Kring Kring, Gowes Gowes

Posted: April 10, 2015 in Sela

HARI ini untuk kesekian kalinya gue menempuh perjalanan ke kantor dengan menggunakan sepeda—sepeda imut yang menurut orang-orang kantor terlalu kecil buat gue. Gue memang sengaja memilih sepeda lipat beroda 16 inchi, agar ketika pulang bisa dilipat dan masuk ke bus Transjakarta. Biasanya kan kalau malam pulang kantor udah lelah. Jadi dari total jarak tempuh sekitar 9-10 kilometer, hanya separuhnya yang perlu gue jalani dengan sepeda.

Sepeda lipat ring 16

Sepeda lipat ring 16″ yang gue beli seharga Rp800 ribu.

Akhir-akhir ini gue mulai menyesal membeli sepeda itu. Mulanya memang gue dengan sabar menunggu bus Transjakarta yang agak longgar. Tapi total waktu perjalanan menjadi lebih panjang ketimbang ga pakai sepeda. Soalnya, rute Transjakarta yang gue lewati banyak peminatnya, walau sudah larut malam. Seringnya masih penuh sampai berlalu beberapa bus.

Beberapa kali gue memilih langsung naik sepeda sampai tempat tinggal gue di Cengkareng. Lebih cepat sampai. Berhitung lebih lanjut, waktu perjalanan akan menjadi lebih singkat kalau gue menggunakan sepeda beroda 26 inchi, tipe-tipe sepeda mini berkeranjang itu lho.

Sebaliknya, seorang rekan kerja yang juga bersepeda ke kantor dari Cengkareng berpikir untuk beralih ke sepeda lipat seperti yang gue punya. Selama ini dia memakai MTB beroda 26 inchi. “Kadang-kadang capek gowes pas pulang,” ujarnya. Kata-kata yang menyadarkan gue bahwa sesungguhnya manusia itu ga akan pernah terpuaskan. Semua, apa pun itu pasti ada plus-minusnya. Jadilah gue tetap setia dengan sepeda lipat imut bermerek bajakan ‘Dignity’ itu. Paling enggak, sampai punya duit buat beli sepeda kota…huehehehe…tetep.

Jelang tengah malam menunggu naik Tranjakarta dalam kondisi terlipat.

Jelang tengah malam menunggu naik Transjakarta dalam kondisi terlipat.

Segala cuaca

Bersepeda ke kantor itu mengingatkan betapa gue menyukai sepedaan. Kesukaan yang ternyata ga pernah pudar dari sejak gue bisa menggowes dengan posisi seimbang pada usia 6 tahun. Dulu salah satu yang bikin gue semangat untuk kuliah di Belanda adalah karena sepeda merupakan moda transportasi utama.

Di Groningen, aktivitas itu lebih menyenangkan lagi. Menyusuri pinggir kanal-kanal di jalan yang datar-beraspal dan merasakan angin bertiup menerpa wajah. Kadang di pangkal jembatan harus berhenti ketika palang mulai turun diiringi bunyi lonceng. Seperti di sini kalau kereta mau lewat lah. Jembatan otomatis terbuka ke atas untuk memberi kesempatan kapal lewat.

Ya, kanal-kanal tersebut aktif dilalui kapal kecil. Kalau lagi buru-buru memang agak mengesalkan, tapi gue selalu ingat untuk menikmati momen-momen seperti itu. Momen yang mungkin ga akan pernah gue alami lagi.

Salah satu jembatan yang melewati kanal di Groningen. Diambil dari album pribadi:https://m.facebook.com/windy.indriantari/albums/9376082557/?ref=bookmark

Salah satu jembatan yang melewati kanal di Groningen. Diambil dari album pribadi:https://m.facebook.com/windy.indriantari/albums/9376082557/?ref=bookmark

Bisa juga dibikin kayak gini. Pas pinggirnya itu jalur sepeda. Sumber : https://www.facebook.com/windy.indriantari/media_set?set=a.114172262557.97543.711552557&type=3

Sungai-sungai bisa juga dibikin kayak gini. Pas pinggirnya itu jalur sepeda. Sumber : https://www.facebook.com/windy.indriantari/media_set?set=a.114172262557.97543.711552557&type=3

Merasakan kristal-kristal salju menusuk wajah ketika bersepeda di musim dingin. Sampai membuat muka meringis. Bukannya beralih naik bus, gue memilih bertahan menggowes sepeda walau hawa amat dingin. Ga mau melewatkannya.

Di lain waktu, merasa putus asa ketika mencoba menggenjot melawan angin, tapi sepeda nyaris ga bergerak maju. Akhirnya, berpegangan pohon aja sampai angin kencang berlalu. Belanda terkenal dengan anginnya yang kencang.

Jalur-jalur yang khusus didedikasikan untuk sepeda membentuk jaringan yang luas dan panjang. Kalau di sini motor adalah raja jalanan, di Groningen rajanya justru sepeda. Tiap hari rata-rata jarak total 15-30 km gue lalap.

Sekarang, gue masih menikmati aktivitas bersepeda. Sengaja memilih jalan-jalan kampung, menyusuri pinggir sungai supaya ga ikut berjubel dengan kendaraan bermotor. Ternyata gue ga sendirian. Lumayan banyak warga setempat yang sehari-hari juga bersepeda. Panas terik nikmati saja. Sedangkan, ketika hujan cengar-cengir sendiri. Bersepeda sambil payungan di tengah malam itu sesuatu banget…

Jalan di pinggir Sungai Pesanggrahan. Kalau pagi rame banget, ada pasar kaget.

Jalan di pinggir Kali Pesanggrahan. Sungainya lumayan bersih dari sampah, setelah pembenahan sungai beberapa waktu belakangan. Kalau lewat sini bayanginnya kayak lagi menyusuri pinggir kanal di Groningen. Tinggal dibenahi lagi pinggiran sungainya, kasih trotoar, jalur hijau, udah oke banget.

Semoga larangan ini terus dipatuhi.

Semoga larangan ini terus dipatuhi.

Yuk, banyak-banyak pakai sepeda ke mana-mana. Ga usah peduli lagi harga BBM naik. Satu hari kerja ga keluar uang sepeser pun bisa 😀

****

 

HOMESTAY MURAH DI JAKARTA. HANYA Rp70 RIBU/BED/MALAM, ATAU  RP100 RIBU PER KAMAR (2 BED TINGKAT) PER MALAM. SIMAK DI SINI.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s