Optimisme untuk Indonesia Raya

Posted: July 24, 2014 in Sela

KALAU ditanya kesan soal pemilihan presiden (pilpres) di 2014 ini, gue akan menjawab : melelahkan batin. Pilpres terpanas yang pernah gue lewati, dan gue udah melewati 3 pilpres sebagai pemilih aktif.

Barangkali bukan gue aja yang merasakan itu. Terutama yang memiliki akun media sosial, ketika informasi baik berupa fakta maupun kebohongan berseliweran tanpa ada yang bisa (atau mau) membendung.

Kedua kubu saling melontarkan kampanye negatif, tidak jarang pula berupa kampanye hitam alias fitnah. Sulit rasanya untuk berusaha menahan diri tidak terbawa arus atau menahan rasa ketidaksukaan terhadap kawan yang berbeda pilihan.

Apalagi bila kawan itu gemar membuat status, me-like, atau bahkan men-share status maupun link berita yang berisi informasi yang menyudutkan capres pilihan kita. Berusaha untuk tidak membuka akun media sosial sehari atau dua hari saja juga tidak mudah. Takut ketinggalan ‘informasi’.

Di rumah, gue menjadi minoritas karena bapak dan ibu memilih capres sebelah. Topik pilpres menjadi tabu untuk diobrolkan. Sekali, gue dan bapak terlibat dalam obrolan topik tersebut. Hasilnya kami berangsur bicara dengan nada tinggi. Beruntung kami berdua menyadari itu dan ujungnya beralih topik pembicaraan; membahas perilaku ibu..hehehehe…

Di masa kampanye, waktu seperti berjalan lambat. Sebulan lebih menurut gue dan banyak teman yang lain, terlalu lama untuk sebuah periode kampanye. Tidak sabar ingin segera mencoblos pada 9 Juli 2014.

Kemudian ketika akhirnya datang hari pencoblosan diikuti hitung cepat, ternyata situasi justru makin panas. Kedua kubu merasa jadi pemenang dengan didukung hasil-hasil quick count versi masing-masing.

Semua bilang menunggu hasil penghitungan suara versi Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang bakal diumumkan pada 22 Juli sekaligus menetapkan presiden dan wapres terpilih. Apakah sementara itu kampanye negatif dan fitnah berhenti? Tidak. Melelahkan banget dah pokoknya.

Makanya jadi geregetan ketika ada salah satu capres menolak hasil penghitungan suara KPU dengan alasan banyaknya kecurangan yang merugikan kubunya. Padahal, KPU belum sampai pada akhir penghitungan. Cape deh…

Apapun, KPU sudah menetapkan pres-wapres terpilih. Bagi gue, pilpres sudah usai dan merasa senang dengan hasilnya.

Gue bangga dengan proses demokrasi di sini. Biarpun di hati dan mulut panas, ga ada yang berminat bentrok atau bikin rusuh. Karena sesungguhnya orang Indonesia itu saling menyayangi.

Baru kali ini pula gue amat sangat ingin punya anak. Anak gue itu akan jadi hasil revolusi mental yang merupakan pondasi Indonesia menuju negara maju. Dia  bagian dari bonus demografi Indonesia yang mencapai puncaknya pada 2025-2035.

Mungkin gue naif. Berharap terlalu banyak dari Presiden Jokowi–mesti mulai membiasakan nyebut ini–yang dituding sebagai tokoh yang sarat pencitraan.

Tapi gue merasa yakin, inilah saat yang ditunggu-tunggu untuk mulai membangun Indonesia dengan benar. Ketika usia gue 50-an tahun, insya Allah dan semoga gue masih sehat, Indonesia sudah menjadi negara maju. Negara yang menghasilkan banyak inovasi, termasuk cikal bakal transporter misalnya. Syukur-syukur anak gue yang jadi salah satu inovatornya.

Ya, ya, ya…pertanyaannya kapan kamu mau nikah, Win?

****

Advertisements
Comments
  1. infan says:

    rumah sudah dicat…pertama kali memandang..lahh mau ada kondangan..amiin..aamiin..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s