Archive for the ‘Catatan’ Category

Tanjakan Neraka

Posted: November 10, 2013 in Catatan

<——Bag 1 : Pelangi di Kaki Bukit

(Kisah Mendaki Rinjani Bag 2) — Petunjuk jalan simak di sini.

SEMUA sendi badan terasa sakit dan pegal. Selesai membersihkan badan sebisa mungkin dengan tisu basah, makan malam datang. Seorang porter membawakan mangkok-mangkok mie dan piring-piring nasi ke tenda kami.

Hawa yang dingin makin menusuk. Sambil makan, gue berselimutkan ‘sleeping bag’.
Seorang teman berkata lantang dari tendanya, “Win, kalo elo ngajak ke Rinjani lagi, gue ga ikutan.”
Semua tertawa menunjukkan kata sepakat. Gue lalu menimpali, “Gue juga ogah balik lagi.”

Tiga tenda kami di Plawangan Sembalun.

Tiga tenda kami di Plawangan Sembalun.

Seusai makan malam, kami bertanya ke salah seorang porter, jam berapa ke puncak. Ia bilang nanti berangkat jam dua pagi.
Sedikit sangsi dengan rencana itu. Gue sempat membaca di sejumlah blog bahwa untuk bisa menyaksikan matahari terbit di puncak Rinjani mereka harus berangkat sekitar pukul 00.00. Bahkan ada yang menyarankan berangkat pukul 23.00

Tapi gue malas berdiskusi lebih lanjut dan pasrah saja dengan jadwal si porter. Lebih baik cepat beristirahat untuk mengumpulkan energi. Sanggup bangun aja belum tentu karena pegal-pegal di sekujur tubuh.

Gue sama sekali ga keluar tenda malam itu. Seorang teman yang kebetulan satu-satunya cowok, selain porter tentunya, mengabarkan langit malam itu dipenuhi bintang. Cerah sekali. Mengajak yang lain ikut keluar untuk menikmati. Semua menolak mentah-mentah…hehehehe…

Malam itu terasa amat panjang. Berkali-kali gue terbangun tanpa melihat jam. Bertanya-tanya kenapa porter tak kunjung membangunkan kami. Khawatir kesiangan.

Jumat, 1 November 2013. Akhirnya, gue terbangun oleh suara porter. “Mbak-mas, bangun. Siap-siap berangkat.”
“Mau minum apa?”

Pukul setengah 2 dini hari. Kami bersiap-siap. Setelah membawakan minuman hangat, porter menyodorkan segelondong roti tawar dan segepok keju ke tenda gue. Ia meminta kami sarapan dulu.

Semua masih kenyang dengan makan malam. Gue menyiapkan setangkup roti dengan keju di dalamnya. Maksudnya mau gue bawa untuk dimakan di perjalanan. Belakangan baru nyadar roti itu tertinggal di tenda *keluh*.

Air minum dalam botol 500 ml dan jas hujan masuk kantong celana. Gue membawa tas berisi senter, kacamata renang, masker, dan kebaya. Kebaya?! Iya, kebaya. Rencananya mau dipakai saat di puncak 😀

Puncak Rinjani dilihat dari ujung bawah Tanjakan Neraka.

Puncak Rinjani dilihat dari ujung bawah Tanjakan Neraka.

Di luar tenda dingin sekali. Memang ga sedingin waktu gue menunggu semalaman di luar Bandara Eindhoven, tetapi mendekati. Kelihatannya 5-8 derajat celsius. Alhamdulilah langit masih cerah. Indah banget dengan bintang bertaburan. Bulan ga nampak karena malam itu mendekati bulan baru.

Semua anggota tim siap berangkat. Tidak terkecuali yang semalam merasa tidak sanggup ikut muncak.
Sekitar pukul 02.00 kami mulai berjalan. Seperti biasa, gue selalu tertinggal ketika jalan mulai mendaki. Setiap beberapa langkah harus berhenti untuk menstabilkan nafas.

Dua anggota grup mendahului di depan bersama pemandu. Ga terlihat lagi oleh kami, terutama karena memang suasana gelap dan jalan setapak berkelok-kelok.

Jalan yang sebagian besar berpasir menyulitkan langkah kami. Gampang sekali merosot lagi.
Sejam berlalu, banyak grup yang mendahului kami. Sebagian besar turis asing. Rupanya kami termasuk yang paling awal mendaki. Kini, tergolong yang paling belakang.

Setelah berjalan hampir dua jam. Teman kami yang cowok mengeluh kaki kirinya sakit, sepertinya keseleo karena salah menapak. Langkahnya semakin lambat.

Akhirnya tinggal kami berdua dari grup kami yang tersisa di belakang. Sempat gue bilang ke teman gue itu, kalau memang ga kuat, berhenti aja. Tapi dia ga mau. “Harus sampai puncak. Tanggung,” katanya.

Beberapa kali kami berhenti untuk beristirahat. Salah satunya di tempat para porter ‘ngetem’. Gue bertanya ke salah satunya. “Masih jauh ya Pak?” “Kalau jalannya kayak gini ya tiga jam lagi.” “Nanti sampai setengahnya aja mbak.”

Huahhhh…padahal gue merasa udah jalan selama tiga jam. Masa masih harus mendaki tiga jam lagi? Tapi, tekad untuk mencapai puncak udah bulat. Gue melanjutkan mendaki diikuti teman gue.

Di tengah jalan bertemu porter pemandu kami. Berhenti sejenak. Teman gue makan biskuit yang dibawa porter. Ia juga menitipkan ranselnya. Kami lanjut. Sampai lagi di satu tempat ‘ngetem’ beberapa porter. Porter kami menyarankan ga usah melanjutkan karena sampai di puncak pasti sudah siang. “Biasanya siang kabut sudah naik, ga keliatan apa-apa dari puncak,” ujarnya. Ketika itu, menurut teman gue, pukul setengah lima.

Bukannya surut, gue malah makin ga mau nyerah. Demikian pula teman gue. Pokoknya kami harus sampai puncak. Sampai di satu titik,  porter kami tidak lagi mengikuti. Hanya menunjuk, ‘ke sana puncaknya’. Seakan sudah dekat.

Pukul lima pagi semburat warna oranye di timur mulai terlihat. Sudah pasti kalaupun kami mencapai puncak, matahari sudah tinggi. Tidak ada matahari terbit di puncak Rinjani untuk kami.

Teman gue bertanya, “Yang lain sudah nyampe belum ya?” Gue jawab, “Udah sampe mestinya.”

Sambil merangkak di Tanjakan Neraka, nengok ke kanan, ini yang terlihat.

Sambil merangkak di Tanjakan Neraka, nengok ke kanan, ini yang terlihat.

Kami tiba di tanjakan cukup lebar tapi sepanjang jalan isinya batu kerikil semua dan pasir. Susah banget melangkah. Ditambah lagi angin sangat kencang membuat badan mulai kedinginan. Tangan sudah terasa beku. Perut keroncongan pula. Gue periksa tas, ga menemukan roti.

Beberapa lama kemudian, sejumlah pendaki terlihat turun dari arah puncak. Momen matahari terbit sudah berlalu.

Gue bertanya ke salah satu turis asing yang turun. “Is it far from here? The top.”
Si cowok bule terdiam sejenak. Lalu berkata. “Mmmm…it’s fine. Go ahead….It’s good for you.”

Tersenyum pahit gue mendengar jawaban itu. Jelas masih jauh :p
Lanjut. Gue hanya bisa menapak tiga langkah. Kemudian berdiri istirahat menahan terpaan angin. Kadang angin begitu kencang sampai berdiri pun bisa terperosok mundur.

Di sini kemampuan matematika dasar sangat diperlukan. Harus mendaki minimal 3 langkah supaya tidak minus. Jadi totalnya tetap maju 😉

Teman gue sudah mendahului. Beberapa langkah di depan.

Langit mulai terang. Tanjakan yang kami jalani perlahan terlihat jelas. Satu jalan yang tampak cukup lurus tapi dengan kontur yang terus mendaki, berisi pasir dan kerikil.

Makin banyak pendaki yang turun. Gue kembali bertanya ke salah satu dari mereka. Kali ini cewek bule. “Is it far?”

Dia langsung menangkap maksud gue, “Not so far. You see that rock? When you reach the rock, you are there.” “You should go. It’s so beautiful up there. Just take it slowly.”

Kata-kata itu sedikit membangkitkan semangat.
Gue menjawab ya, saya pasti sampai sana. Lalu berterima kasih padanya. Ia berlalu.

Beberapa pendaki lagi masih terlihat turun dari arah puncak. Termasuk opa-oma yang melewati kami di Sembalun kemarin. Setelah itu aliran pendaki yang turun berhenti.

Heran juga kenapa tiga teman gue belum ada yang tampak turun. Udah bersiap bilang ke mereka, “Ga papa turun aja duluan. Gue mau ke puncak.”
Gaya kan…hahahaha…

Di tanjakan yang gue sebut Tanjakan Neraka–ga panas sih, tapi dingin, bikin beku badan— itu ada lima orang yang masih mendaki. Gue, teman yang keseleo kakinya, dan tiga orang–sepertinya cewek semua– yang tampak agak jauh di atas.

Inilah Tanjakan Neraka itu. Bukannya panas, dini hari sampai sekitar pukul 9-10 pagi, dinginnya minta ampun karena disertai angin kencang.

Inilah Tanjakan Neraka itu. Bukannya panas, dini hari sampai sekitar pukul 9-10 pagi, dinginnya minta ampun karena disertai angin kencang.

Panjang Tanjakan Neraka sekitar 300 meter.

Panjang Tanjakan Neraka sekitar 300 meter.

Batu besar yang ditunjuk si cewek bule kelihatan dekat, tapi ga kunjung terjangkau walau gue terus melangkah. Teman di depan gue lebih banyak merangkak daripada berjalan. Sebentar-sebentar dia terduduk sambil tiduran di pasir.

Sedangkan gue memilih terus berdiri karena jika duduk perlu tenaga lebih besar untuk bangkit. Tapi jatuh terduduk di pasir juga kadang tak terhindarkan. Kalau sudah begitu gue ikutan merangkak sambil berusaha bangkit.

Di kejauhan, tiga cewek di atas juga lambat sekali maju. Jarak kami sedikit demi sedikit mengecil. Akhirnya saat yang dinanti tiba. Sampailah gue di batu kroak Puncak Rinjani.

Masih heran kenapa tiga teman gue belum juga turun. Padahal, menurut kesaksian banyak orang, ga akan betah kita berlama-lama di puncak karena angin kencang dan dingin.

Sampai di puncak gue ketemu dengan ketiga teman gue itu. Salah satunya bahkan masih berjalan menuju ‘pelataran’ puncak. Saat itu sekitar pukul 9 pagi. Di puncak, hanya ada kami berlima.

Gue masih bertanya-tanya ke mana perginya ketiga cewek di atas tadi? Lalu yang lain juga mana? Karena rasanya jumlah pendaki yang gue temui turun dari arah puncak lebih sedikit daripada yang mendahului kami saat mendaki.

Perlahan gue baru sadar, ketiga cewek tadi ya teman-teman gue sendiri. Gue merasa geli. Bego bener ya baru nyadar. Pasti akibat otak kekurangan oksigen :p

‘Pelataran’ puncak Rinjani tidak luas. Bahkan sepertinya lebih kecil daripada landasan helikopter. Kami berfoto-foto sebisanya sambil menahan dingin.

Rencana memakai kebaya urung gue realisasikan. Jangankan pakai kebaya, mengeluarkan telapak tangan dari saku celana aja segan.  Cuma satu teman yang kayaknya memang agak sarap,  yang melakukannya…hihihihi. Top dah!

Belakangan kami bertukar cerita. Rupanya teman gue yang tadinya bareng bertiga di belakang berhasil menyusul salah seorang teman yang sudah mendahului. Ia sendiri sempat merasa lemas dan mengantuk, terduduk di tanjakan. Sampai seorang pemandu yang melintas menariknya selama beberapa waktu. Pemandu itu mengatakan kepadanya supaya jangan duduk saja di situ. Apalagi hari masih gelap.

Dia akhirnya bisa meneruskan perjalanan tanpa bantuan, kemudian menemukan seorang teman satu grup itu, di Tanjakan Neraka. Sedang nemplok di batu, tiduran. Sedangkan yang satu tidak kelihatan, sudah lebih jauh mendaki.  Saat itu matahari baru saja terbit. Mereka berdua berniat meminta foto-foto matahari terbit di Puncak Rinjani dari dia.

Tidak lama kemudian,  ia turun. Kedua teman gue menyambutnya. Ternyata dia turun bukan karena sudah mencapai puncak, tapi karena kelaparan dan kedinginan. Sontak semuanya tertawa mendengar cerita itu. Beruntung ada yang membawa permen jahe dan roti. Perutnya sedikit terisi sehingga ia kembali bersemangat mendaki, bareng-bareng bertiga. Mereka lah yang gue lihat dari kejauhan.

Teman-teman satu tim pendakian Rinjani 31 Okt-3 Nov 2013.

Teman-teman satu tim pendakian Rinjani 31 Okt-3 Nov 2013.

Ini dia nih tersangkanya. Sempat-sempatnya di Puncak yang dinginnya ga kira-kira pake kebaya...hahaha

Ini dia nih tersangkanya. Sempat-sempatnya di Puncak Rinjani yang dinginnya ga kira-kira pake kebaya. PS: Kalo mau minta tanda tangan, gue manajernya.

Kontemplasi

Banyak orang yang bilang susah payah selama mendaki ke puncak terbayar lunas oleh indahnya pemandangan di puncak. Buat gue enggak.

Pendakian dan kepuasan + keindahan pemandangan di puncak tidak ada dalam satu persamaan. Jadi tidak bisa saling menegasi. Itu dua bagian yang terpisah. Penderitaan selama menuju puncak tetaplah penderitaan. Kepuasan juga menduduki tempat yang setara. Dalam hati dan ingatan.

Danau Segara Anak dilihat dari Puncak Rinjani. Porter kami menyebutnya Danau Gunung Baru. Tapi sebenarnya itu satu permukaan air dengan Segara Anak.

Danau Segara Anak dilihat dari Puncak Rinjani. Porter kami menyebutnya Danau Gunung Baru. Tapi sebenarnya itu satu permukaan air dengan Segara Anak.

Kalau diingat-ingat lagi, adegan kami berlima mendaki Tanjakan Neraka itu kocak. Ada yang yang merangkak. Ada yang kerap berdiri kayak patung menahan terpaan angin. Ada yang sebentar-sebentar duduk dan tiduran.
Semuanya mendaki dengan amat lambat. Seakan waktu dan tempat itu adalah milik kami.

Seperti peserta Takeshi Castle yang ngotot menyelesaikan tantangan meskipun acara udah selesai dan para crew sudah bubar. Ga ada satupun yang ada di lokasi lagi, kecuali kami.

Berlima masih merangkak-rangkak. Ga mau rugi. Bertekad mencapai puncak di satu-satunya kesempatan mendaki Rinjani. Cuma sekali seumur hidup. Dan, kami berhasil! Alhamdulillah…

(Bersambung ke bag 3: Cuplikan Surga)

****

Pelangi di Kaki Bukit

Posted: November 9, 2013 in Catatan

(Kisah Mendaki Rinjani Bag 1)— Petunjuk jalan simak di sini.

HANYA empat golongan orang yang mampu mencapai puncak Gunung Rinjani, yaitu:

Pendaki ulung;
Pemilik stamina kuat;
Orang-orang bermental baja;
dan
Orang-orang yang tidak mau merugi;

…kami lah orang-orang yang tidak mau merugi itu.

—————-

Gunung Rinjani dari area sekitar 1 km titik awal pendakian Sembalun.

Gunung Rinjani dari area sekitar 1 km titik awal pendakian Sembalun.

Kamis, 31 Oktober 2013. Sekitar pukul 09.00 pagi kami memulai pendakian Rinjani melalui jalur Sembalun, didahului dengan berdoa memohon perlindungan dari Yang Maha Kuasa.

Semula kami berkeinginan menjajal jalur pendakian Torean. Namun, si pemilik tenda yang juga mencarikan porter untuk kami, mengatakan jalur itu sudah ditutup untuk para pendaki. Hujan mulai kerap turun, terlalu berbahaya melewati Torean. Kami mematuhinya.

Lima orang yang bisa dibilang belum pernah mendaki gunung, apalagi yang setinggi Rinjani.  Semua adalah pendaki pemula. Lebih baik cari aman. Sebagai informasi, Gunung Rinjani yang berketinggian 3.726 meter di atas permukaan laut (mdpl) adalah gunung berapi kedua tertinggi di Indonesia, setelah Kerinci. Gunung yang terletak di Lombok Utara itu disebut sebagai gunung tercantik di Indonesia. Dan, kami dalam misi membuktikan sebutan itu dengan mata kepala sendiri.

Tiga orang porter mendampingi sekaligus membawakan perlengkapan tenda dan logistik. Adapun perlengkapan pribadi kami bawa masing-masing.

Tiga porter kami dan 'tentengan' mereka.

Tiga porter kami dan ‘tentengan’ mereka.

Cuaca sangat cerah pagi itu sehingga memacu semangat mendaki. Sepanjang perjalanan kami isi dengan mengobrol sambil becanda ria.
Berpapasan dengan pendaki-pendaki ala mapala yang ga memakai jasa porter. Carrier yang mereka sandang, menurut pengakuan mereka, berkapasitas 75 liter. Ransel gue aja cuma 25-30 liter. Lebih dari itu ga kuat lagi gendong.

“Itu lemari pakaian sama kulkas sekalian dibawa ya mas,” kata seorang teman. Mereka cengar-cengir.

Kadang memandang iri grup bule yang menyalip grup kami. Mereka paling banter membawa ransel tipis-kecil. Paling-paling isinya cuma tisu dan air minum. Semua barang lainnya dibawakan porter. Yahh, beda harga, beda pelayanan lah.

Para bule umumnya mengambil paket pendakian yang harganya paling murah sekitar Rp1,8 juta per orang. Sedangkan kami, ngeteng aja. Sewa pisah-pisah, dihitung per item.

Sesekali kami terdiam karena medan yang cukup panas dan didominasi kontur mendaki.  Ada tujuh bukit–disebut 7 bukit penyesalan–yang harus kami lewati untuk sampai ke Plawangan Sembalun, tempat kami bermalam.
Beberapa kali beristirahat di sejumlah titik, termasuk Pos 1.

Perjalanan cukup lancar. Kami tiba di Pos 2 bebarengan dengan para porter. Mereka kemudian menyiapkan makan siang, sedangkan kami duduk-duduk beristirahat. Waktu itu sekitar pukul 12.30

Mula-mula datang minuman hangat diantarkan para porter. Sekitar setengah jam kemudian datang menu makan siang cukup lengkap. Itulah awal ‘kemewahan’ di gunung yang kami rasakan. Serasa sedang di rumah makan 😀

Makan siang Rinjani

Bersiap menikmati hidangan makan siang di Pos 2 Sembalun.

Kami tidak sendiri di pos 2. Sejumlah grup pendaki, baik asing maupun lokal, juga beristirahat makan siang di situ.

Seusai makan siang, perjalanan dilanjutkan. Tidak ada halangan berarti. Tapi medan yg hampir terus mendaki membuat gue kewalahan. Dari kelima anggota grup, hampir selalu gue yang ketinggalan di belakang.

Teman-teman satu grup saling menjaga agar jarak antarkami tidak terlalu jauh. Anggota terdepan hanya sebentar2 saja tidak terlihat oleh anggota yang berjalan paling belakang.
Tidak ada yang ingin terpisah dari grup.

Ketiga porter kami biasanya beristirahat lebih lama dan memberi kesempatan kami berjalan lebih dahulu. Beberapa lama kemudian mereka menyusul kami, mendahului, dan menunggu kami di tempat peristirahatan berikutnya.

Cuaca cukup nyaman untuk pendakian. Kabut mulai menyelimuti sehingga terik matahari sedikit terhalangi. Sampai setelah kami melewati Pos 3.

Padang rumput alias sabana di jalur pendakian Sembalun.

Padang rumput alias sabana di jalur pendakian Sembalun.

Ketika itu langit semakin pekat oleh mendung. Tenaga sudah tinggal sepertiga. Porter yang menyusul kami mengatakan masih tersisa tiga bukit lagi yang mesti dilalui. Saat itu sudah lewat pukul 3 sore.

Hujan mulai turun. Kami mengeluarkan jas hujan masing-masing. Jas hujan yg gue bawa adalah yang sekali pakai. Rupanya cukup untuk menutupi tubuh hingga ke lutut, termasuk ransel yang gue gendong.

Di bagian dalam, gue memakai jaket karena hawa sudah cukup dingin. Apalagi ketika angin kencang menerpa. Para porter hanya beberapa puluh meter di depan kami. Rupanya mereka sengaja memperlambat jalan untuk memastikan kami baik-baik saja.

Perjalanan semakin lambat karena hujan membuat pijakan tidak stabil. Kami harus berjalan lebih hati-hati agar tidak terpeleset.

Sesiang itu sudah 2-3 grup bule yang menyalip kami. Yang terakhir ialah sepasang opa-oma, mantap mendaki perlahan mendahului.

Kami sampai mengolok-olok diri sendiri dengan mencoba menyuarakan hati mereka, “Anak muda jaman sekarang tenaganya cuma sampai segitu aja. Payah!” Sambil nyengir-nyengir, memberi jalan dan membalas salam keduanya.

Di sela-sela itu, seorang teman menanyakan apakah kami akan ke puncak malam itu juga. ‘Iya, mudah-mudahan bisa sampai sebelum gelap. Jadi bisa istirahat agak panjang. Nanti jam 12-an malam kita muncak,” kata gue.
“Kalau ga kuat ga papa. Yang bisa aja nanti ikut.”
Lalu dia bilang, “Tanggung ah, gue ikut.”

Hujan seakan mencoba menahan diri. Kadang cukup deras, tidak lama kemudian berhenti, lalu disusul gerimis. Angin kencang sesekali menyertai, didahului suara menderu di kejauhan. Hawa dingin menusuk tubuh.

Sampai satu ketika kami menengok ke belakang dan tampak pelangi melengkung dengan megahnya. Kami bersorak-sorak melihatnya. Tiba-tiba bersemangat mendaki untuk mencari tempat terbaik memandangi pelangi itu. Dan seperti biasa, mengabadikannya dengan kamera. Bergantian berpose dengan latar belakang pelangi.

Warnanya semakin lama semakin jelas. Subhanallah…kami merasa seperti dihibur oleh Penciptanya. Di saat semangat mulai luntur oleh hujan, angin, dan rasa lelah.

Kejutan kembali hadir dalam bentuk pelangi kedua. Iya, ada dua pelangi yang muncul! Meskipun, warna yang kedua tidak sejelas pelangi di bawahnya.

Dua pelangi, hadiah hiburan untuk para pendaki yang kehujanan, kedinginan, dan kelelahan.

Dua pelangi, hadiah hiburan untuk para pendaki yang kehujanan, kedinginan, dan kelelahan.

Wajib, kudu, berpose dengan latar belakang pelangi.

Wajib, kudu, berpose dengan latar belakang pelangi.

Tak henti-hentinya kami mengagumi. Seumur hidup baru kali itu gue melihat dua pelangi sekaligus. Kecuali, di matamu….hayyahhh…

Warna pelangi mulai pudar, kami melanjutkan perjalanan. Para porter sudah tidak terlihat. Terakhir mereka berpamit agar bisa mendirikan tenda sebelum kami tiba.

Deru angin di kejauhan kembali terdengar, hingga sampailah angin kencang di tempat kami mendaki. Saking kencangnya, ga ada yang berani melangkahkan kaki lebih jauh.

Seperti dihadapkan pada permainan ‘Cari sendiri pohonmu’, tiap orang bergegas menuju pohon terdekat dan bersandar di baliknya. Beberapa kali kami harus melakukan itu.

Momen itu adalah salah satu yang kami ungkit sambil tertawa saat kami sudah menuntaskan perjalanan.

Kami semua membisu sambil menunggu angin kencang mereda. Entah apa yang berkecamuk di pikiran masing-masing.

Gue sendiri merasa khawatir kami akan menghadapi cuaca serupa hingga kembali di Desa Senaru. Dalam hati memohon kepada Sang Pemilik Alam supaya memberikan kami kelonggaran.

Tidak kurang dari satu jam terakhir pendakian menuju Plawangan Sembalun merupakan yang terberat hari itu. Langit sudah gelap. Senter-senter kami menyala namun tetap harus memperhatikan jalan setapak dengan seksama agar tidak salah jalan.

Hati tidak sabar untuk segera sampai di tenda yang kami yakin sudah didirikan para porter. Tapi apa daya, kaki sudah sangat lelah, nafas pendek-pendek, tidak mampu bergegas.

Kami sudah mulai kehilangan arah ketika seorang porter datang membimbing kami berjalan menuju tenda. Jalan pun melandai.

“Sepuluh menit lagi sampai, mbak. Bukan tenda yang di depan itu. Tapi di belakang. Nanjak sedikit lagi,” kata dia.

Kami serempak mengeluarkan suara keluhan saat mendengar kata ‘nanjak’. “Cuma sebentar nanjaknya,” kata si porter mencoba menghibur.

Teman yang tadi menanyakan soal jadwal ke puncak berkata, “Kayaknya gue ga kuat deh Win kalau langsung muncak.”
Gue tertawa kemudian berkata, “Tadi katanya tanggung. Bisalah. Nanti coba liat-liat aja.”

Akhirnya tibalah kami di tenda masing-masing. Satu tenda berdua. Kecuali yang cowok.

Waktu menunjukkan pukul 19.20. Lega rasanya bisa duduk meluruskan kaki di dalam tenda yang lebih hangat daripada di luar. Lalu, datang porter menawari, “Mbak, mau minum apa?” Kata-kata hangat yang akan selalu mengiringi hari-hari kami di Gunung Rinjani….

(Bersambung ke bag 2: Tanjakan Neraka, tapi ga pake ada nenek gayung yaa…)

****

Lima Hari, Max

Posted: October 28, 2013 in Catatan

GUE termasuk orang yang segan membawa banyak barang saat travelling. Dan malas menyeret-nyeret koper.
Semua bawaan harus cukup dimasukkan dalam satu ransel ukuran sekitar 25 liter.

Tujuannya antara lain supaya ga perlu memasukkan barang ke bagasi ketika naik pesawat. Bisa melenggang langsung keluar tanpa berlama-lama menunggu ban berjalan mengantarkan koper/tas penumpang.

Bisa aja supaya semua barang masuk, gue pakai ransel lebih gede. Ransel ukuran +/- 35 liter gue punya juga. Tapi masalahnya, begitu ransel itu terisi penuh, gue ga sanggup menggendongnya. Alhasil tas itu hampir ga pernah gue pakai, teronggok begitu saja di deket pintu kamar.

Makanya gue juga biasanya pergi travelling tidak lebih dari 5 hari. Supaya semua bawaan masuk ke ransel 25 liter gue. Itu pun harus bisa menyisakan ruang untuk oleh-oleh/suvenir.

Biasanya ketika berangkat, gue hanya menggendong satu tas. Tas kecil atau ‘daypack’ yang bisa diisi dompet, hape, kamera, (kadang termasuk tablet), dan air mineral 500 ml, dimasukan juga. Nanti ketika pulang, tas kecil itu gue keluarkan dari ransel dan ruang yang ditinggalkannya terisi oleh-oleh/suvenir.

Pernah juga sih beberapa kali,  pergi lebih dari seminggu. Ransel penuh baju, sehingga ‘daypack’ terpaksa dikeluarin. Supaya tetep bisa bawa oleh2 yg muat dalam ransel, gue buang 2-3 baju setelah dipakai. Sengaja membawa baju-baju lawas yang gue ga pingin pakai lagi.

Bentar lagi gue akan bepergian 8 hari. Bingung mengatur barang bawaan. Maunya mempraktikkan lagi aksi ‘buang baju’. Tapi kok sayang ya. Kalau kayak gini rasanya beraaattt banget….berat pastinya lah kalo harus bawa baju yang cukup untuk gonta-ganti tiap hari selama lebih dari seminggu. Untung perginya untuk berlibur….akhirnyaaa nyampe juga akhir Oktober, 2013! 😀

Seukuran ini ranselnya. Kayaknya 25 literan.

Seukuran ini ranselnya. Kayaknya 25 literan.

****

Gue dan Tukang Ojek

Posted: October 28, 2013 in Catatan

Ndy

(Migrasi Blog, tulisan asli diposting 15 September 2013)

Dalam acara melancong, gue termasuk orang yang paling sering mendapatkan pengalaman’memorable’ berinteraksi dengan tukang ojek. Pada trip Dieng Jumat-Sabtu lalu, interaksinya lebih masif. Berikut gue sarikan interaksi-interaksi tersebut.

Mendoan

Setting : Dalam perjalanan terburu-buru dari Harmoni ke Stasiun Senen.

Tukang Ojek: Ojek mbak?

Gue: Ke Stasiun Senen berapa mas?

TO: 30 ribu aja.

G: 20 ribu ya?

TO: Ayok lah. Mau ke mana mbak kok ke Stasiun Senen?

G: Purwokerto.

TO: Sama, saya juga asli Purwokerto. Puwokertone ngendi (Purwokertonya di mana)?

G: Bukan. Saya bukan orang Purwokerto. Cuma mau ke tempat teman.

TO: Oo, main? Purwokerto itu paling enak mendoannya, mbak. Ga ada yang bisa bikin mendoan seperti di sana. Di Jakarta, apalagi. Ga enak mendoannya.

G: Gitu ya mas. Iya, kalau sempat saya coba.

TO: Nanti kalau nyobain mendoan, inget saya ya mbak.

G: ??

***

Posesif

Setting: Baru turun dari bus jurusan Wonosobo-Dieng. Langsung diserbu tukang ojek.

Gue mencoba mengelak dengan terus berjalan ke arah Telaga Warna. Para tukang ojek menyerah. Tapi ga lama kemudian ada satu tukang ojek yang menyusul.

TO: Ayo mbak, dianter keliling Dieng.

G: Enggak Pak, saya jalan aja.

TO: Cari penginapan, mbak? Di situ ada yang murah.

G: Nanti aja, Pak. Saya mau jalan dulu. Jalan kaki aja.

TO: Atau, mau dianter liat sunrise besok pagi. 50 ribu aja mbak.

G: Nanti aja deh Pak. Saya belum tau mau nginap atau enggak (sambil meneruskan jalan).

TO: (masih mengikuti terus deng motornya). Kalau gitu pegang nomor saya aja, mbak. Nanti kalau jadi nginep, mau liat sunrise kontak saya.

G: (Berhenti jalan dan berniat mengusir si TO dg halus) Nomor Bapak berapa?

T: 085328749608. Riko. Misscall ya mbak.

G: (memisscall–ga enak mau nolak).

Malamnya, saudara gue yang tinggal di Wonosobo dateng dan menyarankan gue supaya pake TO kenalannya untuk ke Sikunir. Pak Riko, si tukang ojek sudah beberapa kali sms dan miscall. Akhirnya gue jawab bahwa gue besok akan diantarkan saudara ke Sikunir.

Jam 7 pagi di kamar penginapan, setelah menyaksikan matahari terbit yang top! datang sms….

TO: Katanya sanres sama saudra ko mlah sama ojek juga mba.

G: (bales sms) Itu yang ngaturin saudara saya, Pak. Tanya aja ke Pak Subiyanto (Nama TO kenalan saudara gue yg nganter ke Sikunir tadi subuh).

TO: Ok,ok.ga pa2.

G: Nanti deh kalo ada temen yg perlu kontak untuk wisata keliling dieng pake ojek, saya kasih juga nomor Pak Riko. Gpp kan?

TO: Kasih aja nomr pk subi sama tmen mba yg ganter sanres mba.

G: (dalam hati) karepmulah..

***

Agen Ganda

Setting: Di kompeks Candi Arjuna tampak sosok besar Po, salah satu karakter Teletubbies. Gue memutuskan untuk foto-foto bersama Po dengan bantuan salah seorang pengunjung. Sekali nyaris merangkul dan memeluk Po. Untung masih punya kesadaran.

Setelah sesi foto-foto, gue cemplungin duit 5.000 ke kardus milik si Po. Lalu kami duduk.

Po: (ngomong ga jelas).

G: Apa? Ga denger saya.

Po: (membuka kepalanya) Sendirian aja, mbak?

G: Iya mas.

Po: Udah keliling?

G: Udah.

Po: Ke mana aja? Kawah Sikidang udah?

G: ke Telaga Warna, Kawah Sikidang, terakhir ini. Nanti mau cari penginapan.

Po: Perlu ojek? Saya bisa nganterin.

G: …. (Terdiam)

 

Baca juga Petunjuk Jalan : Dieng

****

Tanda Mata Darimu

Posted: October 25, 2013 in Catatan

Ndy

(Migrasi Blog, tulisan asli diposting 16 Agustus 2013)

 

Selendang sutera, tanda mata darimu. Telah kuterima, sebulan yang lalu…

Masih ingat lagu itu? Sebuah lagu perjuangan karya Ismail Marzuki–cocok dengan semangat 17 Agustusan.

Tapi gue bukan mau ngomongin lagu perjuangan itu. Cuma mau minjem sebait aja, ‘tanda mata darimu’.

Yup, hampir tiap kali melancong, gue membawa pulang tanda mata yang gue dapat dari warga setempat. Siapa mereka? Ya tukang jual suvenir lah..hehehe..

Waktu ngubek-ubek Eropa, tanda mata yang gue kejar adalah versi KW-2 kaitan tali pendaki gunung. Itu gue kombinasikan dengan mengirim kartu pos ke rumah.

Pengait tali daki gunung KW-2. Ga bisa buat keperluan mendagi gunung/tebing beneran. Suvenir seperti ini hanya di wilayah Eropa barat.

Sayangnya ga semua kota menjual cenderamata jenis ini. Akhirnya di beberapa kota lainnya, yang gue cari miniatur bangunan atau landmark yang menjadi ikon tempat itu.

Kebiasaan mengejar tanda mata masih gue lanjutkan sampai sekarang.

Dalam mendapatkan tanda mata-tanda mata tersebut, ada beberapa yang perlu ‘perjuangan’.  Di antaranya,  seperti yang pernah gue ceritakan di kisah terdahulu. Yaitu, pengait tali pendaki gunung dari kota Munchen atau Munich, Jerman.

Gue harus menempuh perjalanan sekitar satu kilometer bolak-balik dengan setengah berlari, dari Munchen Hbf (stasiun Munich) ke alun-alun pusat kota, Marienplatz.

Di stasiun juga sebenarnya ada penjual suvernir, tapi ga ada satu pun yang menjual pengait itu. Begitu berhasil membelinya, rasanya puaass banget. Sampai cengar-cengir sendiri. Trus langsung lanjut bergegas balik ke stasiun.

Yang lainnya adalah ketika gue mencoba sampai titik nafas penghabisan, berjuang mencari kantor pos untuk mengirim kartu pos ke rumah. Bikin temen-temen seperjalanan jadi keki karena takut gue ketinggalan kereta.

Itu terjadi ketika di Berlin. Kisah yang ini akan gue ceritakan dengan lebih lengkap di tulisan mbesok. Sabar ya :D

Tidak semua kartu pos gue kirim sendiri. Kartu pos dari Giessen, Jerman, dikirim sama teman yang tinggal di sana. Soalnya waktu gue ke Giessen ga sempat ngirim.

Koleksi kartu pos yang terkirim dari kota/negara asalnya. Berisi pengalaman singkat yang dituliskan real-time di saat menjelajah kota/daerah yang bersangkutan. Hampir semuanya dalam bahasa Jawa.

Kartu pos yang dikirim dari Giessen oleh seorang teman. Karena waktu ke sana ga sempat ngirim kartu pos sendiri.

Ada 2-3 miniatur, seperti Sagrada Familia dan landmark Madrid,  yang gue juga nitip temen. Bukan curang lho. Kota asalnya udah gue kunjungi. Tapi waktu itu yang gue kejar hanya pengait pendaki gunung. Belakangan gue memutuskan untuk mengoleksi kombinasi pengait+miniatur+kartu pos yang dikirim. Syukur kalau dapet tiga-tiganya.

Pinginnya bikin semacam diorama buat miniatur-miniatur tersebut. Tapi apa daya, pingin doank tanpa mengerjakan, hasilnya ya nol.

Selama mengumpulkan miniatur, gue banyak nemuin suvenir dengan cap ‘Made in China’. Kami bahkan punya lelucon bahwa kalau mau keliling dunia cukup ke China aja, suvenir dari semua negara ada…hehehehe…

Pembuatan suvenir rupanya bisa menjadi industri yang menggiurkan buat para pelakunya. Sayangnya di negeri tercinta ini, itu ga digarap serius. Niat mau ngumpulin miniatur/landmark berbagai tempat di Indonesia selalu ada kekurangannya.

Umumnya adalah : 1) tidak tersedia; 2) ga ada label namanya. Paling ga, mestinya diukir/disematkan nama kota/tempat wisata yang bersangkutan; 3) ukurannya kegedean. Kalau untuk yang melancongnya hanya satu dekade sekali sih ga apa-apa. Tapi kalau yang frekuensi melancongnya kerap, miniatur dengan ukuran terlalu besar itu menuh-menuhin tempat.

Koleksi miniatur landmark kota-kota dunia, sebagian besar di Eropa. Miniatur paling tinggi di belakang adalah Martini Toren (Menara Martini) asal Groningen, Belanda.

Masih berharap nantinya daerah-daerah yang punya potensi wisata menyadari itu.  Jangan sampai keduluan suvenir-suvenir ‘Made in China’ yang kemudian pasar pun dikuasai mereka.

Gue punya semacam resolusi untuk traveling tiap tahun. Satu destinasi luar negeri dan setidaknya dua destinasi domestik. Tapi di blog gue, petunjuk jalan hanya untuk destinasi domestik. Tujuannya supaya lebih banyak orang Indonesia yang membaca akan tertarik dan mengunjungi tempat itu, karena sudah tahu bagaimana mencapainya.

Jelajahi negeri, ikut membangun Indonesia lewat pariwisata. Belanja produk setempat dan beli suvenir (miniatur)-nya. Sederhana kok. Yuk, melancong…

Dirgahayu Negeriku,

– M E R D E K A –

****