Rusun atau Rumah Tapak?

Posted: October 18, 2015 in Sela

ADA seorang rekan kerja yang mempertanyakan pilihan gue untuk membeli unit rumah susun (rusun) ketimbang rumah tapak. Bagi dia, sama sekali tidak terpikir untuk tinggal di rusun. Terlalu sempit, tidak aman untuk anak-anak, terlalu dekat dengan tetangga, dan banyak lagi minusnya menurut penilaian dia.

Gue membeberkan sejumlah alasan yang kemudian dia pertanyakan lagi. Misalnya, gue memilih unit rusun karena itu yang harganya terjangkau. Lokasinya pun relatif dekat dari tempat kerja di bilangan Kedoya, Jakarta Barat. Mudah naik angkutan umum, walau larut malam sekalipun, karena mobil udah gue jual untuk membayar uang muka dan biaya lain-lain ketika akad kredit.

Tiap bulan gue harus membayar cicilan kredit pemilikan apartemen sekitar Rp2,7 juta hingga tujuh tahun ke depan. Lebih dari itu, mungkin gue ga sanggup. Apalagi masih ditambah ‘jadwal’ ngetrip yang perlu biaya 😀

‘Kan dengan harga yang sama bisa dapat rumah tapak yang di pinggiran?’ Betul, tapi pulang kerja repot karena pekerjaan gue baru kelar jam 9 malam. Kadang-kadang malah baru pulang jam 11 malam atau setelahnya. Berangkatnya sih gampang. Lha pulangnya, ga bisa nyampe kalau pakai angkutan umum.

Taksi? Bangkrut lah ya, karena kalau gue beli rumah tapak pasti lokasinya jauh dari kantor. Sebagai contoh, ongkos taksi dari kantor ke rumah bapak di daerah Pondok Gede, Bekasi, sekitar Rp180 ribu. Bandingkan dengan ongkos taksi ke unit rusun gue di Cengkareng, cuma Rp50 ribu, itu udah dilebihin untuk tips sopir.

‘Ambil yang di daerah pinggiran Depok seperti si A. Itu kan dekat stasiun kereta. Kereta ada sampai jam 12.’ Ya bisa begitu, tapi selalu was-was ketinggalan kereta terakhir.

‘Kalau punya anak gimana? Itu kan tingkat, bahaya buat anak-anak kalau mereka mau main.’ Gue belum punya anak, tapi tetangga gue juga banyak yang punya anak-anak kecil. Kayaknya aman-aman aja.

Andaikan gue punya anak nanti,  ya kalau bisa tinggal di rumah tapak. Harapannya gue bisa beli rumah tapak dengan luasan yang layak, lebih besar daripada unit rusun gue yang hanya 33 m2 dengan dua kamar imut-imut. Plus halaman rumah buat nanam cabai (banyak maunya). Tapi itu perlu bantuan dari bapaknya anak-anak. Ga mampu beli/nyicil sendirian.

Untuk sekarang gue ga merasa perlu untuk memaksakan diri ambil tempat tinggal dengan harga yang lebih mahal demi mendapatkan ruang yang luas. Tapi, karena diberondong pertanyaan yang mengisyaratkan banyaknya minus rusun, ditambah argumen tempat tinggal adalah juga untuk masa depan seterusnya, agak mikir-mikir juga gue.

Sampai pada Sabtu lalu terlibat perbincangan dengan si A. Ingat si A kan? Itu yang rumahnya di daerah Depok minggir, yang dekat stasiun KA.

“Naik kereta kalau wiken penuh. Banyak ibu-ibu, keluarga bawa anak. Ga enak juga kalau duduk, akhirnya tetep gue kasih juga tempat duduk gue ke ibu-ibu gendong anak.”

“Kurang pagi kali. Emang tadi berangkat jam berapa?”

“Berangkat jam setengah 9. Nyampe kantor jam berapa gue tadi? Jam sebelas ya.”

“Oh, sama dong, gue juga setengah sembilan. Nyampe jam 10. Eh salah ding, tadi berangkat hampir jam setengah 10. Naik sepeda…lebih cepet daripada ngangkot.”

Ketika itulah gue kembali meyakini pilihan gue sudah tepat. Itu yang terbaik untuk saat ini karena gue bisa tidur pagi lebih panjang, walaupun dapat giliran tugas rapat pagi….hehehehe..

Plus, bisa buat bantu-bantu yang perlu penginapan-murah. Sejauh ini minusnya baru yang begini.

Rumah tapak? Nantilah kalau ada rejeki dan ada yang bantu beli 😀

****

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s