Empati Berlalu Lintas

Posted: October 27, 2013 in Sela

Ndy

(Migrasi Blog, tulisan asli diposting 21 Februari 2013)

TIGA hari yang lalu gue menyimak siaran radio yang membahas tentang perilaku buruk warga Ibu Kota atau Indonesia secara umum. Utamanya yang membuat orang lain hanya bisa menggerutu, karena bukan kategori pelanggaran hukum.

Misalnya, orang yang suka menyelak antrean, atau orang yang menyetir dengan lambat padahal sedang berada di sisi jalan tol paling kanan.
Salah satu yang disoroti adalah kebiasaan kendaraan umum berhenti semena-mena di sembarang tempat, sehingga menghalangi laju kendaraan lainnya.

Seorang pendengar dalam pesan singkatnya berpendapat pemilik mobil pribadi sebaiknya lebih sabar menunggu angkot/bis menurunkan penumpang. Pendapat itu ditepis salah seorang penyiarnya.

Menurut dia, kendaraan umum berhenti sembarangan biasanya karena penumpangnya yang meminta. “Yang salah siapa? Ya penumpangnya. Seharusnya berhenti kan di tempat yang sudah disediakan. Di halte,” begitu kurang lebih kata si penyiar.

Jelas nih orang ga pernah naik kendaraan umum. Mestinya dia coba dulu memakai kendaraan umum selama sebulan. Supaya bisa merasakan sendiri. Setelah itu baru bisa mengkritik.

Kalau gue mengikuti aturan ‘turun dari kendaraan umum harus di halte’, ga nyampe-nyampe rumah saat naik angkot. Sepanjang jalan yang berjarak lebih dari sepuluh kilometer yang melewati depan komplek tempat gue tinggal, sama sekali ga ada halte. Lha gue mesti turun di mana kalau bukan di depan komplek?

Moda transportasi yang akan gue coba untuk perjalanan pulang-pergi kerja. Dengan metode hybrid tapi, alias kombinasi dengan kendaraan umum. #Obsesi

Kerap kali orang dengan enaknya menilai perilaku orang lain salah. Padahal kalau dia berada di posisi orang lain itu, mungkin dia akan melakukan hal yang sama.

Oleh karena itu, supaya bisa lebih obyektif menilai sebaiknya cobalah pengalaman menggunakan berbagai moda transportasi. Mulai dari berjalan kaki, bersepeda, naik angkot, mengemudi sepeda motor, hingga mobil. Kalau ga bersedia, ya jangan nyinyir mengkritik.

Gue sendiri memilih sebisa mungkin berempati dengan dasar pengalaman pribadi. Ketika menyetir mobil dan antre di satu jalur jalan, gue berusaha memberikan space di sebelah kiri yang cukup bagi pengendara sepeda motor supaya mereka bisa tetap melaju.

Kenapa? Karena berdasarkan pengalaman tiga tahun liputan dengan mengendarai sepeda motor, gue akan merasa kesal bila ada mobil yang kayaknya ga bersedia membuka jalan buat kami para pengendara motor. Padahal space yang ada sangat memungkinkan.

Sebaliknya, ketika gue mengendarai sepeda motor, gue akan berusaha jangan sampai menyenggol spion mobil. Sumpah, gue paling sebel ada motor dengan santainya nyenggol dan bablas aja ga ada babibu-nya. Minimal benerin kek tuh spion. Kan susah benerinnya kalau pas yang disenggol spion sebelah kiri.

Gue sebenarnya juga termasuk orang agak kurang sabaran menunggu angkot/bis menurunkan penumpang. Jadi, saat menjadi penumpang kendaraan umum, gue upayakan minta berhenti di spot yang memudahkan si sopir meminggirkan kendaraan. Dengan begitu kendaraan di belakangnya tetap bisa melaju.

Contoh lainnya lagi ialah betapa sebalnya gue saat hendak menyeberang jalan, di zebra cross, tapi ga ada satu pun kendaraan yang mau berhenti untuk memberi jalan. Jelas kendaran-kendaraan itu semua melanggar aturan berlalu lintas.

Gue bisa apa? Cuma bisa menggerutu, tetapi, ketika gue berada di posisi sebagai pengemudi jadi ingat untuk memberi kesempatan penyeberang jalan di zebra cross. Walaupun kadang-kadang bablas juga kalau lagi buru-buru :p

****

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s