehingga tempat duduknya lebih jarang-jarang ketimbang Martamaja. Durasi perjalanannya juga lebih pendek hampir 1,5 jam.

Konfirmasi pembayaran tiket kereta Majapahit dari PT KAI.

Konfirmasi pembayaran tiket sudah di tangan. Sekarang yang terpikirkan adalah apa yang gue lakukan sepanjang perjalanan, selain tidur tentunya. Pasti bosan banget. Apalagi gue akan pergi sendirian. Memeng!

Terbayang perjalanan terpanjang gue dengan menggunakan kereta api beberapa tahun lalu, membelah Jerman menuju Salzburg, Austria. Ketika itu gue bersama tiga teman manfaatkan tiket wiken yang bisa digunakan untuk perjalanan memakai kereta jenis RE di seluruh wilayah Jerman.

Kereta di Jerman pada dasarnya ada tiga jenis, yakni RE/ME/RB (local transport), IC dan ICE. RE sama dengan kelas ekonomi, IC kelas bisnis dan ICE kelas eksekutif. ICE merupakan jenis kereta Jerman yang disebut-sebut setara dengan kereta super cepat kondang asal Prancis yang bernama Thalys.

Kalau tidak salah, dulu harga tiket wiken 33 euro (sekitar Rp400 ribu). Satu tiket berlaku untuk 1 hingga 5 orang. Perjalanan bisa dilakukan sepanjang hari di Sabtu atau Minggu. Begitulah cara jawatan kereta api Jerman, DB Bahn,  berpromosi sekaligus mendorong lebih banyak orang bepergian dengan kereta. Terutama di akhir pekan.

Tiket wiken itu kami kombinasikan dengan tiket kereta IC berharga promo untuk jurusan Munich-Salzburg. Perjalanan dari Bremen (kota besar di Jerman yang paling dekat dengan Groningen, Belanda) hingga Munich memakai tiket wiken.

Berangkat dari stasiun Groningen Centraal pagi-pagi buta sampai Bremen Hauptbanhof. Kemudian berganti kereta Jerman.

Sebelum berangkat, seorang teman sudah mencatat info keberangkatan kereta. Info tersebut meliputi kapan kami harus pindah kereta, berikutnya naik kereta jurusan mana dan pukul berapa.

Itulah enaknya merencanakan perjalanan naik kereta di negara maju. Tinggal memasukkan stasiun keberangkatan pertama dan stasiun akhir, ditambah jam keberangkatan awal, situs jawatan kereta langsung menampilkan rute perjalanan dengan lengkap.

Semua perjalanan kereta berlangsung tepat waktu. Apakah benar demikian? Normalnya sih iya. Tapi entah kenapa setelah separuh perjalanan kami ketika itu, jadwal kereta menjadi berantakan. Kami menduga ada hubungannya dengan pertandingan sepakbola yang berlangsung entah di mana. Karena di perjalanan kami berpapasan dengan rombongan-rombongan suporter sepakbola dengan segala atribut mereka.

Kereta yang seharusnya tiba pukul sekian tidak kunjung datang. Akibatnya kami harus mengubah rute dan berpindah-pindah kereta mungkin sampai 10 kali. Padahal menurut jadwal semula, kami ‘hanya’ perlu berpindah kereta 5 kali. Hingga akhirnya kami tiba di Munich ketika hari sudah larut malam.

Gaya menunggu di stasiun kereta. Pemandu biasanya yang paling sibuk, seperti menelepon untuk memastikan penginapan sudah siap. (Munich Hbf, Mei 2008)

Kami memang sudah berencana menginap di Munich. Esoknya menjelajah Munich dengan metode Jalan Bego, yakni memakai jasa Free Walking Tour-nya Sandeman. Kemudian menghabiskan hampir sejam lamanya menikmati pertunjukkan grup pengamen yang keren abiss! Ya pengamennya, alat musiknya, dan lagu-lagunya, semuanya top banget. Bikin betah :D

Gimana ga bikin betah kalau pengamennya kayak gini…(Munich, Mei 2008)

Pengamen Munich

Dari Munich, kami kembali menempuh perjalanan dengan kereta, menuju Salzburg. Kali ini yang kami naiki adalah kereta IC yang hanya perlu ganti kereta sekali.

Dua malam kami menginap di Salzburg. Menikmati suasana kota yang menjadi tempat kelahiran Mozart dan lokus film klasik musikal The Sound of Music.

Tibalah saat kami harus pulang: naik kereta lagi! Baru mau berangkat sudah dihadapkan pada masalah. Keberangkatan kereta IC yang mestinya kami tumpangi molor. Kalau kami tetap menunggu kereta itu berangkat, kami pasti ketinggalan kereta IC yang berikutnya. Sedangkan tiket yang kami beli spesifik untuk kereta dan jam keberangkatan tertentu.

Kereta yang siap berangkat saat itu adalah ICE. Kami pun menyampaikan masalah tersebut kepada kondektur dan menanyakan apakah kami bisa menumpang kereta ICE dulu. Toh, kesalahan bukan berada di pihak kami.

Sang kondektur tanpa banyak berpikir langsung mengiyakan. Ia mempersilakan kami naik. Wuiihhhh…masalah membawa keberuntungan. Kapan lagi bisa nyobain kereta yang kelasnya paling mahal di Jerman. Dengan girang kami memasuki kereta dengan susunan kursi sangat longgar itu.

Sekitar sejam lamanya kami menikmati perjalanan dengan ICE. Selanjutnya pindah ke IC dan berpindah-pindah kereta RE. Udah mati rasa waktu itu. Rasanya eneg banget naik kereta.

Suasana di dalam ICE

Setelah pindah ke kereta IC…Ternyata masih ada yang menikmati perjalanan.

Sesampainya di kosan, di Groningen, gue berniat ga mau naik kereta lagi. Suatu niat yang tentu saja ga bisa terwujud, mengingat perjalanan antarkota di Belanda didominasi moda kereta api. Sedangkan waktu itu gue masih satu tahun lagi tinggal di situ.

Kini, gue menghadapi prospek perjalanan yang mirip. Meski mungkin agak lebih pendek durasinya, tapi perjalanan menumpang kereta ekonomi Majapahit akan lebih membosankan. Soalnya, ga pake pindah-pindah kereta dan tanpa teman seperjalanan.
Oh well, daripada penasaran mungkin lebih baik menanggung rasa bosan. Semoga demikian adanya.

****

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s