Mr Sam

Posted: March 9, 2014 in Catatan

SEBUT saja dia Mr Sam. Pria kurus, tinggi, item itu menghampiri gue saat sedang berjalan menyandang ransel di pertigaan Ujung Genteng, sekitar 126 km di selatan Kota Sukabumi. Dengan bahasa Sunda campur sedikit bahasa Indonesia dia menawari gue penginapan.

“Berapa semalam?”
“Seratus ribu aja teh.”
“Jauh enggak? Saya lihat dulu ya.”

Mr Sam mengatakan penginapannya ga jauh. Sekitar 100 m dari pantai. Ia mencegat seorang remaja yang kebetulan lewat dengan motor. Dalam hitungan detik motor itu berpindah ditunggangi Mr Sam.

“Ayo teh,” kata dia.
Gue membonceng motornya. Di sepanjang perjalanan Mr Sam mendeskripiskan penginapan yang ditawarkannya. Semua dalam bahasa Sunda. Gue hanya bisa menangkap sebagian kalimatnya yang kebetulan pas memakai kata yang sama dengan bahasa Indonesia.

Perjalanan naik motor kurang lebih lima menit. Sampailah kami di rumah dengan pintu-pintu seperti kontrakan.

Mr Sam membuka salah satu pintu dan memperlihatkan isinya. Sebuah tempat tidur tipe double-queen size, kipas angin, dan kamar mandi mungil dengan kloset jongkok.

Menurut gue, harga Rp100 ribu cukup murah untuk kamar tersebut. Tapi supaya ga terkesan gampangan dan kelihatan banyak duit, gue mencoba menawar menjadi Rp80 ribu.

Sambil senyum-senyum, Mr Sam bilang harga itu sudah pas.
Akhirnya gue iyakan, karena gue juga males keliling nyari penginapan. Waktu gue pun tinggal setengah jam untuk menuju Pantai Pangumbahan, untuk menyaksikan pelepasan tukik alias anak penyu ke laut.

Gue meminta Mr Sam mengantarkan kembali ke tempat tadi kami bertemu. Dia sebenarnya juga bisa mengantar ke Pantai Pangumbahan, tapi gue udah telanjur janji memakai jasa ojek anak seorang pemilik warung indomie+nasi goreng di dekat pertigaan Ujung Gentang.

Mr Sam menyerahkan kunci kamar ke gue. Di perjalanan, gue bertanya kenapa di sekitar situ banyak anjing berkeliaran. Mr Sam menjelaskan. Lagi-lagi banyak kata-kata yang gue ga mengerti. Lima tahun kuliah di Bogor ga membuat gue fasih berbahasa Sunda.

Namun, inti kata-katanya bisa gue tangkap. Ia bilang, “…punya orang-orang KP. Di sini banyak KP,” ujarnya.

“KP itu apa?”

Dia terus nyerocos dengan kata-kata yang ga gue pahami. Pertanyaan gue masih belum terjawab. Sejenak pikiran gue penuh dengan tebakan-tebakan apa itu ‘KP’. KP yang paling gue kenal ada singkatan ‘kuasa pertambangan’. Barangkali memang di situ ada beberapa tambang dan membutuhkan penjagaan anjing. Begitu antara lain tebakan gue.
Acara tebak menebak dalam hati terhenti ketika kami tiba di tujuan.

Esok paginya, gue udah siap check out. Tapi kondisi pintu sebelah, tempat tinggal mbak-mbak yang menerima gue semalam, masih sunyi. Ga enak langsung cabut tanpa pamit.

Gue duduk-duduk di kursi depan sambil memainkan ‘Pou’. Ga beberapa lama kemudian Mr Sam muncul dengan mengendarai motor. Entah motor siapa. Dia menyapa dan ikut duduk.

Kami bercakap-cakap. Seperti yang sebelumnya, dia sangat irit memakai bahasa Indonesia. Hanya ketika gue  bertanya dan kelihatan ga mengerti, Mr Sam mengulangnya dengan bahasa Indonesia yang sedikit lebih banyak.

Ia bercerita mengenai penginapan-penginapan di sekitar situ. Kisaran harganya, lokasinya, plus situasi keamanan. Menurut dia, secara umum Ujung Genteng cukup aman, kecuali di sekitar Pantai Pangumbahan. Kerap terjadi kasus pencurian karena di daerah itu masih cukup sepi.

Dia mengaku tahu semua penginapan di Ujung Genteng dan sering diminta untuk memesankan. Tarif penginapan bervariasi dari Rp100 ribu sampai Rp1 juta. “Nama saya Samsidin. Itu ada nomor hape saya.”

Mr Sam menunjuk ke atas pintu kamar gue. Di situ tertulis ‘Samsidin 085861411336’. “Oo, ini penginapannya Kang Samsidin?”
“Iya, kalau yang ini memang punya saya. Ada tiga kamar,” ujarnya. Rupanya yang semalam menerima gue adalah istrinya.

Ia mengatakan biasanya kamar yang gue tempati disewakan dengan tarif Rp200rb-300rb, terutama saat akhir pekan atau masa liburan. Sedangkan, penginapan-penginapan yang lebih di dekat pantai akan lebih mahal lagi karena ramai pengunjung.

Pada satu waktu, ia kembali menyebut ‘KP’. Langsung gue tanya, “KP itu apa, kang?”
“Itu yang biasanya ada karaokeannya…(bla-bla, lanjut bahasa Sunda).”

Owalah, KAFE!…… Astaga, Mr Sam ini hampir bikin gue pulang penasaran.

Baca juga Petunjuk Jalan : Ujung Genteng dan Curug Cikaso

****

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s