Manusia Panas Dingin

Posted: October 25, 2013 in Sela

Ndy

(Migrasi Blog, tulisan asli diposting 14 September 2012)

LIMA bulan berlalu hampir tanpa hujan. Serbuan nyamuk yang mengganas sepertinya sudah jadi keluhan biasa. Kadang terdengar keluhan betapa panasnya kamar di malam hari sehingga tidur menjadi kurang nyenyak.
“Padahal AC udah gue pasang 20 derajat, masih terasa panas. Biasanya 24 juga udah selimutan. Terasa ga?” ujar seorang teman.
Gue nyengir mendengar keluhan itu, setelah itu bilang, “Aku di kamar ga pake AC, mbak. Kipas angin aja enggak.”

Dari dulu memang gue ga tahan pake AC. Begitu pula dengan kipas angin. Kecuali ada teman tidur, yang bukan kucing. Itu pun biasanya karena gue terpaksa menoleransi efeknya dan memang kalau kamar nambah satu orang lagi kan jadi tambah panas.

Dan karena kebiasaan ga pake AC maupun kipas angin sejak dulu kala,  gue tetep bisa tidur nyenyak tanpa merasa kepanasan meski di saat menurut orang lain kamar gue cukup panas.

Apa efek AC dan kipas angin buat gue? Bisa bikin bersin-bersin dan esok harinya jadi meriang. Kampungan banget :p Gara-gara itu juga waktu di-’vonis’ kuliah dua tahun di negeri empat musim (berharapnya cuma setahun), kekhawatiran terbesar gue adalah tidak tahan dingin dan jatuh sakit.

Di luar dugaan, gue ga pernah sakit selama melewati dua kali musim dingin. Bahkan gue cenderung lebih bisa menahan dingin ketimbang teman-teman yang lain. Ketika beberapa teman berhenti bersepeda dan berganti naik bus di musim dingin, gue tetap setia mengayuh sepeda. Karena selain lebih cepat juga lebih hemat :D

Jarang gue pakai syal dan kupluk saat keluar bersepeda di musim dingin. Paling banter pake sarung tangan. Untuk diketahui, kupluk berguna untuk menghangatkan daun telinga. Ketika kita terpapar suhu musim dingin, daun telinga seringkali terasa kaku dan lambat laun sakit sampai kadang kayak mau copot :p Gue juga merasakan, tapi relatif masih bisa tahan.

Mungkin ini tidak biasa bagi orang pada umumnya, terutama yang berasal dari daerah tropis. Tapi, gue sangat menikmati musim dingin. Gue lebih suka musim dingin daripada musim panas. Kenapa? Musim panas di Eropa terasa lebih terik ketimbang di Jakarta. Selain itu di musim panas para bule jadi bau…hehehehe….

Hanya satu yang merepotkan di musim dingin, yaitu tiap kali keluar harus pake jaket, legging, sarung tangan, kaos kaki dan sepatu. Padahal cuma mau beli roti di supermarket dekat kost.

Pengalaman melewati musim dingin itu membuat gue menarik kesimpulan bahwa bukan dingin yang membuat gue sakit. Apalagi pernah mengabiskan semalaman di luar, di tengah suhu yang nyaris minus, dengan tetap sehat walafiat sesudahnya.

Sepertinya  aliran angin yang tidak alamiah-lah yang mengusik badan gue. Aliran angin seperti itu dihasilkan oleh AC dan kipas angin.

Biarpun cukup tahan cuaca panas, di saat musim kemarau yang kering seperti sekarang rasanya kangen banget sama musim dingin di Groningen. Semoga masih diberi kesempatan merasakannya lagi. Dengan dingin yang tidak ekstreme tentunya :D

****

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s