Rasa Takut Entah di Mana

Posted: October 25, 2013 in Sela

Ndy

(Migrasi Blog, tulisan asli diposting 30 Januari 2013)

Dini hari itu untuk kedua kalinya gue menepikan mobil dan mematikan mesin. Kali ini berada di JORR, tinggal empat exit lagi menuju rumah.

Temperatur mesin sudah hampir mencapai zona merah.

Selama beberapa waktu gue berdiam di dalam mobil, menunggu suhu mesin turun. Tidak ada gunanya dan pastinya susah mengisi air radiator di saat mesin masih sangat panas. Gue tengok jam yang menunjukkan pukul setengah tiga.

Lalu gue turun dari mobil, membuka kap mesin. Samar-samar asap terlihat mengepul.

Setelah merasa cukup aman, gue buka tutup radiator dengan lap. Membiarkan terbuka sampai beberapa lama.

Sambil terus memandangi lubang radiator, gue ga menyadari ada mobil patroli jalan tol yang berhenti di belakang mobil gue. Tiba-tiba saja muncul seorang petugas.

“Kenapa mobilnya, Bu?”

Sial, akhir-akhir ini gue lebih sering dipanggil ‘Bu’, daripada ‘Mbak’, pikirku.

“Ga apa-apa, Pak. Cuma radiator bocor. Nunggu agak dingin.”

“Ooh, ada air buat ngisi? Kalau ga ada, saya punya banyak di mobil.”

“Ada kok, Pak.” Ingatan gue melayang ke dua botol besar air mineral yang berada di bagasi. Keduanya terisi penuh air yang gue minta dari sebuah SPBU dekat Pondok Indah ketika tadi untuk pertama kalinya gue menepi dan mendinginkan mesin.

Gue mengambil kedua botol, kemudian mulai mengisi radiator. Petugas kedua terlihat di dekat petugas pertama tadi.  “Mesinnya nyalain aja, Bu. Biar sirkulasinya lancar,” kata dia yang kemudian mengambil alih proses pengisian radiator.

Gue nyalakan mesin mobil. Si petugas pertama bertanya, “Sendirian aja?”

“Iya,” kata gue sambil nyengir.

“Berani banget, malem-malem gini.”

“He..he..he..udah deket kok Pak, exit Jatiwarna.”

Saat itu gue mulai berpikir apakah gue udah keterlaluan. Dini hari seperti itu, sendirian, berhenti di pinggir jalan. Tenang saja, ga terbesit sedikit pun rasa takut.

Sampai di rumah Bapak masih ada di ruang TV. Gue ga kepikiran bahwa beliau menunggu gue pulang karena mengira Bapak udah tidur. Ternyata ada miscall dari beliau sekitar pukul 2.45.

“Kok sampai jam segini, kenapa?”

“Radiatornya bocor. Brenti-brenti dulu.”

“Oo,” kata Bapak sambil melanjutkan kesibukan memasukkan bagian peniti ke alat pemotong kuku.

“Kenapa sih, Pak, rusak?”

“Ini copot. Ilang besi penghubungnya, jadi pake ini aja.”

“Lha ini besinya. Aku aja yang pasang.”

Begitulah suasana ruang tv di rumah dini hari itu. Tampak sangat biasa, seperti baru pukul 9 malam. Mungkin suasana seperti itu pula yang menyebabkan gue ga punya rasa takut berada di jalanan meski hari sudah larut malam…

****

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s