Ingat-Ingat Penumpang Prioritas

Posted: September 27, 2015 in Catatan, Sela

BEBERAPA bulan lalu melalui curhatan di sini, gue menyatakan ga bisa memperbandingkan kondisi dan perilaku bertransportasi umum antara di Jabodetabek dan di Jepang. Sekarang gue ingin menceritakan pengalaman memakai kendaraan umum di ‘Negeri Matahari Terbit’ tersebut.

Berhubung gue hanya 8 hari di sana, mungkin belum bisa memberi gambaran yang sebenar-benarnya.  Namun, setidaknya bisa diambil gambaran umumnya.

Orang-orang Jepang memang sangat memperhatikan hak yang disediakan bagi penumpang prioritas. Penumpang prioritas itu cakupannya serupa dengan di Jabodebatek, yakni manula, orang sakit/cacat, ibu hamil, dan orang menggendong balita.

Penumpang yang tidak termasuk golongan prioritas lebih memilih berdiri ketimbang duduk di kursi-kursi prioritas. Walaupun, kendaraan cukup penuh. Kerap kali ketika gue naik bus maupun kereta MRT, pemandangan seperti itu yang terlihat. Kalaupun ada nonprioritas yang duduk di situ, biasanya orang asing.

When in Rome, do as Romans do…berperilakulah mengikuti adat istiadat setempat. Terutama bila kebiasaan di situ memang baik. Gue dan teman gue tentu saja mengikuti etika di Jepang. Sebelum duduk, selalu memperhatikan terlebih dahulu apakah ada tanda kursi prioritas.

Sebenernya itu ga susah. Gue sendiri udah terbiasa tidak menduduki kursi prioritas ketika naik Transjakarta dan Commuter Line. Dalam keadaan kosong maupun penuh. Cuma kan posisi kursi prioritas di kendaraan umum Jepang bisa berbeda dengan di negeri kita. Jadi tetep harus lihat-lihat dulu.

Namun, menurut penilaian gue dalam waktu yang pendek itu, etika bertransportasi di Jepang ga jempol-jempol amat. Jempolnya baru soal tidak mengambil hak penumpang  prioritas.

Satu waktu kami naik MRT di Tokyo. Kereta lumayan penuh, tapi masih cukup longgar. Seperti biasa deretan kursi prioritas terlihat kosong. Lalu naik dua orang asing, sepertinya warga negara AS didengar dari logat bahasa Inggrisnya, ibu-ibu. Salah satunya sudah agak tua. Dua lagi pria, sipit sih tapi seperti bukan orang Jepang. Mereka menduduki kursi prioritas.

“We can give it up if there is any…,” ujar ibu yang muda sambil tertawa kecil tanpa menyelesaikan kalimatnya.

Tak berapa lama, naiklah sepasang suami istri. Si istri menggendong bayi, si suami menggendong balita. Sesaat mereka menoleh ke arah kursi prioritas, tidak ada tempat tersisa. Orang-orang asing yang duduk di situ tetap asyik bercakap-cakap.

Tidak ada pula penumpang di dekat suami-istri itu yang seketika berdiri memberi tempat duduk. Sampai kemudian seorang pria yang duduk agak jauh menepuk bahu si istri mempersilakan duduk di kursi yang semula ia tempati. Pria itu bule, orang asing.

Si istri duduk, memangku bayi ditambah anak balitanya yang semula digendong si suami. Repot kelihatannya. Tapi penumpang-penumpang yang duduk di dekatnya seakan tidak peduli.

Di lain waktu, dari kejauhan gue melihat seorang ibu tua yang naik MRT, masih di Tokyo. Semua tempat duduk sudah ditempati, termasuk kursi prioritas. Hanya 2-3 penumpang yang berdiri. Sampai gue turun, ga ada penumpang yang merelakan tempat duduk untuk si ibu.

Jpeg

Agak-agak ga nyambung sih ilustrasinya. Tapi ini juga salah satu moda transportasi umum di Jepang. Daripada ga ada fotonya kan. (Hakone 4 September 2015)

Ada juga saat perjalanan gue naik kereta dari Himeji kembali ke Kyoto. Rupanya kereta itu termasuk kereta komuter. Cukup padat penumpangnya ketika mulai mendekati Osaka. Kebetulan pas jam pulang kerja.

Di suatu stasiun, gue lupa namanya, naiklah seorang bapak berjas memegang tas kantor. Rambutnya sudah putih semua dan kantung-kantung matanya tampak besar seperti bapak kita SBY. Menurut gue, si bapak sudah bisa dikategorikan manula, walaupun masih ngantor. Inget sama bapak gue sendiri di rumah..eh di Arab ding waktu itu.

Tapi ga ada tuh yang memberi dia tempat duduk. Padahal yang duduk di dekat dia masih muda-muda. Bahkan saat ada yang berdiri untuk turun, dengan sigap mbak di dekat si bapak duduk di kursi yang ditinggalkan.

Tiga stasiun berlalu, si bapak masih berdiri sambil terkantuk-kantuk. Akhirnya ada juga penumpang yang memberi si bapak tempat duduknya yang letaknya berjarak dua tempat duduk. Lagi-lagi orang asing.

Jadilah gue berdiri dari Stasiun Shin Osaka sampai Stasiun Kyoto. Untungnya udah longgar dan perjalanan lancar.

Hasil pengamatan gue itu mungkin belum bisa merepresentasikan perilaku orang Jepang ketika menumpang kendaraan umum. Yang jelas satu yang cukup konsisten dan sepatutnya kita contoh: sedapat mungkin tidak menduduki kursi prioritas jika kita tidak tergolong penumpang prioritas.

Mudah-mudahan nantinya penumpang angkutan umum di negeri kita sampai juga pada kebiasaan seperti itu.

*****

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s