Menyontek Dengan Bangga

Posted: October 25, 2013 in Sela

Ndy

(Migrasi Blog, tulisan asli diposting 4 Januari 2013)

Suatu malam saat gue baru pulang dari kantor, seperti biasa gue duduk-duduk sebentar di ruang keluarga. Seringnya sambil makan malam (lagi). Biasanya cuma Bapak yang belum tidur, masih menonton tv.

Kami bercakap-cakap. Terlontar pernyataan Bapak, “Tadi di tv, ada wawancara sama anak-anak sekolah, ditanya pernah nyontek ga. Semuanya bilang sering. Dan kelihatannya bangga menyontek.”

Gue ketawa, “Gurunya aja suka nyontek dan malah ngajari supaya nyontek.”

Bapak geleng-geleng dan mengungkapkan keresahannya tentang hilangnya nilai-nilai kejujuran. Pantas saja produknya adalah pejabat-pejabat dan pegawai publik yang korup.

Beliau bertanya apakah gue dulu suka menyontek. Gue bilang gue juga pernah menyontek, tapi itu bisa dihitung dengan jari, dan sama sekali ga merasa bangga. Seringnya dicontek teman.

Yang paling gue ingat adalah waktu SMP, ulangan sejarah. Karena kesal dipaksa guru untuk membeli LKS dari dia, padahal di luar juga dijual dan dengan harga lebih murah, gue mengerjakan soal-soal dengan menyontek dari buku teks.

Yang kedua saat gue tes kerja. Waktu itu dipanggil perusahaan penerbitan yang berkantor di Pulogadung, untuk tes tertulis. Produk perusahaan tersebut adalah majalah komputer.

Gue memang lumayan suka ngoprek-ngoprek komputer dan mengenal beberapa komponennya. Tapi begitu liat soal-soalnya, wuiihhh…susah ternyata.

Di ruangan tes hanya ada gue. Terlihat sejumlah majalah terbitan perusahaan tersebut tergeletak di atas meja. Mulailah gue membuka-buka untuk mencari jawaban tes gue.

Sepertinya paling ga 60% soal bisa terjawab dengan baik berkat aksi menyontek itu. Perasaan ga enak banget, merasa bersalah. Untung ga keterima :p

Bukan sok suci, tapi persoalan  menyontek memang sudah mengkhawatirkan. Sudah membudaya seperti halnya korupsi.

Guru-guru mendorong aksi nyontek massal, orangtua mencarikan kunci-kunci jawaban ujian nasional untuk anaknya, dan murid sibuk membuat berbagai macam contekan pada malam ujian.

Mahasiswa dengan leluasa menyontek di depan dosen/asisten dosen pengawas. Buruknya lagi aksi itu dibiarkan saja.

Teringat waktu kuliah di Belanda, aksi menyontek sama sekali tidak mendapatkan toleransi. Sanksinya adalah dikeluarkan. Begitu juga plagiat skripsi/tesis.

Pendidikan tinggi di Belanda memiliki sistem yang cukup canggih untuk mendeteksi plagiarisme.

Itu malah lebih kejam lagi sanksinya. Selain dikeluarkan, mahasiswa yang menjiplak akan sulit menemukan perguruan tinggi yang mau menerimanya. Ibarat kalau kita ngemplang kredit bank, walau hanya sekali, ke depannya akan sulit sekali untuk ngutang lagi di bank manapun.

Kebiasaan menyontek ketika masih sekolah pasti akan terbawa terus hingga dewasa. Bentuknya mungkin tidak lagi menyontek tapi ketidakjujuran lainnya. Karena intinya adalah ga jujur, ga punya malu.

Beruntung bagi anak-anak memiliki orangtua yang lebih memilih anaknya tidak lulus asalkan sudah dengan usaha keras dan jujur. Daripada berbangga anaknya lulus ujian dengan kunci jawaban yang dibelinya.

Gue tau gue adalah termasuk anak-anak yang beruntung. Bapak pernah bilang ke kepala sekolah waktu memasukkan gue di SD kelas satu, bahwa kalau gue ga bisa mengikuti pelajaran, biar saja ga naik kelas. Ga pake sogok-sogokan juga. Maklum gue dulu kelihatan kayak anak terbelakang :p

Intinya, anak-anak mengikuti panutan. Jika Anda sudah menjadi orangtua, guru, tolong putuslah rantai budaya menyontek itu, budaya tidak jujur. Tapi ya, itu kalau Anda peduli…

****

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s