Archive for the ‘Petunjuk Jalan’ Category

Pulau Kelapa & Pulau Harapan

Posted: December 23, 2016 in Petunjuk Jalan
pulau-perak-copy

Pantai Pulau Perak, sekitar 20 menit naik perahu motor dari Pulau Kelapa. (Senin, 19 Desember 2016)

Seri Kepulauan Seribu, simak juga Pulau Pari.

19-20 Desember 2016 (Peserta 6 orang, termasuk empat orang keponakan kelas 3 SD hingga kelas 1 SMA)

Destinasi : Pulau Kelapa, Pulau Harapan, Pulau Perak.

ATM

Di Pelabuhan Kali Adem Muara Angke tidak ada ATM dan di Pulau Kelapa hanya ada ATM Bank DKI, depan Puskesmas. Bawa uang tunai sesuai kebutuhan.

Transportasi Berangkat

Dari rumah di Bekasi ke Pelabuhan Kali Adem, naik taksi, kena ongkos Rp160 ribu. Berangkat pukul 04.50 WIB. Tiba di Pelabuhan Kali Adem sekitar pukul 05.45 WIB.

Rencana mau naik kapal Kemenhub, tapi ternyata tidak beroperasi di hari Senin itu. Adanya kapal kayu tradisional yang berangkat dari lokasi yang sama. Harga tiket ke Pulau Kelapa Rp55 ribu, beli di tenda halaman parkir pelabuhan. Kapal dijadwalkan berangkat pukul 07.15 WIB, molor dikit jadi 07.20 WIB.

tiket-kapal-copy

lesehan-kapal-copy

Area penumpang lesehan, di bagian belakang ada area tempat duduk. Ini di hari biasa, kalau di akhir pekan bayangkan dengan penumpang 4 kali lipat. (Senin, 19 Desember 2016)

Pulau Kelapa

Tiba lebih cepat dari perkiraan, sekitar pukul 10.15 WIB, karena ombak tenang. Langsung cari penginapan, ditawari homestay Nia (CP Neli 081808977907). Tarif sewa Rp400 ribu/malam (awalnya ditawari Rp500 ribu), ber-AC, dua kamar, dengan ruang tv dan ruang tamu.

Lokasi homestay Nia dari dermaga ambil koridor kiri, terus mengikuti jalan (berbelok kanan sampai mentok, ke kiri mentok, ke kanan). Homestay ada di sebelah kanan, kurang lebih 150 meter dari dermaga. Setelah melewati Puskesmas. 

Di depan homestay Nia ada warung kelontong dan di sebelahnya ada toko. Banyak pilihan homestay di Pulau Kelapa, tinggal cari yang paling cocok.

Sewa perahu untuk bertandang ke Pulau Perak dan snorkelingan dapat yang kurang memuaskan. Perahunya terlalu kecil, walaupun muat juga 6 orang. Enggak nyaman untuk snorkelingan karena tidak ada pijakan untuk naik ke perahu setelah nyemplung ke air.
Tarif sewa Rp350 ribu (awalnya Rp400 ribu) untuk waktu yang hanya setengah hari. Sebaiknya sebelum menyetujui, lihat perahunya dulu. Atau, tanyakan daya tampungnya dan pastikan ada pijakan untuk naik perahu. Sewa peralatan snorkeling Rp35 ribu per set.

Berhubung hanya setengah hari dan yang dibawa ada anak-anak kecil, cuma pergi ke dua spot : Pulau Perak dan tempat snorkelingan dekat Pulau Bira. Kembali ke penginapan sekitar pukul 17.00 WIB.

Tempat lain yang bisa dikunjungi dari Pulau Kelapa/Harapan sebenarnya banyak, misalnya Pulau Bira, Sepa, Semak Daun, Dolphin, dan Pulau Putri. Khusus untuk Pulau Putri dikenai tarif masuk Rp50 ribu/orang.

Pulau Harapan

Pulau Harapan terhubung dengan Pulau Kelapa. Dari dermaga Pulau Kelapa ke kawasan dermaga Pulau Harapan sekitar 2 km. Di pagi hari sampai magrib ada becak yang bisa mengantar. Katanya ongkosnya Rp2.000. Tapi, jalan kaki juga cuma 20 menitan.

jalan-penghubung-pulau-harapan-copy

Jalan menuju Pulau Harapan dari Pulau Kelapa. (Selasa, 20 Desember 2016)

Di Pulau Harapan ada Taman Biota Laut, tempat penangkaran penyu. Tidak banyak yang bisa dilihat, hanya tiga kolam penyu, dan kolam laut untuk empat penyu dewasa yang enggak kelihatan. Tiket masuk Rp5.000 per orang.

Lokasi Taman Biota Laut dari arah dermaga lurus melewati gerbang selamat datang. Ketemu petunjuk arah Tempat Pemakaman Umum (TPU) ikuti saja sampai berbelok ke kiri. TPU ada di sebelah kiri, Taman Biota Laut ada di sebelah kanan.

taman-biota-laut-copy

Tiket masuk Rp5.000 per orang. Jam buka 08.00-17.00. (Selasa, 20 Desember 2016)

 

kolam-penyu-copy

Kolam penyu-penyu junior. (Selasa, 20 Desember 2016)

transit-penyu-copy

Tempat transit penyu dewasa sebelum dilepas ke laut. (Selasa, 20 Desember 2016)

Seperti halnya di Pulau Kelapa, homestay di Pulau Harapan juga banyak pilihan. Tarif kurang lebih sama, rata-rata Rp400 ribu-Rp500 ribu per malam untuk homestay dengan daya tampung sampai  8 orang. Pulau ini lebih bernuansa wisata, tapi penduduk lebih padat di Pulau Kelapa sehingga di hari biasa lebih ramai.

Makanan

Malam hari mau cari warung yang menjual ikan bakar di Pulau Kelapa enggak nemu. Coba ke Taman Terpadu, kawasan dermaga Pulau Harapan, juga sama saja. Walaupun ada empat warung makan yang buka, mereka tidak siap stok ikan untuk dibakar. Paling banter ayam bakar.

Kalau perginya di hari biasa atau non-akhir pekan/libur nasional, tanyakan sekalian ke pemilik homestay bagaimana bisa makan ikan bakar untuk makan malam. Mestinya bisa dicarikan kalau dipesan.

Warung-warung makan hanya jual ikan bakar saat akhir pekan/libur nasional.

Di Pulau Kelapa cuma ada warung nasi biasa, penjual nasi goreng dan mie tektek. Di seputaran Taman Terpadu, Pulau Harapan, ada yang jual bubur ayam, martabak, dan telur gulung.

Pagi di dermaga Pulau Kelapa ada beberapa penjual makanan untuk sarapan : gorengan, nasi uduk.

Transportasi Pulang

Kapal dari Pulau Kelapa ke Kali Adem, Muara Angke, pada non-akhir pekan/libur nasional berangkat hanya sekali, pukul 07.00 WIB. Namun, hari itu karena angin kencang (padahal hari cerah), kapal batal berangkat. Ada kapal lain berangkat dari dermaga Pembakaran (lokasinya di gang yang sama dengan Taman Biota Laut), Pulau Harapan, pukul 09.00 WIB. Baru benar-benar berangkat 09.30 WIB.
Infonya dari mulut ke mulut. Jadi sebaiknya banyak bertanya, memastikan kapal berangkat dari mana dan jam berapa. Ongkos kapal kayu tradisional dari Pulau Harapan ke Kali Adem Rp50 ribu per orang, bayar di atas kapal. Anak SD enggak bayar.

kapal-pulau-harapan-copy

Kapal kayu tradisional dari Pulau Harapan. (Selasa, 20 Desember 2016)

Tiba di Pelabuhan Kaliadem hampir pukul 13.00. Naik bus pengumpan Transjakarta langsung dari parkiran pelabuhan ke Halte Stasiun Kota. Setelah itu nyambung ke jurusan Pinang Ranti. Ongkos cuma Rp3.500. Lalu naik angkot sampai rumah Rp5.000.

Pengeluaran

Catatan : dengan hitungan total tanggungan lima peserta, satu peserta bayar sendiri

Taksi Bekasi-Pelabuhan Kaliadem            Rp160 ribu
Tiket kapal kayu tradisional Pelabuhan Kaliadem-Pulau Kelapa Rp55 ribu x 5 = Rp275 ribu

Peron Rp2.000 x 5 = Rp10 ribu

Makan siang bakso dan mie ayam         = Rp10.000 x 5 =  Rp50 ribu
Sewa perahu = (Rp350 ribu : 6) x 5 =              Rp290 ribu
Sewa penginapan = (Rp400 ribu :6) x 5 = Rp330 ribu

Sewa set snorkeling @35 ribu x 4 =              Rp140.000

Makan malam nasi goreng dan mie tektek = Rp12.000 x 5 =                                  Rp60 ribu
Sarapan nasi uduk untuk 4 orang =            Rp 40 ribu
Segala minum, termasuk milkshake jelly =    Rp50 ribu
Jajanan telur gulung + martabak manis + SARI ROTI  roti kasur + biskuit =  Rp60 ribu
Tiket masuk Taman Biota Laut = Rp5.000 x 5 =  Rp25 ribu
Tiket kapal kayu tradisional Pulau Harapan-Pelabuhan Kaliadem  Rp50.000 x 3 dewasa = Rp150 ribu
Ongkos Transjakarta dari Kaliadem sampai Pinang Ranti = Rp3.500 x 5 =            Rp17.500
Makan siang menjelang sore setiba di Pinang Ranti belum sampai rumah = Rp80 ribu
Ongkos angkot = Rp5.000 x 5 =  Rp25 ribu

Total    Rp1.912.500

Rp382.500 per orang atau sekitar Rp400 ribu per orang

Kawasan Ekowisata Mangrove

Posted: September 16, 2016 in Petunjuk Jalan

Seri Taman Kota: Kawasan Ekowisata Mangrove

(Simak juga Hutan Kota Srengseng)

Jl Pantai Indah Kapuk Boulevard, Kapuk Muara, Penjaringan, Jakarta Utara. Ini menurut Waze dan Google maps. Tapi sebenarnya gerbang Kawasan Ekowisata Mangrove tepatnya ada di Jl Pantai Indah Utara I.

ekowisata-mangrove-kapuk-copy

Dibuka untuk umum pukul 08.00-17.00 WIB

Angkutan umum:

Transjakarta jurusan Pluit (Koridor 9), turun di Halte Penjaringan. Keluar dari halte, menyeberang ke arah kanan. Lalu, naik angkot merah B01 jurusan Grogol-Muara Angke, arah Muara Karang. Turun di depan Pizza Hut Muara Karang (bukan PHD). Menyeberang ke kiri, sambung naik angkot U11 yang banyak ngetem di depan Pizza Hut.

Turun di Burger King (besar, ada di sebelah kiri pojokan). Lalu jalan kaki ga sampai 1 km (sekitar 10 menit) ke kiri, ikuti jalan terus sampai berbelok ke kanan. Kawasan Ekowisata Mangrove ada di sebelah kiri, ga jauh dari belokan itu.

Kalau malas jalan kaki, naik angkot terus bablas melewati RS Pantai Indah Kapuk dan Sekolah Tzu Chi. Angkot berputar di bundaran dan akan kembali melewati jalan yang sama sampai Burger King yang tadi. Lalu, angkot jalan terus melewati depan gerbang Kawasan Ekowisata Mangrove.

U11 adalah satu-satunya angkutan umum yang melewati Kawasan Ekowisata Mangrove.

gerbang-mangrove-copy

Gerbang utama terlihat dari jalan raya.

warung-mangrove-copy

Warung-warung makanan yang terletak di bagian depan, luar Kawasan Ekowisata Mangrove.

Tiket dan Fasilitas

Kawasan Ekowisata Mangrove ini berbeda dengan Taman Wisata Angke Kapuk (TWA) yang berada di bawah pengelolaan swasta. Hutan kota tersebut dikelola Pemprov DKI Jakarta, dengan tiket masuk Rp1.000/orang. Iya, hanya seceng rupiah. Walau begitu, sepertinya cuma di Indonesia aja sih, masuk hutan/taman kota, atau pun kawasan pantai, mesti bayar.

Lengkapnya sebagai berikut:

-Tiket masuk Rp1.000/per orang

-Motor Rp1.000. Ada tempat parkir mobil di bagian luar.

-Foto-foto pre wedding Rp250 ribu/hari

-Shooting Rp750 ribu/hari.

Dengan alasan tiket masuk yang murah (seperti diungkapkan salah satu petugas kawasan), fasilitasnya jauh di bawah TWA. Di Ekowisata Mangrove ga ada penginapan, ga ada boat atau sewa kano/perahu, serta lebih sedikit spot foto yang unik. Wilayahnya cukup luas (panjang tepatnya), dengan pepohonan yang rimbun. Lebih terlihat alami ketimbang TWA.

jalur-dalam-ekowisata-mangrove-copy

Jalur dalam Kawasan Ekowisata Mangrove.

perairan-ekowisata-mangrove-copy

Perairan mangrove di Kawasan Ekowisata.

Monyet Ekowisata Mangrove copy.jpg

Selama berkunjung di Kawasan Ekowisata Mangrove ga kelihatan satu pun monyet. Mungkin lagi bobok sore.

Satu hal yang sangat mengganggu ketika masuk Ekowisata Mangrove. Sepeda motor leluasa masuk, tidak hanya sampai tempat parkir yang disediakan. Padahal, dari tempat parkir sampai spot paling ujung hanya sekitar 500-700 meter, ga jauh jalan kaki.

Di mana ada kolam, sungai, danau, di situ ada saja orang yang memancing. Tidak terkecuali di perairan Ekowisata Mangrove. Cukup banyak orang yang sengaja datang untuk memancing. Plus, di beberapa tempat banyak nyamuk. Jadi kalau ke situ sebaiknya pakai lengan panjang atau beroleskan penangkis nyamuk.

Di bagian luar, setelah gerbang utama, ada deretan warung dan penjual makanan, dekat tempat parkir mobil. Lupa ngecek apakah ada toilet dan musholla, karena udah terlalu sore saat berkunjung ke situ. Tapi kalau toilet mestinya ada.

motor-ekowisata-mangrove-copy

Kendaraan bermotor dan hutan kota itu enggak matching.

mancing-ekowisata-mangrove-copy

Mancing ramai-ramai ditemani tukang kopi kaki lima. Tetep aja, di mana ada orang makan dan minum, di situ ada sampah berserakan.

Andaikan:

– ada fasilitas berperahu/berkano, pemandangan Kawasan Ekowisata Mangrove lebih asyik untuk dinikmati.

– sisi seberang perairan dibuka aksesnya sampai bagian yang ada saung-saung. Jadi, area trekkingnya bisa lebih panjang.

– dibangun jembatan kayu yang menghubungkan sisi sebelah kiri dan kanan badan air, akan lebih menarik.

– sepeda motor dilarang masuk sampai ke jalur dalam. Lalu, digantikan dengan penyediaan sepeda. Itu namanya lebih modern dan ramah lingkungan.
****

Hutan Kota Srengseng

Posted: September 7, 2016 in Petunjuk Jalan

Seri Taman Kota : Hutan Kota Srengseng

(Simak juga Kawasan Ekowisata Mangrove)

Jl Haji Kelik, Srengseng, Jakarta Barat

Dibuka untuk umum tiap hari sampai dengan pukul 17.00 WIB.

Angkutan umum:

1. Kopaja 609 jurusan Blok M-Meruya atau Mikrolet M 48 jurusan Terminal Kalideres-Pasar Cipulir,

turun di Srengseng junction. Masuk Jl H Kelik pas di sebelah Srengseng Junction. Jalan kaki 650 m, sekitar 10 menit. Hutan Kota Srengseng ada di sisi sebelah kanan.

2. KWK B 17 jurusan Grogol-Pasar Inpres Bata Putih, turun di SPBU Pertamina Jl Panjang, pas setelah Holland Bakery. Jl H Kelik ada di sebelah SPBU. Masuk sekitar 800 m,  jalan kaki 10-15 menit. Hutan Kota Srengseng ada di sebelah kiri.

3. Transjakarta koridor 8 Lebak Bulus-Harmoni, turun di Kelapa Dua Sasak. Jalan ke arah datangnya Tranjak dari Lebak Bulus, sekitar 350 m, 5 menit, ke Jl H Kelik. Masuk Jl H Kelik, sekitar 800 m,  jalan kaki 10-15 menit. Hutan Kota Srengseng ada di sebelah kiri.

Tidak ada angkutan umum yang masuk melewati sepanjang Jl H Kelik. Jalan kaki itu menyehatkan.

Fasilitas:

1. Tempat parkir mobil dan sepeda motor. Gratis masuk untuk sepeda dan pengunjung. Kendaraan bermotor dikenai tarif parkir.

2. Warung makan dan minum.

Lot parkir mobil, deretan warung makan, dan parkir sepeda motor di sebelahnya.

3. Musholla dan toilet. Toilet ada di belakang musholla.

4. Taman bermain anak.

Musholla terletak setelah gerbang masuk, di sebelah kiri.

Perlu perbaikan.

Lumayan, ada tempat bermain untuk anak-anak. Walaupun masih terlalu minim wahananya.

Untuk sebuah ruang terbuka hijau yang menyandang nama ‘Hutan Kota’, area Hutan Kota Srengseng kurang luas. Hanya perlu 10 menit keliling naik sepeda. Jalan kaki santai sekitar 30 menit

Meski begitu, di dalamnya sudah termasuk danau buatan yang  mengundang orang memancing. Enggak tahu pasti apa benar ada ikannya, tapi pengunjung yang sengaja datang untuk memancing cukup banyak.

Area dalam Hutan Kota Srengseng hanya boleh dilalui pejalan kaki. Tapi bersepeda juga boleh, asal bukan kendaraan bermotor.

Di dalam area Hutan Kota Srengseng tidak terdengar suara kendaraan bermotor.

Bukan cuma danau buatan dan taman bermain anak, Hutan Kota Srengseng juga punya amphitheatre alias teater terbuka. Ada pula menara panjat dinding, tapi sayang terbengkalai.

Teater alam terbuka Hutan Kota Srengseng.

Beginilah keadaan menara panjat dindingnya.

****

Lampung

Posted: March 25, 2015 in Petunjuk Jalan

Ikan badut di perairan Pulau Loh, Lampung. 20 Maret 2015

19-22 Maret 2015

Solo travelling (penyebabnya simak di sini)

Destinasi : Pulau Balak, Loh, Lunik, Tanjung Putus, dan Kelagian Besar (dekat Pulau Pahawang), serta Taman Nasional Way Kambas, Lampung.

Transportasi Pergi

Menuju Bandar Lampung : 19 Maret 2015 19.00 WIB

Damri Royal Class Gambir-Pool Damri Rajabasa, Bandar Lampung Rp240 ribu, berangkat dari Stasiun Gambir pukul 19.00 WIB.

Saat menumpang ferry, semua penumpang bus harus turun. Bisa menempati dek ekonomi atau upgrade ke dek eksekutif. Di ferry yang gue tumpangi, masuk dek eksekutif dikenai Rp11 ribu. Ferry tiba di bakauheni sekitar pukul 00.30 dan bus meninggalkan ferry kurang lebih 15 menit kemudian. Jangan lupa berbekal makan malam, lebih kenyang daripada beli pop mie di ferry.

Tiba di pool Damri Rajabasa sekitar pukul 03.30. Semula hendak turun di Terminal Rajabasa, tetapi kondektur menyarankan gue turun di pool. “Lebih aman,” katanya.

Pulau Balak, Loh, Lunik, Tanjung Putus, dan Kelagian Besar.

20 Maret 2015

Ternyata menuju ke Dermaga Ketapang bisa menumpang bus Damri (ukuran sedang) yang berangkat dari pool Damri pukul 06.00 WIB. Bus yang lewat Ketapang adalah bus jurusan Hanura-Piabung. Ongkos 10 ribu. Perjalanan hampir dua jam, tiba di Dermaga Ketapang pukul 7.50 WIB. Bus ngetem di Hanura sekitar 15 menit.

Sehari ada tiga jadwal pergi-pulang bus Hanura-Piabung. Bus Damri terakhir melewati Dermaga Ketapang kembali menuju pool Damri Rajabasa sekitar pukul 15.00. Tunggu aja mulai pukul setengah 3, khawatir datang lebih awal. saat gue menunggu, bus tiba pukul 15 kurang lima menit.

Damri jurusan Hanura-Piabung via Dermaga Ketapang, siap berangkat dari pool Damri. Tiap bus dilengkapi no kontak sopir. Untuk bus ini kontaknya 081273176444.

Damri jurusan Hanura-Piabung via Dermaga Ketapang, siap berangkat dari pool Damri. Tiap bus dilengkapi no kontak sopir. Untuk bus ini kontaknya 081273176444. Kontak bus pulangnya 085377949372. 20 Maret 2015

Dari Dermaga Ketapang naik perahu sewaan, ongkos Rp500 ribu/hari. Muat sampai 7 orang. Perahu tersebut jenis kapal cepat alias speed boat yang umumnya disewakan dalam kisaran Rp600 ribu-Rp750 ribu/ hari. Dengan speed boat Pulau Pahawang bisa ditempuh dalam waktu kurang dari setengah jam. Kalau pakai perahu biasa sekitar sejam. Ke Pulau Balak dengan speed boat hanya sekitar 40 menit. Kalau pakai perahu biasa bisa sampai 2 jam.

Karena melihat gue sendirian dan hari itu bukan hari sibuk, si pemilik memberikan tarif Rp500 ribu.  Ada juga perahu biasa.

Kontak pemilik perahu: Pak Jaja 0812-7286-2721. Perahu biasa disewakan dengan tarif Rp500 ribu-Rp700 ribu/hari. Bisa diisi 15 sampai 20 orang. Peralatan snorkeling satu set disewakan dengan harga Rp50 ribu. Pak Jaja juga menyewakan penginapan yang juga bisa diisi 20 orang, sebagian besar hanya gelaran kasur, tanpa tempat tidur. harga sewa Rp600 ribu/malam. Negolah…

Bawah laut di dekat pantai Kelagian Besar. Obyek utamanya ikan hijau itu, tapi karena fotografernya ga gape, jadinya bunutnya aja yang kena. Mesti banyak-banyak latihan--cari alasan banyak main--20 Maret 2015.

Bawah laut di dekat pantai Kelagian Besar. Obyek utamanya ikan hijau itu, tapi karena fotografernya ga gape, jadinya buntutnya aja yang kena. Mesti banyak-banyak latihan motret di air–cari alasan banyak main–20 Maret 2015.

Kontak-kontak selengkapnya di Dermaga Ketapang untuk sewa perahu, alat snorkeling, dan penginapan:

Jaja 0812-7286-2721

Sapta 0852-7942-2990, 0823-7154-9038.

Agus 0813-6957-2407 Bahri 0822-8119-3417; Pin BB 25B5FF27

Penginapan di pulau-pulau:

1. Pulau Balak, contact person : Pak Supartono 0853-8457-0700; 0853-5766-3221. Daya tampung 20-25 orang dengan kondisi seadanya banget. Biaya sewa Rp1,5 juta per malam. Bisa tambah pesan makan Rp20 ribu per porsi. Menu ikan bakar dan sayur.

2. Pulau Tanjung Putus, contact person: Pak Min 0821-7987-9534. Harga sewa kamar daya tampung 12 orang, ber-AC Rp1 juta. Tarif sewa kamar non-AC berkapasitas 10 orang mulai dari Rp300 ribu. Yang paling murah, dengan kondisi yang ga begitu bersih Rp600 ribu, daya tampung hingga 20 orang. Pesan makan Rp20 ribu/porsi, sama dengan di atas.

Pantai Pulau Lunik. 20 Maret 2015

Pantai Pulau Lunik. 20 Maret 2015

Pantai Kelagian Besar. Sesungguhnya kalau foto-foto pantai yang gue kumpulkan diacak, gue ga akan bisa mengenali mana pantai mana. 20 Maret 2015.

Pantai Kelagian Besar. Sesungguhnya kalau foto-foto pantai yang gue kumpulkan diacak, gue ga akan bisa mengenali yang mana pantai mana. 20 Maret 2015.

Pusat Konservasi Gajah, Taman Nasional Way Kambas

21 Maret 2015

06.30 sudah manteng di Terminal Rajabasa, setelah menginap semalam di Pondok Inap Aulia (cukup recommended buat backpacker). Tarifnya Rp185 ribu/malam untuk kamar ber-AC, dan Rp150 ribu untuk non-AC. Letaknya di Jl ZA Pagar Alam No.30, Bandar Lampung. Telp : 0721 707142. Dari Terminal Rajabasa cuma sekitar 5 menit numpang angkot warna biru.

Cegat di depan terminal, ga perlu menyeberang. Dari pool Damri juga naik angkot biru. Idem, ga perlu nyeberang.  Pondok Aulia ada di kiri jalan, sebelah kios rental komik/buku.  Bentuknya ruko. Depan bengkel Isuzu.  Konsep penginapan syariah, lain jenis bukan suami istri dilarang menginap satu kamar.

06.55 berangkat menumpang Damri jurusan Labuan. Bus parkir di bagian depan terminal antarkota Terminal Rajabasa. Terminal Rajabasa terdiri dari dua bagian, bagian depan terminal dalam kota, bagian belakang terminal antarkota.  Ongkos bus dibagi tiga, sampai Metro  Rp15 ribu, sampai Way Jepara (dan Way Kambas) Rp30 ribu, dan Labuan Rp45 ribu.

Turun di Pasar Tridatu, hanya sekitar 20 meter dari gapura Taman Nasional Way Kambas. Durasi perjalanan sekitar 3 jam. Tiba di Tridatu pukul 10 pagi. Nomor kontak bus 081369278345.

Gerbang Taman Nasional Way Kambas. 21 Maret 2015

Gerbang Taman Nasional Way Kambas. 21 Maret 2015

Ke Taman Nasional harus pakai kendaraan, cukup jauh masuknya. Naik ojek sekitar 15 menit. Ongkos ojek kena Rp60 ribu pp (nego), ditunggu sampai pukul 13.00 (durasi dinego juga). Tukang ojek Emen (081279435296). Tarif tiket masuk, menurut Pak Emen Rp15 ribu. Gue ga tau pasti, karena pas masuk ga ada yang jaga loketnya. Jadi ga bayar 😛

Melihat-lihat pusat konservasi gajah ga perlu waktu lama. Sekitar 3 jam itu sudah cukup. Nunggang gajah sejam masuk hutan-lewat rawa-keluar hutan-jadi tarzan (begitu kata si pawang) katanya Rp75 ribu. Gue ga terlalu berminat menunggang hewan.

Bisa menginap di dekat loket Taman Nasional sehingga berkesempatan melihat gajah-gajah mandi. Tapi mohon maaf, ga mencari info detail penginapan di sana. Waktu mandi para gajah sekitar pukul 6-7 pagi.

Sesekali ada pertunjukan gajah, terutama ketika pengunjung ramai. Waktu gue ke sana, kebetulan ada pertunjukan gajah untuk menyambut rombongan ibu-ibu dari Kementerian Pertanian, Jakarta. Menurut Pak Emen, gue beruntung. Biasanya ga ada. Tapi gue ga merasa beruntung, kasihan lihat para gajah itu disuruh geleng-geleng mengikuti musik sambil dijewer atau dilecut.

Lebih menyenangkan ngintipin gajah berendam di tengah hari yang terik. Atau, menggoda gajah belia yang lagi asyik nyemil rumput tanpa pengawasan pawang.

Gajah-gajah cilik menikmati segarnya air seusai 'bekerja'. Pawang menyebut pertunjukan dan tunggangan sebagai ajang kerja para gajah. 21 Maret 2015.

Gajah-gajah cilik menikmati segarnya air seusai ‘bekerja’. Pawang menyebut pertunjukan dan jasa tunggangan sebagai ajang kerja para gajah. 21 Maret 2015.

Gajah ABG lagi ngemil

Gajah ABG lagi ngemil. 21 Maret 2015.

Asyik main air. 21 Maret 2015

Asyik main air. 21 Maret 2015

14.50 bus Damri yang lama dinanti akhirnya datang. Bertolak menuju Rajabasa. Tiba di pool Damri Rajabasa sekitar pukul 17.30 lebih dikit. Bus Damri melewati Way Kambas hanya empat kali, dua kali menuju Labuan, dan dua kali menuju Rajabasa. Damri yang gue tumpangi, dua-duanya merupakan pemberangkatan pertama.

Gue ga tau pasti kloter kedua jam berapa. Tapi menurut keterangan penduduk Tridatu, Damri kedua melewati Way Kambas menuju Labuan sekitar tengah hari, sedangkan ke arah sebaliknya kurang lebih pukul 17.00.

Akibat perjalanan ke Way Kambas dengan tekad mengetahui secara lebih pasti jadwal bus, gue terlambat sampai bandara. Tiket yang sudah terbeli untuk keberangkatan ke Jakarta pukul 18.30 WIB  pun hangus. Bus Damri dari Way Kambas baru masuk daerah bandara menjelang magrib. Padahal gue masih harus mengambil ransel yang dititip di penginapan.  Saran gue, bila langsung pulang via bandara, pesan tiket dengan keberangkatan di atas pukul 20.00 WIB.

 

Transportasi Pulang

Kembali ke Jakarta : 21 Maret 2015 20.00 WIB

Naik travel dari dekat Stasiun Tanjung Karang, jurusan Pelabuhan Bakauheni. Dari Terminal Rajabasa naik angkot warna biru, minta diturunkan di travel, Karang, hendak ke Bakauheni. Ongkos angkot jauh dekat Rp3.000. Ongkos travel Rp55ribu.

Keberangkatan travel tidak berjadwal. Hanya disebut berangkat setelah magrib. Realisasinya berangkat sekitar pukul 8 malam. Perjalanan sekitar 3 jam. Travel menurunkan penumpang di dekat koridor jalan penumpang pejalan kaki, Pelabuhan Bakauheni. Cari plang ‘Loket’ dan ikuti. Kalau beruntung, dapat ferry baru yang interiornya bagus, ga perlu bayar lagi untuk menempati ruang-ruang penumpang yang kelasnya bahkan lebih bagus daripada kelas eksekutif di ferry yang gue tumpangi ketika menuju Lampung. Ongkos penyeberangan ke Merak Rp15 ribu.

22 Maret 2015

Hampir pukul 2 dini hari tiba di Pelabuhan Merak. Tunggu pagi di ruang besar tanpa kursi, tepat sebelum pintu keluar. Bus-bus baru beroperasi sekitar pukul 5 pagi. Keluar Subuh, langsung menuju terminal. Tukang-tukang ojek menawari jasa angkut ke terminal bus sambil bilang, “Terminalnya jauh, pakai ojek aja.” “Terminalnya sudah pindah, mbak!” Ya gitu deh, kadang cari rejeki juga ga masalah berbohong…kata tukang bo’ong.

Ini nih ruang tunggunya, dekat pintu keluar. Pelabuhan Merak, 22 Maret 2015.

Ini nih ruang tunggunya, dekat pintu keluar. Pelabuhan Merak, 22 Maret 2015.

Terminal Merak jaraknya cuma lima menit jalan kaki—-kaki gue. Begitu melewati pintu keluar, ambil arah kiri terus ikuti jalan, melewati palang kendaraan bermotor di sebelah kanan,  agak berbelok ke kanan sampai keluar area Pelabuhan. Terlihat jalan layang. Tengok ke arah kanan, ada Indomaret di kanan jalan. Terus telusuri jalan tersebut melewati Indomaret, ketemu BNI, jalan masuk terminal pas di sebelah kantor BNI.

Kalau masih gelap, ga usah masuk terminal–gelap dan sepii, tunggu di jalan depan jalan masuk. 05.30 naik bus Primajasa jurusan Terminal Kampung Rambutan. Ongkos Rp28 ribu. Perjalanan sekitar 2 jam lebih dikit. Jalanan longgar di Minggu pagi.

 

Pengeluaran

Tiket Damri Royal Class Gambir-Bandar Lampung Rp240 ribu.

Makan malam paket CFC Rp29 ribu.

Ongkos Damri pool Rajabasa-Dermaga Ketapang (jurusan Hanura-Piabung) pp Rp10 ribu x 2 = Rp20 ribu.

Beli bekal makan siang di warung nasi di Dermaga Ketapang, menu ayam dan telor  Rp20 ribu

Sewa speedboat Rp500 ribu

Angkot dalam kota Lampung Rp3.000 x 4 = Rp12.000

Sewa kamar non-AC Pondok Aulia Rp150 ribu

Makan malam baso Mantep + jus alpokat Rp25 ribu.

Ongkos bus Damri ke Rajabasa-Tridatu (jurusan Labuan) pp Rp30 ribu x 2 Rp60 ribu.

Ojek Way Kambas Rp60 ribu.

Travel ke Bakauheni Rp55 ribu.

Penyeberangan Ferry Rp15 ribu.

Makan malam nasi ayam bakar padang Rp18 ribu.

Bus Merak-Kampung Rambutan Rp30 ribu.

Tiket pesawat Bandar Lampung-Jakarta Rp253 ribu (hangus).

Total +/- Rp1,5 juta

****

HOMESTAY MURAH DI JAKARTA. HANYA Rp70 RIBU/BED/MALAM, ATAU  RP100 RIBU PER KAMAR (2 BED TINGKAT) PER MALAM. SIMAK DI SINI.

Sumatra Barat

Posted: August 22, 2014 in Petunjuk Jalan
Jam Gadang Bukittinggi

Jam Gadang Bukittinggi. 17 Agustus 2014

16-19 Agustus 2014

Tim melancong : 4 orang

Destinasi : Bukittinggi (Ngarai Sianok, Jam Gadang, Jembatan Fort de Kock), Harau, Kelok 9, Danau Singkarak, Pulau Pagang, P Sikuai, P Pasumpahan.

Transportasi (berangkat)

Jakarta-Padang Lion Air paling pagi. tiba di Bandara Minangkabau sekitar pukul setengah delapan pagi. Tiket pesawat pp (harga normal) Rp1,4 juta.

Mobil sewaan + sopir jemput di bandara. Tarif Rp350 ribu untuk 12 jam, belum termasuk BBM. Diisi BBM penuh Rp270 ribu–berlebih untuk perjalanan seharian.

Hari 1 : Bukittinggi (Ngarai Sianok), Harau, Kelok 9

Langsung berangkat ke Bukittinggi. Semula rencananya seharian tgl 16 itu dimanfaatkan untuk mengunjungi Harau via Bukittinggi dan Kelok 44-Danau Maninjau. Ternyata waktunya ga cukup.

Sampai di Bukittinggi sekitar pukul 11 siang, mampir sarapan dulu, lalu menikmati pemandangan Ngarai Sianok. Tiket masuk Rp5.000 per orang, termasuk area Goa atau Lobang Jepang.

Monyet Ngarai Sianok. Tempat pandang Ngarai Sianok ini dipenuhi monyet. Tapi ga senakal di Cagar Alam Pangandaran. 16 Agustus 2014

Monyet Ngarai Sianok. Tempat pandang Ngarai Sianok ini dipenuhi monyet. Tapi ga senakal di Cagar Alam Pangandaran. 16 Agustus 2014

Lanjut ke Harau mengunjungi tiga air terjun (sarasah dalam bahasa minang). Tiket masuk Harau Rp5.000 per orang. Yang satu, Sarasah Bunta, air yang mengalir dari atas nyaris tak terlihat saking kecilnya debit air. Air terjun kedua,  Sarasah Murai, agak lebih terlihat airnya. Tempatnya juga lebih menarik karena ada sarana permainan jembatan gantung dan flying fox.

Ditambah satu air terjun yang bisa dipandangi dari penginapan Abdi Homestay (tarif kamar 150 ribu-satu double bed-kamar mandi di dalam; dan Rp200 ribu-satu double bed di bawah dan satu bed di loteng-kamar mandi di dalam. CP Iqbal-pemilik 085263781842). Sayangnya, air terjunnya tidak terlihat mengalir karena sumber air kering di musim kemarau.

Sarasah (air terjun) Murai, Harau. 16 Agustus 2014.

Sarasah (air terjun) Murai, Harau. 16 Agustus 2014.

Salah satu pondokan yang disewakan Abdi Homestay. Tipe dua kamar Rp200 ribu per malam.

Salah satu pondokan yang disewakan Abdi Homestay. Tipe dua kamar Rp200 ribu per malam.

Dari Harau lanjut ke Kelok 9 merasakan dan menikmati keindahan arsitektur jalan teranyar buatan Kementerian Pekerjaan Umum. Tidak ada tiket masuk, hanya membayar parkir kendaraan. Di lokasi ada deretan pedagang kaki lima yang menjual penganan mulai dari jagung bakar sampai indomie. Selepas Kelok 9, mampir makan siang yang sudah kesorean. Sekitar pukul 3 bertolak dari Harau menuju Danau Maninjau.

Pedagang jagung bakar menghadap Jembatan Kelok 9. 16 Agustus 2014

Pedagang jagung bakar menghadap Jembatan Kelok 9. 16 Agustus 2014

Tiba di Bukittinggi hampir pukul setengah lima dan macet. Tidak sempat ke Maninjau karena si sopir harus sudah tiba di Padang pukul 19.00. Kami minta diantar ke hotel yang sudah kami book, Hotel Grand Kartika  di Jl. Teuku Umar.  Tarif Rp375 ribu/kamar/malam. Ada air hangat +sarapan, tanpa AC. Bukittinggi di malam hari cukup dingin, jadi tidak perlu pendingin ruangan. Siang panaass.. Lokasi hotel tidak sampai 10 menit jalan kaki ke alun-alun Jam Gadang.

 

Hari 2 : Bukittinggi, Stasiun Batu Tabal, Danau Singkarak

Membuka hari dengan berkunjung ke Fort de Kock (benteng peninggalan jaman Belanda). Jalan kaki dari hotel tidak sampai sepuluh menit. Tiket masuk Rp10 ribu (dewasa); Rp8.000 (anak-anak). Benteng ini menyambung dengan salah satu dari dua sisi Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan. Kedua sisi dihubungkan oleh Jembatan Limpapeh. Jam operasional objek 08.00-17.30.

Tim Sumbar dengan latar belakang Jembatan Limpaper, sisi Fort de Kock, Bukittinggi.

Tim Sumbar dengan latar belakang Jembatan Limpapeh, sisi Fort de Kock, Bukittinggi.

Replika Rumah gadang di Taman Margasatwa dan Dudaya Kinantan. 17 Agustus 2014

Replika rumah gadang di Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan. 17 Agustus 2014

Jangan lupa tengok si Gendut Beruang Madu di kandangnya.

Jangan lupa tengok si Gendut Beruang Madu di kandangnya.

Sekitar pukul 11 check out dari hotel. Jalan kaki ke arah kanan hotel sekitar 20 meter. Naik angkot carry (bukan kijang) merah ke Terminal Aur Kuning (ongkos Rp3.000). Bilang ke sopir angkot hendak naik angkutan umum ke Solok. Diturunkan sebelum masuk terminal, tepat di pertigaan depan Rumah Makan Simpang Raya dan grosir pakaian. Di salah satu sudut persimpangan sudah ada Elf biru jurusan Solok.

Setelah memastikan Elf tersebut melewati Stasiun Batu Tabal, kami naik. Tiba di Stasiun Batu Tabal sekitar sejam kemudian. Ongkos Rp10 ribu. Sebenarnya kami berencana naik KA Wisata Danau Singkarak yang berangkat pukul 14  dari Stasiun Batu Tabal menuju Sawahlunto via Solok, ternyata keretanya tidak beroperasi sejak Juli. Salah seorang penduduk yang kami temui di stasiun mengatakan KA mungkin akan kembali beroperasi September. Tapi itu juga belum pasti.

Makan dulu di stasiun kecil itu sambil merencanakan perjalanan berikutnya. Ketika mengetahui kami hendak ke Danau Singkarak, seorang bapak yang nongkrong di stasiun menyarankan kami tidak usah jauh-jauh naik Elf menuju lokasi wisata Danau Singkarak. Ia menunjuk ke arah belakang stasiun, “Itu di belakang, Danau Singkarak. Jalan kaki ke sana dekat.”

Si bapak menunjukkan arah jalan menuju Jalan Singkarak. Dari bagian belakang Stasiun Batu Tabal jalan menyusuri rel KA ke arah kiri sekitar 50 meter. Setelah itu terlihat jalan tanah selebar satu mobil di sebelah kanan. Masuk jalan itu sampai ke jalan aspal, sudah terlihat Danau Singkarak. Kami menghabiskan waktu setengah jam berfoto-foto di tepi danau.

Danau Singkarak dari area dekat Stasiun Tabal, Tanah Datar. 17 Agustus 2014

Danau Singkarak dari area dekat Stasiun Batu Tabal, Tanah Datar. 17 Agustus 2014

Karena sudah kehilangan maksud dan tujuan, kami batalkan perjalanan ke Solok/Sawahlunto dan balik ke arah Padang Panjang. Naik angkot kuning turun di pertigaan Kubu Krambil tempat kedatangan Elf dari arah Batusangkar menuju Kota Padang. Ongkos menurut penduduk setempat Rp3.000 per orang, tapi gue kasih Rp4.000 per orang. Lama perjalanan sekitar 15 menit. Sepanjang perjalanan angkot selalu penuh. Rute gemuk sepertinya. Berbeda dengan angkot-angkot di Jakarta dan sekitarnya maupun di Bukittinggi serta Padang, barisan tempat duduk angkot kuning Batu Tabal itu semua menghadap depan. Agak menyulitkan untuk turun. Apalagi bawa ransel penuh.

Ke Kota Padang seharusnya ditempuh dalam waktu 1,5 jam dengan Elf. Namun, karena di jalan ketemu karnaval 17 Agustusan, sempat kena macet hampir satu jam . Alhasil sampai Padang hampir magrib. Ongkos Rp16 ribu per orang. Kami menginap di Hotel Sriwijaya di Jl Veteran (tarif kamar termurah Rp325 ribu/kamar/orang, ada air hangat + sarapan).

Hari 3 : Tur satu hari ke Pulau Pagang, P Sikuai, dan P Pasumpahan

Kami pakai jasa tour & travel : http://www.reginaadventures.com/pagangisland.html

Regina itu nama anak pemilik jasa tur tersebut. Catet! :))

CP Elvis not Presley; Pin BB : 2A75A358 ; Yahoo Messenger : vis79
Mobile 1 : +62 812.6774.5464 ( Telkomsel )
Mobile 2 : +62 819.7531.357 ( XL/whatsapp )

Ambil paket Rp300 ribu per orang; minimal peserta 4 orang. Dijemput di hotel, diantar ke Pelabuhan Bungus, area Tin Tin Homestay. Pindah tangan ke pemilik kapal, digabung dengan 6 turis bule. Berangkat pukul 9 pagi. Pertama mengunjungi P Pagang, lalu SIkuai, terakhir Pasumpahan. Paling bagus, menurut gue, P Pagang. Di situ ada penginapan sederhana dan warung ‘polisi’ Indomie 😀

Perjalanan berakhir pukul setengah 4 sore. Langit agak mendung dan angin kencang. Kapten kapal memutuskan untuk menurunkan kami ke Pelabuhan daratan Sumatra yang terdekat. Lalu dari situ , kami diangkut dengan pick up ke Tin Tin Homestay. Lebih seru daripada mengakhiri perjalanan hanya dengan kapal :)) Selanjutnya, sopir Regina Adv mengantar kami kembali ke hotel.

Secara umum, harga paketnya cukup murah dibanding fasilitas yang diterima. Makan siang nasi goreng, diselingi dua kali sesi makan buah semangka dan nenas.

Pulau Pagang, Sumatra Barat.

Pulau Pagang, Sumatra Barat. 18 Agustus 2014

Pantai Pulau Pasumpahan dalam cuaca agak mendung. 18 Agustus 2014

Pantai Pulau Sikuai. 18 Agustus 2014

Pantai Pulau Pasumpahan dan cuaca mendung. 18 Agustus 2014

Pantai Pulau Pasumpahan dengan cuaca mendung. 18 Agustus 2014

Pelabuhan Bungus juga dilalui angkutan umum dari Pasar Raya, Kota Padang. Ongkos Rp5.000, angkot biru 437 jurusan Bungus. Turun di Tin Tin homestay, sekitar 2 km dari Dermaga BBM Pertamina di Bungus. Dermaga Pertamina itu pemberhentian terakhir angkot yang beroperasi sampai sekitar pukul lima sore.

Bila ingin menginap di Bungus, tarif sewa kamar di Tin Tin Homestay Rp150 ribu, double bed, kamar mandi di dalam.

http://losmentintinbungus.blogspot.com/2013/04/welcome-to-losmen-tintin-tintin-homestay.html

CP : Raoul +  6281266836668 + 6285365220635 Tlpn   :     0751751385 Email : losmentintin@yahoo.co.id

Di sebelah Tin Tin Homestay,  ada Chavery Homestay dengan kamar-kamar penginapan lebih bagus. Tarif sekitar Rp275 ribu-Rp400 ribu/malam (berlaku tawar menawar). Sekitar 1 km dari penginapan ini terdapat air terjun Lubuk Hitam yang bisa jadi alternatif objek kunjungan wisata.

Kuliner

Selama di Padang, gue selalu menyantap makanan berbeda dari satu waktu makan ke waktu makan yang lain. Yang perlu di-highlight ada dua.

1. Pical Sikai. Letaknya di sebelah kiri lokasi pemandangan Ngarai Sianok, Bukittinggi. Ada plang Pical Sikai di pinggir jalan, menunjuk ke arah gang. Masuk gang tersebut sekitar 20 meter, di sebelah kiri ada warung makan seperti warteg. Pical Sikai adalah nama menu utama warung tersebut. Rasanya seperti perpaduan pecel dan asinan Jakarta. Harga per porsi Rp11 ribu.

Pical sikai seporsi Rp11 ribu. 16 Agustus 2014

Pical sikai seporsi Rp11 ribu. 16 Agustus 2014

2. Sate KMS. Karena melewatkan Sate Mak Syukur di Padang Panjang, kami kepingin merasakan sate padang yang enak di Kota Padang. Di Padang tidak ada cabang Sate Mak Syukur, resepsionis hotel merekomendasikan sate KMS. Yang paling dekat dengan lokasi Hotel Sriwijaya adalah di Jl Pattimura. Naik angkot oranye atau putih sama saja, turun di lampu merah kedua. Ambil jalan ke kiri, jalan kaki sekitar 150 meter.  Jalan kemudian bercabang ke kiri dan terus (satu arah). Letak warungnya tepat di sudut kiri. Cabang lain sate KMS terletak di   Pasar Raya Kota Padang Blok A,  dan Jalan Permindo.

Sate KMS. Maaf, lagi laper, makan dulu baru moto 'bekas' satenya. 18 Agustus 2014.

Sate KMS. Maaf, lagi laper, makan dulu baru moto ‘bekas’ satenya. 18 Agustus 2014.

Gue bukan penggemar sate Padang, bahkan cenderung menilai sate Padang ga enak. Tapi, sate KMS ini beneran enak, bumbu satenya pedas nampol. Apalagi, selama tiga hari di Sumbar baru sekali itu ketemu bumbu/sambal yang benar-benar terasa pedas. Mantap lah pokoknya.  Harga per porsi mungkin sekitar Rp16 ribu. Gue tidak tahu pasti harga per porsi karena selain makan sate, kami juga ambil kerupuk dan sala lauk. Total untuk bertiga (kami tinggal bertiga, satu teman sudah meninggalkan Sumbar duluan) Rp52 ribu.

Pusat oleh-oleh di Kota Padang

– Angkot oranye dari arah mall Basko melewati satu toko pusat oleh-olehyang cukup besar. Letaknya di kiri jalan setelah angkot melewati SPR Plaza dan Pasar Raya (di kiri). toko terletak tepat sebelum angkot mengambil belokan agak memutar ke kanan melewati Taman Melati.

– Ada dua toko oleh-oleh dekat Jembatan Siti Nurbaya. Lokasinya hanya dilewati angkot biru 401 jurusan Teluk Bayur-Pasar Raya.

Transportasi (pulang)

Hotel Sriwijaya Jl Veteran dilewati bus Damri dari dan menuju bandara. Ke arah bandara, tunggu di seberang jalan. Bus akan lewat tiap jam pada menit ke 30. Bus Damri bandara berangkat dari Taman Imam Bonjol, di dekat Pasar Raya, Kota Padang (jalan kaki 5 menit), yang berangkat tiap jam pada menit ke 15. Kecuali yang paling pagi, berangkat pukul 4.30. Ongkos Rp22 ribu.

Jadwal keberangkatan Damri ke bandara dari Taman Imam Bonjol, Kota Padang.

Jadwal keberangkatan Damri ke bandara dari Taman Imam Bonjol, Kota Padang.

Padang-Jakarta Lion Air.

Pengeluaran:

Kami pakai sistem bendahara bergilir. Satu orang menangani semua pembayaran dalam satu hari, terdiri dari makan, akomodasi, tiket masuk. Di akhir hari kami bagi empat untuk menentukan jumlah yang harus dibayarkan ke bendahara.

Hari 1 @Rp450 ribu + Hari 2 @Rp270 ribu + Hari 3 @Rp180 ribu + paket tiga pulau Rp300 ribu  = Rp1,2 juta

Pengeluaran pribadi : Tiket pesawat pp Rp1,4 juta (tanpa perburuan tiket murah) + oleh-oleh, suvenir, cemilan, makan, angkot di luar grup, taksi ke Kampung Rambutan, ongkos Damri, pajak bandara (Soetta Rp40 ribu, Minangkabau Rp35 ribu) sekitar Rp600 ribu.

Total Rp 3,2 juta

****
    

HOMESTAY HEMAT DI JAKARTA. HANYA Rp70 RIBU/BED/MALAM, ATAU  RP100 RIBU PER KAMAR (2 BED TINGKAT) PER MALAM. SIMAK DI SINI.