Tanjakan Neraka

Posted: November 10, 2013 in Catatan

<——Bag 1 : Pelangi di Kaki Bukit

(Kisah Mendaki Rinjani Bag 2) — Petunjuk jalan simak di sini.

SEMUA sendi badan terasa sakit dan pegal. Selesai membersihkan badan sebisa mungkin dengan tisu basah, makan malam datang. Seorang porter membawakan mangkok-mangkok mie dan piring-piring nasi ke tenda kami.

Hawa yang dingin makin menusuk. Sambil makan, gue berselimutkan ‘sleeping bag’.
Seorang teman berkata lantang dari tendanya, “Win, kalo elo ngajak ke Rinjani lagi, gue ga ikutan.”
Semua tertawa menunjukkan kata sepakat. Gue lalu menimpali, “Gue juga ogah balik lagi.”

Tiga tenda kami di Plawangan Sembalun.

Tiga tenda kami di Plawangan Sembalun.

Seusai makan malam, kami bertanya ke salah seorang porter, jam berapa ke puncak. Ia bilang nanti berangkat jam dua pagi.
Sedikit sangsi dengan rencana itu. Gue sempat membaca di sejumlah blog bahwa untuk bisa menyaksikan matahari terbit di puncak Rinjani mereka harus berangkat sekitar pukul 00.00. Bahkan ada yang menyarankan berangkat pukul 23.00

Tapi gue malas berdiskusi lebih lanjut dan pasrah saja dengan jadwal si porter. Lebih baik cepat beristirahat untuk mengumpulkan energi. Sanggup bangun aja belum tentu karena pegal-pegal di sekujur tubuh.

Gue sama sekali ga keluar tenda malam itu. Seorang teman yang kebetulan satu-satunya cowok, selain porter tentunya, mengabarkan langit malam itu dipenuhi bintang. Cerah sekali. Mengajak yang lain ikut keluar untuk menikmati. Semua menolak mentah-mentah…hehehehe…

Malam itu terasa amat panjang. Berkali-kali gue terbangun tanpa melihat jam. Bertanya-tanya kenapa porter tak kunjung membangunkan kami. Khawatir kesiangan.

Jumat, 1 November 2013. Akhirnya, gue terbangun oleh suara porter. “Mbak-mas, bangun. Siap-siap berangkat.”
“Mau minum apa?”

Pukul setengah 2 dini hari. Kami bersiap-siap. Setelah membawakan minuman hangat, porter menyodorkan segelondong roti tawar dan segepok keju ke tenda gue. Ia meminta kami sarapan dulu.

Semua masih kenyang dengan makan malam. Gue menyiapkan setangkup roti dengan keju di dalamnya. Maksudnya mau gue bawa untuk dimakan di perjalanan. Belakangan baru nyadar roti itu tertinggal di tenda *keluh*.

Air minum dalam botol 500 ml dan jas hujan masuk kantong celana. Gue membawa tas berisi senter, kacamata renang, masker, dan kebaya. Kebaya?! Iya, kebaya. Rencananya mau dipakai saat di puncak 😀

Puncak Rinjani dilihat dari ujung bawah Tanjakan Neraka.

Puncak Rinjani dilihat dari ujung bawah Tanjakan Neraka.

Di luar tenda dingin sekali. Memang ga sedingin waktu gue menunggu semalaman di luar Bandara Eindhoven, tetapi mendekati. Kelihatannya 5-8 derajat celsius. Alhamdulilah langit masih cerah. Indah banget dengan bintang bertaburan. Bulan ga nampak karena malam itu mendekati bulan baru.

Semua anggota tim siap berangkat. Tidak terkecuali yang semalam merasa tidak sanggup ikut muncak.
Sekitar pukul 02.00 kami mulai berjalan. Seperti biasa, gue selalu tertinggal ketika jalan mulai mendaki. Setiap beberapa langkah harus berhenti untuk menstabilkan nafas.

Dua anggota grup mendahului di depan bersama pemandu. Ga terlihat lagi oleh kami, terutama karena memang suasana gelap dan jalan setapak berkelok-kelok.

Jalan yang sebagian besar berpasir menyulitkan langkah kami. Gampang sekali merosot lagi.
Sejam berlalu, banyak grup yang mendahului kami. Sebagian besar turis asing. Rupanya kami termasuk yang paling awal mendaki. Kini, tergolong yang paling belakang.

Setelah berjalan hampir dua jam. Teman kami yang cowok mengeluh kaki kirinya sakit, sepertinya keseleo karena salah menapak. Langkahnya semakin lambat.

Akhirnya tinggal kami berdua dari grup kami yang tersisa di belakang. Sempat gue bilang ke teman gue itu, kalau memang ga kuat, berhenti aja. Tapi dia ga mau. “Harus sampai puncak. Tanggung,” katanya.

Beberapa kali kami berhenti untuk beristirahat. Salah satunya di tempat para porter ‘ngetem’. Gue bertanya ke salah satunya. “Masih jauh ya Pak?” “Kalau jalannya kayak gini ya tiga jam lagi.” “Nanti sampai setengahnya aja mbak.”

Huahhhh…padahal gue merasa udah jalan selama tiga jam. Masa masih harus mendaki tiga jam lagi? Tapi, tekad untuk mencapai puncak udah bulat. Gue melanjutkan mendaki diikuti teman gue.

Di tengah jalan bertemu porter pemandu kami. Berhenti sejenak. Teman gue makan biskuit yang dibawa porter. Ia juga menitipkan ranselnya. Kami lanjut. Sampai lagi di satu tempat ‘ngetem’ beberapa porter. Porter kami menyarankan ga usah melanjutkan karena sampai di puncak pasti sudah siang. “Biasanya siang kabut sudah naik, ga keliatan apa-apa dari puncak,” ujarnya. Ketika itu, menurut teman gue, pukul setengah lima.

Bukannya surut, gue malah makin ga mau nyerah. Demikian pula teman gue. Pokoknya kami harus sampai puncak. Sampai di satu titik,  porter kami tidak lagi mengikuti. Hanya menunjuk, ‘ke sana puncaknya’. Seakan sudah dekat.

Pukul lima pagi semburat warna oranye di timur mulai terlihat. Sudah pasti kalaupun kami mencapai puncak, matahari sudah tinggi. Tidak ada matahari terbit di puncak Rinjani untuk kami.

Teman gue bertanya, “Yang lain sudah nyampe belum ya?” Gue jawab, “Udah sampe mestinya.”

Sambil merangkak di Tanjakan Neraka, nengok ke kanan, ini yang terlihat.

Sambil merangkak di Tanjakan Neraka, nengok ke kanan, ini yang terlihat.

Kami tiba di tanjakan cukup lebar tapi sepanjang jalan isinya batu kerikil semua dan pasir. Susah banget melangkah. Ditambah lagi angin sangat kencang membuat badan mulai kedinginan. Tangan sudah terasa beku. Perut keroncongan pula. Gue periksa tas, ga menemukan roti.

Beberapa lama kemudian, sejumlah pendaki terlihat turun dari arah puncak. Momen matahari terbit sudah berlalu.

Gue bertanya ke salah satu turis asing yang turun. “Is it far from here? The top.”
Si cowok bule terdiam sejenak. Lalu berkata. “Mmmm…it’s fine. Go ahead….It’s good for you.”

Tersenyum pahit gue mendengar jawaban itu. Jelas masih jauh :p
Lanjut. Gue hanya bisa menapak tiga langkah. Kemudian berdiri istirahat menahan terpaan angin. Kadang angin begitu kencang sampai berdiri pun bisa terperosok mundur.

Di sini kemampuan matematika dasar sangat diperlukan. Harus mendaki minimal 3 langkah supaya tidak minus. Jadi totalnya tetap maju 😉

Teman gue sudah mendahului. Beberapa langkah di depan.

Langit mulai terang. Tanjakan yang kami jalani perlahan terlihat jelas. Satu jalan yang tampak cukup lurus tapi dengan kontur yang terus mendaki, berisi pasir dan kerikil.

Makin banyak pendaki yang turun. Gue kembali bertanya ke salah satu dari mereka. Kali ini cewek bule. “Is it far?”

Dia langsung menangkap maksud gue, “Not so far. You see that rock? When you reach the rock, you are there.” “You should go. It’s so beautiful up there. Just take it slowly.”

Kata-kata itu sedikit membangkitkan semangat.
Gue menjawab ya, saya pasti sampai sana. Lalu berterima kasih padanya. Ia berlalu.

Beberapa pendaki lagi masih terlihat turun dari arah puncak. Termasuk opa-oma yang melewati kami di Sembalun kemarin. Setelah itu aliran pendaki yang turun berhenti.

Heran juga kenapa tiga teman gue belum ada yang tampak turun. Udah bersiap bilang ke mereka, “Ga papa turun aja duluan. Gue mau ke puncak.”
Gaya kan…hahahaha…

Di tanjakan yang gue sebut Tanjakan Neraka–ga panas sih, tapi dingin, bikin beku badan— itu ada lima orang yang masih mendaki. Gue, teman yang keseleo kakinya, dan tiga orang–sepertinya cewek semua– yang tampak agak jauh di atas.

Inilah Tanjakan Neraka itu. Bukannya panas, dini hari sampai sekitar pukul 9-10 pagi, dinginnya minta ampun karena disertai angin kencang.

Inilah Tanjakan Neraka itu. Bukannya panas, dini hari sampai sekitar pukul 9-10 pagi, dinginnya minta ampun karena disertai angin kencang.

Panjang Tanjakan Neraka sekitar 300 meter.

Panjang Tanjakan Neraka sekitar 300 meter.

Batu besar yang ditunjuk si cewek bule kelihatan dekat, tapi ga kunjung terjangkau walau gue terus melangkah. Teman di depan gue lebih banyak merangkak daripada berjalan. Sebentar-sebentar dia terduduk sambil tiduran di pasir.

Sedangkan gue memilih terus berdiri karena jika duduk perlu tenaga lebih besar untuk bangkit. Tapi jatuh terduduk di pasir juga kadang tak terhindarkan. Kalau sudah begitu gue ikutan merangkak sambil berusaha bangkit.

Di kejauhan, tiga cewek di atas juga lambat sekali maju. Jarak kami sedikit demi sedikit mengecil. Akhirnya saat yang dinanti tiba. Sampailah gue di batu kroak Puncak Rinjani.

Masih heran kenapa tiga teman gue belum juga turun. Padahal, menurut kesaksian banyak orang, ga akan betah kita berlama-lama di puncak karena angin kencang dan dingin.

Sampai di puncak gue ketemu dengan ketiga teman gue itu. Salah satunya bahkan masih berjalan menuju ‘pelataran’ puncak. Saat itu sekitar pukul 9 pagi. Di puncak, hanya ada kami berlima.

Gue masih bertanya-tanya ke mana perginya ketiga cewek di atas tadi? Lalu yang lain juga mana? Karena rasanya jumlah pendaki yang gue temui turun dari arah puncak lebih sedikit daripada yang mendahului kami saat mendaki.

Perlahan gue baru sadar, ketiga cewek tadi ya teman-teman gue sendiri. Gue merasa geli. Bego bener ya baru nyadar. Pasti akibat otak kekurangan oksigen :p

‘Pelataran’ puncak Rinjani tidak luas. Bahkan sepertinya lebih kecil daripada landasan helikopter. Kami berfoto-foto sebisanya sambil menahan dingin.

Rencana memakai kebaya urung gue realisasikan. Jangankan pakai kebaya, mengeluarkan telapak tangan dari saku celana aja segan.  Cuma satu teman yang kayaknya memang agak sarap,  yang melakukannya…hihihihi. Top dah!

Belakangan kami bertukar cerita. Rupanya teman gue yang tadinya bareng bertiga di belakang berhasil menyusul salah seorang teman yang sudah mendahului. Ia sendiri sempat merasa lemas dan mengantuk, terduduk di tanjakan. Sampai seorang pemandu yang melintas menariknya selama beberapa waktu. Pemandu itu mengatakan kepadanya supaya jangan duduk saja di situ. Apalagi hari masih gelap.

Dia akhirnya bisa meneruskan perjalanan tanpa bantuan, kemudian menemukan seorang teman satu grup itu, di Tanjakan Neraka. Sedang nemplok di batu, tiduran. Sedangkan yang satu tidak kelihatan, sudah lebih jauh mendaki.  Saat itu matahari baru saja terbit. Mereka berdua berniat meminta foto-foto matahari terbit di Puncak Rinjani dari dia.

Tidak lama kemudian,  ia turun. Kedua teman gue menyambutnya. Ternyata dia turun bukan karena sudah mencapai puncak, tapi karena kelaparan dan kedinginan. Sontak semuanya tertawa mendengar cerita itu. Beruntung ada yang membawa permen jahe dan roti. Perutnya sedikit terisi sehingga ia kembali bersemangat mendaki, bareng-bareng bertiga. Mereka lah yang gue lihat dari kejauhan.

Teman-teman satu tim pendakian Rinjani 31 Okt-3 Nov 2013.

Teman-teman satu tim pendakian Rinjani 31 Okt-3 Nov 2013.

Ini dia nih tersangkanya. Sempat-sempatnya di Puncak yang dinginnya ga kira-kira pake kebaya...hahaha

Ini dia nih tersangkanya. Sempat-sempatnya di Puncak Rinjani yang dinginnya ga kira-kira pake kebaya. PS: Kalo mau minta tanda tangan, gue manajernya.

Kontemplasi

Banyak orang yang bilang susah payah selama mendaki ke puncak terbayar lunas oleh indahnya pemandangan di puncak. Buat gue enggak.

Pendakian dan kepuasan + keindahan pemandangan di puncak tidak ada dalam satu persamaan. Jadi tidak bisa saling menegasi. Itu dua bagian yang terpisah. Penderitaan selama menuju puncak tetaplah penderitaan. Kepuasan juga menduduki tempat yang setara. Dalam hati dan ingatan.

Danau Segara Anak dilihat dari Puncak Rinjani. Porter kami menyebutnya Danau Gunung Baru. Tapi sebenarnya itu satu permukaan air dengan Segara Anak.

Danau Segara Anak dilihat dari Puncak Rinjani. Porter kami menyebutnya Danau Gunung Baru. Tapi sebenarnya itu satu permukaan air dengan Segara Anak.

Kalau diingat-ingat lagi, adegan kami berlima mendaki Tanjakan Neraka itu kocak. Ada yang yang merangkak. Ada yang kerap berdiri kayak patung menahan terpaan angin. Ada yang sebentar-sebentar duduk dan tiduran.
Semuanya mendaki dengan amat lambat. Seakan waktu dan tempat itu adalah milik kami.

Seperti peserta Takeshi Castle yang ngotot menyelesaikan tantangan meskipun acara udah selesai dan para crew sudah bubar. Ga ada satupun yang ada di lokasi lagi, kecuali kami.

Berlima masih merangkak-rangkak. Ga mau rugi. Bertekad mencapai puncak di satu-satunya kesempatan mendaki Rinjani. Cuma sekali seumur hidup. Dan, kami berhasil! Alhamdulillah…

(Bersambung ke bag 3: Cuplikan Surga)

****

Advertisements
Comments
  1. Nizar Zaini says:

    rasanya kita mendaki pada masa yang sama 🙂

    nizarzaini.com

  2. segalasudut says:

    Bang Nizar yang grupnya sama-sama Bang Adhamuddin? Kalau iya, berarti memang sama 😀 Tapi kami mendaki ke puncak duluan.

  3. Nizar Zaini says:

    Pengalaman tanjakan kami dikongsi di nizarzaini.com :p tapi masih episod 1 hehehe,,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s