Perjalanan Kapal Laut Edisi Before

Posted: October 31, 2014 in Catatan
KM Tilongkabila, kapal milik Pelni yang berusia 20 tahun. Rute Bitung (Sulut)-Gorontalo-Luwuk-Kolonedale-Kendari-Raha-Bau bau-Makassar-Labuan Bajo-Bima-Ampenan/Lembar-Benoa/Denpasar.  24 September 2014.

KM Tilongkabila, kapal milik Pelni yang dibuat pada 1994. Rute Bitung (Sulut)-Gorontalo-Luwuk-Kolonedale-Kendari-Raha-Bau bau-Makassar-Labuan Bajo-Bima-Ampenan/Lembar-Benoa/Denpasar.
24 September 2014.

Tulisan-tulisan di bawah ini mengambil artikel di Media Indonesia, Kamis 30 Oktober 2014, sisipan Travelista halaman VII. Harapan gue, kelak bisa menjajal KM Tilongkabila yang sudah dipermak.

Sumber: PELNI PDF

Wajah Lusuh  Angkutan Laut

“Samudra, laut, selat, dan teluk ialah masa depan
peradaban kita. Kita telah terlalu lama memunggungi laut,
memunggungi samudra, memunggungi selat dan teluk. Kini
saatnya kita mengembalikan semuanya sehingga Jalesveva
Jayamahe, di laut justru kita jaya, sebagai semboyan nenek
moyang kita di masa lalu, bisa kembali membahana.”

DEMIKIAN sekelumit isi pidato  kenegaraan Joko Widodo seusai  dilantik menjadi Presiden ke-7  Republik Indonesia, Senin (20/10). Timbul pertanyaan, sudah pernahkah Anda  bepergian dengan kapal laut? Sebagian besar  orang Indonesia tentu akan menjawab belum.
Dalam benak banyak dari kita, angkutan  laut memakan waktu terlampau lama,  fasilitasnya seadanya bahkan cenderung  mengenaskan, belum lagi ayunan ombak yang  bisa menyebabkan mabuk laut. Bayangan  yang tersaji merupakan perjalanan yang sama  sekali tidak nyaman dan tidak menyenangkan.
Benarkah demikian? Bulan lalu, Rabu  (24/9), saya ikut perjalanan menumpang kapal KM Tilongkabila yang dioperasikan PT Pelni (persero). Rute yang ditempuh  Makassar-Labuan Bajo dengan waktu tempuh  yang dijadwalkan 20 jam. Berangkat pukul  11.00 Wita, tiba pukul 07.00 Wita. Namun,  keberangkatan hari itu mundur sekitar 2 jam.
KM Tilongkabila memiliki tiga tipe kabin,  yakni kabin kelas 1, kabin kelas 2, dan kabin  kelas ekonomi. Saya menempati kabin kelas 2  bersama tiga teman.
Kondisi kabin yang kami tempati terkesan  lusuh. Satu yang membuat saya ingin tertawa  ialah keberadaan termos plastik berwarna  hijau. Teringat zaman dahulu, termos seperti  itu merupakan salah satu kelengkapan di dapur mbah.
Seprei yang terpasang semestinya berwarna  putih. Namun, mungkin karena beberapa  kali pernah terpasang terlalu lama dan tidak diganti, warnanya sudah agak kekuningan.  Patut disyukuri bahwa meski kelihatan jauh dari baru, seprei tersebut tidak berbau.

Karpet yang menyelimuti lantai sudah  sulit digambarkan keadaannya. Saya bahkan  enggan menggelar sajadah dan salat di atasnya.  Tiap kali hendak salat, saya memilih lari ke  musala. Sungguh melegakan melihat kondisi musala yang luas dan bersih.

Transportasi murah
Mari beranjak ke kamar mandi. Bau kurang  sedap tercium begitu pintu dibuka. Air  menggenang membuat kaki otomatis berjinjit  saat menapaki lantai kamar mandi. Keran  wastafel berfungsi, tetapi setelah terpakai, airnya mengalir melalui pipa yang bocor dan langsung menambah genangan air di lantai.
Demikianlah gambaran fasilitas moda transportasi laut yang lama terabaikan. Itu masih kabin yang tidak bersubsidi yang seharusnya bisa terawat lebih baik. Saya belum sampai pada kabin kelas  ekonomi yang lebih tepat disebut kamp pengungsian ketimbang kabin penumpang.
Kesimpulannya, hanya satu keunggulan transportasi laut dengan segala kondisinya  saat ini: tarifnya murah. Murah dengan menghitung fasilitas makan gratis tiga kali sehari.
Setidaknya, perjalanan lancar. Kami tiba di  Labuan Bajo sekitar pukul 09.00 Wita dengan  selamat. Siap bertolak menuju Pulau Komodo  dan sekitarnya. (M-1)

Tarif dan fasilitas KM Tilongkabila

Kelas 1 Rp523 ribu; Kamar mandi shower, toilet di dalam. Dua tempat tidur, AC. Gratis makan siang, makan malam, dan sarapan, disajikan di ruang makan.

Kelas 2 Rp430 ribu; Kamar mandi shower, toilet di dalam Dua set tempat tidur tingkat untuk  empat orang, AC, gratis makan siang, makan malam, dan sarapan, disajikan di  ruang makan.

Kelas Ekonomi Rp179 ribu; Kamar mandi shower dan toilet berbagi, alas  tidur, Katanya ada ber-AC, tapi pengap, Gratis makan siang, makan malam, dan sarapan,  diberikan dalam kemasan styrofoam.

Foto belum dipublish:

Kabin Kelas II, KM Tilongkabila. 24 September 2014.

Kabin Kelas II, KM Tilongkabila. 24 September 2014.

Mengisi Waktu, Atasi Kebosanan

BENAR yang dikatakan Presiden Jokowi. Kita telah terlalu lama  memunggungi laut. Hasilnya,  transportasi laut tidak terurus, dibiarkan berjalan seadanya. Padahal, menempuh perjalanan  dengan kapal laut sesungguhnya  cukup menarik. Kita bisa menikmati  pemandangan matahari terbenam dan  matahari terbit dengan pandangan  luas tanpa halangan. Sosok matahari
kelihatan lenyap atau muncul  langsung dari muka laut.
Memang, dengan perjalanan yang  memakan waktu lama dan hanya  bisa berkeliaran di kapal, rasa bosan bisa dengan mudah menghinggapi.  KM Tilongkabila memiliki solusi.  Penumpang bisa menonton film di teater kecil berkapasitas 10-12 orang.
Tiket masuknya dibanderol Rp15  ribu/orang. Dalam satu hari ada 3-4  pertunjukan. Judul film diumumkan  melalui pengeras suara beberapa waktu sebelum film diputar.
Berjalan menjelajahi kapal juga cukup menarik. Sayangnya,  menyusuri geladak kapal tidak bisa  dilakukan dengan leluasa. Selalu ada saja penumpang yang tidur di  berbagai tempat, menghindari kabin  kelas ekonomi yang penuh dan pengap. Di dalam kapal tersedia gerai-gerai  mini kelontong yang menjual berbagai  jenis makanan kecil dan minuman. Gerai yang buka 24 jam tersebut juga  menyediakan perlengkapan mandi  seperti sabun, odol, dan sikat gigi.

Akan lebih baik
Harapan membangkitkan  transportasi laut yang lebih layak dan  menarik muncul dari tekad Direktur Utama PT Pelni (persero) Sulistyo  Wimbo Hardjito untuk membenahi  armadanya. Pelni bahkan berencana melengkapi semua kapal penumpang  dengan arena gym mini dan tempat  bermain anak.
Dengan mencontoh transformasi  di angkutan perkeretaapian, Wimbo  menjanjikan dalam tempo kurang dari dua tahun mendatang, kapal-kapal angkutan penumpang Pelni akan berubah wajah: lebih ramah, lebih nyaman, dan bernilai tambah untuk  sektor pariwisata. “Murah bukan  berarti kumuh,” cetus Wimbo.
Sasarannya bertambah, yakni  para pelancong kelas menengah.  Pelancong yang cukup berduit dan menginginkan layanan transportasi  yang nyaman. Kapal-kapal Pelni akan  menjangkau tempat-tempat wisata  yang sulit terjangkau oleh moda lain  dan beberapa di antaranya sekaligus  akan difungsikan sebagai hotel  terapung.

Kami tunggu hasilnya, Pak!

(Ndy/M-1)“

Foto-foto lain yang belum dipublish :

Toilet Kabin Ekonomi

Toilet Kabin Ekonomi. KM Tilongkabila, 24 September 2014

Toilet Kabin Kelas II

Toilet Kabin Kelas II. KM Tilongkabila. 24 September 2014.

Dapur KM Tilongkabila. 24 september 2014.

Dapur KM Tilongkabila. 24 september 2014.

****

PROMO : HOMESTAY MURAH DI JAKARTA. HANYA Rp60 RIBU/BED/MALAM, ATAU  RP100 RIBU PER KAMAR (2 BED TINGKAT) PER MALAM. SIMAK DI SINI.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s