Destinasi Favorit di Barcelona

Posted: February 2, 2014 in Catatan

SAAT melancong dan mengunjungi beberapa destinasi, kita cenderung berlama-lama di tempat yang kita sukai atau jadi favorit. Kalau itu yang jadi ukuran, berarti tempat favorit gue di Barcelona adalah markas Mossos d’Esquadra. Di sana, gue bersama 5 teman menghabiskan waktu dari pagi hingga menjelang malam.

Alkisah, pagi hari pada musim gugur 2007 kami tiba di Barcelona, Spanyol. Bagian dari perjalanan perdana gue ber-backpacking ria di Eropa. Setelah sebelumnya ketinggalan bus (Bayar Taksi Rp4 Juta), kami tidak patah semangat.

Gue agak-agak lupa gimana alur perjalanan detailnya pagi itu. Yang jelas begitu sampai di stasiun bus tujuan di Barcelona (dari bandara Reus), kami hendak menuju pusat kota Barcelona dengan menumpang MRT.

Di sebuah stasiun MRT kami mengerumuni salah satu mesin tiket. Ada dua cewek lokal yang ikut mengantre. Satu di antaranya menyeruak maju seperti menawarkan bantuan dengan bahasa Inggris patah-patah. Teman gue yang berada paling depan dan sedang menangani mesin tiket menolaknya. Ia berkata bahwa kami tidak perlu bantuan. Sudah bisa.

Satunya lagi ikut maju memecah kerumunan kami dan berbicara dalam bahasa yang asing buat gue.

Gue berdiri di paling belakang sambil ngobrol dengan seorang teman. Di belakang gue ternyata ada lagi cewek lokal dan tiba-tiba gue merasa tas gue ada yang membuka dari belakang. Langsung gue ambil ransel dari gendongan, sambil sempat memandang ke cewek itu. Tanpa babibu, si cewek pergi.

Ternyata resleting ransel gue udah terbuka. Beruntung setelah gue periksa ga ada yang hilang. Teman sebelah setelah melihat perilaku gue ikut memeriksa tasnya. ‘Copet tuh tadi,’ ujar gue.

Tiba-tiba, teman gue yang paling depan itu berteriak, “Hey, what are you doing?!”
Kami semua menengok ke arahnya. Teman gue tampak memegangi tasnya. Gue masih  ga ngerti apa yang terjadi.

Dua cewek yang sedang dipelototi teman gue terus nyerocos, sebagian kecil dengan bahasa Inggris yang intinya bilang mereka ga ngapa-ngapain. Tampang mereka seperti bingung. Lalu mereka pergi.

Semenit kemudian, setelah teman gue memeriksa ranselnya. Dia berkata dompetnya hilang. Padahal di bandara ia baru saja menarik uang tunai di ATM.

Sadar dua cewek tadi juga copet, serentak kami  berhamburan ke luar mencoba mengejar cewek-cewek tadi. Hari masih pagi, jalan tampak sepi. Tidak nampak orang melintas.

Kami bergegas menyusuri jalan sampai ke persimpangan. Tapi ke mana pun memandang ga keliatan cewek-cewek berambut merah tadi. Sampai-sampai tong sampah pun kami periksa. Siapa tahu mereka membuang dompet teman kami ke situ. Nihil.

Selain uang tunai, dompet teman gue juga berisi kartu ijin tinggal dari pemerintah Belanda. Kartu semacam KTP itu sekaligus berfungsi sebagai pengganti visa bila ingin bepergian ke negara-negara Schengen. Tanpanya, teman gue akan kesulitan keluar Spanyol, sehingga perlu surat keterangan hilang dari polisi.

Kami melapor ke kantor polisi terdekat dan dirujuk ke kantor polisi di pusat kota, area Plaza Catalunya. Supaya lebih jelas, kantor polisi itulah yang disebut markas Mossos d’Esquadra alias Polisi Catalan.

Di sana ga langsung bisa diproses karena penerjemah yang ditugasi untuk kantor polisi sedang berkeliling. Kemampuan berbahasa Inggris petugas polisi Catalan waktu itu cukup parah. Susah banget berkomunikasi dengan mereka.

Kebayang kan betapa rawannya Barcelona. Di kantor polisi pun tas masih dikedepanin.

Kebayang kan betapa rawannya Barcelona. Di kantor polisi pun tas masih dikedepanin.

Selain kami, ada beberapa turis yang juga kehilangan barang. Ada yang kecurian laptop dan ada juga yang mobil sewaannya digondol maling. Semua menunggu datangnya sang penerjemah.

Untung di sana ada mesin kaki lima otomatis yang menyediakan minuman hangat; kopi dan coklat. Gue lupa berapa nilai koin euro yang harus dimasukkan untuk segelas coklat. Rasanya cukup murah sampai gue bolak-balik ngisi lagi.

Plus, gue udah nyebut belum bahwa cowok Spanyol banyak yang ganteng? Di kantor polisi isinya kan banyak cowok tuh…Asal ga diajak berkomunikasi, mereka cukup ganteng loh. Intinya, biarpun nunggu lama yang penting tetep senang karena badan dan hati hangat.

Tiga teman, termasuk yang jadi korban pencopetan, dimintai keterangan pendahuluan. Penerjemah belum datang. Jadi, mereka menjelaskan kronologi kejadian dengan bahasa Inggris bercampur dengan bahasa isyarat.

Sampai sore hari, seingat gue si penerjemah ga kunjung datang. Tapi akhirnya polisi bisa mengeluarkan surat keterangan hilang berdasarkan  laporan dan kesaksian kami yang panjang dan penuh adegan pantomim.

Kalau dirangkum semua perjalanan ke dan di Spanyol ketika itu, ternyata banyak juga highlight-nya. Kami mengambil rute Groningen-Bremen-Barcelona-Madrid (bus)-Cordoba (bus)-Madrid-Valencia (bus)-Barcelona.

Setelah ketinggalan bus, terjadilah peristiwa kecopetan itu. Gara-gara kejadian tersebut, dua teman kami ga ikut perjalanan sehari ke Cordoba yang disopiri foto model. Lalu, ada perjalanan dari Madrid ke Valencia dengan menggunakan bus yang juga memorable. Duduk di dekat sepasang lesbian itu sesuatu banget ya…

****

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s