Kosong Lebih Nikmat

Posted: October 25, 2013 in Catatan

Ndy

(Migrasi Blog, tulisan asli diposting 1 November 2012)

Masih ingat dengan kegalauan gue ketika menghadapi prospek perjalanan menumpang kereta api (KA) kelas ekonomi? Hasilnya adalah sebuah tinjauan  perjalanan yang menjadikan kereta api (KA) ekonomi Majapahit jurusan Pasar Senen, Jakarta – Stasiun Malang, Jawa Timur, sebagai obyek utama.

Sebagai informasi, perjalanan dari Senen ke Malang memakan waktu 17 jam 6 menit. Itu kalau sesuai jadwal. Praktiknya, ketika gue menjajal, ketibaan kereta molor hampir setengah jam. Berangkat tepat pukul 15.05 WIB. Tapi baru tiba pukul 08.35, dari yang seharusnya 08.11.

Tiket Online

Dimulai dari pembelian tiket yang kini sudah bisa dilakukan melalui internet. Metode pembayarannya pun sudah bisa pakai kartu kredit, bukan hanya transfer ATM. Itu semua difasilitasi dalam laman daring resmi PT Kereta Api Indonesia (KAI), http://www.kereta-api.co.id.

Bahkan calon penumpang bisa memilih tempat duduk bila membeli tiket melalui salah satu mitra pejualan tiket KAI, http://www.tiket.com. Perbedaannya ada di biaya adminstrasi. Jika membeli di laman KAI, biayanya sekitar Rp7.500 (transfer atm) – Rp10 ribu (kartu kredit). Sedangkan bila melalui tiket.com sekitar Rp12.500.

Tiket Majapahit normalnya Rp225 rb-Rp275 rb. Pada saat wiken biasanya Rp275 ribu. Kebetulan gue dapat tiket promo seharga Rp100 ribu. Berburu tiket promo kereta ternyata seru juga :D

Walaupun judulnya kereta ekonomi, sesungguhnya Majapahit adalah kelas bisnis. Kabarnya KAI ke depan hanya menyediakan kelas eksekutif dan ekonomi. Namun, kelas ekonomi dibagi menjadi dua; yang setara kelas dua (setara bisnis) dan kelas tiga.

Sama dengan tiket pesawat, tiket KA dilengkapi dengan nama penumpang sesuai yang tercantum di KTP/SIM/paspor. Tiket itu akan diperiksa kesesuaiannya dengan tanda pengenal saat penumpang memasuki peron.

Setelah menyelesaikan pembayaran, kita hanya diberi bukti pembayaran, bukan e-ticket. Bukti itu harus ditukar tiket di stasiun. Jadi masih pakai antre di stasiun. Yang ini agak mengesalkan karena ketidakjelasan loket penukaran di Stasiun Pasar Senen.

Di Senen ada dua loket yang disediakan untuk penukaran tiket. Mulanya gue pikir kedua loket sama saja. Ga lama setelah antre, gue baca tulisan di atas loket. Rupanya loket yang gue tuju khusus untuk tiket yang dibeli di Indomaret.

Di atas loket sebelahnya tertulis untuk penukaran bukti pembayaran atm, internet, indomaret (juga), kantor pos, dst. Pindahlah gue ke loket sebelah. Antrean cukup panjang. Begitu sampai di antrean paling depan baru terbaca tulisan di kertas yang ditempel pas di atas lubang loket. Ternyata loket itu untuk penukaran tiket ekonomi!

Berhubung Majapahit masih dikategorikan sebagai kelas bisnis, brarti gue salah loket. Hayyahh, pindah lagi dah.

Heran, kenapa pengumuman itu ga dipasang lebih tinggi menutupi tulisan ‘indomaret, atm, internet dan kantor pos’, supaya lebih gampang terbaca. Yang terjadi adalah bukan gue aja yang kecele hingga terpaksa pindah-pindah loket. Banyak juga yang bernasib sama. Masalahnya pindah loket kan harus mengulang antre dari belakang.

Belum lagi ada orang yang pindah antrean tiba-tiba nyelak di depan tanpa rasa bersalah. Ditegur malah balik marah..ga punya tata krama.

Charging gratis

Dengan terus mencoba sabar akhirnya sampai juga tiket di tangan. Sebelum naik kereta sempat duduk-duduk dulu di ruang tunggu. Ternyata benar, KAI sekarang menyediakan tempat untuk mengisi baterai ponsel dan gadget lainnya. Gratis.

Tempat mengisi baterai di Stasiun Pasar Senen. Anggaplah seperti di rumah sendiri. Ya nggak, Mas? (Oktober, 2012)

Gue perhatikan di sejumlah stasiun  lain juga tersedia tempat charging gratis. Bahkan di Stasiun Losari ada kabel-kabel charger untuk sejumlah merek ponsel, antara lain Nokia dan Blackberry. Di Stasiun Malang juga ada tempat charging, tapi posisinya agak kurang pas karena terlalu dekat dengan loket.

Isi baterai sepenuhnya, terutama bagi calon penumpang kereta ekonomi, soalnya di kereta ga ada colokan listrik. Ini sangat disayangkan.

Posisi Duduk

Majapahit merupakan hasil transformasi kereta bisnis Senja Singosari. Gerbong-gerbongnya baru dan dilengkapi AC. Tempat duduknya banyak yang masih tertutup plastik. Semua masih bersih.

Posisi tempat duduknya berhadap-hadapan. Setiap set untuk empat penumpang. Semua fixed, penataannya seperti itu. Tidak seperti kereta kelas bisnis pendahulunya yang tempat duduknya bisa diset untuk berhadapan atau paralel. Jarak tempat duduk satu dengan yang di hadapannya pun tidak terlalu lebar. Jadi, sebenarnya tidak nyaman untuk perjalanan jauh. Agar bisa sedikit lebih nyaman lebih baik pilih tempat duduk di sebelah selasar, bukan sebelah jendela, supaya kaki bisa sesekali diselonjorkan ke selasar.

Ceritanya lain lagi kalau di depan kita ga ada penumpang lain. Kaki bisa ditumpangkan di kursi depan. Atau, kalau di sebelah kita kosong, itu juga bisa dipakai untuk menumpangkan kaki. Memang, kosong lebih nikmat :D

Tempat duduk yang berhadapan membuat penumpang mau tidak mau harus bersosialisasi. Paling tidak, tersenyumlah kalau males ngomong :p Gue sendiri cukup bersosialisasi sampai mengetahui bahwa penumpang sebelah gue adalah ibu empat anak yang semuanya laki-laki dan mereka sudah bekerja kalau ga jadi tentara ya polisi. Si ibu bahkan sempat melontarkan lelucon, “Nama ibunya Doraemon siapa?” Jawabnya: “Dorangerti.”….hihihihi, kriuk dah ah.

Sedangkan dua penumpang di depan gue adalah ayah dan anak yang hendak mudik karena bapak si ayah alias kakek si anak (paham kan?) meninggal dunia. Rekan-rekan penumpang di set tempat duduk gue semuanya  turun di Madiun. Mereka sempat menanyakan berapa harga tiket ke Malang dan takjub saat gue tunjukkan bahwa tiket gue tercantum harga Rp100 ribu. Soalnya tarif Jakarta-Madiun lebih mahal dari itu, Rp180 ribu.

Suasana gerbong Majapahit, dengan set-set tempat duduk berhadapan. (Oktober 2012)

Semakin larut malam, beginilah keadaan dalam gerbong yang penuh penumpang. Ga masalah lah ya tidur beralaskan koran. (Oktober, 2012)

Beda lagi nasib penumpang di gerbong yang jarang-jarang penumpangnya. Gerbong berubah menjadi sleeper train. (Oktober, 2012)

Asesori

Semula gue mengira AC di kereta ekonomi ga akan terlalu dingin seperti di kereta eksekutif. Ternyataaa…makin malam makin dingin. ‘Beruntung’ mas-mas pramugara sering lewat menawarkan selimut dan juga bantal. Selimut disewakan dengan tarif Rp10 ribu dan bantal Rp8 ribu berlaku untuk pemakaian sampai pagi ketika matahari sudah muncul.

Udah kayak maskapai penerbangan murah aja neh, semuanya dipasangi tarif. Pikir-pikir, sepertinya sengaja AC-nya dibikin dingin banget, supaya selimutnya laku :P . Untung toiletnya masih gratis. Dan kondisinya lumayan bersih. Malah selama perjalanan bisa tiga kali petugas membersihkan toilet-toilet di tiap gerbong.

Kereta juga dilengkapi papan pengumuman digital yang menginformasikan sedang menuju/sudah sampai/meninggalkan stasiun apa. Jadi, ga perlu lagi bertanya-tanya, ” Ini udah sampai mana?” sambil mencari-cari papan nama stasiun di luar jendela.

Papan pengumuman digital yang tersedia di setiap gerbong. (Oktober, 2012)

Secara umum, menumpang kereta ekonomi yang satu ini tidak semenyengsarakan yang gue kira. Masih cukup nyaman bila banyak tempat duduk yang tidak terisi. Karena itu juga gue akhirnya memutuskan untuk kembali menumpang Majapahit saat kembali ke Jakarta. Kali ini tiketnya bayar penuh Rp275 ribu.

Tips : Lebih baik cari waktu perjalanan yang bukan pas masa liburan, biar dapat sleeper train :D

Kaki lima

Pertanyaan yang mungkin muncul, apakah pedagang kaki lima masih diperbolehkan masuk ke dalam gerbong kereta? Di 3-4 stasiun memang pedagang kaki lima cukup leluasa memasuki gerbong saat kereta berhenti. Apalagi di Cirebon Prujakan, saat perjalanan Pasar Senen-Malang. Sampai-sampai suasana gerbong berubah jadi kayak pasar. Sedangkan, di sejumlah stasiun, pedagang kaki lima hanya menjajakan dagangan di pintu gerbong. Tampaknya, boleh atau tidaknya pedagang kaki lima masuk gerbong adalah kebijakan stasiun.

Toilet Gratis

Oiya, masih ada satu lagi yang perlu di-highlight. Ketika sampai di Stasiun Malang, gue merasa perlu menyikat gigi dan cuci muka dulu di toilet. Karena, rencananya akan ketemu teman-teman dan langsung berangkat ke tujuan berikutnya.

Ternyata toiletnya lapang dan cukup bersih sehingga mengundang untuk mandi. Akhirnya gue mandilah di situ, sekalian :p. Pemakaiannya pun tidak dipungut biaya alias gratis.

Ada petugas yang bersiap di sana. Begitu toilet selesai gue pakai langsung dibersihkan. Ga lama si petugas keluar lagi, bilang ke gue, “Mbak, ada yang ketinggalan.” Gue, “Ohh, iya ya, Pak?” Gue masuk dan menemukan celana dalam gue di sana. Tengsin ga sih….Tapi, tetep donk gue keluar dengan muka lempeng, sambil bilang, “Makasih ya Pak.” Beruntung gue bukan termasuk golongan orang-orang berkulit putih atau yang begitu mudahnya muka memerah kalau malu. Dengan santai gue meninggalkan area toilet…

****

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s