H o s t e l

Posted: May 11, 2014 in Catatan

TRAVELLING dengan gaya bebas ga terlepas dari kegiatan memesan penginapan. Khusus buat gue, bila perjalanan itu di dalam negeri, umumnya yang gue pesan adalah kamar hotel. Berbeda bila trip itu ke luar negeri, gue lebih sering memesan tempat tidur di hostel.

Sebenarnya tujuannya tetap sama, mendapatkan akomodasi yang murah. Bedanya, di Indonesia jarang banget ada hostel dengan model pemesanan per tempat tidur, bukan per kamar.
Hotel tentu saja pada umumnya lebih nyaman dengan berbagai fasilitas yang kadang wah. Tapi, kita ga bisa menceritakan kisah menginap di tempat seperti itu tanpa kental dengan nuansa pamer. Orang juga males dengernya :p

Sebaliknya, menginap di hostel kaya dengan cerita unik. Banyak pengalaman yang gue peroleh, hanya dari menginap di kamar model dorm (asrama) yang biasa tersedia di hostel. Pengalaman itu sebenarnya udah pernah gue kisahkan dalam blog terdahulu. Tapi sayang, blog itu udah terhapus.

Kamar hostel di Madrid

Kamar hostel di Madrid. Foto oleh Vivi Pohan.

Sekarang ketika sedang memilih-milih hostel—rasanya menyenangkan kembali ke aktivitas yang satu ini—teringat pengalaman terdahulu. Pernah pada suatu ketika, seorang teman meminta rekomendasi hostel di Barcelona. Dia bertanya, dulu gue menginap di mana? Lalu, gue sebut HelloBCN. Yang gue ingat hostel itu lokasi bagus, dekat La Rambla. Sepertinya ga ada keluhan dari gue.

Begitu pulang dari Spanyol, teman gue itu protes keras, mengeluhkan hostel yang gue rekomendasikan itu. “Kok elo ga bilang kalau shower-nya pake dipencet dulu supaya keluar airnya?! Bolak-balik pas mandi mesti mencet, cepet banget abis airnya tiap kali pencet.”

Meledaklah tawa gue. Baru gue inget, memang itu annoying banget. Tapi, gue merasa terganggu hanya saat mandi. Setelah itu ga mengingat-ingat lagi. Buat gue, hostel itu yang penting cukup bersih, lokasi bagus, sarapan gratis, harga terjangkau, dan kalau bisa ada dapurnya. Rating minimal 80%.

Baru tadi gue membaca review salah satu hostel. Ada yang menyebut kamar dengan password pad merupakan nilai plus, lebih aman. Itu betul. Tapi kalau password pad itu ga bisa di-mute, bikin bete juga.

Bayangkan, tinggal di kamar yang berisi 8 orang, enam di antaranya orang asing. Tiap orang jam kembalinya berbeda. Lalu, kita kebetulan pulang paling cepat. Udah capek pingin tidur.

Sepanjang malam terbangun tiap kali ada teman sekamar yang datang. Suara memasukkan enam angka password makin nyaring saat dini hari. Itu yang gue alami ketika menginap di hostel di Istambul. Cuma, ya ga apa-apalah, hostelnya murah dan setelah semua penghuni lengkap, gue pun tertidur lelap.

Gimana rasanya tidur di kamar hostel dengan 12 tempat tidur? Ramee…hehehehe…Enggak juga sih. Orang yang biasa menginap di hostel, empatinya cukup tinggi. Bila lampu kamar sudah mati, dia akan memasuki kamar dengan berusaha tidak menimbulkan suara.

Sayangnya, di saat tidur ada suara yang ga bisa dikendalikan. Yaitu, suara mengorok. Wuiih, bisa sampai pagi orang sekamar ga bisa tidur kalau ada satu aja yang mengorok keras. Makanya, gue menyarankan untuk yang memiliki kebiasaan mengorok, sebaiknya jangan menginap di dorm. Tahu diri lah..kasian teman-teman yang lain.

Masih banyak sebenarnya kisah menarik dan menggelikan tentang menginap di hostel. Tapi, artikel ini udah kepanjangan. Lain kali lagi kalau ketemu cantelan cerita lain 😀

Selamat tidur!

****

Simak juga petunjuk memilih hostel di Memilih Hostel

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s