Archive for the ‘Catatan’ Category

Begini Rasanya Makin Kaya

Posted: June 21, 2019 in Catatan

NGETRIP realisasinya enggak selalu sesuai rencana. Hampir di tiap perjalanan ada saja hal2 yang bikin apa yang sudah direncanakan menjadi tertunda atau bahkan gagal sama sekali. Buat gue, justru itu yang seringkali bikin sebuah perjalanan melekat dalam kenangan.

Coba kalau teman bilang, “Ingat ga waktu kita ke Las Vegas?”
“Oh, yang busnya ditunggu berjam-jam di pinggir jalan, dingin-dingin, tapi ga dateng2? Inget lah.” 😅

Peristiwa tersebut terjadi saat gue dan dua orang teman seperjalanan hendak meninggalkan San Fransisco menuju Las Vegas, Sabtu 30 Maret 2019. Tiket bus Flixbus sudah dipesan jauh-jauh hari dengan jadwal keberangkatan pukul 22.50 WAB (Waktu Amerika Barat). Malam itu kami bertolak dari hostel ke tempat pemberhentian bus sekitar pukul 22.15 WAB dengan menumpang Uber.

Ga sampai 10 menit udah sampai di tempat pemberhentian bus. Flixbus, seperti halnya Megabus, biasa punya pemberhentian yang cuma semacam halte di pinggir jalan. Malah saat itu ga gitu jelas spotnya karena ga ada tulisan ‘Flixbus’ ataupun keterangan lainnya. Kami hanya mengandalkan petunjuk yang diberikan di e-ticket.

Kami menunggu bersama penumpang lain yang mulai berdatangan. Sebagian merupakan penumpang Megabus. Menjelang pukul 22.50 WAB bus yang ditunggu tidak kunjung tampak. Kemudian, salah seorang teman yang punya nomor AS mengabarkan ia menerima sms dari Flixbus yang menginformasikan keberangkatan bus ditunda menjadi pukul 23.30.

Tidak lama, kabar penundaan keberangkatan itu menyebar ke calon2 penumpang lain. Semua menggerutu. Masalahnya, kami menunggu di pinggir jalan yang bahkan tempat duduk aja ga ada. Malam itu suhu cukup dingin, sekitar 10 derajat celsius.

Penumpang Megabus sudah berlalu, bus kami belum juga tiba. Sampai 23.30 pun demikian. Datang lagi sms dari Flixbus, keberangkatan kembali ditunda satu jam. Para calon penumpang mulai gusar. Bagaimana kalau ternyata nanti ditunda lagi, lalu akhirnya benar-benar tidak datang busnya?

Salah seorang mulai menelepon Flixbus untuk minta kejelasan. Awalnya sulit sekali menembus, tapi akhirnya ada petugas yang menjawab. Sayangnya, jawaban petugas itu ga memuaskan. Dia hanya bilang sementara itu masih sesuai jadwal terbaru.

Tidak beberapa lama, teman seperjalanan yang punya nomor AS ikut menghubungi Flixbus, disertai pesan dari yang lain supaya menanyakan apa alternatif kami jika bus tidak datang. Ketika itu suasana riuh. Semua merasa kesal. Dua teman seperjalanan gue bergantian ‘meneror’ call center Flixbus.

Gue menyaksikan aja. Di antara kami bertiga, mungkin gue yang paling sedikit merasa kesal. Malah cenderung merasa lega. Kok gitu? Soalnya gue ga sedang ngetrip sendirian, ada teman, dua pula 😆

Keduanya adalah avid traveler atau udah pro lah soal backpacking. Bukan turis cengeng yang bingungan. Jadi, gue ga perlu banyak berpikir dan beraksi. Mereka berdua yang lebih banyak melakukannya. Gue? Sempat sibuk nahan kentut sih tapi ga berhasil 🤭

Akhirnya, sekitar pukul setengah satu, pihak Flixbus resmi menyatakan keberangkatan dibatalkan. Sambil melontarkan kata-kata yang penuh kekesalan, setidaknya dari dua teman gue, kami kembali ke hostel. Sebelumnya, salah satu teman sudah menelepon untuk menanyakan apa masih ada kamar kosong. Ada satu, twin bed. Apa boleh buat, harus bisa untuk bertiga, daripada harus cari2 lagi.

Pembatalan keberangkatan bus ini membuat rencana kami di Las Vegas berantakan. Tidak ada lagi waktu untuk menjelajah Vegas. Apalagi, salah satu teman mesti kembali ke Chicago keesokan siangnya. Artinya, kami harus berangkat ke Vegas paling lambat pagi itu.

Di kamar hostel, setelah mempertimbangkan opsi untuk menuju ke Las Vegas, kami memutuskan membeli tiket bus Greyhound yang berangkat pukul 6 pagi. Harga tiket lima kali lipat harga tiket Flixbus yang hangus.

Teman gue sempat menelepon Flixbus lagi untuk meminta pertanggungjawaban. Petugas call center memberitahu bahwa kami bisa meminta refund biaya tiket tersebut ke Flixbus. Tapi, ongkos penginapan tidak turut diganti, kecuali bila tiket baru yang kami beli berasal dari Flixbus. Lumayan lah, coba kalau gue ngetrip sendirian, kayaknya udah males cari-cari info sampai sejauh itu.

Beberapa kali gue berbalas email dengan pihak Flixbus untuk memastikan transfer refund, mulai dari saat perjalanan menuju ke Vegas, sampai sudah kembali ke Jakarta. Yang menjawab ganti-ganti, ada Arbias, Arlinda, Albert, Ilirida, dan terakhir Leke.

Dana refund akhirnya sampai ke rekening kami masing-masing sekitar 3 pekan setelah kami pulang. Alhamdulillah ya…

Di email yang terakhir, gue mengucapkan terima kasih dan menyampaikan harapan Flixbus bisa menjadi perusahaan bus yang memberikan pelayanan terbaik. Email itu dibalas begini :

Dear Windy,

Thank you for contacting us.

We are thrilled to hear that you are pleased with our answer and we thank you for your understanding.

FlixBus’ goal is to provide you a convenient, affordable and easy to use bus service that will always give you the best offer and a safe and pleasant travel experience.

Travel is the only thing you buy that makes you richer.

Therefore, we would highly appreciate to welcome you aboard again on our green buses.

Best regards,

Leke from FlixBus

‘Travel is the only thing you buy that makes you richer.’
Kata-kata itu membuat gue tersenyum. Ternyata gue makin kaya 😊

****

Advertisements

Terjebak Settingan Film Hollywood

Posted: June 21, 2019 in Catatan

Minggu, 1 April 2018, jelang hari terakhir trip di New York, AS. Usai mengunjungi Patung Liberty, sekitar tengah hari, gue berpisah dengan teman seperjalanan.

Kami punya agenda sendiri yang tidak bisa dikompromikan untuk dijalani bersama. Gue ingin bersepeda keliling Manhattan, teman gue ingin menghabiskan waktu di factory outlet ‘The Mills, Jersey Garden’.

Maka, gue menumpang ferry ke Battery Park, New York, teman gue kembali ke New Jersey. Itu dengan kondisi ponsel pintar gue nyaris kehabisan baterai.

Sebenarnya gue bawa powerbank dari Indonesia, tapi di tengah trip, gawai tersebut mogok. Alhasil, begitu menginjak Battery Park, ponsel gue menolak hidup. Ironis ya, kehabisan baterai di Battery Park 😅

Yang gue lakukan kemudian adalah mencari pusat informasi turis. Apa boleh buat, tanpa GPS, gue terpaksa kembali ke cara menjelajah model kuno, yakni menggunakan peta kertas.

Ketemu pos informasi turis di depan Gedung Arsip New York, pas dekat dok sepeda sharing Citibike. Beragam peta bisa diambil secara gratis. Gue pilih peta yang sekaligus menunjukkan jalur sepeda.

Acara sepedaan berjalan lancar. Menikmati makan siang yang agak telat di pusat Manhattan, dekat Times Square. Lalu lanjut berjalan kaki sambil berburu cenderamata.

Sekitar pukul 4 sore, langkah kaki sengaja gue arahkan ke terminal bus Port Authorithy. Sudah waktunya kembali ke hotel kami di Elizabeth, New Jersey.

Ternyata bus yang langsung ke Mills–hotel kami ada di seberang factory outlet tersebut–hari itu hanya beroperasi sampai pukul 3. Jadi gue harus cari bus lain.

Kali ini gue perlu google maps, untuk mengetahui tidak hanya bus nomor berapa yang bisa gue tumpangi, tetapi juga di mana gue harus turun. Lalu, ke arah mana gue harus berjalan. Artinya, harus mengisi daya baterai ponsel.

Muter2 cari colokan, ketemu di dekat panel-panel swatiket. Begitu ponsel bisa beroperasi, gue mencatat informasi yang gue perlukan, termasuk rute jalan kaki sejauh kurang lebih 3 km ke hotel. Plus alternatifnya, naik bus lokal lalu lanjut jalan kaki kurang lebih 500 meter.

Jadwal bus gue adalah tiap sejam. Yang terdekat, pukul setengah 5 baru saja lewat. Gue lanjutkan mengisi daya ponsel sebelum menuju platform. Langit sudah mulai remang-remang saat bus yang gue tumpangi berangkat. Perjalanan sekitar setengah jam.

Turun dari bus, ponsel gue udah mati lagi. Berbekal catatan rute, gue mulai menyusuri jalan dengan niat berjalan kaki sampai hotel. Jarak 3 km itu perlu waktu sekitar 40 menit. Enggak terlalu jauh.

Entah gue yang salah mencatat atau google maps-nya yang salah info, rute yang gue lalui ternyata masuk highway. Enggak ada trotoar lagi di situ. Gue pun mengumpat dalam hati. Pasti lah salah google maps 😂

Tidak prospektif akhirnya gue berbalik dan memutuskan untuk naik bus. Saat berjalan menuju halte, gue melihat bus di seberang agak ke depan sedang berhenti di halte. Tanpa kacamata gue ga bisa lihat nomor busnya. Begitu bus bergerak dan makin dekat ke gue, baru keliatan MEMANG ITU BUS YANG MAU GUE TUMPANGI.

Sial! Gue menyeberang dengan gontai. Ga mungkin kan bus berikutnya akan datang dalam tempo 5 menit atau kurang. Suasana di situ sepi, hanya sesekali mobil lewat. Gue mendekat ke halte, mencari jadwal kedatangan bus. Tenyata enggak ada bow…hahaha…sumpah, kampung banget nih New Jersey.

Gue berdiri menunggu bus berikutnya yang gue enggak tahu akan datang jam berapa. Saat itu mestinya sekitar pukul 7.

Langit sudah gelap, hawa semakin dingin, mungkin sekitar 2-4 derajat, karena keesokan harinya turun salju. Gue membayangkan kamar hotel yang hangat. Enaknya tiduran, selimutan, sambil nonton Netflix.

Mencoba menghibur diri, ingatan gue melayang ke saat gue terpaksa menghabiskan malam di luar Bandara Eindhoven, di tengah musim dingin.

Suhunya enggak jauh beda. ‘Tapi, kan kamu ga harus semalaman di luar seperti dulu,’ pikir gue pada diri sendiri. Gue mulai menimbang-nimbang beberapa opsi.

Pertama, tetep nunggu bus sampai busnya tiba. Kedua, cari colokan untuk mengisi daya baterai, setelah itu pesan taksi/uber.

Gue mengamati lingkungan sekitar. Di seberang ada semacam kantor dengan gudang. Mestinya ada satpam yang jaga, mungkin bisa numpang ngecharge. Kemudian, ada McD letaknya agak jauh di persimpangan yang gue lewati tadi. Paling dekat, sebuah diner atau semacam kafe kecil.

Gue coba nunggu bus dulu, soalnya gue paling segan minta tolong. Setelah beberapa lama, gue meragukan opsi ini. Sampai kapan gue mesti nunggu? Ga ada satu pun orang lewat yang bisa ditanya apakah busnya masih ada.

Kalau diibaratkan NJ itu Bekasi-nya Jakarta, sungguh tertinggal. Udah ga ada jadwal bus, sepi banget pula. Mending Bekasi, gue pulang ke rumah nyokap biarpun tengah malam juga ga pernah nunggu angkot sampai lebih dari 10 menit.

Setelah mungkin setengah jam berdiri nunggu bus, gue mulai kedinginan. Ga bisa lagi selain memberanikan diri minta tolong. Gue pilih ke diner, namanya Seaport Diner. Begitu masuk, gue merasa lega. Hangat.

Gue ambil tempat duduk di salah satu kursi tinggi depan counter. Pesan minuman coklat panas dan french fries. Setelah pesanan datang, gue lantas menanyakan apakah bisa pinjam charger.

Bapak yang melayani mengiyakan, lalu mengambilkan charger. Lega nomor dua. Gue nunggu daya ponsel terisi hampir 10% sambil menikmati minuman hangat dan kentang goreng.

Gue memperhatikan keadaan diner itu. Persis seperti di film2 Hollywood. Selain kursi-kursi tinggi di depan counter ada booth-booth mepet tembok dan kaca setengah. Tiap booth terdiri dari kursi sofa standar berhadapan berkapasitas empat orang, dengan meja di tengah.

Selain gue, ada satu konsumen lagi, seorang bapak tua berkulit hitam. Kelihatannya pelanggan. Ia asyik nonton televisi sambil sesekali bercakap-cakap dengan si bapak pelayan diner.

Ga berapa lama, datang konsumen lain. Seorang polisi! Gue hampir-hampir ketawa, ini udah kayak settingan film.

Mas polisi itu pakai seragam hitam, dia memesan makanan untuk dibawa pergi. Tampangnya lumayan ganteng walau enggak seganteng sopir bus di Cordoba.

Si pelayan menanyakan kabarnya, lalu apakah paskah tetap bertugas. Mas polisi mengiyakan. Mereka bercakap-cakap sebentar.

Gue hanya bisa mendengarkan, enggak bisa melihat ke arah polisi itu terus. Ntar gue dicurigai pendatang ilegal, terus dibawa ke kantor polisi. Kan bahaya kalau nanti gue bener2 enggak bisa nahan ketawa begitu liat dalemnya kantor polisi 😂

Sekitar pukul 8 akhirnya gue bisa pesan Uber. Agak lama karena gue ga punya aplikasinya. Mesti mengunduh dulu, lalu daftar. Sampai di hotel pukul setengah sembilan. Lega nomor 3, bisa tiduran selimutan sambil nonton Netflix. Sebuah mimpi yang menjadi kenyataan 😀

Ingat-Ingat Penumpang Prioritas

Posted: September 27, 2015 in Catatan, Sela

BEBERAPA bulan lalu melalui curhatan di sini, gue menyatakan ga bisa memperbandingkan kondisi dan perilaku bertransportasi umum antara di Jabodetabek dan di Jepang. Sekarang gue ingin menceritakan pengalaman memakai kendaraan umum di ‘Negeri Matahari Terbit’ tersebut.

Berhubung gue hanya 8 hari di sana, mungkin belum bisa memberi gambaran yang sebenar-benarnya.  Namun, setidaknya bisa diambil gambaran umumnya.

Orang-orang Jepang memang sangat memperhatikan hak yang disediakan bagi penumpang prioritas. Penumpang prioritas itu cakupannya serupa dengan di Jabodebatek, yakni manula, orang sakit/cacat, ibu hamil, dan orang menggendong balita.

Penumpang yang tidak termasuk golongan prioritas lebih memilih berdiri ketimbang duduk di kursi-kursi prioritas. Walaupun, kendaraan cukup penuh. Kerap kali ketika gue naik bus maupun kereta MRT, pemandangan seperti itu yang terlihat. Kalaupun ada nonprioritas yang duduk di situ, biasanya orang asing.

When in Rome, do as Romans do…berperilakulah mengikuti adat istiadat setempat. Terutama bila kebiasaan di situ memang baik. Gue dan teman gue tentu saja mengikuti etika di Jepang. Sebelum duduk, selalu memperhatikan terlebih dahulu apakah ada tanda kursi prioritas.

Sebenernya itu ga susah. Gue sendiri udah terbiasa tidak menduduki kursi prioritas ketika naik Transjakarta dan Commuter Line. Dalam keadaan kosong maupun penuh. Cuma kan posisi kursi prioritas di kendaraan umum Jepang bisa berbeda dengan di negeri kita. Jadi tetep harus lihat-lihat dulu.

Namun, menurut penilaian gue dalam waktu yang pendek itu, etika bertransportasi di Jepang ga jempol-jempol amat. Jempolnya baru soal tidak mengambil hak penumpang  prioritas.

Satu waktu kami naik MRT di Tokyo. Kereta lumayan penuh, tapi masih cukup longgar. Seperti biasa deretan kursi prioritas terlihat kosong. Lalu naik dua orang asing, sepertinya warga negara AS didengar dari logat bahasa Inggrisnya, ibu-ibu. Salah satunya sudah agak tua. Dua lagi pria, sipit sih tapi seperti bukan orang Jepang. Mereka menduduki kursi prioritas.

“We can give it up if there is any…,” ujar ibu yang muda sambil tertawa kecil tanpa menyelesaikan kalimatnya.

Tak berapa lama, naiklah sepasang suami istri. Si istri menggendong bayi, si suami menggendong balita. Sesaat mereka menoleh ke arah kursi prioritas, tidak ada tempat tersisa. Orang-orang asing yang duduk di situ tetap asyik bercakap-cakap.

Tidak ada pula penumpang di dekat suami-istri itu yang seketika berdiri memberi tempat duduk. Sampai kemudian seorang pria yang duduk agak jauh menepuk bahu si istri mempersilakan duduk di kursi yang semula ia tempati. Pria itu bule, orang asing.

Si istri duduk, memangku bayi ditambah anak balitanya yang semula digendong si suami. Repot kelihatannya. Tapi penumpang-penumpang yang duduk di dekatnya seakan tidak peduli.

Di lain waktu, dari kejauhan gue melihat seorang ibu tua yang naik MRT, masih di Tokyo. Semua tempat duduk sudah ditempati, termasuk kursi prioritas. Hanya 2-3 penumpang yang berdiri. Sampai gue turun, ga ada penumpang yang merelakan tempat duduk untuk si ibu.

Jpeg

Agak-agak ga nyambung sih ilustrasinya. Tapi ini juga salah satu moda transportasi umum di Jepang. Daripada ga ada fotonya kan. (Hakone 4 September 2015)

Ada juga saat perjalanan gue naik kereta dari Himeji kembali ke Kyoto. Rupanya kereta itu termasuk kereta komuter. Cukup padat penumpangnya ketika mulai mendekati Osaka. Kebetulan pas jam pulang kerja.

Di suatu stasiun, gue lupa namanya, naiklah seorang bapak berjas memegang tas kantor. Rambutnya sudah putih semua dan kantung-kantung matanya tampak besar seperti bapak kita SBY. Menurut gue, si bapak sudah bisa dikategorikan manula, walaupun masih ngantor. Inget sama bapak gue sendiri di rumah..eh di Arab ding waktu itu.

Tapi ga ada tuh yang memberi dia tempat duduk. Padahal yang duduk di dekat dia masih muda-muda. Bahkan saat ada yang berdiri untuk turun, dengan sigap mbak di dekat si bapak duduk di kursi yang ditinggalkan.

Tiga stasiun berlalu, si bapak masih berdiri sambil terkantuk-kantuk. Akhirnya ada juga penumpang yang memberi si bapak tempat duduknya yang letaknya berjarak dua tempat duduk. Lagi-lagi orang asing.

Jadilah gue berdiri dari Stasiun Shin Osaka sampai Stasiun Kyoto. Untungnya udah longgar dan perjalanan lancar.

Hasil pengamatan gue itu mungkin belum bisa merepresentasikan perilaku orang Jepang ketika menumpang kendaraan umum. Yang jelas satu yang cukup konsisten dan sepatutnya kita contoh: sedapat mungkin tidak menduduki kursi prioritas jika kita tidak tergolong penumpang prioritas.

Mudah-mudahan nantinya penumpang angkutan umum di negeri kita sampai juga pada kebiasaan seperti itu.

*****

Selamat Tinggal Kuno

Posted: December 7, 2014 in Catatan

KALI ini PT KAI bener-bener bikin gue takjub. Minggu lalu gue datang ke Stasiun Pasar Senen membawa lembar konfirmasi bookingan tiket daring. Udah siap-siap menghadapi antrean di loket penukaran tiket.
Makanya untuk mengantisipasi lamanya penukaran tiket, gue datang lebih awal. Tiba hampir sejam sebelum keberangkatan.
Ketika menyusuri koridor gue tertarik dengan papan petunjuk bertuliskan ‘Cetak Tiket Mandiri’. Bener nih? tanya gue dalam hati.

Sampailah gue di sebuah ruang tunggu. Di pojokan berderet mesin-mesin yang dari jauh tampak seperti mesin ATM. Rupanya itulah mesin Cetak Tiket Mandiri (CTM). Tinggal masukkan kode booking, printer langsung bergerak mengetikkan data pada lembaran tiket. Prosesnya ga sampai 10 detik.

Di dekat mesin CTM ada petugas yang siap membantu bila ada calon penumpang yang kesulitan menggunakan mesin CTM. Tapi mereka hanya sedikit memandu dan membiarkan calon penumpang melakukan sendiri. Cara memandu yang sangat bagus. Supaya calon penumpang cepat akrab memakai mesin CTM. Lagipula penggunaannya mudah sekali kok.

Ketika printer bergerak mencetakkan data-data nama gue serta data kereta yang akan gue tumpangi, gue terpesona nyaris terharu. Sampai juga angkutan publik Indonesia pada teknologi semacam ini.
Rupanya reformasi KAI cukup progresif. Dulu gue mengeluhkan sistem ticketing KAI yang ga menyediakan pembelian tiket secara daring. Lalu, metode pembayarannya yang kuno, jangankan pakai kartu kredit, kartu debit aja ga bisa.

Kemudian beberapa tahun kemudian tersedialah sistem tiket daring yang bisa dibayar dengan kartu debit maupun kartu kredit. Bahkan, penumpang bisa memilih tempat duduk sendiri. Keren!

Tapi, gue masih mengeluhkan sistem penukaran tiket yang sami mawon, seperti yang gue alami di sini. Masa udah bisa beli tiket daring, sehingga ga perlu mengantre ketika membeli, penukaran tiket masih harus di loket dengan antrean kerap kali panjang. Terutama, di stasiun-stasiun yang ramai penumpang seperti Stasiun Pasar Senen.

Kini, akhirnya tersedia mesin CTM yang kerjanya lebih cepat ketimbang petugas di lokat. Ga perlu antre panjang untuk menukar tiket. Fasilitas ini cukup memuaskan walaupun tidak secanggih sistem tiket di sejumlah negara Eropa. Di sana, kita ga perlu menukar atau mencetak tiket di mesin khusus. Cetak tiket cukup dilakukan dengan printer pribadi atau disimpan di ponsel pintar. Yang diperlukan hanya barcode yang nantinya di-scan oleh petugas angkutan publik saat kita hendak naik angkutan.

Masih ada keluhan
Dengan segala kemajuan yang dicapai angkutan KA di Tanah Air, sekarang pun gue masih ada keluhan. Perjalanan memakai KA jarak jauh selama lebih dari 7 jam, terutama malam hari, terlalu melelahkan dilakukan dalam posisi duduk. Buktinya, ketika waktu tidur menjelang, beberapa penumpang menggelar alas/koran untuk tidur di lantai.

Kenapa KAI tidak sekalian menyediakan kabin sleeper? Kabin yang berisi kursi-kursi yang bisa dilebarkan untuk menjadi tempat tidur tingkat. Perjalanan dengan memakai kereta tidur seperti itu membantu penumpang tetap segar meski harus menempuh perjalanan 8-10 jam. Syukur-syukur angkutan bus jarak jauh ikut mencontoh, seperti yang di sini.  Semoga keluhan ini juga terjawab dengan memuaskan 😀

****

PROMO : HOMESTAY MURAH DI JAKARTA. HANYA Rp60 RIBU/BED/MALAM, ATAU  RP100 RIBU PER KAMAR (2 BED TINGKAT) PER MALAM. SIMAK DI SINI.

Perjalanan Kapal Laut Edisi Before

Posted: October 31, 2014 in Catatan
KM Tilongkabila, kapal milik Pelni yang berusia 20 tahun. Rute Bitung (Sulut)-Gorontalo-Luwuk-Kolonedale-Kendari-Raha-Bau bau-Makassar-Labuan Bajo-Bima-Ampenan/Lembar-Benoa/Denpasar.  24 September 2014.

KM Tilongkabila, kapal milik Pelni yang dibuat pada 1994. Rute Bitung (Sulut)-Gorontalo-Luwuk-Kolonedale-Kendari-Raha-Bau bau-Makassar-Labuan Bajo-Bima-Ampenan/Lembar-Benoa/Denpasar.
24 September 2014.

Tulisan-tulisan di bawah ini mengambil artikel di Media Indonesia, Kamis 30 Oktober 2014, sisipan Travelista halaman VII. Harapan gue, kelak bisa menjajal KM Tilongkabila yang sudah dipermak.

Sumber: PELNI PDF

Wajah Lusuh  Angkutan Laut

“Samudra, laut, selat, dan teluk ialah masa depan
peradaban kita. Kita telah terlalu lama memunggungi laut,
memunggungi samudra, memunggungi selat dan teluk. Kini
saatnya kita mengembalikan semuanya sehingga Jalesveva
Jayamahe, di laut justru kita jaya, sebagai semboyan nenek
moyang kita di masa lalu, bisa kembali membahana.”

DEMIKIAN sekelumit isi pidato  kenegaraan Joko Widodo seusai  dilantik menjadi Presiden ke-7  Republik Indonesia, Senin (20/10). Timbul pertanyaan, sudah pernahkah Anda  bepergian dengan kapal laut? Sebagian besar  orang Indonesia tentu akan menjawab belum.
Dalam benak banyak dari kita, angkutan  laut memakan waktu terlampau lama,  fasilitasnya seadanya bahkan cenderung  mengenaskan, belum lagi ayunan ombak yang  bisa menyebabkan mabuk laut. Bayangan  yang tersaji merupakan perjalanan yang sama  sekali tidak nyaman dan tidak menyenangkan.
Benarkah demikian? Bulan lalu, Rabu  (24/9), saya ikut perjalanan menumpang kapal KM Tilongkabila yang dioperasikan PT Pelni (persero). Rute yang ditempuh  Makassar-Labuan Bajo dengan waktu tempuh  yang dijadwalkan 20 jam. Berangkat pukul  11.00 Wita, tiba pukul 07.00 Wita. Namun,  keberangkatan hari itu mundur sekitar 2 jam.
KM Tilongkabila memiliki tiga tipe kabin,  yakni kabin kelas 1, kabin kelas 2, dan kabin  kelas ekonomi. Saya menempati kabin kelas 2  bersama tiga teman.
Kondisi kabin yang kami tempati terkesan  lusuh. Satu yang membuat saya ingin tertawa  ialah keberadaan termos plastik berwarna  hijau. Teringat zaman dahulu, termos seperti  itu merupakan salah satu kelengkapan di dapur mbah.
Seprei yang terpasang semestinya berwarna  putih. Namun, mungkin karena beberapa  kali pernah terpasang terlalu lama dan tidak diganti, warnanya sudah agak kekuningan.  Patut disyukuri bahwa meski kelihatan jauh dari baru, seprei tersebut tidak berbau.

Karpet yang menyelimuti lantai sudah  sulit digambarkan keadaannya. Saya bahkan  enggan menggelar sajadah dan salat di atasnya.  Tiap kali hendak salat, saya memilih lari ke  musala. Sungguh melegakan melihat kondisi musala yang luas dan bersih.

Transportasi murah
Mari beranjak ke kamar mandi. Bau kurang  sedap tercium begitu pintu dibuka. Air  menggenang membuat kaki otomatis berjinjit  saat menapaki lantai kamar mandi. Keran  wastafel berfungsi, tetapi setelah terpakai, airnya mengalir melalui pipa yang bocor dan langsung menambah genangan air di lantai.
Demikianlah gambaran fasilitas moda transportasi laut yang lama terabaikan. Itu masih kabin yang tidak bersubsidi yang seharusnya bisa terawat lebih baik. Saya belum sampai pada kabin kelas  ekonomi yang lebih tepat disebut kamp pengungsian ketimbang kabin penumpang.
Kesimpulannya, hanya satu keunggulan transportasi laut dengan segala kondisinya  saat ini: tarifnya murah. Murah dengan menghitung fasilitas makan gratis tiga kali sehari.
Setidaknya, perjalanan lancar. Kami tiba di  Labuan Bajo sekitar pukul 09.00 Wita dengan  selamat. Siap bertolak menuju Pulau Komodo  dan sekitarnya. (M-1)

Tarif dan fasilitas KM Tilongkabila

Kelas 1 Rp523 ribu; Kamar mandi shower, toilet di dalam. Dua tempat tidur, AC. Gratis makan siang, makan malam, dan sarapan, disajikan di ruang makan.

Kelas 2 Rp430 ribu; Kamar mandi shower, toilet di dalam Dua set tempat tidur tingkat untuk  empat orang, AC, gratis makan siang, makan malam, dan sarapan, disajikan di  ruang makan.

Kelas Ekonomi Rp179 ribu; Kamar mandi shower dan toilet berbagi, alas  tidur, Katanya ada ber-AC, tapi pengap, Gratis makan siang, makan malam, dan sarapan,  diberikan dalam kemasan styrofoam.

Foto belum dipublish:

Kabin Kelas II, KM Tilongkabila. 24 September 2014.

Kabin Kelas II, KM Tilongkabila. 24 September 2014.

Mengisi Waktu, Atasi Kebosanan

BENAR yang dikatakan Presiden Jokowi. Kita telah terlalu lama  memunggungi laut. Hasilnya,  transportasi laut tidak terurus, dibiarkan berjalan seadanya. Padahal, menempuh perjalanan  dengan kapal laut sesungguhnya  cukup menarik. Kita bisa menikmati  pemandangan matahari terbenam dan  matahari terbit dengan pandangan  luas tanpa halangan. Sosok matahari
kelihatan lenyap atau muncul  langsung dari muka laut.
Memang, dengan perjalanan yang  memakan waktu lama dan hanya  bisa berkeliaran di kapal, rasa bosan bisa dengan mudah menghinggapi.  KM Tilongkabila memiliki solusi.  Penumpang bisa menonton film di teater kecil berkapasitas 10-12 orang.
Tiket masuknya dibanderol Rp15  ribu/orang. Dalam satu hari ada 3-4  pertunjukan. Judul film diumumkan  melalui pengeras suara beberapa waktu sebelum film diputar.
Berjalan menjelajahi kapal juga cukup menarik. Sayangnya,  menyusuri geladak kapal tidak bisa  dilakukan dengan leluasa. Selalu ada saja penumpang yang tidur di  berbagai tempat, menghindari kabin  kelas ekonomi yang penuh dan pengap. Di dalam kapal tersedia gerai-gerai  mini kelontong yang menjual berbagai  jenis makanan kecil dan minuman. Gerai yang buka 24 jam tersebut juga  menyediakan perlengkapan mandi  seperti sabun, odol, dan sikat gigi.

Akan lebih baik
Harapan membangkitkan  transportasi laut yang lebih layak dan  menarik muncul dari tekad Direktur Utama PT Pelni (persero) Sulistyo  Wimbo Hardjito untuk membenahi  armadanya. Pelni bahkan berencana melengkapi semua kapal penumpang  dengan arena gym mini dan tempat  bermain anak.
Dengan mencontoh transformasi  di angkutan perkeretaapian, Wimbo  menjanjikan dalam tempo kurang dari dua tahun mendatang, kapal-kapal angkutan penumpang Pelni akan berubah wajah: lebih ramah, lebih nyaman, dan bernilai tambah untuk  sektor pariwisata. “Murah bukan  berarti kumuh,” cetus Wimbo.
Sasarannya bertambah, yakni  para pelancong kelas menengah.  Pelancong yang cukup berduit dan menginginkan layanan transportasi  yang nyaman. Kapal-kapal Pelni akan  menjangkau tempat-tempat wisata  yang sulit terjangkau oleh moda lain  dan beberapa di antaranya sekaligus  akan difungsikan sebagai hotel  terapung.

Kami tunggu hasilnya, Pak!

(Ndy/M-1)“

Foto-foto lain yang belum dipublish :

Toilet Kabin Ekonomi

Toilet Kabin Ekonomi. KM Tilongkabila, 24 September 2014

Toilet Kabin Kelas II

Toilet Kabin Kelas II. KM Tilongkabila. 24 September 2014.

Dapur KM Tilongkabila. 24 september 2014.

Dapur KM Tilongkabila. 24 september 2014.

****

PROMO : HOMESTAY MURAH DI JAKARTA. HANYA Rp60 RIBU/BED/MALAM, ATAU  RP100 RIBU PER KAMAR (2 BED TINGKAT) PER MALAM. SIMAK DI SINI.