Lost in Translation

Posted: October 25, 2013 in Catatan

Ndy

(Migrasi Blog, tulisan asli diposting 19 Juni 2012)

MEMILIKI wajah yang tidak cantik–atau biasa saja–merupakan suatu keuntungan tersendiri bagi yang hobi travelling solo alias sendirian. Karena terhindar dari gangguan, baik berupa sapaan menggoda maupun pandangan ‘menjelajah’.

Tapi, terhindar bukan berarti sama sekali tidak mendapatkan.  Meski bagi orang umum kita tidak tergolong cantik, ada orang-orang tertentu yang merasa kita menarik. Seperti yang gue alami sendiri.  Paling ‘mengesankan’ adalah saat ditanya seorang pria Latvia apakah gue mau menikah sama dia. Ya, itu benar-benar terjadi :p

Peristiwanya pada musim panas 2009. Waktu itu gue melancong sendirian mengunjungi Riga (Latvia), Talinn (Estonia) dan Vilnius (Lithuania) selama seminggu. Salah satu kegiatan yang paling gue sukai saat travelling adalah duduk-duduk di alun-alun atau taman kota sambil memperhatikan kegiatan orang2 di sana.

Di Riga, gue tidak melewatkan kegiatan itu. Setelah lumayan pegal berkeliling pusat kota, gue beristirahat. Duduk di bangku panjang di alun-alun kota sambil mendengarkan alunan musik dari gesekan biola yang dimainkan seorang pengamen. Musiknya enak didengar sehingga rasanya damai banget.

Alun-alun Kota Riga (Juli, 2009)

Taman Kota di Riga (Juli, 2009)

Entah sudah berapa lama gue duduk, datang seorang pria sambil menggandeng anak kecil. Dia duduk di ujung kursi. Anaknya, seorang bocah laki-laki, bermain di dekatnya. Ga lama kemudian dia mulai memperhatikan gue, lalu menyapa.

Awalnya memakai bahasa yang gue ga kenal. Setelah gue meminta supaya dia memakai bahasa Inggris, dia bicara dengan bahasa Inggris yang patah-patah. Bertanya dari mana asal gue., dalam rangka apa gue ke Riga.

Dia mengaku sebagai seorang muslim, usianya kalo ga salah dia bilang 32 atau 33. Kakek buyutnya berasal dari Iran. Saat gue sebut Indonesia adalah negara dengan penduduk muslim terbesar, dia bilang mengetahui itu dan menebak bahwa gue juga muslim. Gue bilang iya.

Lama kelamaan dia mulai bercerita soal rumah tangganya. Istrinya orang Jerman, dengan kelakuan minus (katanya). Suka mabuk dan segan melayani suami. Beda dengan perempuan muslim. Ga tahan, akhirnya mereka bercerai. Istrinya sempat membawa anak mereka Jerman. Tapi entah bagaimana, karena kurang jelas ngomongnya, plus gue emang agak kurang pendengaran, dia berhasil mendapatkan anaknya.

Break dulu…pasti ada yang bertanya-tanya…si pria itu ganteng ga? :p Menurut pandangan gue, biasa aja. Apalagi kalau ngeliat giginya yang agak ‘gigis’, jadi makin berkurang nilainya. Mungkin karena suka minum dan merokok. Tapi anaknya, lucuu banget. Matanya biru, rambutnya pirang dan putih pastinya. Keliatannya menurun dari ibunya.

Kemudian dia bertanya apakah di Indonesia, orang lokal mudah menikah dengan orang asing. Gue bilang ga punya referensi soal itu, tapi sepertinya ga mudah. Buntutnya dia nanya, mau ga gue menikah sama dia. Nanti dia akan cari pekerjaan di Indonesia. Gue tertawa…karena ga langsung bisa jawab. Setelah itu gue jawab, enggak, gue ga mau menikah sama dia. Yang teringat di pikiran gue adalah perkataan dia bahwa ‘perempuan muslim beda, akan melayani suami’. Hmmm…

Sebagian Kota Riga, dilihat dari Sungai Daugava (Juli, 2009)

Lalu gue katakan ke dia kalau mau cari calon istri orang Indonesia, datang aja, sambil jalan-jalan. Siapa tahu ketemu, kata gue. Dia tertawa kecil…dan kelihatan giginya. Makin mantaplah gue menolak dia…huehehehe…

Kami masih mengobrol soal krisis, bahwa saat itu di Riga cukup sulit mendapatkan pekerjaan, banyak yang di-PHK. Dia sendiri akhirnya membuka usaha reparasi ponsel. Setelah cukup lama ngobrol, ia berpamitan. Tapi sebelumnya meminta nomor kontak. Ia berharap gue mempertimbangkan lagi untuk menikah sama dia. Nyengir aja gue, lalu bilang kalau dia ingin berkunjung ke Indonesia hubungi aja via email. Nanti gue bisa kasih informasi tentang tempat-tempat yang menarik.

Tapi dia mengaku tidak bisa menulis dengan bahasa Inggris, hanya bisa bahasa Rusia. Kalau telepon, kata dia, akan lebih mudah.  Gue pun memberinya nomor hape sambil mengingatkan nomor itu ga akan gue pakai setelah gue pulang. Waktu itu kepulangan gue ke Indonesia tidak sampai dua bulan lagi. Dia berpesan supaya gue kasih info nomor yang baru kalau sudah di Indonesia. Lalu pamit dan berlalu bersama anaknya.

Sekitar seminggu setelah gue balik ke Belanda, dia menelepon. Tapi omongannya ga jelas, gue hanya paham sepatah-sepatah. Lalu juga beberapa kali ngirim sms, makin ga karuan. Ternyata ga berlebihan ketika dia bilang ga bisa nulis bahasa Inggris. Lost in translation-lah…

Tambahan lagi beberapa minggu kemudian hape gue eror. Saat mencoba me-reset, malah hilang semua nomor kontak yang tersimpan. Simcardnya juga ikut rusak. Lengkaplah sudah. Wassalam, Mas, memang ga berjodoh :p

****

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s