Naik Angkutan Umum Lebih Murah?

Posted: January 21, 2014 in Sela

Banyak yang berpendapat biaya bekerja sehari-hari akan lebih murah jika naik angkutan umum ketimbang naik mobil pribadi. Masa sih? Coba kita hitung pengeluaran gue, di hari yang baru saja berlalu, untuk ‘ongkos’ pulang-pergi.

Seandainya pakai mobil pribadi (berdasarkan pengalaman)

-Bensin bersubsidi pp Rp50rb

-Tol pp Rp8.500 x 2 =Rp 17 ribu

-Pak Ogah = Rp500 s.d Rp2.000

Total = Rp69 rb

Pakai angkutan umum:

Berangkat dari rumah dengan uang Rp100 ribu. Merasa ga enak bayar pakai pecahan gede gitu, gue masuk Indomaret dulu. Ambil coca cola Rp4.000. Liat2 dikit, tertarik ambil lulur Rp13.000. Saat duduk di angkot gue agak menyesal…knapa gue jadi beli lulur??

Angkot ke Kamp Rambutan Rp5.500. Lanjut naik Primajasa jurusan Merak, turun di Kb Jeruk Rp6.000. Di bus beli kacang oven Rp2.000.

Sampai di Kebon Jeruk naik bus ke arah kantor Rp3.000. Eeehhh…busnya motong jalan, ga sesuai jalur, jadi ga lewat gang menuju kantor. Turun dan nunggu bus berikutnya. Naik lagi ongkos Rp3.000.

Jadi ongkos berangkat Rp36 ribu.

Pulangnya, nunggu anteran kantor (jurusannya sampai UKI Cawang) ga berangkat2. Memutuskan untuk pulang dengan angkutan umum dari kantor.

Ke perempatan Srengseng Rp3.000. Naik Mikrolet sampai Slipi harusnya Rp5.000, tapi karena kasihan sama sopirnya berhubung sepanjang perjalanan cuma gue penumpangnya, gue bayar Rp10 ribu.

Lanjut naik Mayasari Bakti jurusan Kamp Rambutan Rp4.000.  Dari UKI naik Mikrolet turun PGC karena kepala agak pusing–lapar.

Mampir tenda pecel lele, beli seporsi pecel lele dan es teh manis Rp14.000 (Naik ya? Rasanya dulu ga semahal ini). Udah kenyang, naik angkot sampai Pasar Pondok Gede Rp7.000 (hrsnya Rp5.000). Plus angkot yang melewati komplek perumahan tempat gue tinggal Rp5.000 (normal Rp3.000).

Untuk jurusan Pondok dan sampai tujuan akhir, gue suka ngasih ongkos asal2an antara Rp5.000 sampai Rp10 ribu, karena penumpang sepi.

Jumlah ongkos pulang Rp53 ribu. Jadi totalnya berapa saudara-saudara? Rp36 ribu + Rp53 ribu = Rp89 ribu.

Kenapa yg di luar ongkos angkutan umum gue itung juga? Karena kalau naik mobil pribadi gue ga akan mampir beli coca-cola, lulur, pecel lele. Malas mampir-mampir. Biasanya karena repot parkirnya.

Di lain hari ketiga item itu berganti dengan sekilo jeruk peras yang selama dua pekan belakangan harganya berfluktuasi dari Rp13 ribu sampai Rp16 ribu. Atau, dua kilogram sawo seharga Rp30 ribu. Atau, kombinasi keduanya. Bisa juga sekilo ikan salem Rp20 ribu buat si Pus. Dan, ongkos ojek ke kantor Rp15 ribu- Rp20 ribu kalau udah kepepet waktu.

Intinya, mungkin hanya ada 2-3 hari dalam 2 pekan ongkos yang gue keluarkan di bawah Rp69 ribu.

Pada waktu mau meng-upload tulisan ini baru sadar, payung lipat gue ketinggalan di angkot…huuaaaaaa…Besok keluar lagi deh ‘ongkos’ buat beli payung.

Kalau kayak gini gimana bisa nyampe Siberia….

****

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s