Sempu

Posted: October 25, 2013 in Petunjuk Jalan

Ndy

Pantai Segara Anakan

19-20 Oktober 2012 (Peserta 6 orang)

Destinasi: Segara Anakan, Pantai Kembar 1, Pantai Kembar 2, dan Pantai Pasir Panjang.

———————————————————————-

Peringatan

Sebaiknya jangan datang ketika akhir pekan, kayak cendol karena banyaknya pengunjung :p Dan, tolong  jangan tinggalkan sampah sendiri, biarpun hanya puntung rokok atau bungkus permen. Miris banget  melihat betapa banyaknya sampah di jalan seputaran Segara Anakan. Agak beradab dikitlah jadi manusia.

———————————————————————–

Pulau Sempu terletak di Kabupaten Malang, menyeberang dari Pantai Sendang Biru. Perjalanan (gue) dimulai tgl 18 Oktober pukul 15.05 dari Stasiun Pasar Senen, Jakarta, dengan menumpang kereta ekonomi AC Majapahit (tiket promo Rp100 ribu; normal Rp225rb-275rb). Kembali ke Jakarta pada Minggu (21/10) sore juga menggunakan kereta yang sama dengan tarif Rp275 ribu ).

Lima orang teman lainnya sudah lebih dulu tiba di Malang. Gue sampai di Malang hampir jam 8.30 pagi. Kemudian bersama dua orang teman berburu tenda dan matras dengan berbekal kontak:

BaseCamp Adventure Malang
Jl. MT Haryono, Dinoyo-Malang
Call : 0341-7772317/085655510632
SMS08155529897 (update: nomor kontak Basecamp Adventure Malang sudah berpindah tangan. Kecuali yang landline.

Alternatif sewa tenda : Email : shelteradventour@gmail.com
Telp : (0341) 9600696
No Hp : 085649986315 / 082165444535 [WhatsApp]
BBM : 32700F87

@Shelter_ID  (twitter.com)

Sumber : http://www.kaskus.co.id/post/53e665ba620881e6218b4615#post53e665ba620881e6218b4615

Perjalanan ke BaseCamp Adv Malang—> Dari stasiun kereta Kota Malang naik angkot ADL menuju Jl MT Haryono, Dinoyo. Berhenti di seberang gapura Kampung Wisata Keramik. Masuk ke jalan gapura tersebut, melewati Puskesmas di sebelah kanan. Cari nomor jalan Blok 9D, di sisi sebelah kanan. Masuk gang 9D, setelah 3 atau 4 rumah di sebelah kiri (pas turunan), di situlah rumah tempat persewaan tendanya. Ketemu dengan Pak…siapa ya, ga nanya :P . Di depan rumah memang ga ada plangnya. Tapi penduduk sekitar situ tahu tempat persewaan tenda ini.

Harga sewa tenda total Rp150 ribu untuk 2 hari, terdiri dari 2 buah tenda (@Rp20ribu/hari), 6 buah matras (@5ribu/hari) + satu buah ponco (kata bapaknya, siapa tahu hujan dan ada keperluan keluar tenda; dan ternyata memang beguna, buat alas duduk di luar :D ). Kami ga menyewa peralatan masak, hanya membawa roti-roti, coklat, mangga dan nasi ayam yang dibeli di Sendang Biru.

Transportasi

Setelah teman-teman berkemas, akhirnya kami berangkat sekitar pukul 12 siang dari Hotel Santosa tempat mereka menginap, naik angkot AG  Rp3.000/orang) menuju Terminal Gadang. Dari situ pindah ke bus jurusan Gadang-Dampit (Rp5.000/orang) dan turun di Pasar Turen.

Di Pasar Turen sudah menunggu angkot berwarna biru muda jurusan Sendang Biru. Meski sudah mendapatkan tambahan penumpang 6 orang (sebelum kami sudah ada 3 orang penumpang), si sopir masih menunggu angkot penuh. Menurut dia, isi angkot adalah 19 orang! Bayangkan, angkot Carry yang lebih kecil dari Elf itu diisi 19 orang. Gimana duduknya?

Si sopir menawari kami membayar ongkos carteran Rp150 ribu supaya bisa langsung berangkat. Kami sempat beradu argumentasi meminta ongkos diturunkan. Sebab si sopir masih memasukkan penumpang lagi ke angkot, padahal kami sudah sepakat mencarter. Tapi, karena terdesak waktu kami pun mengalah.  Berangkatlah angkot tersebut pada pukul 13.15.

Tiba di Sendang Biru sekitar pukul 14.45. Jadi perjalanan dari Pasar Turen ke Sendang Biru ditempuh dalam waktu 1,5 jam, lebih cepat dari perkiraan kami semula. Si sopir membawa kami masuk ke kawasan pantai. Tiket masuk Rp5.000+Rp1.000 per orang (gue lupa rinciannya). Kami diturunkan pas di depan Pos Kehutanan, tempat kami harus melapor.

Pantai Sendang Biru di sore yang agak mendung.

Kami diceramahi cukup panjang oleh petugas kehutanan bahwa Pulau Sempu adalah cagar alam dan bukanlah tempat wisata. Mestinya kami mengurus ijin terlebih dahulu di kantor konservasi kehutanan di Surabaya. Tapi karena kami sudah telanjur sampai Sendang Biru, kami diperbolehkan berkemah di sana asalkan menjaga kebersihan, tidak meninggalkan sampah, tidak menyalakan api unggun dan selalu bilang ‘permisi’ kalau hendak buang hajat atau buang air kecil. Tujuan nasihat yang terakhir itu adalah untuk menghindari kerasukan. Menurut Pak Petugas, dulu pernah ada pengunjung yang tidak mau diajak pulang oleh teman-temannya, meski sudah dibujuk-bujuk.

Dengan halus si petugas kehutanan mengatakan kami perlu membayar uang administrasi sukarela. Menurut berbagai referensi yang kami gali di internet, setiap grup yang berkunjung membayar uang administrasi Rp20 ribu-Rp50 ribu per grup. Kami memberi Rp30 ribu.

Mungkin sebaiknya Sempu ditetapkan secara resmi sebagai kawasan wisata sekaligus taman nasional seperti di Ujung Kulon. Dengan demikian, negara bisa memungut tarif masuk + asuransi dan masuk sebagai pendapatan bukan pajak, bukan ke kantong pribadi. Dana hasil pendapatan tiket masuk bisa untuk membantu merawat Sempu. Saat ini pun, meski sesungguhnya pengunjung dilarang berwisata di sana, kenyataannya banyak sekali pengunjung yang datang.

Pemandu

Si petugas menganjurkan kami memakai jasa pemandu, apalagi tidak satu pun di antara kami yang pernah ke Sempu. Jalan setapak menuju Segara Anakan memang cukup jelas tetapi di beberapa tempat agak menipis sehingga bisa membingungkan.  Tarif pemandu Rp100 ribu/hari.

Kami setuju. Pak Petugas lalu mencarikan pemandu untuk kami. Sambil menunggu, kami makan dahulu sambil membeli perbekalan makanan di warung. Ternyata di dekat Pos Kehutanan ada tempat persewaan tenda. Tapi kami ga sempat bertanya-tanya ke pemiliknya.

Pemandu yang menemani kami bernama Mas Edi yang sangat hobi mengatakan ‘Anu,…’ setiap kali memulai suatu kalimat. Karena hari sudah sore dan kami menginap di Pulau, ada ongkos tambahan yang harus kami bayar, yaitu Rp25 ribu untuk biaya perahu di pemandu kembali ke Sendang Biru.  Jika pemandu ikut menginap, biayanya menjadi Rp200 ribu (Rp100 ribu/hari). Apabila kami meminta pemandu sekaligus sebagai porter alias pengangkat barang, tarifnya menjadi Rp300 ribu.

Mas Edi, si pemandu yang doyan bilang Anu dan ternyata seorang fotografer candid yang cukup handal.

Kami memilih opsi yang kedua. Paling tidak Mas Edi bisa ikut membantu mendirikan tenda. Oya, salah satu hal yang menggelikan adalah kami siap berkemah di Segara Anakan lengkap dengan peralatan tenda, tapi tidak satu pun dari kami yang pernah mendirikan tenda :p Gue sendiri terakhir berkemah pada waktu SMP. Itu pun tendanya selalu sudah berdiri ketika tiba di bumi perkemahan…huehehehe…

Sekitar pukul empat sore kami siap berangkat. Untuk sampai ke Segara Anakan harus menyeberang pakai perahu ke Teluk Semut dengan waktu tempuh sekitar 10 menit. Tarif penyeberangan Rp100 ribu pp. Tukang perahu siap menjemput kami kembali pada waktu yang disepakati. Mintalah no hp si tukang perahu agar bisa dihubungi sehingga waktu penjemputan tepat, tidak ada yang perlu menunggu di Teluk Semut.

Dari Teluk Semut, perjalanan dilanjutkan dengan trekking menembus hutan selama sekitar 1,5 jam. Kami tiba di Pantai Segara Anakan ketika hari sudah gelap. Suatu perjalanan yang sangat melelahkan karena selain cukup jauh, kami membawa beban berat. Teman-teman yang lain bahkan ransel-ranselnya lebih berat lagi karena sebelum ke Malang mereka terlebih dahulu ke Bromo dan rafting di Pekalen.

Kami merasa beruntung memakai jasa pemandu, karena di saat hari sudah mulai gelap, jalan setapak yang dilalui  tidak lagi jelas.  Belakangan rasa syukur memakai jasa pemandu yang ikut menginap menjadi berlipat. Tanpa pemandu, esok harinya  kami tidak akan sampai ke destinasi yang lain: Pantai Kembar 1 & 2, serta Pantai Pasir Panjang.

Di Segara Anakan & sekitarnya

Touchdown di Pantai Segara Anakan, kami langsung meletakkan tas dan perbekalan. Di sana sudah ada tenda-tenda dua grup lain.  Kami mulai mencoba mendirikan tenda. Tetangga-tetangga baru mendekat dan tanpa diminta langsung membantu kami. Baik banget dah pokoknya. Mereka bilang, untung cewek-cewek, kalo cowok-cowok ga akan mereka bantu…hahahaha…

Dalam waktu yang tidak terlalu lama, dua tenda pun berdiri. Akhirnya kami bisa beristirahat. Satu tenda diisi tiga orang. Menurut bapak pemilik tenda, satu tenda muat lima orang. Untung kami memutuskan untuk menyewa dua tenda. Ternyata setelah didirikan, satu tenda hanya cukup untuk tiga orang. Bisa maksimal untuk empat orang, tapi tidurnya jadi tidak bisa bermanuver :p

Tenda pun akhirnya berdiri di tengah kegelapan.

Keadaan sekeliling gelap. Segara Anakan tidak terlihat, hanya sesekali terdengar bunyi deburan ombak kecil. Kami bercakap-cakap selama beberapa waktu, sebelum masuk ke tenda dan tidur. Saat kami sudah mulai terlelap, hujan turun. Terdengar suara ribut-ribut di dekat tenda. Beberapa orang sepertinya baru datang dan sibuk terburu-buru mendirikan tenda. Belakangan kami ketahui bahwa mereka adalah grup yang sudah mendirikan tenda di bagian pantai yang lebih dekat ke air. Rupanya, menjelang tengah malam air pasang dan tenda mereka terancam kebanjiran :p

Hujan turun tidak terlalu deras, tidak lama kemudian reda. Sepanjang malam tampaknya hujan turun sampai tiga kali, tapi dengan pola yang sama. Esoknya kami bangun pagi-pagi sekali. Tampak Segara Anakan yang tengah surut. Hanya sedikit bagian yang terendam air. Kapan lagi bisa berjalan sampai jauh hampir ke seberang Segara Anakan? :D Beberapa terumbu karang yang masih hidup ikut terlihat.

Segara Anakan pagi hari di saat air surut. Air baru kembali penuh pada sekitar pukul 10 pagi.

Lubang paling besar yang menjadi salah satu lubang tempat air laut masuk memenuhi Segara Anakan.

Karang di tengah Segara Anakan yang masih hidup.

Puas menjelajahi Segara Anakan, kami bersiap trekking ke Pantai Pasir Kembar 1, 2 dan Pantai Pasir Panjang. menurut Mas Edi total perjalanan sampai kembali lagi ke Segara Anakan akan memakan waktu 2 jam. Lebih dari separuh waktu tersebut dipakai untuk foto-foto, kata Mas Edi yang tampaknya sudah maklum dengan perilaku pelancong :p Dia bilang kami akan tiba lagi di Segara Anakan pada saat air sudah penuh kembali, sekitar pukul 10.

Segara Anakan menjelang tengah hari.

Medan trekking secara umum tidak berat. Hanya ketika menuju Pantai Pasir Panjang perlu menuruni tangga seadanya karena kemiringan tebing yang hampir 90 derajat. Gue teringat perjalanan trekking di Ujung Kulon. Perjalanan Sempu memang mirip sekali dengan Ujung Kulon. Banyak trekking dan menikmati pantai-pantai sepi berpasir putih.

Pantai Kembar 1 laksana pantai pribadi…

Yeap, ini dia jalan menuju Pantai Pasir Panjang.

Salah satu bagian Pantai Pasir Panjang.

Setelah menjelajahi pantai-pantai sekitar, kami kembali ke Segara Anakan yang ternyata sudah  penuh airnya…dan lebih banyak pengunjungnya. Tengah hari kami menyelesaikan melancong di Segara Anakan. Perjalanan kembali ke Teluk Semut sudah lebih ringan karena perbekalan sudah habis. Tinggal dua plastik sampah yang turut kami bawa.

Sampai di Sendang Biru sekitar pukul satu. Mobil sewaan dengan tarif Rp400 ribu/12 jam sudah menunggu. Setelah bebersih dan makan siang, kami melanjutkan perjalanan ke Malang untuk mengembalikan tenda. Kemudian, lanjut ke Batu menikmati hawa sejuk seperti di kawasan Puncak sambil makan jagung bakar dan menikmati wedang jahe.

Rincian biaya pokok

(minus makan + pengeluaran pribadi lainnya) :

– Tiket kereta ekonomi AC Majapahit

Jkt-Malang Rp100 ribu (Promo); Malang-Jkt Rp275 ribu

– Sewa tenda 2 buah + ponco Rp150 ribu/6 = Rp25 ribu

– Angkot AG ke Terminal Gadang Rp3.000

– Bus Gadang-Dampit, turun Pasar Turen Rp5.000

– Charter setengah angkot Pasar Turen-Sendang Biru Rp150 ribu/6 = Rp25 ribu

– Tiket masuk Sendang Biru +parkir Rp2.000 (Rp5.000/6 + Rp1.000)

– Tiket ‘siluman’ masuk Sempu Rp30.000/6 = Rp5.000

– Pemandu Rp100.000 x 2 hari / 6 = Rp34.000

– Perahu Sendang Biru-Teluk Semut pp Rp100 ribu/6 = Rp17.000

– Sewa mobil 12 jam, dijemput di Sendang Biru Rp400 ribu/6= Rp67 ribu

____________Biaya dari Jkt Rp558 ribu_________________

Menurut perhitungan ongkos perjalanan Malang-Sempu-Malang + makan, sewa perahu, sewa pemandu, all in setiap orang iuran Rp297 ribu. Ditambah ongkos kereta Rp375 ribu, totalnya Rp672 ribu.

 Alternatif: Tidak Kemping

Menikmati Segara Anakan tidak harus berkemah di sana. Ada alternatif lain tanpa kehilangan momen air surut di Segara Anakan, menjelajahi pantai-pantai sekitar dan ditutup dengan berenang di Segara Anakan.

Pengunjung bisa menginap dahulu di Sendang Biru. Tapi kalau naik angkutan umum dari Pasar Turen jangan kesorean. Paling lambat jam 16.00 karena angkutan umum ke Sendang Biru hanya beroperasi sampai sekitar jam segitu.

Menurut informasi, ada satu penginapan yang cukup representatif di Pantai Sendang Biru. Wisma Wisata Keluarga Sendang Biru Telp:  (0341) 872 083. Kisaran harga per malam : Rp. 100.000 s/d Rp. 150.000. Sebaiknya menelepon dulu untuk mengetahui ketersediaan kamar karena jumlah kamarnya sangat terbatas.

Esok paginya menyeberang ke Pulau Sempu. Usahakan sampai di Segara Anakan sekitar jam 7-8 pagi. Berarti harus berangkat dari Pantai Sendang Biru sekitar jam 6 pagi. Setelah istirahat sebentar sambil melihat-lihat Segara Anakan yang sedang surut, lanjut trekking ke Pantai Kembar 1 & 2, serta Pantai Pasir Panjang. Tiba kembali di Segara Anakan sekitar tengah hari. Nikmati sepuasnya sampai sekitar pukul 15.00, lalu kembali ke Teluk Semut.

****

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s