Cobaan Kemarau Panjang

Posted: September 20, 2015 in Sela

KALI pertama mengarungi hidup (halahhh) di rumah susun saat kemarau panjang, gampang-gampang susah. Aliran air ke tiap unit dibatasi, adanya hanya di jam-jam tertentu yang sampai sekarang gue ga ingat.

Pokoknya air mengalir di pagi hari dan sore, saat-saat gue jarang menggunakan air. Sore masih di kantor, pagi biasanya belum bangun, kecuali hari itu bertugas rapat pagi.

Penyedia jasa cuci baju langganan gue pun mengeluh. Soalnya jadwal air mengalir kurang sinkron dengan waktu operasional cuci-mencuci. Awalnya, gue cuma senyum-senyum mendengar keluhan itu. Sampai pada suatu ketika kena batunya juga.

Jadi, ceritanya gue baru balik dari tugas liputan di China. Esoknya gue masukan semua baju kotor yang gue bawa ngetrip, ditambah sisa baju kotor yang sebelumnya ga sempat gue setor. Hari itu hari Kamis. Biasanya dua hari kemudian cucian udah kelar.

Rencananya sebagian besar pakaian itu hendak gue bawa lagi. Kali ini ngetrip ke Jepang dalam rangka liburan, selama 8 hari. Berangkat Rabu. Selasa gue rapat pagi dan sebelum berangkat mampir ke tukang cuci, sekitar pukul setengah 9. Ternyata kiosnya masih tutup. Padahal biasanya pukul 8 udah buka. Ya sudah, besok aja, masih sempat lah ngepak, pikirku.

Rabu paginya, waktu itu tanggal 2 September, mampir lagi sambil membawa pakaian-pakaian kotor yang baru. Pakaian gue yang tersisa tinggal celana panjang yang gue pakai, dua lembar kaos oblong, satu blouse, dan atasan kebaya.

Lega melihat kios tukang cuci udah buka. Ketika menyodorkan baju kotor, langsung disambut mbak-mbak tukang cucinya. “Waa, Kak Windy, disatuin aja ya sama yang sebelumnya. Yang kemarin itu juga belum dicuci. Besok deh bisa selesai.”

JENG-JENG…selama beberapa saat gue ga bisa berkata-kata. Cuma bisa nyengir, tertawa dalam hati. Lalu berkata, “Yah, tapi saya mau pergi, baru balik tanggal 10.” Sambil masih nyengir-nyengir ga jelas, seakan kejadian itu ga terlalu berarti.

“Habis, airnya ga karuan ngalirnya, jadi bingung mau nyuci. Besok ga bisa ngambil dulu?” tanya si embak.

“Ga bisa, hari ini saya berangkat. Ya udah, nanti saya ambil kalau udah balik. (Ya apa mau dikata),” kata gue.

Baju sebenarnya masih banyak di lemari. Tapi di lemari kamar gue yang adanya nun jauh di sana, di rumah bokap. Ga sempat kalau harus ke sana dulu, karena jam 4 sore harus sudah tiba di bandara. Sedangkan gue masih bertugas dulu di kantor.

Gue ngepak pakaian yang ada, plus perlengkapan lainnya, sambil terus berpikir apa yang paling baik gue lakukan. Kadang sambil geli sendiri, kok bisa yang beginian terjadi. Biarpun begitu, ngetripnya tetep jalan lah ya. Masa hanya karena kekurangan baju, ga jadi berangkat.

Konsekuensinya, jadi pingin tiarap di got aja waktu berjalan-jalan di Harajuku. Minder banget kalau cuma pakai kaos oblong dan celana panjang di sana. Pas wiken pulak. Enggak stylish babar blas. Nasiib..

Takeshita Street, Harajuku, Japan. 6 September 2015.

Takeshita Street, Harajuku, Japan. 6 September 2015.

****

PROMO : HOMESTAY MURAH DI JAKARTA. HANYA Rp60 RIBU/BED/MALAM, ATAU  RP100 RIBU PER KAMAR (2 BED TINGKAT) PER MALAM. SIMAK DI SINI.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s