Archive for the ‘Catatan’ Category

H o s t e l

Posted: May 11, 2014 in Catatan

TRAVELLING dengan gaya bebas ga terlepas dari kegiatan memesan penginapan. Khusus buat gue, bila perjalanan itu di dalam negeri, umumnya yang gue pesan adalah kamar hotel. Berbeda bila trip itu ke luar negeri, gue lebih sering memesan tempat tidur di hostel.

Sebenarnya tujuannya tetap sama, mendapatkan akomodasi yang murah. Bedanya, di Indonesia jarang banget ada hostel dengan model pemesanan per tempat tidur, bukan per kamar.
Hotel tentu saja pada umumnya lebih nyaman dengan berbagai fasilitas yang kadang wah. Tapi, kita ga bisa menceritakan kisah menginap di tempat seperti itu tanpa kental dengan nuansa pamer. Orang juga males dengernya :p

Sebaliknya, menginap di hostel kaya dengan cerita unik. Banyak pengalaman yang gue peroleh, hanya dari menginap di kamar model dorm (asrama) yang biasa tersedia di hostel. Pengalaman itu sebenarnya udah pernah gue kisahkan dalam blog terdahulu. Tapi sayang, blog itu udah terhapus.

Kamar hostel di Madrid

Kamar hostel di Madrid. Foto oleh Vivi Pohan.

Sekarang ketika sedang memilih-milih hostel—rasanya menyenangkan kembali ke aktivitas yang satu ini—teringat pengalaman terdahulu. Pernah pada suatu ketika, seorang teman meminta rekomendasi hostel di Barcelona. Dia bertanya, dulu gue menginap di mana? Lalu, gue sebut HelloBCN. Yang gue ingat hostel itu lokasi bagus, dekat La Rambla. Sepertinya ga ada keluhan dari gue.

Begitu pulang dari Spanyol, teman gue itu protes keras, mengeluhkan hostel yang gue rekomendasikan itu. “Kok elo ga bilang kalau shower-nya pake dipencet dulu supaya keluar airnya?! Bolak-balik pas mandi mesti mencet, cepet banget abis airnya tiap kali pencet.”

Meledaklah tawa gue. Baru gue inget, memang itu annoying banget. Tapi, gue merasa terganggu hanya saat mandi. Setelah itu ga mengingat-ingat lagi. Buat gue, hostel itu yang penting cukup bersih, lokasi bagus, sarapan gratis, harga terjangkau, dan kalau bisa ada dapurnya. Rating minimal 80%.

Baru tadi gue membaca review salah satu hostel. Ada yang menyebut kamar dengan password pad merupakan nilai plus, lebih aman. Itu betul. Tapi kalau password pad itu ga bisa di-mute, bikin bete juga.

Bayangkan, tinggal di kamar yang berisi 8 orang, enam di antaranya orang asing. Tiap orang jam kembalinya berbeda. Lalu, kita kebetulan pulang paling cepat. Udah capek pingin tidur.

Sepanjang malam terbangun tiap kali ada teman sekamar yang datang. Suara memasukkan enam angka password makin nyaring saat dini hari. Itu yang gue alami ketika menginap di hostel di Istambul. Cuma, ya ga apa-apalah, hostelnya murah dan setelah semua penghuni lengkap, gue pun tertidur lelap.

Gimana rasanya tidur di kamar hostel dengan 12 tempat tidur? Ramee…hehehehe…Enggak juga sih. Orang yang biasa menginap di hostel, empatinya cukup tinggi. Bila lampu kamar sudah mati, dia akan memasuki kamar dengan berusaha tidak menimbulkan suara.

Sayangnya, di saat tidur ada suara yang ga bisa dikendalikan. Yaitu, suara mengorok. Wuiih, bisa sampai pagi orang sekamar ga bisa tidur kalau ada satu aja yang mengorok keras. Makanya, gue menyarankan untuk yang memiliki kebiasaan mengorok, sebaiknya jangan menginap di dorm. Tahu diri lah..kasian teman-teman yang lain.

Masih banyak sebenarnya kisah menarik dan menggelikan tentang menginap di hostel. Tapi, artikel ini udah kepanjangan. Lain kali lagi kalau ketemu cantelan cerita lain šŸ˜€

Selamat tidur!

****

Simak juga petunjuk memilih hostel di Memilih Hostel

 

 

 

 

4 Jam Bersama Om Ring-Ring

Posted: March 23, 2014 in Catatan

TADI malam seorang reporter membagi tautan rekaman video salah satu om capres dan seorangĀ  anggota DPR bersama dua orang cewek yang kebetulan artis, dalam trip berlibur ke Maladewa. Gagal memaknai, keliatannya leluasa sekali ruang dalam pesawat jet pribadi yang hanya diisi empat penumpang itu.Ā  Destinasinya Maladewa pula, ‘Pulau Bulan Madu’.

Bandingkan dengan perjalanan seorang wartawan mengisi hari liburnya. Di suatu Sabtu, dia dalam perjalanan pulang dengan Elf-angkutan umum setelah menikmati Ujung Genteng dan sekitarnya.

Kali ini dia memilih duduk di depan, di samping Pak Sopir yang sedang bekerja. Itu karena pada perjalanan berangkat dia duduk di bagian tengah dan merasa kesempitan akibat kakinya yang agak kepanjangan.

Di depan, ruang untuk kaki lebih longgar. Sudah dapat PW alias posisi wuenak, wartawan cewek itu merasa puas. Dia mulai menyimak gerak-gerik Pak Sopir, tanpa menengok ke arahnya tentu saja.

Pak Sopir itu barangkali punya bisnis sampingan, telepon selulernya ga henti-hentinya berdering. Kalo ga sms ya panggilan telepon. Dan dia dengan ‘sigap’-nya membaca setiap sms sekaligus menjawabnya sambil menyetir. Begitu pula dengan panggilan telepon. Semua dijawab olehnya.

Perhatian mbak wartawan terganggu karena ada penumpang yang hendak naik dan duduk di sampingnya. Bukan cuma satu, tapi dua. Ibu dan anak remajanya. Keduanya berpostur subur.
Wartawan tersebut bengong karena dia merasa bangku depan hanya cukup untuk dua orang penumpang.

“Ga bisa geser lagi Bu. Ga muat,” kata dia. Pinggulnya sudah hampir melewati garis tongkat gigi perseneling.
“Bisa. Kaki teteh yang satu melangkah ke situ,” ujar si ibu sambil menunjuk ke arah melewati tongkat gigi perseneling.

Maksudnya, wartawan cewek itu diminta menempatkan kaki kanannya sedemikian rupa sehingga tongkat perseneling berada di antara kaki kanan dan kaki kirinya. Tampaknya memang begitu aturannya. Bangku depan untuk tiga orang dan penumpang yang paling dekat sopir mengambil posisi seperti itu.

Nasib ga punya jet pribadi, si wartawan menuruti petunjuk ibu tersebut. Dalam perjalanan, tiap kali sopir memindahkan gigi, pandangan mbak wartawan itu lurus ke depan dengan mimik muka yang ‘lempeng’, seakan sama sekali ga merasa terganggu.

Susah mempertahankan mimik seperti itu. Apalagi Pak Sopir hingga akhir perjalanan layaknya nyambi sebagai petugas call center perusahaan taksi di hari hujan. Jadi seringkali ga pake liat-liat lagi waktu hendak memindahkan gigi perseneling.

Alhasil, sepanjang perjalanan yang memakan waktu empat jam, mbak wartawan sama sekali ga tertidur. Suatu hal yang luar biasa mengingat dia pernah dijuluki ‘pelor’ (nempel molor), saking gampangnya tidur dalam perjalanan menggunakan segala moda angkutan umum. Sebut saja bus, pesawat terbang, ferry, sampai metromini, tetep bisa tidur di perjalanan.

Kisah di atas menunjukkan betapa besarnya ketimpangan di negeri ini.Ā  Mbak wartawan itu merasa lebih kaya cerita. Kasihan empat orang yang disebut di awal kisah. Cuma bisa cerita : “Kami hanya berlibur kok. Ga terjadi apa-apa. Suwer!” Tiga kalimat saja. Miskin kan?

Baca juga Petunjuk jalan : Ujung Genteng & Curug Cikaso

****

Mr Sam

Posted: March 9, 2014 in Catatan

SEBUT saja dia Mr Sam. Pria kurus, tinggi, item itu menghampiri gue saat sedang berjalan menyandang ransel di pertigaan Ujung Genteng, sekitar 126 km di selatan Kota Sukabumi. Dengan bahasa Sunda campur sedikit bahasa Indonesia dia menawari gue penginapan.

“Berapa semalam?”
“Seratus ribu aja teh.”
“Jauh enggak? Saya lihat dulu ya.”

Mr Sam mengatakan penginapannya ga jauh. Sekitar 100 m dari pantai. Ia mencegat seorang remaja yang kebetulan lewat dengan motor. Dalam hitungan detik motor itu berpindah ditunggangi Mr Sam.

“Ayo teh,” kata dia.
Gue membonceng motornya. Di sepanjang perjalanan Mr Sam mendeskripiskan penginapan yang ditawarkannya. Semua dalam bahasa Sunda. Gue hanya bisa menangkap sebagian kalimatnya yang kebetulan pas memakai kata yang sama dengan bahasa Indonesia.

Perjalanan naik motor kurang lebih lima menit. Sampailah kami di rumah dengan pintu-pintu seperti kontrakan.

Mr Sam membuka salah satu pintu dan memperlihatkan isinya. Sebuah tempat tidur tipe double-queen size, kipas angin, dan kamar mandi mungil dengan kloset jongkok.

Menurut gue, harga Rp100 ribu cukup murah untuk kamar tersebut. Tapi supaya ga terkesan gampangan dan kelihatan banyak duit, gue mencoba menawar menjadi Rp80 ribu.

Sambil senyum-senyum, Mr Sam bilang harga itu sudah pas.
Akhirnya gue iyakan, karena gue juga males keliling nyari penginapan. Waktu gue pun tinggal setengah jam untuk menuju Pantai Pangumbahan, untuk menyaksikan pelepasan tukik alias anak penyu ke laut.

Gue meminta Mr Sam mengantarkan kembali ke tempat tadi kami bertemu. Dia sebenarnya juga bisa mengantar ke Pantai Pangumbahan, tapi gue udah telanjur janji memakai jasa ojek anak seorang pemilik warung indomie+nasi goreng di dekat pertigaan Ujung Gentang.

Mr Sam menyerahkan kunci kamar ke gue. Di perjalanan, gue bertanya kenapa di sekitar situ banyak anjing berkeliaran. Mr Sam menjelaskan. Lagi-lagi banyak kata-kata yang gue ga mengerti. Lima tahun kuliah di Bogor ga membuat gue fasih berbahasa Sunda.

Namun, inti kata-katanya bisa gue tangkap. Ia bilang, “…punya orang-orang KP. Di sini banyak KP,” ujarnya.

“KP itu apa?”

Dia terus nyerocos dengan kata-kata yang ga gue pahami. Pertanyaan gue masih belum terjawab. Sejenak pikiran gue penuh dengan tebakan-tebakan apa itu ‘KP’. KP yang paling gue kenal ada singkatan ‘kuasa pertambangan’. Barangkali memang di situ ada beberapa tambang dan membutuhkan penjagaan anjing. Begitu antara lain tebakan gue.
Acara tebak menebak dalam hati terhenti ketika kami tiba di tujuan.

Esok paginya, gue udah siap check out. Tapi kondisi pintu sebelah, tempat tinggal mbak-mbak yang menerima gue semalam, masih sunyi. Ga enak langsung cabut tanpa pamit.

Gue duduk-duduk di kursi depan sambil memainkan ‘Pou’. Ga beberapa lama kemudian Mr Sam muncul dengan mengendarai motor. Entah motor siapa. Dia menyapa dan ikut duduk.

Kami bercakap-cakap. Seperti yang sebelumnya, dia sangat irit memakai bahasa Indonesia. Hanya ketika gueĀ  bertanya dan kelihatan ga mengerti, Mr Sam mengulangnya dengan bahasa Indonesia yang sedikit lebih banyak.

Ia bercerita mengenai penginapan-penginapan di sekitar situ. Kisaran harganya, lokasinya, plus situasi keamanan. Menurut dia, secara umum Ujung Genteng cukup aman, kecuali di sekitar Pantai Pangumbahan. Kerap terjadi kasus pencurian karena di daerah itu masih cukup sepi.

Dia mengaku tahu semua penginapan di Ujung Genteng dan sering diminta untuk memesankan. Tarif penginapan bervariasi dari Rp100 ribu sampai Rp1 juta. “Nama saya Samsidin. Itu ada nomor hape saya.”

Mr Sam menunjuk ke atas pintu kamar gue. Di situ tertulis ‘Samsidin 085861411336’. “Oo, ini penginapannya Kang Samsidin?”
“Iya, kalau yang ini memang punya saya. Ada tiga kamar,” ujarnya. Rupanya yang semalam menerima gue adalah istrinya.

Ia mengatakan biasanya kamar yang gue tempati disewakan dengan tarif Rp200rb-300rb, terutama saat akhir pekan atau masa liburan. Sedangkan, penginapan-penginapan yang lebih di dekat pantai akan lebih mahal lagi karena ramai pengunjung.

Pada satu waktu, ia kembali menyebut ‘KP’. Langsung gue tanya, “KP itu apa, kang?”
“Itu yang biasanya ada karaokeannya…(bla-bla, lanjut bahasa Sunda).”

Owalah, KAFE!…… Astaga, Mr Sam ini hampir bikin gue pulang penasaran.

Baca juga Petunjuk Jalan : Ujung Genteng dan Curug Cikaso

****

Destinasi Favorit di Barcelona

Posted: February 2, 2014 in Catatan

SAAT melancong dan mengunjungi beberapa destinasi, kita cenderung berlama-lama di tempat yang kita sukai atau jadi favorit. Kalau itu yang jadi ukuran, berarti tempat favorit gue di Barcelona adalah markas Mossos d’Esquadra. Di sana, gue bersama 5 teman menghabiskan waktu dari pagi hingga menjelang malam.

Alkisah, pagi hari pada musim gugur 2007 kami tiba di Barcelona, Spanyol. Bagian dari perjalanan perdana gue ber-backpacking ria di Eropa. Setelah sebelumnya ketinggalan bus (Bayar Taksi Rp4 Juta), kami tidak patah semangat.

Gue agak-agak lupa gimana alur perjalanan detailnya pagi itu. Yang jelas begitu sampai di stasiun bus tujuan di Barcelona (dari bandara Reus), kami hendak menuju pusat kota Barcelona dengan menumpang MRT.

Di sebuah stasiun MRT kami mengerumuni salah satu mesin tiket. Ada dua cewek lokal yang ikut mengantre. Satu di antaranya menyeruak maju seperti menawarkan bantuan dengan bahasa Inggris patah-patah. Teman gue yang berada paling depan dan sedang menangani mesin tiket menolaknya. Ia berkata bahwa kami tidak perlu bantuan. Sudah bisa.

Satunya lagi ikut maju memecah kerumunan kami dan berbicara dalam bahasa yang asing buat gue.

Gue berdiri di paling belakang sambil ngobrol dengan seorang teman. Di belakang gue ternyata ada lagi cewek lokal dan tiba-tiba gue merasa tas gue ada yang membuka dari belakang. Langsung gue ambil ransel dari gendongan, sambil sempat memandang ke cewek itu. Tanpa babibu, si cewek pergi.

Ternyata resleting ransel gue udah terbuka. Beruntung setelah gue periksa ga ada yang hilang. Teman sebelah setelah melihat perilaku gue ikut memeriksa tasnya. ‘Copet tuh tadi,’ ujar gue.

Tiba-tiba, teman gue yang paling depan itu berteriak, “Hey, what are you doing?!”
Kami semua menengok ke arahnya. Teman gue tampak memegangi tasnya. Gue masihĀ  ga ngerti apa yang terjadi.

Dua cewek yang sedang dipelototi teman gue terus nyerocos, sebagian kecil dengan bahasa Inggris yang intinya bilang mereka ga ngapa-ngapain. Tampang mereka seperti bingung. Lalu mereka pergi.

Semenit kemudian, setelah teman gue memeriksa ranselnya. Dia berkata dompetnya hilang. Padahal di bandara ia baru saja menarik uang tunai di ATM.

Sadar dua cewek tadi juga copet, serentak kamiĀ  berhamburan ke luar mencoba mengejar cewek-cewek tadi. Hari masih pagi, jalan tampak sepi. Tidak nampak orang melintas.

Kami bergegas menyusuri jalan sampai ke persimpangan. Tapi ke mana pun memandang ga keliatan cewek-cewek berambut merah tadi. Sampai-sampai tong sampah pun kami periksa. Siapa tahu mereka membuang dompet teman kami ke situ. Nihil.

Selain uang tunai, dompet teman gue juga berisi kartu ijin tinggal dari pemerintah Belanda. Kartu semacam KTP itu sekaligus berfungsi sebagai pengganti visa bila ingin bepergian ke negara-negara Schengen. Tanpanya, teman gue akan kesulitan keluar Spanyol, sehingga perlu surat keterangan hilang dari polisi.

Kami melapor ke kantor polisi terdekat dan dirujuk ke kantor polisi di pusat kota, area Plaza Catalunya. Supaya lebih jelas, kantor polisi itulah yang disebut markas Mossos d’Esquadra alias Polisi Catalan.

Di sana ga langsung bisa diproses karena penerjemah yang ditugasi untuk kantor polisi sedang berkeliling. Kemampuan berbahasa Inggris petugas polisi Catalan waktu itu cukup parah. Susah banget berkomunikasi dengan mereka.

Kebayang kan betapa rawannya Barcelona. Di kantor polisi pun tas masih dikedepanin.

Kebayang kan betapa rawannya Barcelona. Di kantor polisi pun tas masih dikedepanin.

Selain kami, ada beberapa turis yang juga kehilangan barang. Ada yang kecurian laptop dan ada juga yang mobil sewaannya digondol maling. Semua menunggu datangnya sang penerjemah.

Untung di sana ada mesin kaki lima otomatis yang menyediakan minuman hangat; kopi dan coklat. Gue lupa berapa nilai koin euro yang harus dimasukkan untuk segelas coklat. Rasanya cukup murah sampai gue bolak-balik ngisi lagi.

Plus, gue udah nyebut belum bahwa cowok Spanyol banyak yang ganteng? Di kantor polisi isinya kan banyak cowok tuh…Asal ga diajak berkomunikasi, mereka cukup ganteng loh. Intinya, biarpun nunggu lama yang penting tetep senang karena badan dan hati hangat.

Tiga teman, termasuk yang jadi korban pencopetan, dimintai keterangan pendahuluan. Penerjemah belum datang. Jadi, mereka menjelaskan kronologi kejadian dengan bahasa Inggris bercampur dengan bahasa isyarat.

Sampai sore hari, seingat gue si penerjemah ga kunjung datang. Tapi akhirnya polisi bisa mengeluarkan surat keterangan hilang berdasarkanĀ  laporan dan kesaksian kami yang panjang dan penuh adegan pantomim.

Kalau dirangkum semua perjalanan ke dan di Spanyol ketika itu, ternyata banyak juga highlight-nya. Kami mengambil rute Groningen-Bremen-Barcelona-Madrid (bus)-Cordoba (bus)-Madrid-Valencia (bus)-Barcelona.

Setelah ketinggalan bus, terjadilah peristiwa kecopetan itu. Gara-gara kejadian tersebut, dua teman kami ga ikut perjalanan sehari ke Cordoba yang disopiri foto model. Lalu, ada perjalanan dari Madrid ke Valencia dengan menggunakan bus yang juga memorable. Duduk di dekat sepasang lesbian itu sesuatu banget ya…

****

Cuplikan Surga

Posted: November 13, 2013 in Catatan

<—- Bag 2 : Tanjakan Neraka

(Kisah Mendaki Rinjani Bag 3)Ā  ā€” Petunjuk jalan simak di sini.

JANGAN dikira jalan turun jauh lebih mudah. Jika tadi untuk mendaki memakan waktu sekitar 7 jam, gue perlu 5 jam turun. Paling gampang sih pakai kombinasi jalan dan ngesot alias meluncur dengan pantat. Serius. Terutama di jalan yang berpasir. Udah ga peduli lagi celana kotor semua, dan celana itu masih akan dipakai 2 hari ke depan. Yang penting secepatnya bisa sampai ke tenda.

'Kamar tidur' di Plawangan Sembalun dengan pemandangan ciamik di depannya.

‘Kamar tidur’ di Plawangan Sembalun dengan pemandangan ciamik di depannya.

Bukan tanpa risiko, cara ngesot itu nyaris bikin gue patah kaki atau minimal keseleo akibat salah jalan. Alhamdulillah sampai tenda ga kurang suatu apa pun. Kecuali rasa sakit dan pegal di seluruh tubuh, terutama kaki, yang semakin menguat.
Kalau mengikuti jadwal semula, setelah muncak kami seharusnya pindah nge-camp ke Danau Segara Anak. Tapi kondisi teman kami yang keseleo membuatnya ga memungkinkan untuk berpindah hari itu.

Yang lain pun enggan karena merasa seluruh tubuh sudah remuk. Lutut berteriak minta istirahat.
Kami sepakat untuk menunda pindah dan kembali bermalam di Plawangan Sembalun. Sore itu gue tertidur dengan sepiring nasi goreng di dekat kepala. Tadinya makan sambil tiduran, tapi baru 2-3 sendok udah ketiduran saking capeknya. Begitu pula teman setenda gue. Semua cepat beristirahat hari itu. Ga ada yang mau jalan-jalan dulu melihat sekitar tempat kami berkemah.

Baru saja lewat magrib terdengar suara ribut-ribut. Pendaki yang baru datang meminta bantuan porter kami untuk menjemput teman-temannya. Hari sudah gelap dan hujan turun sejak sore. Menurut dia mereka terpisah dan ia sudah jalan lebih dahulu jauh di depan. Gue ga gitu paham gimana jalan cerita dan endingnya. Tapi kayaknya akhirnya semua beres. Satu orang, cowok, berhasil merapat lebih dulu. Sedangkan sisanya, kebanyakan cewek, terpaksa berkemah di bawah.
“GueĀ  diving soalnya. Diving kan ga boleh panik. Kalo panik, abis lo,” kata si cowok.
Kalimat yang sangat memorable dan belakangan sering kami ungkit untuk lelucon.

Dini hari terdengar lagi suara gaduh. Mereka bersiap muncak. Satu orang yang ‘biasa diving’ itu menolak ikut muncak. “Gue udah pernah dulu.” “Eh, gue nitip memory card ya. Nanti fotoin di puncak kelihatan papan yang ada tulisannya puncak Rinjani.”
Another memorable quote…hahahaha…Gue ga yakin dia pernah sampai puncak Rinjani.

Tenda-tenda pendaki yang baru datang. Penghuninya termasuk 'mas-mas diver'.

Tenda-tenda pendaki yang baru datang. Penghuninya termasuk ‘mas-mas diver’.

Sabtu, 2 November 2013. Pukul 8 pagi kami siap berangkat ke Segara Anak. Para porter masih harus membongkar tenda, kami diminta berangkat lebih dulu.
Perjalanan tidak sulit dengan kontur yang didominasi menurun. Kali ini bukan jalan berpasir, tapi lebih banyak berbatu-batu. Lebih mudah dituruni. Terus terang saat itu gue, dan sepertinya teman-teman yang lain juga, cukup trauma melihat jalan menurun yang berpasir. Jadi begitu ketemu batu-batu merasa lega.

Meski relatif mudah, kami ga bisa berjalan terlalu cepat. Teman kami yang keseleo memang sudah mendapatkan perawatan urut dari salah satu porter. Namun, kakinya tetap masih terasa sakit.

Istirahat di tengah perjalanan ke Segara Anak. Yang keseleo perlu mengikat lututnya.

Istirahat di tengah perjalanan ke Segara Anak. Yang keseleo perlu mengikat lututnya.

Danau kelihatan dari kejauhan. Kabut yang menutupi bikin makin bersemangat cepat sampai ke lokasi.

Danau kelihatan dari kejauhan. Kabut yang menutupi bikin makin bersemangat cepat sampai ke lokasi.

Semakin mendekati danau.

Semakin mendekati danau.

Hari itu cerah. Kabut sesekali bertiup menutupi arah danau. Hawa masih terasa dingin agak berangin. Tapi sepertinya itu lebih nyaman ketimbang panas terik.

Kami tiba di danau pukul 13.00 lebih dikit. Suasana pinggir danau cukup ramai dengan beberapa grup tenda. Kebanyakan penghuninya sedang makan siang atau memancing. Ada juga beberapa pekerja yang sedang membangun shelter dan toilet.
Para porter sudah mendirikan tenda dan sedang menyiapkan makan siang. Tempatnya baguuss dan oke banget buat lokasi berkemah.
Yang menyedihkan adalah banyaknya sampah di area pinggir danau. Gue ga habis pikir, apa sih susahnya mengumpulkan sampah pribadi dan membawa lagi turun gunung.

Deretan tenda kami di tepi danau. Bagian kiri sini lebih bersih.

Deretan tenda kami di tepi danau. Bagian kiri sini lebih bersih.

Agenda kami siang itu adalah berendam di kolam air hangat tidak jauh dari danau.
Salah seorang porter menyarankan agar kami pergi ke lokasi kolam yang agak ke bawah lagi. “Tempatnya lebih bagus. Di situ bisa berenang.”
Ga sabar pingin segera ke sana, kami pun berangkat sebelum makan siang siap. Takutnya tiba-tiba mendung dan hujan. Makan siang nanti saja setelah berendam.

Wow! Pemandangan kolamnya top banget. Ada dua air terjun. Di bagian dekat air terjun lebih dalam. Airnya ga berbau belerang yang menusuk. Pun tidak pedih di mata. Dan, yang paling oke lagi, hanya kami berlima yang ada situ. Cihuii…
Ga perlu gue gambarin suasana kami berendam dan berenang. Pokoknya semua berubah kembali jadi kanak-kanak. Plus malas beranjak dari situ.

Kolam air hangat yang agak di atas.

Kolam air hangat yang agak di atas.

Serasa kolam air hangat pribadi.

Serasa kolam air hangat pribadi.

Akhirnya kami harus pergi juga dari situ. Soalnya kulit telapak tangan udah berkerut-kerut. Lagipula langit agak mendung dan kabut mulai datang. Kami kembali ke tempat kemah. Santapan siang sudah menanti.
Sore harinya kami isi dengan menonton orang memancing dan berfoto-foto. Ingat kami bawa kebaya? Nah, kali itulah kesempatan memakainya. Dari empat cewek, cuma tiga yang bawa. Salah satu yang bawa kebaya ga mau memakainya dan meminjamkan kebaya ke teman yang lain.

Jadilah kami bertiga berpose memakai kebaya. Para porter tertawa melihat aksi kami. Yahh, kapan lagi kan bisa begitu di Rinjani šŸ˜€

Sesi foto-foto dengan kebaya.

Sesi foto-foto dengan kebaya.

Kegiatan di pinggir danau.

Kegiatan di pinggir danau.

Malamnya angin terdengar menderu kencang. Tidak hujan dan tidak sedingin di Plawangan Sembalun. Tapi gue lebih ga nyenyak tidur daripada malam pertama di plawangan. Suara air danau terdengar sangat dekat. Sesekali atap tenda bergerak-gerak diterpa angin. Saat sempat tertidur, gue mimpi buruk. Dimarahi ibu, ga jelas karena apa. Padahal seumur-umur seinget gue belum pernah dimarahi beliau :p
Terbangun oleh suara menggaruk-garuk tenda. Mau menyalakan senter malas bergerak.
Ternyata, menurut porter, malam itu ada dua babi hutan nyasar ke perkemahan kami. Mencari makanan sisa.

Minggu 3 November 2013. Saatnya turun gunung. Seperti hari sebelumnya, jam 8 pagi siap berangkat. Matahari bersinar terang disertai angin yang bertiup cukup kencang. Setengah perjalanan disuguhi jalur mendaki berbatu-batu dengan jalan setapak. Medannya menjadi semakin berat karena kepala ini ga tahan berkali-kali menoleh ke arah danau. Padahal berjalan juga harus berhati-hati karena kerap kali di sebelah kiri adalah jurang.
Makin ke atas pemandangannya makin bagus. Sungguh gue merasa amat sangat beruntung bisa berada di situ. Menyaksikan dengan mata kepala sendiri, ciptaan-Nya yang begitu indah. Cuplikan surga.

Gimana ga mau nengok terus kalau pemandangannya kayak gini.

Gimana ga mau nengok terus kalau pemandangannya kayak gini.

...atau begini.

…atau begini.

Sedangkan medan yang dilalui seperti ini.

Sedangkan medan yang dilalui seperti ini.

Berkali-kali pandangan terarah pada pucuk gunung. Tidak percaya bahwa kami mampu menapaki puncak tersebut. Dan kami merasa sangat diberkahi karena selama di gunung, cuaca cukup bersahabat. Hanya dua sore dan satu malam hujan. Itu pun sebenarnya juga berkah, karena bisa bisa menikmati penampilan dua pelangi, dan sisanya justru membantu kami beristirahat.

Keputusan menunda ke Danau Segara Anak ternyata juga menguntungkan. Bila langsung pindah lokasi kemah pada hari kedua, sangat mungkin kami akan bermalam di Plawangan Senaru di malam ketiga. Rencananya memang seperti itu. Ternyata pada malam ketiga angin bertiup jauh lebih kencang di dua plawangan. Menurut cerita porter yang kami temui, ada beberapa tenda yang beterbangan. Saat itu kami lebih aman karena berada di danau yang terlindung oleh tebing-tebing.

Porter kami mengatakan angin kencang tadi malam tidak biasa. Menurut dia ada yang berbuat macam-macam di Rinjani. Yang tergolong ‘macam-macam’ di sini antara lain berhubungan badan.
Sempat gue tanyakan juga, apakah sesi foto-foto dengan kebaya termasuk ‘macam-macam’. Si porter hanya tertawa.

Sepanjang jalan turun gunung juga cerah, tidak ada halangan. Seorang porter terus menemani kami menembus hutan Senaru. Ia tidak meninggalkan kami karena khawatir kami tersesat. Beruntung juga dia berbuat begitu karena sempat selama satu jam kami masih di hutan saat hari sudah gelap.

Turun gunung melalui hutan.

Turun gunung melalui hutan.

Kami tiba di Pintu Senaru sekitar pukul 7 malam. Lebih cepat dari perkiraan karena teman gue yang kakinya keseleo tiba-tiba seperti mendapat tenaga baru selepas pos 1 alias pos terakhir turun gunung. Sampai berkeringat gue mengikuti langkahnya. Begitu kami tiba di Pintu Senaru dan beristirahat sejenak, penjaga pintu langsung membuka warungnya. Menawari kami minuman dingin. “Kereeennn. Di pintu hutan ada ‘Sevel’-nya,” ujar salah seorang teman.

Sebenarnya kami ga terlalu membutuhkan minum, ingin cepat-cepat sampai di penginapan.
Tapi iba juga melihat si bapak tua pemilik warung. Ga apa-apa lah belanja sedikit di situ, sekalian membantu menggerakkan perekonomian setempat. Satu kaleng langsing fanta/coca cola dihargai Rp10ribu.
Kami tiba di penginapan hampir pukul 8 malam. Amat sangat lelah, hampir ga ada bagian tubuh yang sakit. Bahkan lidah gue pun sariawan. Tapi hati sangat puass dan bangga šŸ˜€

Touchdown penginapan, Desa Senaru.

Touchdown penginapan, Desa Senaru.

Benar-benar pengalaman perjalanan yang luar biasa! Terima kasih, ya Allah.

Dipersembahkan untuk teman-teman satu tim: Anin Arinita, Endra Prasaja, Sura Menda Ginting, dan Viny Tobing. Serta untuk tiga porter kami yang tidak dapat disebutkan namanya, karena gue cuma ingat satu nama, itupun patut diperdebatkan kebenarannya. (Pendakian Rinjani 31 Oktober-3 November 2013)

Ini juga untuk menghibur dua kawan kami, Tifa dan Ika, yang gagal ikut karena kondisi kesehatan.

****