Cuplikan Surga

Posted: November 13, 2013 in Catatan

<—- Bag 2 : Tanjakan Neraka

(Kisah Mendaki Rinjani Bag 3)  — Petunjuk jalan simak di sini.

JANGAN dikira jalan turun jauh lebih mudah. Jika tadi untuk mendaki memakan waktu sekitar 7 jam, gue perlu 5 jam turun. Paling gampang sih pakai kombinasi jalan dan ngesot alias meluncur dengan pantat. Serius. Terutama di jalan yang berpasir. Udah ga peduli lagi celana kotor semua, dan celana itu masih akan dipakai 2 hari ke depan. Yang penting secepatnya bisa sampai ke tenda.

'Kamar tidur' di Plawangan Sembalun dengan pemandangan ciamik di depannya.

‘Kamar tidur’ di Plawangan Sembalun dengan pemandangan ciamik di depannya.

Bukan tanpa risiko, cara ngesot itu nyaris bikin gue patah kaki atau minimal keseleo akibat salah jalan. Alhamdulillah sampai tenda ga kurang suatu apa pun. Kecuali rasa sakit dan pegal di seluruh tubuh, terutama kaki, yang semakin menguat.
Kalau mengikuti jadwal semula, setelah muncak kami seharusnya pindah nge-camp ke Danau Segara Anak. Tapi kondisi teman kami yang keseleo membuatnya ga memungkinkan untuk berpindah hari itu.

Yang lain pun enggan karena merasa seluruh tubuh sudah remuk. Lutut berteriak minta istirahat.
Kami sepakat untuk menunda pindah dan kembali bermalam di Plawangan Sembalun. Sore itu gue tertidur dengan sepiring nasi goreng di dekat kepala. Tadinya makan sambil tiduran, tapi baru 2-3 sendok udah ketiduran saking capeknya. Begitu pula teman setenda gue. Semua cepat beristirahat hari itu. Ga ada yang mau jalan-jalan dulu melihat sekitar tempat kami berkemah.

Baru saja lewat magrib terdengar suara ribut-ribut. Pendaki yang baru datang meminta bantuan porter kami untuk menjemput teman-temannya. Hari sudah gelap dan hujan turun sejak sore. Menurut dia mereka terpisah dan ia sudah jalan lebih dahulu jauh di depan. Gue ga gitu paham gimana jalan cerita dan endingnya. Tapi kayaknya akhirnya semua beres. Satu orang, cowok, berhasil merapat lebih dulu. Sedangkan sisanya, kebanyakan cewek, terpaksa berkemah di bawah.
“Gue  diving soalnya. Diving kan ga boleh panik. Kalo panik, abis lo,” kata si cowok.
Kalimat yang sangat memorable dan belakangan sering kami ungkit untuk lelucon.

Dini hari terdengar lagi suara gaduh. Mereka bersiap muncak. Satu orang yang ‘biasa diving’ itu menolak ikut muncak. “Gue udah pernah dulu.” “Eh, gue nitip memory card ya. Nanti fotoin di puncak kelihatan papan yang ada tulisannya puncak Rinjani.”
Another memorable quote…hahahaha…Gue ga yakin dia pernah sampai puncak Rinjani.

Tenda-tenda pendaki yang baru datang. Penghuninya termasuk 'mas-mas diver'.

Tenda-tenda pendaki yang baru datang. Penghuninya termasuk ‘mas-mas diver’.

Sabtu, 2 November 2013. Pukul 8 pagi kami siap berangkat ke Segara Anak. Para porter masih harus membongkar tenda, kami diminta berangkat lebih dulu.
Perjalanan tidak sulit dengan kontur yang didominasi menurun. Kali ini bukan jalan berpasir, tapi lebih banyak berbatu-batu. Lebih mudah dituruni. Terus terang saat itu gue, dan sepertinya teman-teman yang lain juga, cukup trauma melihat jalan menurun yang berpasir. Jadi begitu ketemu batu-batu merasa lega.

Meski relatif mudah, kami ga bisa berjalan terlalu cepat. Teman kami yang keseleo memang sudah mendapatkan perawatan urut dari salah satu porter. Namun, kakinya tetap masih terasa sakit.

Istirahat di tengah perjalanan ke Segara Anak. Yang keseleo perlu mengikat lututnya.

Istirahat di tengah perjalanan ke Segara Anak. Yang keseleo perlu mengikat lututnya.

Danau kelihatan dari kejauhan. Kabut yang menutupi bikin makin bersemangat cepat sampai ke lokasi.

Danau kelihatan dari kejauhan. Kabut yang menutupi bikin makin bersemangat cepat sampai ke lokasi.

Semakin mendekati danau.

Semakin mendekati danau.

Hari itu cerah. Kabut sesekali bertiup menutupi arah danau. Hawa masih terasa dingin agak berangin. Tapi sepertinya itu lebih nyaman ketimbang panas terik.

Kami tiba di danau pukul 13.00 lebih dikit. Suasana pinggir danau cukup ramai dengan beberapa grup tenda. Kebanyakan penghuninya sedang makan siang atau memancing. Ada juga beberapa pekerja yang sedang membangun shelter dan toilet.
Para porter sudah mendirikan tenda dan sedang menyiapkan makan siang. Tempatnya baguuss dan oke banget buat lokasi berkemah.
Yang menyedihkan adalah banyaknya sampah di area pinggir danau. Gue ga habis pikir, apa sih susahnya mengumpulkan sampah pribadi dan membawa lagi turun gunung.

Deretan tenda kami di tepi danau. Bagian kiri sini lebih bersih.

Deretan tenda kami di tepi danau. Bagian kiri sini lebih bersih.

Agenda kami siang itu adalah berendam di kolam air hangat tidak jauh dari danau.
Salah seorang porter menyarankan agar kami pergi ke lokasi kolam yang agak ke bawah lagi. “Tempatnya lebih bagus. Di situ bisa berenang.”
Ga sabar pingin segera ke sana, kami pun berangkat sebelum makan siang siap. Takutnya tiba-tiba mendung dan hujan. Makan siang nanti saja setelah berendam.

Wow! Pemandangan kolamnya top banget. Ada dua air terjun. Di bagian dekat air terjun lebih dalam. Airnya ga berbau belerang yang menusuk. Pun tidak pedih di mata. Dan, yang paling oke lagi, hanya kami berlima yang ada situ. Cihuii…
Ga perlu gue gambarin suasana kami berendam dan berenang. Pokoknya semua berubah kembali jadi kanak-kanak. Plus malas beranjak dari situ.

Kolam air hangat yang agak di atas.

Kolam air hangat yang agak di atas.

Serasa kolam air hangat pribadi.

Serasa kolam air hangat pribadi.

Akhirnya kami harus pergi juga dari situ. Soalnya kulit telapak tangan udah berkerut-kerut. Lagipula langit agak mendung dan kabut mulai datang. Kami kembali ke tempat kemah. Santapan siang sudah menanti.
Sore harinya kami isi dengan menonton orang memancing dan berfoto-foto. Ingat kami bawa kebaya? Nah, kali itulah kesempatan memakainya. Dari empat cewek, cuma tiga yang bawa. Salah satu yang bawa kebaya ga mau memakainya dan meminjamkan kebaya ke teman yang lain.

Jadilah kami bertiga berpose memakai kebaya. Para porter tertawa melihat aksi kami. Yahh, kapan lagi kan bisa begitu di Rinjani 😀

Sesi foto-foto dengan kebaya.

Sesi foto-foto dengan kebaya.

Kegiatan di pinggir danau.

Kegiatan di pinggir danau.

Malamnya angin terdengar menderu kencang. Tidak hujan dan tidak sedingin di Plawangan Sembalun. Tapi gue lebih ga nyenyak tidur daripada malam pertama di plawangan. Suara air danau terdengar sangat dekat. Sesekali atap tenda bergerak-gerak diterpa angin. Saat sempat tertidur, gue mimpi buruk. Dimarahi ibu, ga jelas karena apa. Padahal seumur-umur seinget gue belum pernah dimarahi beliau :p
Terbangun oleh suara menggaruk-garuk tenda. Mau menyalakan senter malas bergerak.
Ternyata, menurut porter, malam itu ada dua babi hutan nyasar ke perkemahan kami. Mencari makanan sisa.

Minggu 3 November 2013. Saatnya turun gunung. Seperti hari sebelumnya, jam 8 pagi siap berangkat. Matahari bersinar terang disertai angin yang bertiup cukup kencang. Setengah perjalanan disuguhi jalur mendaki berbatu-batu dengan jalan setapak. Medannya menjadi semakin berat karena kepala ini ga tahan berkali-kali menoleh ke arah danau. Padahal berjalan juga harus berhati-hati karena kerap kali di sebelah kiri adalah jurang.
Makin ke atas pemandangannya makin bagus. Sungguh gue merasa amat sangat beruntung bisa berada di situ. Menyaksikan dengan mata kepala sendiri, ciptaan-Nya yang begitu indah. Cuplikan surga.

Gimana ga mau nengok terus kalau pemandangannya kayak gini.

Gimana ga mau nengok terus kalau pemandangannya kayak gini.

...atau begini.

…atau begini.

Sedangkan medan yang dilalui seperti ini.

Sedangkan medan yang dilalui seperti ini.

Berkali-kali pandangan terarah pada pucuk gunung. Tidak percaya bahwa kami mampu menapaki puncak tersebut. Dan kami merasa sangat diberkahi karena selama di gunung, cuaca cukup bersahabat. Hanya dua sore dan satu malam hujan. Itu pun sebenarnya juga berkah, karena bisa bisa menikmati penampilan dua pelangi, dan sisanya justru membantu kami beristirahat.

Keputusan menunda ke Danau Segara Anak ternyata juga menguntungkan. Bila langsung pindah lokasi kemah pada hari kedua, sangat mungkin kami akan bermalam di Plawangan Senaru di malam ketiga. Rencananya memang seperti itu. Ternyata pada malam ketiga angin bertiup jauh lebih kencang di dua plawangan. Menurut cerita porter yang kami temui, ada beberapa tenda yang beterbangan. Saat itu kami lebih aman karena berada di danau yang terlindung oleh tebing-tebing.

Porter kami mengatakan angin kencang tadi malam tidak biasa. Menurut dia ada yang berbuat macam-macam di Rinjani. Yang tergolong ‘macam-macam’ di sini antara lain berhubungan badan.
Sempat gue tanyakan juga, apakah sesi foto-foto dengan kebaya termasuk ‘macam-macam’. Si porter hanya tertawa.

Sepanjang jalan turun gunung juga cerah, tidak ada halangan. Seorang porter terus menemani kami menembus hutan Senaru. Ia tidak meninggalkan kami karena khawatir kami tersesat. Beruntung juga dia berbuat begitu karena sempat selama satu jam kami masih di hutan saat hari sudah gelap.

Turun gunung melalui hutan.

Turun gunung melalui hutan.

Kami tiba di Pintu Senaru sekitar pukul 7 malam. Lebih cepat dari perkiraan karena teman gue yang kakinya keseleo tiba-tiba seperti mendapat tenaga baru selepas pos 1 alias pos terakhir turun gunung. Sampai berkeringat gue mengikuti langkahnya. Begitu kami tiba di Pintu Senaru dan beristirahat sejenak, penjaga pintu langsung membuka warungnya. Menawari kami minuman dingin. “Kereeennn. Di pintu hutan ada ‘Sevel’-nya,” ujar salah seorang teman.

Sebenarnya kami ga terlalu membutuhkan minum, ingin cepat-cepat sampai di penginapan.
Tapi iba juga melihat si bapak tua pemilik warung. Ga apa-apa lah belanja sedikit di situ, sekalian membantu menggerakkan perekonomian setempat. Satu kaleng langsing fanta/coca cola dihargai Rp10ribu.
Kami tiba di penginapan hampir pukul 8 malam. Amat sangat lelah, hampir ga ada bagian tubuh yang sakit. Bahkan lidah gue pun sariawan. Tapi hati sangat puass dan bangga 😀

Touchdown penginapan, Desa Senaru.

Touchdown penginapan, Desa Senaru.

Benar-benar pengalaman perjalanan yang luar biasa! Terima kasih, ya Allah.

Dipersembahkan untuk teman-teman satu tim: Anin Arinita, Endra Prasaja, Sura Menda Ginting, dan Viny Tobing. Serta untuk tiga porter kami yang tidak dapat disebutkan namanya, karena gue cuma ingat satu nama, itupun patut diperdebatkan kebenarannya. (Pendakian Rinjani 31 Oktober-3 November 2013)

Ini juga untuk menghibur dua kawan kami, Tifa dan Ika, yang gagal ikut karena kondisi kesehatan.

****

Advertisements
Comments
  1. andre says:

    coba ke yapen papua win, gak kalah sama bunaken deh, tapi kalau ke sana bagusnya bulan april-agustus.. laut masih tenang… pemandangan alamnya ciamik pemandangan laut lebih yahuud

    • segalasudut says:

      Waduhh, kalo ke sono lebih mahal lagi ndre 😛 Pastinya memang banyak yang indah-indah di Indonesia. Satu-satu dari yang terjangkau dulu. Semoga lama-lama kesampaian juga yang mahal 😀

  2. Hera says:

    Bravo Win….keren banget sampe kepuncak penuh pengorbanan.

  3. sissi says:

    wiiin…suka bener dah gw bacanya…. hahahaha ngakak abis di bagian “titip memory card”… pastinya jd quote of the month bgt tuh 😛 Baca bagian ketiga ini lbh bikin pengen kesana (dibanding baca bag.1-2 hehe)… yah tp ga kebayang siapa lagi tmn gw yg bisa gw ajak barengan ksono 😀

  4. Nizar Zaini says:

    Haaa…nasib baik kamera kamu kami yang jumpa di kolam air hangat. Kalau tidak habis semua fotonya…hehehe :p

  5. Nizar Zaini says:

    Fuhhh…cantik…
    Bila teman saya bilang mau panjat 3 gunung panik jugak…
    Takut tak mampu…tapi bila lihat blog kamu rasanya macam ok…
    Panjat gunung macam diving Win..”Diving kan ga boleh panik. Kalo panik, abis lo” wkwkwkwkw…

    • segalasudut says:

      Betul, bang. Pokoknya JANGAN panik…hahahahaha…
      Kawah Ijen dan Gunung Bromo ga susah. Kalau dibandingkan dengan Rinjani, dua-duanya itu seperti jalan-jalan di taman atau kebun raya 😀 Yang agak berat Semeru, itu gunung berapi tertinggi urutan ketiga di Indonesia, setelah Kerinci dan Rinjani. Kalau perlu tantangan coba mendaki Kerinci, Bang Nizar..bisa ketemu harimau…hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s