Buah Angkutan Tak Manusiawi

Posted: April 18, 2014 in Sela

BELAKANGAN ini orang banyak membicarakan perilaku cewek muda bernama Dinda. Ia mengumpat ibu hamil yang meminta kursi yang didudukinya di kereta Commuter Line. Dan, kekesalannya itu ditumpahkan di jejaring sosial.
Ramai-ramai orang menghakiminya, menyebutnya tidak tahu etika, dan sebagainya. Dinda ga terima dihakimi dan melontarkan pembelaan bahwa kakinya sakit. Makanya ia sengaja berangkat pagi-pagi sekali supaya bisa mendapat tempat duduk di kereta.

Di tulisan ini gue bukan ingin ikut menghakimi. Boleh dibilang gue malah sedikit membela Dinda. Yang gue ingin tekankan, cobalah memandang kasus ini dan yang serupa dari sisi lain.

Gue adalah salah seorang yang berperilaku mirip Dinda. Terutama bila harus naik angkutan umum yang ada kemungkinan akan penuh sesak dengan orang berdiri.

Gue sebisa mungkin memilih memulai dari terminal atau stasiun pemberangkatan awal. Tujuannya supaya bisa duduk.
Itu karena kondisi badan gue sudah ga sekuat dulu yang tahan berdiri sampai dua jam lebih di angkutan umum yang penuh.

Saat mulai bekerja daya tahan gue berdiri cuma sekitar 1,5 jam. Pernah nyaris pingsan di bus karena berdiri hampir 2 jam di bus penuh sesak. Padahal, kondisi badan gue sehat walafiat.

Sekarang daya tahan gue malah cuma sekitar setengah sampai satu jam maksimal. Mending jalan berkilo-kilo daripada berdiri lebih dari sejam.

Jika tidak bisa memulai dari terminal atau stasiun pemberangkatan, gue akan cenderung menunggu kendaraan berikutnya yang masih menyisakan tempat duduk. Atau, pilih angkutan seperti angkot dan mikrolet yang tidak ada tempat untuk penumpang berdiri. Meskipun, pada akhirnya gue harus banyak nyambung-nyambung kendaraan sehingga membuat biaya untuk ngangkot menjadi mahal.

Gue mengakui suka kesal dengan ibu-ibu usia paruh baya ke atas yang naik bus pas di mulut terminal. Mereka ga jarang melirik-lirik yang duduk. berharap diberi tempat duduk. Atau, bisa juga itu perasaan gue aja.

Pada saat jam sibuk, bus biasanya sudah penuh ketika berangkat dari terminal. Padahal, jalan menuju ke titik awal pemberangkatan bus ga begitu jauh, paling hanya perlu jalan 5 menit.

Bagaimanapun juga gue merasa ga enak kalau tetap duduk, sedangkan ada orangtua berdiri. Ini yang selalu jadi dilema buat gue. Kalau gue memberikan tempat duduk, maka selama lebih dari sejam berikutnya gue harus berdiri.

Angkutan umum di Jabodetabek pada saat jam-jam sibuk amat sangat tidak manusiawi. Kondisi di dalam bus yang penuh sesak penumpang masih diperparah dengan waktu tempuh yang panjang akibat macet.

Gue belum pernah ke Jepang yang kabarnya sangat memuliakan orangtua, ibu hamil, dan orang cacat ketika mereka memakai angkutan umum. Membandingkannya dengan Groningen yang berperilaku sama juga tidak apple to apple. Di Gronie, bus ga pernah penuh sesak dan waktu tempuhnya pun relatif pendek.

Angkutan umum yang tidak manusiawi di Jabodetabek itu menciptakan manusia-manusia yang menurut standar moral global tidak beretika. Seperti gue juga.

Tapi, gue yakin kebanyakan orang yang dinilai ga beretika itu dalam batinnya juga kerap terjadi perang. Antara memberi tempat duduk ke orang lebih berhak atau tetap duduk daripada pingsan di bus/kereta.

Untuk mengurangi rasa bersalah, ada prinsip-prinsip yang gue pegang:
1. Di bus seperti Transjakarta dan kereta Commuter Line, gue ga pernah menduduki kursi yang diprioritaskan untuk kelompok orang tertentu (manula, ibu hamil, dan orang cacat).

2.  Pantang tidak memberi tempat duduk untuk :
-ibu hamil yang kelihatan sudah gede perutnya. Kalau kebetulan badannya gemuk dan susah diidentifikasi kehamilannya ya gue tetap duduk.
-ibu menggendong bayi

– manula, baik nenek-nenek maupun kakek-kakek

3. Ketika masih ada pilihan untuk turun dan mengambil moda lain. Plus tidak sedang dalam keadaan diburu waktu sehingga ga masalah jika tiba di tempat tujuan lebih lama. Atau, lalu lintas longgar dan bus juga ga penuh sesak. Pada saat itu gue akan beri tempat duduk untuk ibu-ibu paruh baya yang membawa anak yang sudah bisa jalan.

Barangkali ada yang tetap berpikiran, ‘Ga ada alasan, kalau kita masih muda dan sehat, apa pun kondisinya, wajib beri  tempat duduk ke yang lebih berhak.’ Maaf, gue memang kurang beretika sehingga ga bisa selalu berperilaku begitu.

Maka dari itu, gue selalu bersyukur memiliki pola waktu berangkat dan pulang kerja yang ga bebarengan dengan kebanyakan karyawan di Jabodetabek. Kalaupun menumpang angkutan umum, seringkali masih tersisa tempat duduk atau bahkan kosong melompong. Perang batin pun terhindarkan.

****

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s