Pelangi di Kaki Bukit

Posted: November 9, 2013 in Catatan

(Kisah Mendaki Rinjani Bag 1)— Petunjuk jalan simak di sini.

HANYA empat golongan orang yang mampu mencapai puncak Gunung Rinjani, yaitu:

Pendaki ulung;
Pemilik stamina kuat;
Orang-orang bermental baja;
dan
Orang-orang yang tidak mau merugi;

…kami lah orang-orang yang tidak mau merugi itu.

—————-

Gunung Rinjani dari area sekitar 1 km titik awal pendakian Sembalun.

Gunung Rinjani dari area sekitar 1 km titik awal pendakian Sembalun.

Kamis, 31 Oktober 2013. Sekitar pukul 09.00 pagi kami memulai pendakian Rinjani melalui jalur Sembalun, didahului dengan berdoa memohon perlindungan dari Yang Maha Kuasa.

Semula kami berkeinginan menjajal jalur pendakian Torean. Namun, si pemilik tenda yang juga mencarikan porter untuk kami, mengatakan jalur itu sudah ditutup untuk para pendaki. Hujan mulai kerap turun, terlalu berbahaya melewati Torean. Kami mematuhinya.

Lima orang yang bisa dibilang belum pernah mendaki gunung, apalagi yang setinggi Rinjani.  Semua adalah pendaki pemula. Lebih baik cari aman. Sebagai informasi, Gunung Rinjani yang berketinggian 3.726 meter di atas permukaan laut (mdpl) adalah gunung berapi kedua tertinggi di Indonesia, setelah Kerinci. Gunung yang terletak di Lombok Utara itu disebut sebagai gunung tercantik di Indonesia. Dan, kami dalam misi membuktikan sebutan itu dengan mata kepala sendiri.

Tiga orang porter mendampingi sekaligus membawakan perlengkapan tenda dan logistik. Adapun perlengkapan pribadi kami bawa masing-masing.

Tiga porter kami dan 'tentengan' mereka.

Tiga porter kami dan ‘tentengan’ mereka.

Cuaca sangat cerah pagi itu sehingga memacu semangat mendaki. Sepanjang perjalanan kami isi dengan mengobrol sambil becanda ria.
Berpapasan dengan pendaki-pendaki ala mapala yang ga memakai jasa porter. Carrier yang mereka sandang, menurut pengakuan mereka, berkapasitas 75 liter. Ransel gue aja cuma 25-30 liter. Lebih dari itu ga kuat lagi gendong.

“Itu lemari pakaian sama kulkas sekalian dibawa ya mas,” kata seorang teman. Mereka cengar-cengir.

Kadang memandang iri grup bule yang menyalip grup kami. Mereka paling banter membawa ransel tipis-kecil. Paling-paling isinya cuma tisu dan air minum. Semua barang lainnya dibawakan porter. Yahh, beda harga, beda pelayanan lah.

Para bule umumnya mengambil paket pendakian yang harganya paling murah sekitar Rp1,8 juta per orang. Sedangkan kami, ngeteng aja. Sewa pisah-pisah, dihitung per item.

Sesekali kami terdiam karena medan yang cukup panas dan didominasi kontur mendaki.  Ada tujuh bukit–disebut 7 bukit penyesalan–yang harus kami lewati untuk sampai ke Plawangan Sembalun, tempat kami bermalam.
Beberapa kali beristirahat di sejumlah titik, termasuk Pos 1.

Perjalanan cukup lancar. Kami tiba di Pos 2 bebarengan dengan para porter. Mereka kemudian menyiapkan makan siang, sedangkan kami duduk-duduk beristirahat. Waktu itu sekitar pukul 12.30

Mula-mula datang minuman hangat diantarkan para porter. Sekitar setengah jam kemudian datang menu makan siang cukup lengkap. Itulah awal ‘kemewahan’ di gunung yang kami rasakan. Serasa sedang di rumah makan 😀

Makan siang Rinjani

Bersiap menikmati hidangan makan siang di Pos 2 Sembalun.

Kami tidak sendiri di pos 2. Sejumlah grup pendaki, baik asing maupun lokal, juga beristirahat makan siang di situ.

Seusai makan siang, perjalanan dilanjutkan. Tidak ada halangan berarti. Tapi medan yg hampir terus mendaki membuat gue kewalahan. Dari kelima anggota grup, hampir selalu gue yang ketinggalan di belakang.

Teman-teman satu grup saling menjaga agar jarak antarkami tidak terlalu jauh. Anggota terdepan hanya sebentar2 saja tidak terlihat oleh anggota yang berjalan paling belakang.
Tidak ada yang ingin terpisah dari grup.

Ketiga porter kami biasanya beristirahat lebih lama dan memberi kesempatan kami berjalan lebih dahulu. Beberapa lama kemudian mereka menyusul kami, mendahului, dan menunggu kami di tempat peristirahatan berikutnya.

Cuaca cukup nyaman untuk pendakian. Kabut mulai menyelimuti sehingga terik matahari sedikit terhalangi. Sampai setelah kami melewati Pos 3.

Padang rumput alias sabana di jalur pendakian Sembalun.

Padang rumput alias sabana di jalur pendakian Sembalun.

Ketika itu langit semakin pekat oleh mendung. Tenaga sudah tinggal sepertiga. Porter yang menyusul kami mengatakan masih tersisa tiga bukit lagi yang mesti dilalui. Saat itu sudah lewat pukul 3 sore.

Hujan mulai turun. Kami mengeluarkan jas hujan masing-masing. Jas hujan yg gue bawa adalah yang sekali pakai. Rupanya cukup untuk menutupi tubuh hingga ke lutut, termasuk ransel yang gue gendong.

Di bagian dalam, gue memakai jaket karena hawa sudah cukup dingin. Apalagi ketika angin kencang menerpa. Para porter hanya beberapa puluh meter di depan kami. Rupanya mereka sengaja memperlambat jalan untuk memastikan kami baik-baik saja.

Perjalanan semakin lambat karena hujan membuat pijakan tidak stabil. Kami harus berjalan lebih hati-hati agar tidak terpeleset.

Sesiang itu sudah 2-3 grup bule yang menyalip kami. Yang terakhir ialah sepasang opa-oma, mantap mendaki perlahan mendahului.

Kami sampai mengolok-olok diri sendiri dengan mencoba menyuarakan hati mereka, “Anak muda jaman sekarang tenaganya cuma sampai segitu aja. Payah!” Sambil nyengir-nyengir, memberi jalan dan membalas salam keduanya.

Di sela-sela itu, seorang teman menanyakan apakah kami akan ke puncak malam itu juga. ‘Iya, mudah-mudahan bisa sampai sebelum gelap. Jadi bisa istirahat agak panjang. Nanti jam 12-an malam kita muncak,” kata gue.
“Kalau ga kuat ga papa. Yang bisa aja nanti ikut.”
Lalu dia bilang, “Tanggung ah, gue ikut.”

Hujan seakan mencoba menahan diri. Kadang cukup deras, tidak lama kemudian berhenti, lalu disusul gerimis. Angin kencang sesekali menyertai, didahului suara menderu di kejauhan. Hawa dingin menusuk tubuh.

Sampai satu ketika kami menengok ke belakang dan tampak pelangi melengkung dengan megahnya. Kami bersorak-sorak melihatnya. Tiba-tiba bersemangat mendaki untuk mencari tempat terbaik memandangi pelangi itu. Dan seperti biasa, mengabadikannya dengan kamera. Bergantian berpose dengan latar belakang pelangi.

Warnanya semakin lama semakin jelas. Subhanallah…kami merasa seperti dihibur oleh Penciptanya. Di saat semangat mulai luntur oleh hujan, angin, dan rasa lelah.

Kejutan kembali hadir dalam bentuk pelangi kedua. Iya, ada dua pelangi yang muncul! Meskipun, warna yang kedua tidak sejelas pelangi di bawahnya.

Dua pelangi, hadiah hiburan untuk para pendaki yang kehujanan, kedinginan, dan kelelahan.

Dua pelangi, hadiah hiburan untuk para pendaki yang kehujanan, kedinginan, dan kelelahan.

Wajib, kudu, berpose dengan latar belakang pelangi.

Wajib, kudu, berpose dengan latar belakang pelangi.

Tak henti-hentinya kami mengagumi. Seumur hidup baru kali itu gue melihat dua pelangi sekaligus. Kecuali, di matamu….hayyahhh…

Warna pelangi mulai pudar, kami melanjutkan perjalanan. Para porter sudah tidak terlihat. Terakhir mereka berpamit agar bisa mendirikan tenda sebelum kami tiba.

Deru angin di kejauhan kembali terdengar, hingga sampailah angin kencang di tempat kami mendaki. Saking kencangnya, ga ada yang berani melangkahkan kaki lebih jauh.

Seperti dihadapkan pada permainan ‘Cari sendiri pohonmu’, tiap orang bergegas menuju pohon terdekat dan bersandar di baliknya. Beberapa kali kami harus melakukan itu.

Momen itu adalah salah satu yang kami ungkit sambil tertawa saat kami sudah menuntaskan perjalanan.

Kami semua membisu sambil menunggu angin kencang mereda. Entah apa yang berkecamuk di pikiran masing-masing.

Gue sendiri merasa khawatir kami akan menghadapi cuaca serupa hingga kembali di Desa Senaru. Dalam hati memohon kepada Sang Pemilik Alam supaya memberikan kami kelonggaran.

Tidak kurang dari satu jam terakhir pendakian menuju Plawangan Sembalun merupakan yang terberat hari itu. Langit sudah gelap. Senter-senter kami menyala namun tetap harus memperhatikan jalan setapak dengan seksama agar tidak salah jalan.

Hati tidak sabar untuk segera sampai di tenda yang kami yakin sudah didirikan para porter. Tapi apa daya, kaki sudah sangat lelah, nafas pendek-pendek, tidak mampu bergegas.

Kami sudah mulai kehilangan arah ketika seorang porter datang membimbing kami berjalan menuju tenda. Jalan pun melandai.

“Sepuluh menit lagi sampai, mbak. Bukan tenda yang di depan itu. Tapi di belakang. Nanjak sedikit lagi,” kata dia.

Kami serempak mengeluarkan suara keluhan saat mendengar kata ‘nanjak’. “Cuma sebentar nanjaknya,” kata si porter mencoba menghibur.

Teman yang tadi menanyakan soal jadwal ke puncak berkata, “Kayaknya gue ga kuat deh Win kalau langsung muncak.”
Gue tertawa kemudian berkata, “Tadi katanya tanggung. Bisalah. Nanti coba liat-liat aja.”

Akhirnya tibalah kami di tenda masing-masing. Satu tenda berdua. Kecuali yang cowok.

Waktu menunjukkan pukul 19.20. Lega rasanya bisa duduk meluruskan kaki di dalam tenda yang lebih hangat daripada di luar. Lalu, datang porter menawari, “Mbak, mau minum apa?” Kata-kata hangat yang akan selalu mengiringi hari-hari kami di Gunung Rinjani….

(Bersambung ke bag 2: Tanjakan Neraka, tapi ga pake ada nenek gayung yaa…)

****

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s