Terjebak Settingan Film Hollywood

Posted: June 21, 2019 in Catatan

Minggu, 1 April 2018, jelang hari terakhir trip di New York, AS. Usai mengunjungi Patung Liberty, sekitar tengah hari, gue berpisah dengan teman seperjalanan.

Kami punya agenda sendiri yang tidak bisa dikompromikan untuk dijalani bersama. Gue ingin bersepeda keliling Manhattan, teman gue ingin menghabiskan waktu di factory outlet ‘The Mills, Jersey Garden’.

Maka, gue menumpang ferry ke Battery Park, New York, teman gue kembali ke New Jersey. Itu dengan kondisi ponsel pintar gue nyaris kehabisan baterai.

Sebenarnya gue bawa powerbank dari Indonesia, tapi di tengah trip, gawai tersebut mogok. Alhasil, begitu menginjak Battery Park, ponsel gue menolak hidup. Ironis ya, kehabisan baterai di Battery Park 😅

Yang gue lakukan kemudian adalah mencari pusat informasi turis. Apa boleh buat, tanpa GPS, gue terpaksa kembali ke cara menjelajah model kuno, yakni menggunakan peta kertas.

Ketemu pos informasi turis di depan Gedung Arsip New York, pas dekat dok sepeda sharing Citibike. Beragam peta bisa diambil secara gratis. Gue pilih peta yang sekaligus menunjukkan jalur sepeda.

Acara sepedaan berjalan lancar. Menikmati makan siang yang agak telat di pusat Manhattan, dekat Times Square. Lalu lanjut berjalan kaki sambil berburu cenderamata.

Sekitar pukul 4 sore, langkah kaki sengaja gue arahkan ke terminal bus Port Authorithy. Sudah waktunya kembali ke hotel kami di Elizabeth, New Jersey.

Ternyata bus yang langsung ke Mills–hotel kami ada di seberang factory outlet tersebut–hari itu hanya beroperasi sampai pukul 3. Jadi gue harus cari bus lain.

Kali ini gue perlu google maps, untuk mengetahui tidak hanya bus nomor berapa yang bisa gue tumpangi, tetapi juga di mana gue harus turun. Lalu, ke arah mana gue harus berjalan. Artinya, harus mengisi daya baterai ponsel.

Muter2 cari colokan, ketemu di dekat panel-panel swatiket. Begitu ponsel bisa beroperasi, gue mencatat informasi yang gue perlukan, termasuk rute jalan kaki sejauh kurang lebih 3 km ke hotel. Plus alternatifnya, naik bus lokal lalu lanjut jalan kaki kurang lebih 500 meter.

Jadwal bus gue adalah tiap sejam. Yang terdekat, pukul setengah 5 baru saja lewat. Gue lanjutkan mengisi daya ponsel sebelum menuju platform. Langit sudah mulai remang-remang saat bus yang gue tumpangi berangkat. Perjalanan sekitar setengah jam.

Turun dari bus, ponsel gue udah mati lagi. Berbekal catatan rute, gue mulai menyusuri jalan dengan niat berjalan kaki sampai hotel. Jarak 3 km itu perlu waktu sekitar 40 menit. Enggak terlalu jauh.

Entah gue yang salah mencatat atau google maps-nya yang salah info, rute yang gue lalui ternyata masuk highway. Enggak ada trotoar lagi di situ. Gue pun mengumpat dalam hati. Pasti lah salah google maps 😂

Tidak prospektif akhirnya gue berbalik dan memutuskan untuk naik bus. Saat berjalan menuju halte, gue melihat bus di seberang agak ke depan sedang berhenti di halte. Tanpa kacamata gue ga bisa lihat nomor busnya. Begitu bus bergerak dan makin dekat ke gue, baru keliatan MEMANG ITU BUS YANG MAU GUE TUMPANGI.

Sial! Gue menyeberang dengan gontai. Ga mungkin kan bus berikutnya akan datang dalam tempo 5 menit atau kurang. Suasana di situ sepi, hanya sesekali mobil lewat. Gue mendekat ke halte, mencari jadwal kedatangan bus. Tenyata enggak ada bow…hahaha…sumpah, kampung banget nih New Jersey.

Gue berdiri menunggu bus berikutnya yang gue enggak tahu akan datang jam berapa. Saat itu mestinya sekitar pukul 7.

Langit sudah gelap, hawa semakin dingin, mungkin sekitar 2-4 derajat, karena keesokan harinya turun salju. Gue membayangkan kamar hotel yang hangat. Enaknya tiduran, selimutan, sambil nonton Netflix.

Mencoba menghibur diri, ingatan gue melayang ke saat gue terpaksa menghabiskan malam di luar Bandara Eindhoven, di tengah musim dingin.

Suhunya enggak jauh beda. ‘Tapi, kan kamu ga harus semalaman di luar seperti dulu,’ pikir gue pada diri sendiri. Gue mulai menimbang-nimbang beberapa opsi.

Pertama, tetep nunggu bus sampai busnya tiba. Kedua, cari colokan untuk mengisi daya baterai, setelah itu pesan taksi/uber.

Gue mengamati lingkungan sekitar. Di seberang ada semacam kantor dengan gudang. Mestinya ada satpam yang jaga, mungkin bisa numpang ngecharge. Kemudian, ada McD letaknya agak jauh di persimpangan yang gue lewati tadi. Paling dekat, sebuah diner atau semacam kafe kecil.

Gue coba nunggu bus dulu, soalnya gue paling segan minta tolong. Setelah beberapa lama, gue meragukan opsi ini. Sampai kapan gue mesti nunggu? Ga ada satu pun orang lewat yang bisa ditanya apakah busnya masih ada.

Kalau diibaratkan NJ itu Bekasi-nya Jakarta, sungguh tertinggal. Udah ga ada jadwal bus, sepi banget pula. Mending Bekasi, gue pulang ke rumah nyokap biarpun tengah malam juga ga pernah nunggu angkot sampai lebih dari 10 menit.

Setelah mungkin setengah jam berdiri nunggu bus, gue mulai kedinginan. Ga bisa lagi selain memberanikan diri minta tolong. Gue pilih ke diner, namanya Seaport Diner. Begitu masuk, gue merasa lega. Hangat.

Gue ambil tempat duduk di salah satu kursi tinggi depan counter. Pesan minuman coklat panas dan french fries. Setelah pesanan datang, gue lantas menanyakan apakah bisa pinjam charger.

Bapak yang melayani mengiyakan, lalu mengambilkan charger. Lega nomor dua. Gue nunggu daya ponsel terisi hampir 10% sambil menikmati minuman hangat dan kentang goreng.

Gue memperhatikan keadaan diner itu. Persis seperti di film2 Hollywood. Selain kursi-kursi tinggi di depan counter ada booth-booth mepet tembok dan kaca setengah. Tiap booth terdiri dari kursi sofa standar berhadapan berkapasitas empat orang, dengan meja di tengah.

Selain gue, ada satu konsumen lagi, seorang bapak tua berkulit hitam. Kelihatannya pelanggan. Ia asyik nonton televisi sambil sesekali bercakap-cakap dengan si bapak pelayan diner.

Ga berapa lama, datang konsumen lain. Seorang polisi! Gue hampir-hampir ketawa, ini udah kayak settingan film.

Mas polisi itu pakai seragam hitam, dia memesan makanan untuk dibawa pergi. Tampangnya lumayan ganteng walau enggak seganteng sopir bus di Cordoba.

Si pelayan menanyakan kabarnya, lalu apakah paskah tetap bertugas. Mas polisi mengiyakan. Mereka bercakap-cakap sebentar.

Gue hanya bisa mendengarkan, enggak bisa melihat ke arah polisi itu terus. Ntar gue dicurigai pendatang ilegal, terus dibawa ke kantor polisi. Kan bahaya kalau nanti gue bener2 enggak bisa nahan ketawa begitu liat dalemnya kantor polisi 😂

Sekitar pukul 8 akhirnya gue bisa pesan Uber. Agak lama karena gue ga punya aplikasinya. Mesti mengunduh dulu, lalu daftar. Sampai di hotel pukul setengah sembilan. Lega nomor 3, bisa tiduran selimutan sambil nonton Netflix. Sebuah mimpi yang menjadi kenyataan 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s