Resensi Star Trek Into Darkness

Posted: November 20, 2013 in Trekkie
Media Indonesia, 19 Mei 2013

 

Penjahat Super Kalah Pamor

Kehadiran efek tiga dimensi (3D) pada film Star Trek into Darkness membuatnya lebih nyata dan menarik untuk ditonton.

KAPTEN USS Enterprise James T Kirk (Chris Pine) dan Dr Leonard ‘Bones’ McCoy (Karl Urban) dikejar-kejar sekelompok anggota suku primitif di sebuah planet. Belakangan diketahui, Kirk bersama kru Enterprise tengah mencoba menyelamatkan suku pribumi di planet yang disebut Nibiru dari kepunahan yang disebabkan letusan gunung api.

Kirk memutuskan menyelamatkan Spock meski itu berarti Enterprise harus terbang menampakkan diri. Sebuah rangkaian adegan spektakuler yang diakhiri dengan melesatnya Enterprise ke angkasa disaksikan orang-orang planet Nibiru.

Bukannya mendapat penghargaan, sekembalinya ke Bumi, Kirk dan Spock sebagai pucuk pimpinan Enterprise justru kena sanksi. Aksi kru Enterprise menyelamatkan penghuni Nibiru dari kepunahan melanggar sejumlah aturan Perintah Utama Federasi. Jabatan Kirk diturunkan dari kapten menjadi perwira utama Enterprise, sedangkan Spock dipindahkan ke kapal lain.

Sebuah serangan yang berujung pada tewasnya sebagian besar pemimpin Starfleet membuat Kirk kembali ditempatkan sebagai kapten Enterprise dan Spock menjadi perwira utamanya.

Dari situ kisah bergulir menampilkan manusia super sebagai musuh utama Kirk dan kawan-kawan. Bagi para trekkie, sebutan penggila Star Trek, sang musuh yang bernama asli Khan Noonien Singh tersebut tidaklah asing. Khan yang bersama ke-62 rekannya lahir dari hasil rekayasa genetika dan sempat hampir menguasai dunia pada tiga abad sebelum masa Kirk merupakan salah satu musuh terbesar kru Enterprise.

Dalam Star Trek into Darkness, Khan diperankan Benedict Cumberbatch. Sayangnya, meski mampu memerankan aksi-aksi sebagai manusia super, Benedict kurang menggigit dalam melakoni karakter Khan yang penuh ambisi memusnahkan manusia. Amarah yang diperlihatkannya kalah pamor jika dibandingkan dengan amarah Nero, musuh utama Kirk dan kawan-kawan dalam film terdahulu.

Di sisi lain, pengembangan karakter Kirk, Spock, Uhura, Bones, Scotty, Sulu, dan Chekov cukup memuaskan. Dialog-dialog di antara mereka tidak hanya disisipi ungkapan-ungkapan yang akrab di telinga para penggemar Star Trek, tetapi juga menghibur penonton biasa.

Dalam dua film Star Trek produksinya, JJ Abrams tampaknya ingin menonjolkan Uhura yang pada Star Trek Original Series tidak memiliki peran berarti selain muncul di setiap episode sebagai perwira anjungan. Pekerjaannya bak resepsionis penerima telepon yang tidak pernah ke mana-mana. Uhura yang dulunya tidak diketahui nama depannya kini diberi nama Nyota.

Perwira komunikasi keturunan Afrika itu dalam Star Trek besutan Abrams lebih sering mendapat tugas mendampingi Kirk dan Spock untuk beraksi di luar kapal.

Di luar pakem

Pengembangan karakter yang sedikit di luar pakem adalah karakter Spock. Di Star Trek into Darkness, Spock tergolong sering terlihat emosional.

Itu seperti pada saat Carol Marcus duduk di antara Kirk dan Spock setelah Carol memperkenalkan diri sebagai perwira sains yang baru untuk Enterprise.

Perwira sains merupakan bidang kerja Spock di samping menjabat perwira utama. Meski Kirk sudah menerima Carol, Spock sesaat masih memandangi gadis itu menunjukkan ketidaksenangannya.

Ia bahkan sempat terlihat menangis lalu berteriak penuh dendam di hadapan Kirk yang menghembuskan napas terakhir. Padahal selama ini Spock dikenal sebagai vulcan setengah manusia yang hampir tidak pernah menunjukkan emosi.

Spock yang lebih emosional mungkin tercipta setelah ia menyaksikan planet Vulcan musnah bersama ibunya pada Star Trek (2009). Suatu peristiwa yang tidak pernah dialami Spock versi The Original Series.

Secara umum, visualisasi Star Trek into Darkness amat mengesankan dengan efek-efek visual yang memanjakan mata. Gambaran kapal antariksa masa depan tersaji dengan nuansa teknologi tinggi yang terasa kental.

Salah satu visualisasi yang sangat fantastis ialah ketika tiba-tiba Enterprise dihampiri sebuah kapal Starfleet tidak dikenal yang besarnya dua kali lipat. Padahal seharusnya Enterprise sebagai kapal utama Starfleet memiliki ukuran terbesar dan tercanggih.

Efek visual selanjutnya dengan menampilkan Enterprise yang dikejar-kejar dan dihajar kapal raksasa tersebut juga mampu mencuatkan ketegangan.

Star Trek dan Star Trek into Darkness memunculkan harapan bagi para penggemar akan kehadiran kembali serial baru. Jika pun masih menampilkan kisah Kirk dan kawan-kawan, setidaknya setiap kali Spock memainkan tricorder (alat pemindai) tidak akan lagi tampak seperti pengamen bus kota siap berkaraoke dengan tape portabelnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s