Selamat Tinggal Kuno

Posted: December 7, 2014 in Catatan

KALI ini PT KAI bener-bener bikin gue takjub. Minggu lalu gue datang ke Stasiun Pasar Senen membawa lembar konfirmasi bookingan tiket daring. Udah siap-siap menghadapi antrean di loket penukaran tiket.
Makanya untuk mengantisipasi lamanya penukaran tiket, gue datang lebih awal. Tiba hampir sejam sebelum keberangkatan.
Ketika menyusuri koridor gue tertarik dengan papan petunjuk bertuliskan ‘Cetak Tiket Mandiri’. Bener nih? tanya gue dalam hati.

Sampailah gue di sebuah ruang tunggu. Di pojokan berderet mesin-mesin yang dari jauh tampak seperti mesin ATM. Rupanya itulah mesin Cetak Tiket Mandiri (CTM). Tinggal masukkan kode booking, printer langsung bergerak mengetikkan data pada lembaran tiket. Prosesnya ga sampai 10 detik.

Di dekat mesin CTM ada petugas yang siap membantu bila ada calon penumpang yang kesulitan menggunakan mesin CTM. Tapi mereka hanya sedikit memandu dan membiarkan calon penumpang melakukan sendiri. Cara memandu yang sangat bagus. Supaya calon penumpang cepat akrab memakai mesin CTM. Lagipula penggunaannya mudah sekali kok.

Ketika printer bergerak mencetakkan data-data nama gue serta data kereta yang akan gue tumpangi, gue terpesona nyaris terharu. Sampai juga angkutan publik Indonesia pada teknologi semacam ini.
Rupanya reformasi KAI cukup progresif. Dulu gue mengeluhkan sistem ticketing KAI yang ga menyediakan pembelian tiket secara daring. Lalu, metode pembayarannya yang kuno, jangankan pakai kartu kredit, kartu debit aja ga bisa.

Kemudian beberapa tahun kemudian tersedialah sistem tiket daring yang bisa dibayar dengan kartu debit maupun kartu kredit. Bahkan, penumpang bisa memilih tempat duduk sendiri. Keren!

Tapi, gue masih mengeluhkan sistem penukaran tiket yang sami mawon, seperti yang gue alami di sini. Masa udah bisa beli tiket daring, sehingga ga perlu mengantre ketika membeli, penukaran tiket masih harus di loket dengan antrean kerap kali panjang. Terutama, di stasiun-stasiun yang ramai penumpang seperti Stasiun Pasar Senen.

Kini, akhirnya tersedia mesin CTM yang kerjanya lebih cepat ketimbang petugas di lokat. Ga perlu antre panjang untuk menukar tiket. Fasilitas ini cukup memuaskan walaupun tidak secanggih sistem tiket di sejumlah negara Eropa. Di sana, kita ga perlu menukar atau mencetak tiket di mesin khusus. Cetak tiket cukup dilakukan dengan printer pribadi atau disimpan di ponsel pintar. Yang diperlukan hanya barcode yang nantinya di-scan oleh petugas angkutan publik saat kita hendak naik angkutan.

Masih ada keluhan
Dengan segala kemajuan yang dicapai angkutan KA di Tanah Air, sekarang pun gue masih ada keluhan. Perjalanan memakai KA jarak jauh selama lebih dari 7 jam, terutama malam hari, terlalu melelahkan dilakukan dalam posisi duduk. Buktinya, ketika waktu tidur menjelang, beberapa penumpang menggelar alas/koran untuk tidur di lantai.

Kenapa KAI tidak sekalian menyediakan kabin sleeper? Kabin yang berisi kursi-kursi yang bisa dilebarkan untuk menjadi tempat tidur tingkat. Perjalanan dengan memakai kereta tidur seperti itu membantu penumpang tetap segar meski harus menempuh perjalanan 8-10 jam. Syukur-syukur angkutan bus jarak jauh ikut mencontoh, seperti yang di sini.  Semoga keluhan ini juga terjawab dengan memuaskan 😀

****

PROMO : HOMESTAY MURAH DI JAKARTA. HANYA Rp60 RIBU/BED/MALAM, ATAU  RP100 RIBU PER KAMAR (2 BED TINGKAT) PER MALAM. SIMAK DI SINI.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s