Sekolah Mengantre

Posted: October 27, 2013 in Sela

Ndy

PERNAH mengalami ada orang yang tiba-tiba masuk ke antrean pas di depan kita? Tanpa rasa bersalah. Ditegur pun malah galakan dianya.

Mungkin banyak yang udah berkali-kali mengalami. Gue sendiri bisa mengisahkan dua kasus dari sekian banyak. Pertama, waktu gue ngantre nuker bukti bookingan tiket kereta di Stasiun Senen.
Memang loketnya agak membingungkan waktu itu.

Seorang bapak yang ada di jalur antrean sebelah gue baru menyadari bahwa dia salah antrean. Langsung aja dia masuk di jalur antrean gue. Di depan gue. Gue protes donk. Eh, doi malah marah-marah. Bilang, gitu aja kok dipermasalahkan.

Bukan bermaksud mendiskreditkan. Si bapak memakai jubah ala orang Arab dan peci bulat. Penampilan alim lah. Maksud gue, kalau yang (tampak) alim aja ga ngerti etika, gimana yang ga beradab ya?

Kedua, waktu lagi antre ngambil makanan di halaman kantor. Mulanya orang itu mendekati temannya yang antre di depan gue. Saat itu antrean di belakang gue udah lumayan panjang.

Sambil ngobrol, lama-lama si cowok masuk antrean. Gue tanya, “Mas, ikut antre juga?” Pertanyaan itu sebenernya nyindir. Tapi rupanya yang disindir ga merasa dan menjawab dengan enteng, “Iya.”

Kalau sistem antrean itu disamakan dengan sekolah, ada tiga tingkatan. Tingkat pemula, mengantre pada jalur yang sudah ditentukan atau sudah kelihatan.

Tingkat lanjut, mengantre pada jalur yang tidak ditentukan atau belum kelihatan. Tingkat atas, mengantre pada jalur yang tidak kelihatan tapi jalur itu ada bila diperhatikan dengan seksama.

Antrean yang gue sebutkan di dua kasus di atas tingkatannya masih pemula. Itu pun ternyata masih banyak masyarakat kita yang pura-pura ga ngerti, yang artinya ga beretika.

Sistem antrean tingkat lanjut beda lagi.  Ambil contoh yang tidak beretika. Waktu kita beli sesuatu di sebuah lapak di pasar. Lalu datang konsumen lain, dan yang berikutnya, lalu berikutnya lagi. Sampai ada beberapa konsumen. Apa yang terjadi? Semuanya langsung mengambil posisi di depan kan. Konsumen yang paling keras suaranya, atau sudah dikenal pemilik, bisa dilayani lebih dulu meskipun dia datang belakangan.

Beda kalau untuk yang beretika. Konsumen kedua langsung mengambil posisi di belakang konsumen pertama, lalu yang ketiga mengambil posisi berikutnya, dan seterusnya. Itu yang sempat gue lihat di sebuah pasar di Putrajaya, Malaysia.

Lalu bagaimana dengan etika mengantre tingkat atas? Nah, ini gue temui di Belanda. Waktu itu gue mau bikin pass foto. Begitu masuk, si penjaga toko sedang melayani seorang pelanggan. Di situ ada beberapa orang yang duduk. Gue ikut duduk. Untung udah dibriefing duluan oleh teman.

Begitu pelanggan yang tadi selesai dilayani, seorang pelanggan lainnya berdiri dan menghampiri penjaga toko. Antrean ga pakai nomor.

Ngerti ga sistem antreannya? Jadi kita harus menghapalkan siapa aja yang udah datang sebelum kita. Begitu orang terakhir terlayani, baru giliran kita. Ajib kan? 😀

Tapi ga perlu lah jauh-jauh belajar mengantre di Belanda, cukup sama bebek aja dulu.

bebek1

Menu bebek panggang #eh, salah fokus

****

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s