Pikun Bawaan

Posted: October 27, 2013 in Sela

Ndy

(Migrasi Blog, tulisan asli diposting 2 Juli 2013)

SEORANG teman menyarankan gue untuk menyetel alarm agar selalu ingat ketika hendak melakukan sesuatu. Ia merujuk pada penyakit pelupa gue yang kadang mungkin terlihat cukup parah olehnya.

Gue lalu teringat pada zaman Belanda dulu. Maksudnya zaman gue kuliah di Belanda :D Di sana ada kebiasaan mencatat  jadwal kegiatan/melakukan sesuatu di buku agenda.

Tiap pelajar Belanda pasti punya buku agenda. Bahkan hampir semua orang Belanda. Gue ga mengikuti kebiasaan itu karena merasa selalu bisa mengingat janji bertemu, kelas tambahan, ataupun waktu mengumpulkan tugas yg sudah dijadwalkan. Lagipula rasanya malas mengisi buku agenda.

Pernah suatu waktu gue dan tiga orang teman sekelompok–yang semuanya pelajar Belanda—berdiskusi lalu menetapkan jadwal pertemuan berikutnya. Serempak ketiganya mengeluarkan buku agenda dan mulai mencatat.

Supaya keliatan tidak meremehkan, gue juga mengambil buku agenda yg selalu ada di tas tapi dengan kondisi nyaris kosong. Lalu pura-pura menuliskan jadwal pertemuan itu.

Dalam hati gue ketawa, emang seberapa ketatnya sih kegiatan anak-anak Belanda ini sampe harus mencatat janji kerja kelompok.

Gue sendiri, walaupun ga mencatat di buku agenda, ga pernah lupa janji kerja kelompok ataupun mengumpulkan tugas.

Lalu yang kamu maksud pikun bawaan itu apa win? Nah, itu juga yang gue ingatkan ke teman yang memberi saran di awal tadi. Bahwa kalau untuk kegiatan berjadwal, gue hampir ga pernah lupa. Kecuali sengaja lupa :p

Tapi hal lainnya misalnya menaruh sesuatu, itu bisa dengan gampang lupa. Udah sering hp gue ketinggalan di sekretariat redaksi, ruang layout, dan di mobil. Itu pun baru sadar setelah beberapa lama.

Gue bisa mengucapkan atau berbuat sesuatu tapi di kemudian hari benar-benar lupa. Perlu beberapa petunjuk yang bisa memancing ingatan.

Gue juga bisa menonton film lalu setelah setahun atau dua tahun sama sekali lupa jalan ceritanya. Jadi kalau nonton lagi kayak baru pertama kali nonton. Atau baru nonton seminggu yang lalu tapi udah kesulitan menceritakan kembali jalan ceritanya. Ga selalu. Keliatannya acak.

Pikun karena usia? Ga juga. ‘Penyakit’ ini sudah gue derita sejak kecil. Yang paling gue inget adalah gue pergi ke pasar beli buku di sebuah toko milik orang Padang. Siang hari. Malam harinya ketika hendak tidur, ibu tanya sepedaku di mana. Seketika itu baru gue inget kalau tadi beli buku naik sepeda.

Besok paginya kembali ke toko buku itu dan pemiliknya mengeluarkan sepeda gue dari tokonya :p Kejadian itu adalah saat gue masih kelas IV SD.

Selain itu, yang rutin adalah lupa nama teman. Tiap kali usai libur kenaikan kelas, hari pertama-kedua masuk kelas, gue ga inget sebagian besar nama teman sekelas gue. Untuk mengingatkan, biasanya sambil mendengarkan percakapan teman atau guru mengabsen. Sampai kuliah masih begitu.

Kerja juga masih. Seperti yang paling fresh adalah setelah cuti jalan-jalan ke Laos April lalu. Gue menelepon seorang rekan kerja di bagian litbang untuk memesan bahan grafis tulisan. Suaranya kenal tapi gue lupa namanya :p Untung ga nyebutin nama juga ga apa-apa.

Kejadian mirip kasus sepeda SD juga pernah gue alami belum begitu lama ini. Selama beberapa hari sebelumnya gue selalu naik kendaraan umum berangkat-pulang kerja. Suatu malam, gue melenggang saja jalan kaki menuju tempat memberhentikan angkot. Melewati sebuah komplek. Setelah kira-kira 10 menit jalan sambil setengah melamun baru gue inget bahwa hari itu bawa mobil. Hallaahhh…langsung balik badan kembali ke kantor.

Kalau barang ketinggalan, selain hp memang agak sering. Pernah gue sedang naik angkot pulang merasa lapar. Terus ngeliat warung tenda jualan bebek goreng,  gue turun. Setelah kenyang, melanjutkan perjalanan.

Sampai di rumah bersih-bersih badan, ganti baju, ketemu Kutil (kucing gue). Baru gue inget bahwa tadi beli ikan dan kresek berisi ikan gue taruh di bawah bangku warung tenda. Yang pertama kepikiran adalah semoga yang punya warung tenda nemuin. Kalo ga, sayang banget tuh ikan dua kilo.

Sampai sekarang gue ga ngerti penyakit apa yang gue derita. Tapi seperti juga kondisi badan gue yang selalu kurus dari sejak lahir, gue ga terlalu ambil pusing. Biarlah buat bahan tertawaan sekali-kali :p

****

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s