4 Jam Bersama Om Ring-Ring

Posted: March 23, 2014 in Catatan

TADI malam seorang reporter membagi tautan rekaman video salah satu om capres dan seorang  anggota DPR bersama dua orang cewek yang kebetulan artis, dalam trip berlibur ke Maladewa. Gagal memaknai, keliatannya leluasa sekali ruang dalam pesawat jet pribadi yang hanya diisi empat penumpang itu.  Destinasinya Maladewa pula, ‘Pulau Bulan Madu’.

Bandingkan dengan perjalanan seorang wartawan mengisi hari liburnya. Di suatu Sabtu, dia dalam perjalanan pulang dengan Elf-angkutan umum setelah menikmati Ujung Genteng dan sekitarnya.

Kali ini dia memilih duduk di depan, di samping Pak Sopir yang sedang bekerja. Itu karena pada perjalanan berangkat dia duduk di bagian tengah dan merasa kesempitan akibat kakinya yang agak kepanjangan.

Di depan, ruang untuk kaki lebih longgar. Sudah dapat PW alias posisi wuenak, wartawan cewek itu merasa puas. Dia mulai menyimak gerak-gerik Pak Sopir, tanpa menengok ke arahnya tentu saja.

Pak Sopir itu barangkali punya bisnis sampingan, telepon selulernya ga henti-hentinya berdering. Kalo ga sms ya panggilan telepon. Dan dia dengan ‘sigap’-nya membaca setiap sms sekaligus menjawabnya sambil menyetir. Begitu pula dengan panggilan telepon. Semua dijawab olehnya.

Perhatian mbak wartawan terganggu karena ada penumpang yang hendak naik dan duduk di sampingnya. Bukan cuma satu, tapi dua. Ibu dan anak remajanya. Keduanya berpostur subur.
Wartawan tersebut bengong karena dia merasa bangku depan hanya cukup untuk dua orang penumpang.

“Ga bisa geser lagi Bu. Ga muat,” kata dia. Pinggulnya sudah hampir melewati garis tongkat gigi perseneling.
“Bisa. Kaki teteh yang satu melangkah ke situ,” ujar si ibu sambil menunjuk ke arah melewati tongkat gigi perseneling.

Maksudnya, wartawan cewek itu diminta menempatkan kaki kanannya sedemikian rupa sehingga tongkat perseneling berada di antara kaki kanan dan kaki kirinya. Tampaknya memang begitu aturannya. Bangku depan untuk tiga orang dan penumpang yang paling dekat sopir mengambil posisi seperti itu.

Nasib ga punya jet pribadi, si wartawan menuruti petunjuk ibu tersebut. Dalam perjalanan, tiap kali sopir memindahkan gigi, pandangan mbak wartawan itu lurus ke depan dengan mimik muka yang ‘lempeng’, seakan sama sekali ga merasa terganggu.

Susah mempertahankan mimik seperti itu. Apalagi Pak Sopir hingga akhir perjalanan layaknya nyambi sebagai petugas call center perusahaan taksi di hari hujan. Jadi seringkali ga pake liat-liat lagi waktu hendak memindahkan gigi perseneling.

Alhasil, sepanjang perjalanan yang memakan waktu empat jam, mbak wartawan sama sekali ga tertidur. Suatu hal yang luar biasa mengingat dia pernah dijuluki ‘pelor’ (nempel molor), saking gampangnya tidur dalam perjalanan menggunakan segala moda angkutan umum. Sebut saja bus, pesawat terbang, ferry, sampai metromini, tetep bisa tidur di perjalanan.

Kisah di atas menunjukkan betapa besarnya ketimpangan di negeri ini.  Mbak wartawan itu merasa lebih kaya cerita. Kasihan empat orang yang disebut di awal kisah. Cuma bisa cerita : “Kami hanya berlibur kok. Ga terjadi apa-apa. Suwer!” Tiga kalimat saja. Miskin kan?

Baca juga Petunjuk jalan : Ujung Genteng & Curug Cikaso

****

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s