Tanda Mata Darimu

Posted: October 25, 2013 in Catatan

Ndy

(Migrasi Blog, tulisan asli diposting 16 Agustus 2013)

 

Selendang sutera, tanda mata darimu. Telah kuterima, sebulan yang lalu…

Masih ingat lagu itu? Sebuah lagu perjuangan karya Ismail Marzuki–cocok dengan semangat 17 Agustusan.

Tapi gue bukan mau ngomongin lagu perjuangan itu. Cuma mau minjem sebait aja, ‘tanda mata darimu’.

Yup, hampir tiap kali melancong, gue membawa pulang tanda mata yang gue dapat dari warga setempat. Siapa mereka? Ya tukang jual suvenir lah..hehehe..

Waktu ngubek-ubek Eropa, tanda mata yang gue kejar adalah versi KW-2 kaitan tali pendaki gunung. Itu gue kombinasikan dengan mengirim kartu pos ke rumah.

Pengait tali daki gunung KW-2. Ga bisa buat keperluan mendagi gunung/tebing beneran. Suvenir seperti ini hanya di wilayah Eropa barat.

Sayangnya ga semua kota menjual cenderamata jenis ini. Akhirnya di beberapa kota lainnya, yang gue cari miniatur bangunan atau landmark yang menjadi ikon tempat itu.

Kebiasaan mengejar tanda mata masih gue lanjutkan sampai sekarang.

Dalam mendapatkan tanda mata-tanda mata tersebut, ada beberapa yang perlu ‘perjuangan’.  Di antaranya,  seperti yang pernah gue ceritakan di kisah terdahulu. Yaitu, pengait tali pendaki gunung dari kota Munchen atau Munich, Jerman.

Gue harus menempuh perjalanan sekitar satu kilometer bolak-balik dengan setengah berlari, dari Munchen Hbf (stasiun Munich) ke alun-alun pusat kota, Marienplatz.

Di stasiun juga sebenarnya ada penjual suvernir, tapi ga ada satu pun yang menjual pengait itu. Begitu berhasil membelinya, rasanya puaass banget. Sampai cengar-cengir sendiri. Trus langsung lanjut bergegas balik ke stasiun.

Yang lainnya adalah ketika gue mencoba sampai titik nafas penghabisan, berjuang mencari kantor pos untuk mengirim kartu pos ke rumah. Bikin temen-temen seperjalanan jadi keki karena takut gue ketinggalan kereta.

Itu terjadi ketika di Berlin. Kisah yang ini akan gue ceritakan dengan lebih lengkap di tulisan mbesok. Sabar ya :D

Tidak semua kartu pos gue kirim sendiri. Kartu pos dari Giessen, Jerman, dikirim sama teman yang tinggal di sana. Soalnya waktu gue ke Giessen ga sempat ngirim.

Koleksi kartu pos yang terkirim dari kota/negara asalnya. Berisi pengalaman singkat yang dituliskan real-time di saat menjelajah kota/daerah yang bersangkutan. Hampir semuanya dalam bahasa Jawa.

Kartu pos yang dikirim dari Giessen oleh seorang teman. Karena waktu ke sana ga sempat ngirim kartu pos sendiri.

Ada 2-3 miniatur, seperti Sagrada Familia dan landmark Madrid,  yang gue juga nitip temen. Bukan curang lho. Kota asalnya udah gue kunjungi. Tapi waktu itu yang gue kejar hanya pengait pendaki gunung. Belakangan gue memutuskan untuk mengoleksi kombinasi pengait+miniatur+kartu pos yang dikirim. Syukur kalau dapet tiga-tiganya.

Pinginnya bikin semacam diorama buat miniatur-miniatur tersebut. Tapi apa daya, pingin doank tanpa mengerjakan, hasilnya ya nol.

Selama mengumpulkan miniatur, gue banyak nemuin suvenir dengan cap ‘Made in China’. Kami bahkan punya lelucon bahwa kalau mau keliling dunia cukup ke China aja, suvenir dari semua negara ada…hehehehe…

Pembuatan suvenir rupanya bisa menjadi industri yang menggiurkan buat para pelakunya. Sayangnya di negeri tercinta ini, itu ga digarap serius. Niat mau ngumpulin miniatur/landmark berbagai tempat di Indonesia selalu ada kekurangannya.

Umumnya adalah : 1) tidak tersedia; 2) ga ada label namanya. Paling ga, mestinya diukir/disematkan nama kota/tempat wisata yang bersangkutan; 3) ukurannya kegedean. Kalau untuk yang melancongnya hanya satu dekade sekali sih ga apa-apa. Tapi kalau yang frekuensi melancongnya kerap, miniatur dengan ukuran terlalu besar itu menuh-menuhin tempat.

Koleksi miniatur landmark kota-kota dunia, sebagian besar di Eropa. Miniatur paling tinggi di belakang adalah Martini Toren (Menara Martini) asal Groningen, Belanda.

Masih berharap nantinya daerah-daerah yang punya potensi wisata menyadari itu.  Jangan sampai keduluan suvenir-suvenir ‘Made in China’ yang kemudian pasar pun dikuasai mereka.

Gue punya semacam resolusi untuk traveling tiap tahun. Satu destinasi luar negeri dan setidaknya dua destinasi domestik. Tapi di blog gue, petunjuk jalan hanya untuk destinasi domestik. Tujuannya supaya lebih banyak orang Indonesia yang membaca akan tertarik dan mengunjungi tempat itu, karena sudah tahu bagaimana mencapainya.

Jelajahi negeri, ikut membangun Indonesia lewat pariwisata. Belanja produk setempat dan beli suvenir (miniatur)-nya. Sederhana kok. Yuk, melancong…

Dirgahayu Negeriku,

– M E R D E K A –

****

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s