Nyaris Menggelandang

Posted: October 25, 2013 in Catatan

Ndy

(Migrasi Blog, tulisan asli diposting 18 April 2013)

15 Februari 2008. Pagi-pagi buta, gue bersama seorang teman bergegas menuju Stasiun Groningen. Kami mengejar kereta pertama ke Leer, untuk berganti kereta Jerman menuju Bremen. Lalu dari sana ke airport dan terbang ke Venesia.

Naik perahu-perahu beginian mahalnya ampun-ampunan *kere*

Di depan mesin karcis, teman gue berkali-kali mencoba membeli tiket, tapi tidak berhasil. Rupanya kartu ATM-nya rusak. Sedangkan kartu ATM gue malah udah rusak dari sejak pertama kali gue pakai. Cuma bisa buat narik tunai di ATM bank penerbit kartu, itu pun yang terletak di alun-alun Groningen.

Terpaksa kami harus menunggu loket buka. Masih ada satu jadwal kereta yang bisa kami tumpangi agar tidak terlambat sampai Bremen. Dengan harap-harap cemas, kami menunggu sambil terus melihat ke arah loket. Begitu buka, langsung menyerbu ke sana.

Beli tiket di loket lebih mahal ketimbang di mesin karcis. Selain itu, kami harus membayar dengan uang tunai. Artinya belum apa-apa sudah berkurang persediaan uang tunai yang kami bawa.

Agak khawatir juga bagaimana kalau uang yang kami bawa tidak mencukupi. Tapi ya sudahlah yang nanti dipikir nanti saja, begitu pemikiran kami ketika itu.

Beruntung jadwal kereta tepat waktu, baik keberangkatan maupun kedatangan sampai di Bremen. Sehingga kami tidak terlambat naik pesawat.

Rencananya kami hendak menghabiskan 2 malam di Venesia lalu semalam di Milan. Tapi rusaknya kartu ATM temen gue sepertinya membuat kami harus mengubah rencana. Sampai di Venesia berdua mencoba menghitung-hitung kembali uang bawaan. Benar saja, uang tidak mencukupi untuk membeli tiket kereta ke Milan.

Bahkan untuk menghabiskan 4 hari 3 malam di Venesia pun sepertinya bakal kekurangan uang. Sangat pas-pasan lah untuk makan saja. Itu karena semula berpikiran masih bisa mengambil uang tunai di ATM setempat, dengan memakai kartu temen gue. Terpaksa kami harus membatalkan berkunjung ke Milan.

Pada hari ketiga gue mencoba menarik uang di ATM bank penerbit kartu kami yang kebetulan ketemu ketika menyusuri labirin gang-gang.  Dan, ternyata berhasil. Tapi untuk kembali ke rencana semula, berkunjung ke Milan, sudah terlambat. Terlanjur ga mood juga. Tapi setidaknya kami selamat dari ancaman menggelandang :D

Venesia itu bagus, menarik, tetapi menghabiskan waktu lebih dari dua malam di sana bikin eneg. Suerr, membosankan. Apalagi dalam keadaan ga punya duit :p

Gue dan temen udah kayak seterikaan mondar-mandir melewati tiga jalur gang-gang utama dari mainland ke Piazza San Marco. Berlusin kali melewati Ponte di Rialto (Jembatan Rialto) yang kondang itu. Sampe apal bahwa si Mario yang tinggal di ujung gang ternyata hobi ngumpulin koin. Dan tetangga depan rumahnya, Luigi, sering bolak-balik ke rumah Capricia benerin ledeng.

Masa sih? Hahaha…ya ga mungkin lah gue apal siapa-siapa di sana dan kerjanya apa. Wong setahun tinggal di flat Groningen aja sama sekali ga kenal tetangga sebelah rumah :p

Piazza San Marco, sesaat setelah lampu dinyalakan.

Intinya, sampe bosenlah di Venesia. Mau pergi ke tempat lain lagi-lagi terbentur biaya. Jadi kami cuma bisa mengandalkan rute yang bisa dilakoni dengan berjalan kaki.

Ada satu pengalaman yang cukup menggelikan buat gue. Ceritanya di malam ketiga seusai perjalanan ‘menyeterika’, ketika hendak kembali ke hostel, kami bertemu dengan keluarga Italia yang juga menginap di hostel yang sama. Untuk mencapai hostel harus naik bus dulu kemudian berhenti di halte tidak jauh dari hostel. Sekarang gue udah lupa nomor busnya.

Di terminal, setelah lama  menunggu, datang bus dengan nomor berbeda. Keluarga Italia yang terdiri dari bapak, ibu, anak kecil, dan nenek tersebut mengajak kami menaiki bus itu. Gue dan teman berusaha menjelaskan bahwa itu bus yang salah. Tapi mereka ga mengerti dan terus mengajak kami dengan bahasa Italia.

Karena merasa tidak sopan menolak, terpaksalah kami ikut naik. Sampai beberapa lama kemudian, ketika (seharusnya) sudah mendekati halte tujuan, mereka baru menyadari bus yang kami naiki salah. Akhirnya, kami turun di sebuah halte.

Jembatan Rialto dari sisi yang enggak indah

Sebenarnya sih ga salah-salah amat naik bus itu. Cuma halte tempat berhentinya dua kali lebih jauh ketimbang bus yang bener. Sepanjang jalan menuju hostel gue dan temen gue tertawa-tawa tertahan sambil mengikuti keluarga Italia itu. Konyol banget rasanya ‘nyasar’ di Venesia dengan dipandu orang Italia.

Yahh begitulah kegiatan kami di Venesia, nyaris menggelandang, nyeterika sampe eneg, nyasar bareng orang lokal, sampai akhirnya pulang ke Groningen via Bremen pada 18 Februari 2008. Mayanlah ya? :D

****

Advertisements
Comments
  1. infan says:

    hihihi..windy aneh2..pegang jidat..walah panas..!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s