Sapi yang Manis

Posted: October 27, 2013 in Sela

Ndy

(Migrasi Blog, tulisan asli diposting 8 Maret 2013)

OKE, mari kita rehat sejenak dari cerita-cerita perjalanan dan tulisan tentang norma-norma sosial. Sekarang gue mau ngomongin tentang makanan.

Saat memulai menulis kisah ini,  gue sedang mual akut, tapi ga bisa muntah. Sepertinya akibat sayap-sayap ayam jumbo yang gue makan di kantor. Tapi gue bukan mau cerita soal itu. Topik yang hendak gue angkat adalah steak.

Baru-baru ini, Holycow!, sebuah brand restoran steak, membuka cabang di Jl Panjang, Jakarta Barat, dekat dengan kantor gue. Beberapa hari kemudian, gue bersama tiga orang teman se-desk datang ikut mencicip.

Setelah beberapa lama mengantre di luar, ditambah lama menunggu steak datang ke meja, akhirnya sampai juga wagyu tenderloin steak dengan saus lada hitam ke lidah gue. Dagingnya lunak. Jauh lebih lunak daripada steak ala carte di kafe kantor yang kadang gue pikir itu adalah sandal jepit panggang dengan saus steak. Yahh, sebandinglah dengan harganya.

Ketika memakan steak Holycow!, rasa nikmat perlahan tergantikan oleh rasa bersalah. Sebagai informasi, di tiap porsi standar, steak yang dihidangkan seberat 200 gram. Seharusnya gue ga lagi makan daging segede itu, karena sudah ga dalam masa pertumbuhan. Selain itu, ga membutuhkan sumber energi sebesar itu. Akan lebih baik kalau gue kasih ke keponakan-keponakan gue yang cewek-cewek dan kurus-kurus.

Tapi gue habiskan juga sampai tandas makanan di hadapan gue. Laper euy, abis deadline.

Di rumah, perasaan bersalah masih mengiringi, dengan perut kenyang tentunya, yang sepertinya berterima kasih karena ditraktir makanan enak. Gue mengingat-ingat kapan terakhir kali makan daging sebanyak itu. Yup, sekitar tiga tahun yang lalu saat di Groningen.

Di sana ada sebuah restoran Turki, namanya Babylon, yang menyediakan menu steak dengan harga mulai dari 7 euro. Restoran itu menjadi langganan beberapa mahasiswa PhD asal Indonesia, terutama yang muslim. Kenapa PhD? Karena harga-harga menu di sana terlalu mahal buat mahasiswa S2 dan S1. Mahasiswa PhD biasanya lebih makmur sebab mendapatkan tunjangan beasiswa yang lebih besar.

Nah, kalau gue bandingkan dengan steak Holycow!, steak Babylon itu, menurut ingatan gue, lebih enak. Bikin ketagihan.
Rasanya manis dan agak lebih besar porsinya. Gue pernah 2-3 kali membeli salah satu menu ribs-nya. Biasanya ga habis sekali makan saking besarnya.

Entah apa yang menyebabkan steak itu lebih manis. Apakah ada hubungannya dengan sapinya yang ketika masih hidup juga manis? Siapa tahu :p

Gimana? Manis-manis kaaannnn… (Groningen, Agustus 2009)

Tapi yang ini juga manis ding #Eh (Groningen, Agustus 2009)

 

****

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s