Momen Terbaik

Posted: October 27, 2013 in Sela

Ndy

(Migrasi Blog, tulisan asli diposting 11 Maret 2013)

Ada yang bilang kuliah di luar negeri itu pasti susah banget, karena semua tugas harus ditulis dalam bahasa asing, biasanya Inggris. Demikian pula dengan presentasinya, sehingga membuat beban kuliah menjadi berlipat.

Untuk pendapat itu, respons gue adalah : ga juga kok. Asalkan bener-bener belajar minimal sebelum ujian—tergantung tingkat kemampuan, kerjakan tugas dengan baik, dan beradaptasi sebaik-baiknya. Kendala bahasa akan terkikis seiring kerapnya kita membuat tugas dan melakukan presentasi.

Selain itu sebenarnya kuliah di luar negeri agak lebih mudah karena biasanya ga sambil kerja. Justru gue salut banget sama yang kuliah S2 sambil tetep kerja. Pasti capeknya bukan main, baik fisik maupun otak.

Sebaliknya, jika ada yang bilang kuliah di luar negeri itu gampang, pasti lulus, respons gue adalah : bener, kalau universitasnya abal-abal.

Halah win, buktinya kamu kerjanya traveling mulu, tapi tetap lulus.

Great trips…

Kalau bener semudah itu, ga akan gue gagal dua mata kuliah di kesempatan pertama ujian, gara-gara ga cukup waktu buat belajar. Gue ga lulus ujian karena traveling ke Bournemouth, London, dan Paris, selama seminggu.

Balik hanya 2 hari sebelum ujian. Padahal di hari pertama ujian ada dua mata kuliah yang diujikan. Kemudian esoknya dilanjutkan 1 mata kuliah lagi. Rupanya waktu tersebut ga cukup untuk belajar.

Beruntung di Universitas Groningen berlaku dua kali ujian. Jadi kalau tidak lulus di kesempatan pertama, masih ada ujian kedua tanpa harus mengulang mata kuliah. Di kesempatan kedua itu gue harus lulus. Kalau ga lulus lagi berarti harus pulang lebih cepat, tanpa mendapat ijazah.

Itu adalah di tahun pertama gue kuliah. Program yang gue jalani ada dua, yakni pre master dan master. Kontrak beasiswa gue hanya dua tahun. Jadi ga ada toleransi molor dengan mengulang mata kuliah. Dengan dua program yang gue jalani, ada dua tugas akhir yang harus gue selesaikan, yaitu skripsi untuk pre master dan thesis untuk program master.

Kok bisa dua program? Karena Universitas Groningen menganggap bidang studi S1 gue ga sesuai dengan program master yang hendak gue ambil. Sehingga, gue harus menjalani program pre masternya dulu. Mata kuliah pre master diambil dari program bachelor, 1-3 mata kuliah dari tiap tahun akademik bachelor.

Biarpun lumayan kerap traveling, bukan berarti gue ga kerja keras saat kuliah. Gue bersih-bersih bengkel kapal sampai lantainya mengkilap dan membuat kopi buat para karyawannya, seminggu dua kali di tahun kedua. Eh…bukan kerja keras yang itu ding :p

Maksud gue, belajar serius, memeras otak untuk ujian dan tugas di saat diperlukan. Pernah gue ga tidur hampir dua hari untuk belajar. Mengerjakan paper juga ga asal-asalan. Karena kalau asal-asalan pasti dapet nilai jelek.

Pada saat menulis skripsi, gue sampai menutup diri dari hubungan sosial dengan teman-teman selama 4 hari. Biasanya,  tiap hari gue berinteraksi dengan teman-teman asal Indonesia minimal melalui chatting di YM. Pas selesai ujian terakhir yaitu Kamis, gue langsung broadcast message bahwa gue akan offline sampai Senin dan meminta supaya teman-teman ga mencari gue atau datang ke kosan gue, kecuali darurat.

Wonderful friends…

…dan lucu-lucu

Waktu itu deadline penyerahan skripsi adalah Senin jam 5 sore. Alhamdullilah semua lancar. Sekitar 25 halaman selesai gue tulis dan gue bisa submit naskah sebelum pukul 5 sore.

Belum selesai sampai di situ. Gue mesti deg-deg an menanti hasilnya. Kalau nilai skripsi gue di bawah standar kelulusan, yakni nilai 6, gue mesti packing pulang. Nilai harus sudah masuk sebelum waktu pendaftaran program master ditutup.

Lama ga keluar-keluar, akhirnya gue memutuskan meng-email dosen pembimbing, menanyakan nilai sekaligus menjelaskan situasi yang gue hadapi. Beliau merespons hari berikutnya. Ia bilang akan segera mengirim nilai gue ke sekretariat akademik.

Yang bikin gue girang banget adalah dosen gue itu menyebutkan nilai gue 8. Menurut dia skripsi gue adalah yang terbaik sekelas. Sampe berkali-kali gue baca, setengah ga percaya. Kemudian, gue tunjukkan email itu kepada seorang teman. Mungkin dia udah lupa sekarang :p

Di tahun kedua, gue menjalani program master. Agak lebih mudah karena sudah terbiasa mengerjakan tugas-tugas dalam bahasa Inggris. Itu keuntungan gue dibandingkan dengan teman sekelas dari Indonesia yang memulai kuliah langsung di program master. Gue punya satu teman sekelas dari Indonesia. Teman-teman yang lain sekitar 80% orang Belanda. Sisanya dari Uni Eropa dan China.

Gue makin lancar menyeimbangkan kuliah dengan traveling. Jumlah perjalanan lebih kerap, tapi kuliah ga terganggu, setiap ujian bisa lulus dalam sekali waktu.

Meski begitu bukannya tanpa hambatan. Di saat menggarap thesis, dosen pembimbing gue tiba-tiba pindah kerja ke universitas lain. Ga tanggung-tanggung, dia pindahnya ke Denmark. Hayyahh…padahal itu udah bulan Juni, sudah memasuki liburan musim panas. Dan, kontrak beasiswa gue hanya sampai 31 Agustus. Jelas ga mungkin kalau ternyata harus mengulang thesis dari awal.

Gue menghubungi dosen pembimbing kedua, yang kebetulan juga Kepala Program Studi. Ga langsung bisa ketemu karena libur musim panas sudah mulai. Akhirnya ketemu di pertengahan Juli. Beruntung dia memahami kesulitan gue, ga nyuruh ngulang dari awal. Tapi dia ga bisa segera menangani thesis gue karena harus pergi ke Amerika selama dua minggu. Pusing ga lo? Eh, gue :p

Dia menanyakan perkembangan thesis gue, dan gue bilang saat itu udah melewati tiga kali revisi. Lalu dia menyuruh gue mengirim draf revisi keempat. Ia janji kalau sempat akan dia baca saat di AS. “Mestinya ga banyak lagi revisinya,” kata dia meyakinkan.

Dengan memelas (lebay) gue bilang ke dia bahwa gue harus lulus sebelum 31 Agustus. Beliau bilang, “Oke, kalau begitu kita tentukan saja sekarang tanggal sidangnya,” ujarnya.

Agak kaget juga gue ditodong seperti itu. Akhirnya kami menyepakati tanggal sidang 26 Agustus.  Beberapa hari sebelum sidang, dosen pembimbing gue meminta ijin membawa mahasiswa bimbingannya dari Hanze Hogeschool yang juga pelajar Indonesia. Biar bisa belajar dari situ, kata dia. Gue ga keberatan.

Di hari H, setelah melewati malam sulit tidur, gue menghadapi seorang dosen penguji dan satu dosen pembimbing. Ditambah seorang pengamat, mbak yang kuliah di Hanze. Kedua dosen bergantian menguji dengan pertanyaan-pertanyaan mencecar. Yang paling alot perdebatan gue dengan dosen penguji adalah tentang mengapa gue menggunakan harga saham di annual report perusahaan sebagai salah satu indikator.

Gue ga mau dikatakan salah. Dengan segala argumentasi gue membela dasar pemilihan indikator tersebut. Setelah sekitar sejam, sidang selesai. Kedua dosen meminta gue dan teman baru gue dari Hanze keluar dulu. Lima menit kemudian, mereka memanggil gue masuk.

Si dosen penguji mengucapkan selamat, gue mendapat nilai 8. Ia bertanya apakah gue pernah mengambil program sekolah bisnis sebelumnya. Gue menjawab belum pernah. Lalu, dosen itu berkata thesis gue bagus dan tata bahasa Inggrisnya pun hampir tanpa kesalahan.

Gue tersenyum sambil mencoba tetap tenang, ga lonjak-lonjak :p Gue bilang mungkin itu karena gue wartawan ekonomi dan udah menjalani program pre master. Beliau langsung menimpali sambil bercanda, ‘Wah, kalau begitu nilaimu mestinya lebih rendah, wartawan ekonomi seharusnya bisa lebih baik.”

Ga cuma itu. Ia juga memuji pendirian gue. Menurut dia umumnya mahasiswa Indonesia ga bisa mempertahankan argumen. Hampir selalu akhirnya menyerah dan mengakui bahwa dosen penguji yang benar. Rupanya dia spesialis menguji mahasiswa asal Indonesia. Tambah besar kepala donk gue…hahahaha…

Saat itu rasanya kayak mimpi. Dosen pembimbing meminta gue cepat menyerahkan catatan nilai ke sekretariat akademik supaya bisa segera diproses. “Kalau terlambat nanti harus bayar uang kuliah lagi,” kata dia.

Lega banget, rasanya semua beban hilang seketika itu juga. Walaupun gue ga bisa pulang membawa ijazah—ijazahnya dikirim ke rumah–setidaknya gue bisa lulus tepat waktu.

Great ending….Baru selesai sidang, wajah babak belur dihajar kurang tidur dan dosen penguji.

Cukup menjelaskan kan, kenapa gue menyebut dua tahun hidup di Groningen itu sebagai momen terbaik seumur hidup gue? Dua tugas akhir dengan nilai masing-masing 8, disertai pujian dosen. Mampir dan melongok 40++ kota di 20++ negara Eropa. Dan, mendapat teman-teman baru yang asyik-asyik. Gimana ga jadi the best moment? :D

****

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s