Nasionalisme Ala Negeri Paman Ho

Posted: October 25, 2013 in Catatan

Ndy

(Migrasi Blog, tulisan asli diposting 2 Mei 2013

PEKAN lalu gue baru saja menuntaskan perjalanan menjelajah Hanoi (dan ke luar kota sedikit) serta Vientiane. Di perjalanan itu tujuan utama gue adalah mengalami sendiri menjadi penumpang bus jurusan Hanoi-Vientiane.

Kalau Amerika bisa bikin film yang menampilkan seakan-akan mereka menang perang Vietnam, Vietnam boleh juga lah bikin bola dunia kayak gini.

Kenapa tertarik? Karena ketika riset di internet, bus ini kerap disebut para turis, terutama yang berasal dari dunia barat, sebagai ‘bus dari neraka’. Ini terdengar menantang buat gue. Banyak di antara para turis yang menyatakan perjalanan dengan bus itu sangat melelahkan. Bikin kapok.

Tetapi di sisi lain biayanya relatif murah. ‘Hanya’ dengan membayar US$29-31 (memesan melalui hostel) atau sekitar Rp280 ribu – Rp300 ribu kita diantar dengan sleeper bus menempuh perjalanan darat sejauh 787 km selama 22-24 jam.

Oya, perlu diketahui sleeper bus adalah bus dengan kursi-kursi penumpang yang bisa diubah posisinya menjadi seperti tempat tidur. Jadi selama perjalanan penumpang bisa tidur lebih nyaman, tidak dengan posisi duduk. Sleeper bus Hanoi-Vientiane memasang baris kursi penumpang 2-2.

Bus from hell alias bus neraka jurusan Hanoi-Vientiane.

Setelah mendapat tiket, gue bersama seorang teman dan calon-calon penumpang lainnya yang semuanya orang asing, digiring ke bus. Masuk ke bus, kami kebingungan mencari tempat duduk yang disebut di tiket. Tidak terlihat nomor kursi di mana pun.

Sang kondektur langsung menunjuk ke arah belakang, kami disuruh mengambil tempat duduk di sana. Padahal masih banyak kursi di bagian tengah yang kosong. Seorang bule yang sudah mulai ‘bersarang’ di tengah, juga diminta pindah ke belakang.

Gue memandang ke kondektur dengan pandangan bingung. Si kondektur yang melihat gue dan teman gue lalu menunjuk deretan dua kursi di bagian tengah. Dengan isyarat, meminta kami duduk di sana.

Lega juga gue karena ga harus duduk di belakang. Posisinya tampak lebih sempit. Belakangan setelah sudah duduk tenang dan semua penumpag sudah menempati kursi masing-masing, baru gue paham.

Ternyata, semua orang lokal diberi tempat di bagian depan. Sedangkan orang asing, terutama bule, tidak peduli laki-laki atau perempuan diberi tempat di bagian belakang.

Gue, temen gue, dan empat cewek yang entah dari Thailand atau Filipina, diberi tempat yang agak di tengah. Rupanya kami masih dianggap cukup ‘lokal’ :D

Deretan kursi di depan. Semua ditempati orang lokal.

Saat bus berangkat sekitar pukul 7 malam, beberapa tempat duduk di deretan sebelah dan depan gue masih kosong. Tiga di antaranya ditempati awak bus. Dalam perjalanan, bus berhenti tiga kali, menaikkan penumpang. Pertama, satu penumpang yang naik. Kedua, ada empat orang. Yang ketiga satu orang, wanita paruh baya yang membawa kardus bejibun.

Mereka semua diberi tempat di tengah dan depan. Menempati tempat-tempat duduk yang masih kosong atau pun mengambil alih tempat yang di-’tek’ awak bus. Luar biasa ya! Orang-orang Vietnam ini sangat memedulikan orang sendiri. Ya wajar donk, itu adalah bus mereka, jalan mereka, dan negara mereka. Kenapa harus mendahulukan (baca: mengagungkan) orang asing? Bodoh itu namanya…hehehehe..

****

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s