Archive for the ‘Catatan’ Category

Ingat-Ingat Penumpang Prioritas

Posted: September 27, 2015 in Catatan, Sela

BEBERAPA bulan lalu melalui curhatan di sini, gue menyatakan ga bisa memperbandingkan kondisi dan perilaku bertransportasi umum antara di Jabodetabek dan di Jepang. Sekarang gue ingin menceritakan pengalaman memakai kendaraan umum di ‘Negeri Matahari Terbit’ tersebut.

Berhubung gue hanya 8 hari di sana, mungkin belum bisa memberi gambaran yang sebenar-benarnya.  Namun, setidaknya bisa diambil gambaran umumnya.

Orang-orang Jepang memang sangat memperhatikan hak yang disediakan bagi penumpang prioritas. Penumpang prioritas itu cakupannya serupa dengan di Jabodebatek, yakni manula, orang sakit/cacat, ibu hamil, dan orang menggendong balita.

Penumpang yang tidak termasuk golongan prioritas lebih memilih berdiri ketimbang duduk di kursi-kursi prioritas. Walaupun, kendaraan cukup penuh. Kerap kali ketika gue naik bus maupun kereta MRT, pemandangan seperti itu yang terlihat. Kalaupun ada nonprioritas yang duduk di situ, biasanya orang asing.

When in Rome, do as Romans do…berperilakulah mengikuti adat istiadat setempat. Terutama bila kebiasaan di situ memang baik. Gue dan teman gue tentu saja mengikuti etika di Jepang. Sebelum duduk, selalu memperhatikan terlebih dahulu apakah ada tanda kursi prioritas.

Sebenernya itu ga susah. Gue sendiri udah terbiasa tidak menduduki kursi prioritas ketika naik Transjakarta dan Commuter Line. Dalam keadaan kosong maupun penuh. Cuma kan posisi kursi prioritas di kendaraan umum Jepang bisa berbeda dengan di negeri kita. Jadi tetep harus lihat-lihat dulu.

Namun, menurut penilaian gue dalam waktu yang pendek itu, etika bertransportasi di Jepang ga jempol-jempol amat. Jempolnya baru soal tidak mengambil hak penumpang  prioritas.

Satu waktu kami naik MRT di Tokyo. Kereta lumayan penuh, tapi masih cukup longgar. Seperti biasa deretan kursi prioritas terlihat kosong. Lalu naik dua orang asing, sepertinya warga negara AS didengar dari logat bahasa Inggrisnya, ibu-ibu. Salah satunya sudah agak tua. Dua lagi pria, sipit sih tapi seperti bukan orang Jepang. Mereka menduduki kursi prioritas.

“We can give it up if there is any…,” ujar ibu yang muda sambil tertawa kecil tanpa menyelesaikan kalimatnya.

Tak berapa lama, naiklah sepasang suami istri. Si istri menggendong bayi, si suami menggendong balita. Sesaat mereka menoleh ke arah kursi prioritas, tidak ada tempat tersisa. Orang-orang asing yang duduk di situ tetap asyik bercakap-cakap.

Tidak ada pula penumpang di dekat suami-istri itu yang seketika berdiri memberi tempat duduk. Sampai kemudian seorang pria yang duduk agak jauh menepuk bahu si istri mempersilakan duduk di kursi yang semula ia tempati. Pria itu bule, orang asing.

Si istri duduk, memangku bayi ditambah anak balitanya yang semula digendong si suami. Repot kelihatannya. Tapi penumpang-penumpang yang duduk di dekatnya seakan tidak peduli.

Di lain waktu, dari kejauhan gue melihat seorang ibu tua yang naik MRT, masih di Tokyo. Semua tempat duduk sudah ditempati, termasuk kursi prioritas. Hanya 2-3 penumpang yang berdiri. Sampai gue turun, ga ada penumpang yang merelakan tempat duduk untuk si ibu.

Jpeg

Agak-agak ga nyambung sih ilustrasinya. Tapi ini juga salah satu moda transportasi umum di Jepang. Daripada ga ada fotonya kan. (Hakone 4 September 2015)

Ada juga saat perjalanan gue naik kereta dari Himeji kembali ke Kyoto. Rupanya kereta itu termasuk kereta komuter. Cukup padat penumpangnya ketika mulai mendekati Osaka. Kebetulan pas jam pulang kerja.

Di suatu stasiun, gue lupa namanya, naiklah seorang bapak berjas memegang tas kantor. Rambutnya sudah putih semua dan kantung-kantung matanya tampak besar seperti bapak kita SBY. Menurut gue, si bapak sudah bisa dikategorikan manula, walaupun masih ngantor. Inget sama bapak gue sendiri di rumah..eh di Arab ding waktu itu.

Tapi ga ada tuh yang memberi dia tempat duduk. Padahal yang duduk di dekat dia masih muda-muda. Bahkan saat ada yang berdiri untuk turun, dengan sigap mbak di dekat si bapak duduk di kursi yang ditinggalkan.

Tiga stasiun berlalu, si bapak masih berdiri sambil terkantuk-kantuk. Akhirnya ada juga penumpang yang memberi si bapak tempat duduknya yang letaknya berjarak dua tempat duduk. Lagi-lagi orang asing.

Jadilah gue berdiri dari Stasiun Shin Osaka sampai Stasiun Kyoto. Untungnya udah longgar dan perjalanan lancar.

Hasil pengamatan gue itu mungkin belum bisa merepresentasikan perilaku orang Jepang ketika menumpang kendaraan umum. Yang jelas satu yang cukup konsisten dan sepatutnya kita contoh: sedapat mungkin tidak menduduki kursi prioritas jika kita tidak tergolong penumpang prioritas.

Mudah-mudahan nantinya penumpang angkutan umum di negeri kita sampai juga pada kebiasaan seperti itu.

*****

Selamat Tinggal Kuno

Posted: December 7, 2014 in Catatan

KALI ini PT KAI bener-bener bikin gue takjub. Minggu lalu gue datang ke Stasiun Pasar Senen membawa lembar konfirmasi bookingan tiket daring. Udah siap-siap menghadapi antrean di loket penukaran tiket.
Makanya untuk mengantisipasi lamanya penukaran tiket, gue datang lebih awal. Tiba hampir sejam sebelum keberangkatan.
Ketika menyusuri koridor gue tertarik dengan papan petunjuk bertuliskan ‘Cetak Tiket Mandiri’. Bener nih? tanya gue dalam hati.

Sampailah gue di sebuah ruang tunggu. Di pojokan berderet mesin-mesin yang dari jauh tampak seperti mesin ATM. Rupanya itulah mesin Cetak Tiket Mandiri (CTM). Tinggal masukkan kode booking, printer langsung bergerak mengetikkan data pada lembaran tiket. Prosesnya ga sampai 10 detik.

Di dekat mesin CTM ada petugas yang siap membantu bila ada calon penumpang yang kesulitan menggunakan mesin CTM. Tapi mereka hanya sedikit memandu dan membiarkan calon penumpang melakukan sendiri. Cara memandu yang sangat bagus. Supaya calon penumpang cepat akrab memakai mesin CTM. Lagipula penggunaannya mudah sekali kok.

Ketika printer bergerak mencetakkan data-data nama gue serta data kereta yang akan gue tumpangi, gue terpesona nyaris terharu. Sampai juga angkutan publik Indonesia pada teknologi semacam ini.
Rupanya reformasi KAI cukup progresif. Dulu gue mengeluhkan sistem ticketing KAI yang ga menyediakan pembelian tiket secara daring. Lalu, metode pembayarannya yang kuno, jangankan pakai kartu kredit, kartu debit aja ga bisa.

Kemudian beberapa tahun kemudian tersedialah sistem tiket daring yang bisa dibayar dengan kartu debit maupun kartu kredit. Bahkan, penumpang bisa memilih tempat duduk sendiri. Keren!

Tapi, gue masih mengeluhkan sistem penukaran tiket yang sami mawon, seperti yang gue alami di sini. Masa udah bisa beli tiket daring, sehingga ga perlu mengantre ketika membeli, penukaran tiket masih harus di loket dengan antrean kerap kali panjang. Terutama, di stasiun-stasiun yang ramai penumpang seperti Stasiun Pasar Senen.

Kini, akhirnya tersedia mesin CTM yang kerjanya lebih cepat ketimbang petugas di lokat. Ga perlu antre panjang untuk menukar tiket. Fasilitas ini cukup memuaskan walaupun tidak secanggih sistem tiket di sejumlah negara Eropa. Di sana, kita ga perlu menukar atau mencetak tiket di mesin khusus. Cetak tiket cukup dilakukan dengan printer pribadi atau disimpan di ponsel pintar. Yang diperlukan hanya barcode yang nantinya di-scan oleh petugas angkutan publik saat kita hendak naik angkutan.

Masih ada keluhan
Dengan segala kemajuan yang dicapai angkutan KA di Tanah Air, sekarang pun gue masih ada keluhan. Perjalanan memakai KA jarak jauh selama lebih dari 7 jam, terutama malam hari, terlalu melelahkan dilakukan dalam posisi duduk. Buktinya, ketika waktu tidur menjelang, beberapa penumpang menggelar alas/koran untuk tidur di lantai.

Kenapa KAI tidak sekalian menyediakan kabin sleeper? Kabin yang berisi kursi-kursi yang bisa dilebarkan untuk menjadi tempat tidur tingkat. Perjalanan dengan memakai kereta tidur seperti itu membantu penumpang tetap segar meski harus menempuh perjalanan 8-10 jam. Syukur-syukur angkutan bus jarak jauh ikut mencontoh, seperti yang di sini.  Semoga keluhan ini juga terjawab dengan memuaskan 😀

****

PROMO : HOMESTAY MURAH DI JAKARTA. HANYA Rp60 RIBU/BED/MALAM, ATAU  RP100 RIBU PER KAMAR (2 BED TINGKAT) PER MALAM. SIMAK DI SINI.

Perjalanan Kapal Laut Edisi Before

Posted: October 31, 2014 in Catatan
KM Tilongkabila, kapal milik Pelni yang berusia 20 tahun. Rute Bitung (Sulut)-Gorontalo-Luwuk-Kolonedale-Kendari-Raha-Bau bau-Makassar-Labuan Bajo-Bima-Ampenan/Lembar-Benoa/Denpasar.  24 September 2014.

KM Tilongkabila, kapal milik Pelni yang dibuat pada 1994. Rute Bitung (Sulut)-Gorontalo-Luwuk-Kolonedale-Kendari-Raha-Bau bau-Makassar-Labuan Bajo-Bima-Ampenan/Lembar-Benoa/Denpasar.
24 September 2014.

Tulisan-tulisan di bawah ini mengambil artikel di Media Indonesia, Kamis 30 Oktober 2014, sisipan Travelista halaman VII. Harapan gue, kelak bisa menjajal KM Tilongkabila yang sudah dipermak.

Sumber: PELNI PDF

Wajah Lusuh  Angkutan Laut

“Samudra, laut, selat, dan teluk ialah masa depan
peradaban kita. Kita telah terlalu lama memunggungi laut,
memunggungi samudra, memunggungi selat dan teluk. Kini
saatnya kita mengembalikan semuanya sehingga Jalesveva
Jayamahe, di laut justru kita jaya, sebagai semboyan nenek
moyang kita di masa lalu, bisa kembali membahana.”

DEMIKIAN sekelumit isi pidato  kenegaraan Joko Widodo seusai  dilantik menjadi Presiden ke-7  Republik Indonesia, Senin (20/10). Timbul pertanyaan, sudah pernahkah Anda  bepergian dengan kapal laut? Sebagian besar  orang Indonesia tentu akan menjawab belum.
Dalam benak banyak dari kita, angkutan  laut memakan waktu terlampau lama,  fasilitasnya seadanya bahkan cenderung  mengenaskan, belum lagi ayunan ombak yang  bisa menyebabkan mabuk laut. Bayangan  yang tersaji merupakan perjalanan yang sama  sekali tidak nyaman dan tidak menyenangkan.
Benarkah demikian? Bulan lalu, Rabu  (24/9), saya ikut perjalanan menumpang kapal KM Tilongkabila yang dioperasikan PT Pelni (persero). Rute yang ditempuh  Makassar-Labuan Bajo dengan waktu tempuh  yang dijadwalkan 20 jam. Berangkat pukul  11.00 Wita, tiba pukul 07.00 Wita. Namun,  keberangkatan hari itu mundur sekitar 2 jam.
KM Tilongkabila memiliki tiga tipe kabin,  yakni kabin kelas 1, kabin kelas 2, dan kabin  kelas ekonomi. Saya menempati kabin kelas 2  bersama tiga teman.
Kondisi kabin yang kami tempati terkesan  lusuh. Satu yang membuat saya ingin tertawa  ialah keberadaan termos plastik berwarna  hijau. Teringat zaman dahulu, termos seperti  itu merupakan salah satu kelengkapan di dapur mbah.
Seprei yang terpasang semestinya berwarna  putih. Namun, mungkin karena beberapa  kali pernah terpasang terlalu lama dan tidak diganti, warnanya sudah agak kekuningan.  Patut disyukuri bahwa meski kelihatan jauh dari baru, seprei tersebut tidak berbau.

Karpet yang menyelimuti lantai sudah  sulit digambarkan keadaannya. Saya bahkan  enggan menggelar sajadah dan salat di atasnya.  Tiap kali hendak salat, saya memilih lari ke  musala. Sungguh melegakan melihat kondisi musala yang luas dan bersih.

Transportasi murah
Mari beranjak ke kamar mandi. Bau kurang  sedap tercium begitu pintu dibuka. Air  menggenang membuat kaki otomatis berjinjit  saat menapaki lantai kamar mandi. Keran  wastafel berfungsi, tetapi setelah terpakai, airnya mengalir melalui pipa yang bocor dan langsung menambah genangan air di lantai.
Demikianlah gambaran fasilitas moda transportasi laut yang lama terabaikan. Itu masih kabin yang tidak bersubsidi yang seharusnya bisa terawat lebih baik. Saya belum sampai pada kabin kelas  ekonomi yang lebih tepat disebut kamp pengungsian ketimbang kabin penumpang.
Kesimpulannya, hanya satu keunggulan transportasi laut dengan segala kondisinya  saat ini: tarifnya murah. Murah dengan menghitung fasilitas makan gratis tiga kali sehari.
Setidaknya, perjalanan lancar. Kami tiba di  Labuan Bajo sekitar pukul 09.00 Wita dengan  selamat. Siap bertolak menuju Pulau Komodo  dan sekitarnya. (M-1)

Tarif dan fasilitas KM Tilongkabila

Kelas 1 Rp523 ribu; Kamar mandi shower, toilet di dalam. Dua tempat tidur, AC. Gratis makan siang, makan malam, dan sarapan, disajikan di ruang makan.

Kelas 2 Rp430 ribu; Kamar mandi shower, toilet di dalam Dua set tempat tidur tingkat untuk  empat orang, AC, gratis makan siang, makan malam, dan sarapan, disajikan di  ruang makan.

Kelas Ekonomi Rp179 ribu; Kamar mandi shower dan toilet berbagi, alas  tidur, Katanya ada ber-AC, tapi pengap, Gratis makan siang, makan malam, dan sarapan,  diberikan dalam kemasan styrofoam.

Foto belum dipublish:

Kabin Kelas II, KM Tilongkabila. 24 September 2014.

Kabin Kelas II, KM Tilongkabila. 24 September 2014.

Mengisi Waktu, Atasi Kebosanan

BENAR yang dikatakan Presiden Jokowi. Kita telah terlalu lama  memunggungi laut. Hasilnya,  transportasi laut tidak terurus, dibiarkan berjalan seadanya. Padahal, menempuh perjalanan  dengan kapal laut sesungguhnya  cukup menarik. Kita bisa menikmati  pemandangan matahari terbenam dan  matahari terbit dengan pandangan  luas tanpa halangan. Sosok matahari
kelihatan lenyap atau muncul  langsung dari muka laut.
Memang, dengan perjalanan yang  memakan waktu lama dan hanya  bisa berkeliaran di kapal, rasa bosan bisa dengan mudah menghinggapi.  KM Tilongkabila memiliki solusi.  Penumpang bisa menonton film di teater kecil berkapasitas 10-12 orang.
Tiket masuknya dibanderol Rp15  ribu/orang. Dalam satu hari ada 3-4  pertunjukan. Judul film diumumkan  melalui pengeras suara beberapa waktu sebelum film diputar.
Berjalan menjelajahi kapal juga cukup menarik. Sayangnya,  menyusuri geladak kapal tidak bisa  dilakukan dengan leluasa. Selalu ada saja penumpang yang tidur di  berbagai tempat, menghindari kabin  kelas ekonomi yang penuh dan pengap. Di dalam kapal tersedia gerai-gerai  mini kelontong yang menjual berbagai  jenis makanan kecil dan minuman. Gerai yang buka 24 jam tersebut juga  menyediakan perlengkapan mandi  seperti sabun, odol, dan sikat gigi.

Akan lebih baik
Harapan membangkitkan  transportasi laut yang lebih layak dan  menarik muncul dari tekad Direktur Utama PT Pelni (persero) Sulistyo  Wimbo Hardjito untuk membenahi  armadanya. Pelni bahkan berencana melengkapi semua kapal penumpang  dengan arena gym mini dan tempat  bermain anak.
Dengan mencontoh transformasi  di angkutan perkeretaapian, Wimbo  menjanjikan dalam tempo kurang dari dua tahun mendatang, kapal-kapal angkutan penumpang Pelni akan berubah wajah: lebih ramah, lebih nyaman, dan bernilai tambah untuk  sektor pariwisata. “Murah bukan  berarti kumuh,” cetus Wimbo.
Sasarannya bertambah, yakni  para pelancong kelas menengah.  Pelancong yang cukup berduit dan menginginkan layanan transportasi  yang nyaman. Kapal-kapal Pelni akan  menjangkau tempat-tempat wisata  yang sulit terjangkau oleh moda lain  dan beberapa di antaranya sekaligus  akan difungsikan sebagai hotel  terapung.

Kami tunggu hasilnya, Pak!

(Ndy/M-1)“

Foto-foto lain yang belum dipublish :

Toilet Kabin Ekonomi

Toilet Kabin Ekonomi. KM Tilongkabila, 24 September 2014

Toilet Kabin Kelas II

Toilet Kabin Kelas II. KM Tilongkabila. 24 September 2014.

Dapur KM Tilongkabila. 24 september 2014.

Dapur KM Tilongkabila. 24 september 2014.

****

PROMO : HOMESTAY MURAH DI JAKARTA. HANYA Rp60 RIBU/BED/MALAM, ATAU  RP100 RIBU PER KAMAR (2 BED TINGKAT) PER MALAM. SIMAK DI SINI.

H o s t e l

Posted: May 11, 2014 in Catatan

TRAVELLING dengan gaya bebas ga terlepas dari kegiatan memesan penginapan. Khusus buat gue, bila perjalanan itu di dalam negeri, umumnya yang gue pesan adalah kamar hotel. Berbeda bila trip itu ke luar negeri, gue lebih sering memesan tempat tidur di hostel.

Sebenarnya tujuannya tetap sama, mendapatkan akomodasi yang murah. Bedanya, di Indonesia jarang banget ada hostel dengan model pemesanan per tempat tidur, bukan per kamar.
Hotel tentu saja pada umumnya lebih nyaman dengan berbagai fasilitas yang kadang wah. Tapi, kita ga bisa menceritakan kisah menginap di tempat seperti itu tanpa kental dengan nuansa pamer. Orang juga males dengernya :p

Sebaliknya, menginap di hostel kaya dengan cerita unik. Banyak pengalaman yang gue peroleh, hanya dari menginap di kamar model dorm (asrama) yang biasa tersedia di hostel. Pengalaman itu sebenarnya udah pernah gue kisahkan dalam blog terdahulu. Tapi sayang, blog itu udah terhapus.

Kamar hostel di Madrid

Kamar hostel di Madrid. Foto oleh Vivi Pohan.

Sekarang ketika sedang memilih-milih hostel—rasanya menyenangkan kembali ke aktivitas yang satu ini—teringat pengalaman terdahulu. Pernah pada suatu ketika, seorang teman meminta rekomendasi hostel di Barcelona. Dia bertanya, dulu gue menginap di mana? Lalu, gue sebut HelloBCN. Yang gue ingat hostel itu lokasi bagus, dekat La Rambla. Sepertinya ga ada keluhan dari gue.

Begitu pulang dari Spanyol, teman gue itu protes keras, mengeluhkan hostel yang gue rekomendasikan itu. “Kok elo ga bilang kalau shower-nya pake dipencet dulu supaya keluar airnya?! Bolak-balik pas mandi mesti mencet, cepet banget abis airnya tiap kali pencet.”

Meledaklah tawa gue. Baru gue inget, memang itu annoying banget. Tapi, gue merasa terganggu hanya saat mandi. Setelah itu ga mengingat-ingat lagi. Buat gue, hostel itu yang penting cukup bersih, lokasi bagus, sarapan gratis, harga terjangkau, dan kalau bisa ada dapurnya. Rating minimal 80%.

Baru tadi gue membaca review salah satu hostel. Ada yang menyebut kamar dengan password pad merupakan nilai plus, lebih aman. Itu betul. Tapi kalau password pad itu ga bisa di-mute, bikin bete juga.

Bayangkan, tinggal di kamar yang berisi 8 orang, enam di antaranya orang asing. Tiap orang jam kembalinya berbeda. Lalu, kita kebetulan pulang paling cepat. Udah capek pingin tidur.

Sepanjang malam terbangun tiap kali ada teman sekamar yang datang. Suara memasukkan enam angka password makin nyaring saat dini hari. Itu yang gue alami ketika menginap di hostel di Istambul. Cuma, ya ga apa-apalah, hostelnya murah dan setelah semua penghuni lengkap, gue pun tertidur lelap.

Gimana rasanya tidur di kamar hostel dengan 12 tempat tidur? Ramee…hehehehe…Enggak juga sih. Orang yang biasa menginap di hostel, empatinya cukup tinggi. Bila lampu kamar sudah mati, dia akan memasuki kamar dengan berusaha tidak menimbulkan suara.

Sayangnya, di saat tidur ada suara yang ga bisa dikendalikan. Yaitu, suara mengorok. Wuiih, bisa sampai pagi orang sekamar ga bisa tidur kalau ada satu aja yang mengorok keras. Makanya, gue menyarankan untuk yang memiliki kebiasaan mengorok, sebaiknya jangan menginap di dorm. Tahu diri lah..kasian teman-teman yang lain.

Masih banyak sebenarnya kisah menarik dan menggelikan tentang menginap di hostel. Tapi, artikel ini udah kepanjangan. Lain kali lagi kalau ketemu cantelan cerita lain 😀

Selamat tidur!

****

Simak juga petunjuk memilih hostel di Memilih Hostel

 

 

 

 

4 Jam Bersama Om Ring-Ring

Posted: March 23, 2014 in Catatan

TADI malam seorang reporter membagi tautan rekaman video salah satu om capres dan seorang  anggota DPR bersama dua orang cewek yang kebetulan artis, dalam trip berlibur ke Maladewa. Gagal memaknai, keliatannya leluasa sekali ruang dalam pesawat jet pribadi yang hanya diisi empat penumpang itu.  Destinasinya Maladewa pula, ‘Pulau Bulan Madu’.

Bandingkan dengan perjalanan seorang wartawan mengisi hari liburnya. Di suatu Sabtu, dia dalam perjalanan pulang dengan Elf-angkutan umum setelah menikmati Ujung Genteng dan sekitarnya.

Kali ini dia memilih duduk di depan, di samping Pak Sopir yang sedang bekerja. Itu karena pada perjalanan berangkat dia duduk di bagian tengah dan merasa kesempitan akibat kakinya yang agak kepanjangan.

Di depan, ruang untuk kaki lebih longgar. Sudah dapat PW alias posisi wuenak, wartawan cewek itu merasa puas. Dia mulai menyimak gerak-gerik Pak Sopir, tanpa menengok ke arahnya tentu saja.

Pak Sopir itu barangkali punya bisnis sampingan, telepon selulernya ga henti-hentinya berdering. Kalo ga sms ya panggilan telepon. Dan dia dengan ‘sigap’-nya membaca setiap sms sekaligus menjawabnya sambil menyetir. Begitu pula dengan panggilan telepon. Semua dijawab olehnya.

Perhatian mbak wartawan terganggu karena ada penumpang yang hendak naik dan duduk di sampingnya. Bukan cuma satu, tapi dua. Ibu dan anak remajanya. Keduanya berpostur subur.
Wartawan tersebut bengong karena dia merasa bangku depan hanya cukup untuk dua orang penumpang.

“Ga bisa geser lagi Bu. Ga muat,” kata dia. Pinggulnya sudah hampir melewati garis tongkat gigi perseneling.
“Bisa. Kaki teteh yang satu melangkah ke situ,” ujar si ibu sambil menunjuk ke arah melewati tongkat gigi perseneling.

Maksudnya, wartawan cewek itu diminta menempatkan kaki kanannya sedemikian rupa sehingga tongkat perseneling berada di antara kaki kanan dan kaki kirinya. Tampaknya memang begitu aturannya. Bangku depan untuk tiga orang dan penumpang yang paling dekat sopir mengambil posisi seperti itu.

Nasib ga punya jet pribadi, si wartawan menuruti petunjuk ibu tersebut. Dalam perjalanan, tiap kali sopir memindahkan gigi, pandangan mbak wartawan itu lurus ke depan dengan mimik muka yang ‘lempeng’, seakan sama sekali ga merasa terganggu.

Susah mempertahankan mimik seperti itu. Apalagi Pak Sopir hingga akhir perjalanan layaknya nyambi sebagai petugas call center perusahaan taksi di hari hujan. Jadi seringkali ga pake liat-liat lagi waktu hendak memindahkan gigi perseneling.

Alhasil, sepanjang perjalanan yang memakan waktu empat jam, mbak wartawan sama sekali ga tertidur. Suatu hal yang luar biasa mengingat dia pernah dijuluki ‘pelor’ (nempel molor), saking gampangnya tidur dalam perjalanan menggunakan segala moda angkutan umum. Sebut saja bus, pesawat terbang, ferry, sampai metromini, tetep bisa tidur di perjalanan.

Kisah di atas menunjukkan betapa besarnya ketimpangan di negeri ini.  Mbak wartawan itu merasa lebih kaya cerita. Kasihan empat orang yang disebut di awal kisah. Cuma bisa cerita : “Kami hanya berlibur kok. Ga terjadi apa-apa. Suwer!” Tiga kalimat saja. Miskin kan?

Baca juga Petunjuk jalan : Ujung Genteng & Curug Cikaso

****