Archive for the ‘Petunjuk Jalan’ Category

Sempu

Posted: October 25, 2013 in Petunjuk Jalan

Ndy

Pantai Segara Anakan

19-20 Oktober 2012 (Peserta 6 orang)

Destinasi: Segara Anakan, Pantai Kembar 1, Pantai Kembar 2, dan Pantai Pasir Panjang.

———————————————————————-

Peringatan

Sebaiknya jangan datang ketika akhir pekan, kayak cendol karena banyaknya pengunjung :p Dan, tolong  jangan tinggalkan sampah sendiri, biarpun hanya puntung rokok atau bungkus permen. Miris banget  melihat betapa banyaknya sampah di jalan seputaran Segara Anakan. Agak beradab dikitlah jadi manusia.

———————————————————————–

Pulau Sempu terletak di Kabupaten Malang, menyeberang dari Pantai Sendang Biru. Perjalanan (gue) dimulai tgl 18 Oktober pukul 15.05 dari Stasiun Pasar Senen, Jakarta, dengan menumpang kereta ekonomi AC Majapahit (tiket promo Rp100 ribu; normal Rp225rb-275rb). Kembali ke Jakarta pada Minggu (21/10) sore juga menggunakan kereta yang sama dengan tarif Rp275 ribu ).

Lima orang teman lainnya sudah lebih dulu tiba di Malang. Gue sampai di Malang hampir jam 8.30 pagi. Kemudian bersama dua orang teman berburu tenda dan matras dengan berbekal kontak:

BaseCamp Adventure Malang
Jl. MT Haryono, Dinoyo-Malang
Call : 0341-7772317/085655510632
SMS08155529897 (update: nomor kontak Basecamp Adventure Malang sudah berpindah tangan. Kecuali yang landline.

Alternatif sewa tenda : Email : shelteradventour@gmail.com
Telp : (0341) 9600696
No Hp : 085649986315 / 082165444535 [WhatsApp]
BBM : 32700F87

@Shelter_ID  (twitter.com)

Sumber : http://www.kaskus.co.id/post/53e665ba620881e6218b4615#post53e665ba620881e6218b4615

Perjalanan ke BaseCamp Adv Malang—> Dari stasiun kereta Kota Malang naik angkot ADL menuju Jl MT Haryono, Dinoyo. Berhenti di seberang gapura Kampung Wisata Keramik. Masuk ke jalan gapura tersebut, melewati Puskesmas di sebelah kanan. Cari nomor jalan Blok 9D, di sisi sebelah kanan. Masuk gang 9D, setelah 3 atau 4 rumah di sebelah kiri (pas turunan), di situlah rumah tempat persewaan tendanya. Ketemu dengan Pak…siapa ya, ga nanya :P . Di depan rumah memang ga ada plangnya. Tapi penduduk sekitar situ tahu tempat persewaan tenda ini.

Harga sewa tenda total Rp150 ribu untuk 2 hari, terdiri dari 2 buah tenda (@Rp20ribu/hari), 6 buah matras (@5ribu/hari) + satu buah ponco (kata bapaknya, siapa tahu hujan dan ada keperluan keluar tenda; dan ternyata memang beguna, buat alas duduk di luar :D ). Kami ga menyewa peralatan masak, hanya membawa roti-roti, coklat, mangga dan nasi ayam yang dibeli di Sendang Biru.

Transportasi

Setelah teman-teman berkemas, akhirnya kami berangkat sekitar pukul 12 siang dari Hotel Santosa tempat mereka menginap, naik angkot AG  Rp3.000/orang) menuju Terminal Gadang. Dari situ pindah ke bus jurusan Gadang-Dampit (Rp5.000/orang) dan turun di Pasar Turen.

Di Pasar Turen sudah menunggu angkot berwarna biru muda jurusan Sendang Biru. Meski sudah mendapatkan tambahan penumpang 6 orang (sebelum kami sudah ada 3 orang penumpang), si sopir masih menunggu angkot penuh. Menurut dia, isi angkot adalah 19 orang! Bayangkan, angkot Carry yang lebih kecil dari Elf itu diisi 19 orang. Gimana duduknya?

Si sopir menawari kami membayar ongkos carteran Rp150 ribu supaya bisa langsung berangkat. Kami sempat beradu argumentasi meminta ongkos diturunkan. Sebab si sopir masih memasukkan penumpang lagi ke angkot, padahal kami sudah sepakat mencarter. Tapi, karena terdesak waktu kami pun mengalah.  Berangkatlah angkot tersebut pada pukul 13.15.

Tiba di Sendang Biru sekitar pukul 14.45. Jadi perjalanan dari Pasar Turen ke Sendang Biru ditempuh dalam waktu 1,5 jam, lebih cepat dari perkiraan kami semula. Si sopir membawa kami masuk ke kawasan pantai. Tiket masuk Rp5.000+Rp1.000 per orang (gue lupa rinciannya). Kami diturunkan pas di depan Pos Kehutanan, tempat kami harus melapor.

Pantai Sendang Biru di sore yang agak mendung.

Kami diceramahi cukup panjang oleh petugas kehutanan bahwa Pulau Sempu adalah cagar alam dan bukanlah tempat wisata. Mestinya kami mengurus ijin terlebih dahulu di kantor konservasi kehutanan di Surabaya. Tapi karena kami sudah telanjur sampai Sendang Biru, kami diperbolehkan berkemah di sana asalkan menjaga kebersihan, tidak meninggalkan sampah, tidak menyalakan api unggun dan selalu bilang ‘permisi’ kalau hendak buang hajat atau buang air kecil. Tujuan nasihat yang terakhir itu adalah untuk menghindari kerasukan. Menurut Pak Petugas, dulu pernah ada pengunjung yang tidak mau diajak pulang oleh teman-temannya, meski sudah dibujuk-bujuk.

Dengan halus si petugas kehutanan mengatakan kami perlu membayar uang administrasi sukarela. Menurut berbagai referensi yang kami gali di internet, setiap grup yang berkunjung membayar uang administrasi Rp20 ribu-Rp50 ribu per grup. Kami memberi Rp30 ribu.

Mungkin sebaiknya Sempu ditetapkan secara resmi sebagai kawasan wisata sekaligus taman nasional seperti di Ujung Kulon. Dengan demikian, negara bisa memungut tarif masuk + asuransi dan masuk sebagai pendapatan bukan pajak, bukan ke kantong pribadi. Dana hasil pendapatan tiket masuk bisa untuk membantu merawat Sempu. Saat ini pun, meski sesungguhnya pengunjung dilarang berwisata di sana, kenyataannya banyak sekali pengunjung yang datang.

Pemandu

Si petugas menganjurkan kami memakai jasa pemandu, apalagi tidak satu pun di antara kami yang pernah ke Sempu. Jalan setapak menuju Segara Anakan memang cukup jelas tetapi di beberapa tempat agak menipis sehingga bisa membingungkan.  Tarif pemandu Rp100 ribu/hari.

Kami setuju. Pak Petugas lalu mencarikan pemandu untuk kami. Sambil menunggu, kami makan dahulu sambil membeli perbekalan makanan di warung. Ternyata di dekat Pos Kehutanan ada tempat persewaan tenda. Tapi kami ga sempat bertanya-tanya ke pemiliknya.

Pemandu yang menemani kami bernama Mas Edi yang sangat hobi mengatakan ‘Anu,…’ setiap kali memulai suatu kalimat. Karena hari sudah sore dan kami menginap di Pulau, ada ongkos tambahan yang harus kami bayar, yaitu Rp25 ribu untuk biaya perahu di pemandu kembali ke Sendang Biru.  Jika pemandu ikut menginap, biayanya menjadi Rp200 ribu (Rp100 ribu/hari). Apabila kami meminta pemandu sekaligus sebagai porter alias pengangkat barang, tarifnya menjadi Rp300 ribu.

Mas Edi, si pemandu yang doyan bilang Anu dan ternyata seorang fotografer candid yang cukup handal.

Kami memilih opsi yang kedua. Paling tidak Mas Edi bisa ikut membantu mendirikan tenda. Oya, salah satu hal yang menggelikan adalah kami siap berkemah di Segara Anakan lengkap dengan peralatan tenda, tapi tidak satu pun dari kami yang pernah mendirikan tenda :p Gue sendiri terakhir berkemah pada waktu SMP. Itu pun tendanya selalu sudah berdiri ketika tiba di bumi perkemahan…huehehehe…

Sekitar pukul empat sore kami siap berangkat. Untuk sampai ke Segara Anakan harus menyeberang pakai perahu ke Teluk Semut dengan waktu tempuh sekitar 10 menit. Tarif penyeberangan Rp100 ribu pp. Tukang perahu siap menjemput kami kembali pada waktu yang disepakati. Mintalah no hp si tukang perahu agar bisa dihubungi sehingga waktu penjemputan tepat, tidak ada yang perlu menunggu di Teluk Semut.

Dari Teluk Semut, perjalanan dilanjutkan dengan trekking menembus hutan selama sekitar 1,5 jam. Kami tiba di Pantai Segara Anakan ketika hari sudah gelap. Suatu perjalanan yang sangat melelahkan karena selain cukup jauh, kami membawa beban berat. Teman-teman yang lain bahkan ransel-ranselnya lebih berat lagi karena sebelum ke Malang mereka terlebih dahulu ke Bromo dan rafting di Pekalen.

Kami merasa beruntung memakai jasa pemandu, karena di saat hari sudah mulai gelap, jalan setapak yang dilalui  tidak lagi jelas.  Belakangan rasa syukur memakai jasa pemandu yang ikut menginap menjadi berlipat. Tanpa pemandu, esok harinya  kami tidak akan sampai ke destinasi yang lain: Pantai Kembar 1 & 2, serta Pantai Pasir Panjang.

Di Segara Anakan & sekitarnya

Touchdown di Pantai Segara Anakan, kami langsung meletakkan tas dan perbekalan. Di sana sudah ada tenda-tenda dua grup lain.  Kami mulai mencoba mendirikan tenda. Tetangga-tetangga baru mendekat dan tanpa diminta langsung membantu kami. Baik banget dah pokoknya. Mereka bilang, untung cewek-cewek, kalo cowok-cowok ga akan mereka bantu…hahahaha…

Dalam waktu yang tidak terlalu lama, dua tenda pun berdiri. Akhirnya kami bisa beristirahat. Satu tenda diisi tiga orang. Menurut bapak pemilik tenda, satu tenda muat lima orang. Untung kami memutuskan untuk menyewa dua tenda. Ternyata setelah didirikan, satu tenda hanya cukup untuk tiga orang. Bisa maksimal untuk empat orang, tapi tidurnya jadi tidak bisa bermanuver :p

Tenda pun akhirnya berdiri di tengah kegelapan.

Keadaan sekeliling gelap. Segara Anakan tidak terlihat, hanya sesekali terdengar bunyi deburan ombak kecil. Kami bercakap-cakap selama beberapa waktu, sebelum masuk ke tenda dan tidur. Saat kami sudah mulai terlelap, hujan turun. Terdengar suara ribut-ribut di dekat tenda. Beberapa orang sepertinya baru datang dan sibuk terburu-buru mendirikan tenda. Belakangan kami ketahui bahwa mereka adalah grup yang sudah mendirikan tenda di bagian pantai yang lebih dekat ke air. Rupanya, menjelang tengah malam air pasang dan tenda mereka terancam kebanjiran :p

Hujan turun tidak terlalu deras, tidak lama kemudian reda. Sepanjang malam tampaknya hujan turun sampai tiga kali, tapi dengan pola yang sama. Esoknya kami bangun pagi-pagi sekali. Tampak Segara Anakan yang tengah surut. Hanya sedikit bagian yang terendam air. Kapan lagi bisa berjalan sampai jauh hampir ke seberang Segara Anakan? :D Beberapa terumbu karang yang masih hidup ikut terlihat.

Segara Anakan pagi hari di saat air surut. Air baru kembali penuh pada sekitar pukul 10 pagi.

Lubang paling besar yang menjadi salah satu lubang tempat air laut masuk memenuhi Segara Anakan.

Karang di tengah Segara Anakan yang masih hidup.

Puas menjelajahi Segara Anakan, kami bersiap trekking ke Pantai Pasir Kembar 1, 2 dan Pantai Pasir Panjang. menurut Mas Edi total perjalanan sampai kembali lagi ke Segara Anakan akan memakan waktu 2 jam. Lebih dari separuh waktu tersebut dipakai untuk foto-foto, kata Mas Edi yang tampaknya sudah maklum dengan perilaku pelancong :p Dia bilang kami akan tiba lagi di Segara Anakan pada saat air sudah penuh kembali, sekitar pukul 10.

Segara Anakan menjelang tengah hari.

Medan trekking secara umum tidak berat. Hanya ketika menuju Pantai Pasir Panjang perlu menuruni tangga seadanya karena kemiringan tebing yang hampir 90 derajat. Gue teringat perjalanan trekking di Ujung Kulon. Perjalanan Sempu memang mirip sekali dengan Ujung Kulon. Banyak trekking dan menikmati pantai-pantai sepi berpasir putih.

Pantai Kembar 1 laksana pantai pribadi…

Yeap, ini dia jalan menuju Pantai Pasir Panjang.

Salah satu bagian Pantai Pasir Panjang.

Setelah menjelajahi pantai-pantai sekitar, kami kembali ke Segara Anakan yang ternyata sudah  penuh airnya…dan lebih banyak pengunjungnya. Tengah hari kami menyelesaikan melancong di Segara Anakan. Perjalanan kembali ke Teluk Semut sudah lebih ringan karena perbekalan sudah habis. Tinggal dua plastik sampah yang turut kami bawa.

Sampai di Sendang Biru sekitar pukul satu. Mobil sewaan dengan tarif Rp400 ribu/12 jam sudah menunggu. Setelah bebersih dan makan siang, kami melanjutkan perjalanan ke Malang untuk mengembalikan tenda. Kemudian, lanjut ke Batu menikmati hawa sejuk seperti di kawasan Puncak sambil makan jagung bakar dan menikmati wedang jahe.

Rincian biaya pokok

(minus makan + pengeluaran pribadi lainnya) :

– Tiket kereta ekonomi AC Majapahit

Jkt-Malang Rp100 ribu (Promo); Malang-Jkt Rp275 ribu

– Sewa tenda 2 buah + ponco Rp150 ribu/6 = Rp25 ribu

– Angkot AG ke Terminal Gadang Rp3.000

– Bus Gadang-Dampit, turun Pasar Turen Rp5.000

– Charter setengah angkot Pasar Turen-Sendang Biru Rp150 ribu/6 = Rp25 ribu

– Tiket masuk Sendang Biru +parkir Rp2.000 (Rp5.000/6 + Rp1.000)

– Tiket ‘siluman’ masuk Sempu Rp30.000/6 = Rp5.000

– Pemandu Rp100.000 x 2 hari / 6 = Rp34.000

– Perahu Sendang Biru-Teluk Semut pp Rp100 ribu/6 = Rp17.000

– Sewa mobil 12 jam, dijemput di Sendang Biru Rp400 ribu/6= Rp67 ribu

____________Biaya dari Jkt Rp558 ribu_________________

Menurut perhitungan ongkos perjalanan Malang-Sempu-Malang + makan, sewa perahu, sewa pemandu, all in setiap orang iuran Rp297 ribu. Ditambah ongkos kereta Rp375 ribu, totalnya Rp672 ribu.

 Alternatif: Tidak Kemping

Menikmati Segara Anakan tidak harus berkemah di sana. Ada alternatif lain tanpa kehilangan momen air surut di Segara Anakan, menjelajahi pantai-pantai sekitar dan ditutup dengan berenang di Segara Anakan.

Pengunjung bisa menginap dahulu di Sendang Biru. Tapi kalau naik angkutan umum dari Pasar Turen jangan kesorean. Paling lambat jam 16.00 karena angkutan umum ke Sendang Biru hanya beroperasi sampai sekitar jam segitu.

Menurut informasi, ada satu penginapan yang cukup representatif di Pantai Sendang Biru. Wisma Wisata Keluarga Sendang Biru Telp:  (0341) 872 083. Kisaran harga per malam : Rp. 100.000 s/d Rp. 150.000. Sebaiknya menelepon dulu untuk mengetahui ketersediaan kamar karena jumlah kamarnya sangat terbatas.

Esok paginya menyeberang ke Pulau Sempu. Usahakan sampai di Segara Anakan sekitar jam 7-8 pagi. Berarti harus berangkat dari Pantai Sendang Biru sekitar jam 6 pagi. Setelah istirahat sebentar sambil melihat-lihat Segara Anakan yang sedang surut, lanjut trekking ke Pantai Kembar 1 & 2, serta Pantai Pasir Panjang. Tiba kembali di Segara Anakan sekitar tengah hari. Nikmati sepuasnya sampai sekitar pukul 15.00, lalu kembali ke Teluk Semut.

****

Curug Malela

Posted: October 25, 2013 in Petunjuk Jalan

Ndy

Air terjun Malela di penghujung musim kemarau masih deras aliran airnya.

31 Agustus 2012 (Peserta 3 orang)

Perjalanan satu hari, pulang pergi ke air terjun (curug, dalam bahasa Sunda) di Kabupaten Bandung Barat, Kecamatan Rongga, Desa Cicadas.  Berangkat pukul 04.20 dari rumah di Bekasi dan tiba kembali di rumah pukul 23.45.

Rute perjalanan & Ongkos

Berangkat : Jkt-Cihampelas-Terminal Ciroyom-Bunijaya-Curug Malela. Pulang: Curug Malela-Bunijaya-Sindangkerta-Cililin-Cimahi-Leuwipanjang-Terminal Lebak Bulus.

05.15 Travel berangkat dari MT Haryono, Jakarta. Seharusnya jadwal berangkat pukul 05.00, tapi supir terlambat bangun karena mengira baru akan berangkat pukul 06.00 (hayyahh). Kemudian menjemput 2 penumpang lain di sekitar Bekasi (gelap, ga gitu ngeh). Ongkos Rp70.000/0rang

07.50 Tiba di Cihampelas. Ke toliet, gantian, sambil meluruskan kaki.

08.00 Naik angkot ke Terminal Ciroyom dengan menggunakan angkot jurusan Cicaheum-Ciroyom (kijang hijau kombinasi oranye). Ongkos Rp3.000/orang.

08.20 Tiba di Terminal Ciroyom. Turun langsung di depan kumpulan elf jurusan Ciroyom-Bunijaya. Kadang tulisannya Bandung-Bunijaya. Naik elf. Bisa juga naik bis jurusan yang sama, tapi menurut info yang gue dapat perjalanannya lebih lama.

Elf Ciroyom-Bunijaya

09.00  Setelah ngetem lamaaa…akhirnya berangkat. Berhubung angkot yang cari penumpang, jalannya kayak keong, bentar-bentar ngetem. Paling lama ngetem di Cililin. Ampuun dah, supirnya sampe matiin mesin n meninggalkan para penumpang yang kepanasan. Kayaknya makan dulu dia.

12.40 Tiba di Bunijaya. Ga ada terminal di sini. Cuma pertigaan, dekat Alfamart. Angkot dan bis memutar di sini dan ngetem menunggu penumpang sebelum berangkat lagi ke Ciroyom. Ongkos elf Rp15.000 (krn salah ngitung, bayarnya kelebihan jd Rp20 ribu per orang :p). Ongkos bis (katanya) Rp20 ribu. Tidak ada angkot/bis jurusan lain yang berangkat dari Bunijaya.

Turun dari elf langsung ditanya tukang ojek, apakah hendak ke Curug Malela. Tau aja tuh tukang ojek. Kata mereka karena kami bawa ransel :p Kami bilang mau makan dulu. Mereka menunggu dengan sabar.

13.15 Siap bertolak ke Malela. Nego ongkos ojek. Mereka menawarkan Rp200 ribu pp> wuiiihhhh, mahal amat. Kami ga mau, langsung menawar Rp50 ribu pp. Akhirnya mereka mau Rp60 ribu. Belakangan, mereka ngeles…menurut mereka bukan Rp60 ribu pp, tapi Rp60 ribu sekali jalan. Makanya, lebih baik benar-benar dipastikan dulu, jangan langsung berangkat.

Kondisi sebagian besar jalan antara Bunijaya-Curug Malela.

Jalan menuju Malela sekitar 12 km, antara lain melewati perkebunan teh. Mula2 jalannya beraspal dengan lubang-lubang. Tidak sampai setengah jalan aspalnya habis diganti jalan tanah berbatu-batu. Jalan pun naik turun cukup curam. Bila memakai kendaraan pribadi, hanya bisa pakai model Jeep. Pakai model SUV atau minibus mengkhawatirkan, bisa dedel duwel :p

Naik ojek serasa naik bajaj dengan tenaga getaran seribu kalinya. Bukan cuma isi usus yang terguncang-guncang. Rasanya ginjal2 dan empedu sempat geser beberapa cm….hehehehehe…

13. 40 Tiba di parkiran sebelum memasuki jalur jalan semen Curug Malela. Lanjut jalan kaki sekitar 20 menit dengan kontur jalan sebagian besar menurun.

Tempat parkir Curug Malela.

Jalur jalan kaki menuju air terjun.

Melewati pematang sawah.

Air terjunnya sudah keliatan dari balik tanaman padi yang gondrong.

14.10-14.15 Tiba di Curug.

Air terjun Malela.

15.15 Menempuh jalan kembali ke parkiran. Kontur jalan didominasi tanjakan, cukup berat buat yang ga terbiasa berolahraga. Hanya mampu sampai ke tempat peristirahatan yang ada bale-balenya. Sepertinya di situ spot buat kemping. Sisa jalan terus menanjak sehingga kami putuskan untuk naik ojek dari situ menuju tempat parkiran. Yupp, ojek2 juga banyak siaga di situ :d Ongkos 10 ribu/orang.

15.50 Kembali dengan ojek ke Bunijaya. Bayar parkir Rp6.000/orang

16.15 Tiba di Bunijaya. Ternyata sudah tidak ada angkot ke Ciroyom. Biasanya angkot terakhir berangkat sekitar pukul 15.00. Memang agak gambling kami pakai kendaraan umum. Tukang ojek kami mengatakan kalau mau naik kendaraan umum mesti ke Sendangkerta dulu. Jarak tempuhnya hampir 1 jam dari Bunijaya.

Perjalanan pulang 

Setelah mengetahui bahwa ongkos ojek pp Curug Malela yang dimaksud adalah Rp60 ribu satu kali jalan alias Rp120 ribu pp. Kami mencoba menawar dengan bersedia membayar Rp120 ribu tetapi minta diantarsampai ke Sendangkerta.  Negosiasi berjalan alot, termasuk pakai telepati segala…maksudnya kami diem2an sampai beberapa lama. Akhirnya mereka menawarkan Rp 150 ribu sampai Sendangkerta. Kami pun setuju.

Perlu diingat, medan jalan dari Bunijaya ke parkiran Curug Malela cukup berat buat motor. Jadi kalau pp dibayar Rp60 ribu juga sebenarnya kasihan juga tukang ojeknya.

Jalan menanjak dari arah curug yang melelahkan. Di atas ada tempat istirahat dengan ojek2 yang siap mengantarkan untuk sisa perjalanan ke parkiran.Di situ juga biasa dipakai sebagai lokasi kemping.

Kami berangkat ke Sendangkerta. Agak ngeri karena tukang ojek kami ngebut dan ga ada satu pun dari kami yang memakai helm. Ditambah lagi pantat dan selangkangan yang sudah terasa nyeri. tapi kami harus menahannya sampai Sendangkerta. Setiba di terminal (kecil) Sendangkerta, sekitar pukul 17.15, ada bis jurusan Leuwipanjang-Sendangkerta yang mengetem. Menurut si kenek, bis hanya akan sampai Cililin dan itupun belum pasti waktu keberangkatannya.

Para tukang ojek yang mengantar kami menawari lanjut naik ojek sampai Cililin. Seinget gue waktu naik elf tadi, jarak tempuh Cililin-Sendangkerta hampir sejam. Seorang teman mengatakan udah nyerah naik ojek, ga bisa lagi. Pada saat itu ada angkot warna kuning lewat dan berhenti di depan kami. Supir bilang angkot sedang menuju Cililin. Seneng banget dengernya… Kami langsung naik ke angkot dan mengucapkan terima kasih kepada para tukang ojek. Lega bisa duduk ‘normal’ lagi. Ongkos Rp5.000 per orang.

Tiba di Cililin pas magrib. Kami memutuskan makan dulu karena perut sudah keroncongan dan otak udah susah diajak berpikir. Sambil makan kami bertanya-tanya ke pemilik warung tentang pilihan rute kendaraan menuju Jakarta. Ada dua alternatif, naik angkot sampai Padalarang dan dari situ naik bis ke Jakarta via tol Cipularang. Pilihan kedua, naik angkot sampai Cimahi setelah itu ganti angkot menuju Terminal Leuwipanjang.

Kami pilih alternatif kedua. Pertimbangannya, akan lebih banyak pilihan bisa dari terminal dan lebih ‘nyaman’ karena kami tidak perlu berdiri menunggu bis di pinggir jalan.

Ongkos angkot Cililin-Cimahi Rp20 ribu bertiga dan dari Cimahi-Leuwipanjang Rp8.000 per orang. Tiba di Leuwipanjang sekitar pukul 20.00. Gue dan seorang teman naik Primajasa jurusan Lebak Bulus via Pasar Rebo. Ongkos Rp50 ribu.  Bis baru berangkat hampir pukul 21.00.

Seorang teman lainnya naik jurusan Merak, via Kb Jeruk. Belakangan gue baru tahu ternyata bis jurusan Merak itu lewat Puncak. Akhirnya dia batal meneruskan perjalanan kembali ke Jakarta dan menginap di rumah tantenya di Bandung. Untung punya tante di Bandung..hehehe

Mengingat perjalanan yang sulit akibat jalan yang jelek, ini salah satu destinasi yang gue ga ingin kunjungi lagi. Kecuali, jalannya sudah lebih bagus. Atau, lebih baik lagi kalau ada skylift dr tempat parkiran ke air terjun.

23.45 Tiba di rumah…..dengan tubuh ‘remuk’. Besoknya masuk kantor, semua sendi badan nyeri. Duduk maupun bangun dari kursi mesti pelan-pelan. Naik turun tangga pun bak nenek2… Baru kali ini abis traveling, badan sakit2nya seperti ini….WHAT A TRIP!!

Biaya perjalanan Rp70 ribu (travel) + Rp3.000 (angkot)+ Rp20.000 (elf) + Rp10.000 (makan siang) + Rp10.000 (ojek curug) + Rp6.000 (parkir) + Rp150 ribu (ojek pp Bunijaya-Curug-Bunijaya-Sendangkerta) + Rp13.000 (makan sore) + Rp5.000 (angkot ke Cililin) + Rp7.000 (angkot Cimahi) + Rp8.000 (angkot ke Leuwipanjang) + Rp50 ribu (Primajasa ke Lebak Bulus) = Rp352 ribu.

****

Karimunjawa

Posted: October 25, 2013 in Petunjuk Jalan

Ndy

Pulau Cemara Besar

Warning: wisata Karimunjawa dominan naik kapal, berenang, snorkeling, basah, kering, basah lagi, kering lagi. Jadi bukan buat yang takut air.

28-29 Juli 2012 (Peserta 4 orang)

Destinasi : Spot snorkeling Pulau Menjangan Kecil, Pulau Cemara Besar dan tempat penangkaran hiu.

Transportasi

Semarang

Jakarta-Semarang : AirAsia promo Rp292 ribu pp. Taksi Bandara A Yani-Pelabuhan Tanjung Mas Rp40 ribu + Rp20 ribu (tips sukarela) + karcis masuk, parkir Rp5.000

Alternatif : kereta Sembrani, Agro Bromo Anggrek. Bis malam  Jkt-Semarang

Kapal Cepat Kartini : Rp299 ribu pp (Executive) Tanjung Mas-Karimunjawa. Harga tiket bisnis beda Rp30 ribu pp dg yang executive. Kelas Executive reclining seat. Tidak ada loket tiket di darmaga tempat KMC Kartini parkir. Hanya ada petugas berseragam ‘loreng’ abu-abu yang melayani penjualan tiket.

Naahh, ini penjual tiketnya. “Bener, Pak. Saya bukan calo.”

Jadwal :  Sabtu 09.00, Senin 07.00 Tj Mas-Karimunjawa;  Minggu 14.00, Selasa 11.00 Karimunjawa-Tj Mas. Waktu tempuh 3,5 jam.

Alternatif :  KMP Muria dengan waktu tempuh 6 jam. Senin, Rabu, Sabtu 09.00 Tj Mas-Kamimunjawa; Minggu, Selasa, Kamis 08.00.

KMC Kartini 1

Jepara

Express Bahari : Senin, Selasa 10.30 Jumat 14.00 Sabtu 10.30 Jepara-Karimunjawa; Senin 13.30, Rabu 10.30, Sabtu 08.00, Minggu 14.00. Karimunjawa-Jepara. Waktu tempuh (klaimnya) 1 jam 45 menit. Tiket Rp80rb sekali jalan.

Kantor Express Bahari

Gerbang darmaga Karimunjawa

Alun-alun dan Penginapan

Sepanjang jalan dari Darmaga menuju alun-alun Kota Karimunjawa (sekitar 1 kilometer; 15-20 menit jalan santai) banyak homestay bertebaran. Kalau malas jalan bisa naik becak motor.

Salah satu homestay.

Bila memilih jalan kaki, melewati gerbang ‘Selamat Datang’  ke kiri ikuti jalan beraspal. Ketemu pertigaan , belok kiri (ada petunjuk jalan–ke arah Kota Karimunjawa). Jalan terus di sebelah kiri akan ketemu rumah makan. Cuma mau menginformasikan di situ harga masakannya lebih murah daripada di rumah makan Bu Ester yang kondang itu.

Lanjut terus, ketemu perempatan, belok kiri. Jangan belok-belok lagi sampai ketemu lapangan bola kecil. Nah, di situlah alun-alunnya. Jangan mengharap alun-alun kayak di Simpang Lima. Alun-alun Karimunjawa lebih mirip lapangan di dalam komplek perumahan :p

Dekat alun-alun ada ATM BRI, satu-satunya ATM di Karimunjawa saat ini. Penginapan yang kami pilih ada di dekat alun-alun, seberang ATM BRI namanya LIA ANDRI (cp: Salim 081325344381). Tarif kamar dengan kamar mandi di dalam, kipas angin, Rp80 ribu/malam. Bisa buat dua orang. Kopi dan teh disediakan, bebas menikmati sepanjang hari.

Kapal dan Perlengkapan

Pemilik penginapan mempertemukan kami dengan seorang pemilik kapal. Berhubung waktu itu ga memakai jasa layanan paket, kapal sewa sendiri dengan tarif Rp300 ribu per hari. Nego karena cuma bisa pakai kapal kurang dari setengah hari pada Sabtu dan setengah hari pada hari Minggu, akhirnya dapat Rp550 ribu/2 hari.

Tukang perahu merangkap jadi guide. Menurut Pak Yasmini, si tukang perahu, lazimnya tidak boleh tur tidak memakai pemandu. Jasa pemandu Rp100 ribu/hr. Maka dari itu, dia mengaku sekaligus menjadi pemandu bila ada yang bertanya.

Sewa peralatan snorkeling : fin, masker, life vest Rp30 ribu per hari, lagi-lagi kami nego hingga dapat Rp30 ribu untuk dua hari. Begitulah enaknya berwisata di hari-hari sepi pengunjung (bulan puasa) :D

Makan

Di siang hari ada warung Bu Ester dan rumah makan yang lebih dekat darmaga. Di malam hari, sejumlah tenda makan bermekaran. Ada yang jualan bakso, jualan somay, jualan aneka jajanan daannn yang paling menarik adalah tenda bakar ikan! :D Berempat makan di situ dengan menu dua ikan ndoro..apa gitu..gede dah pokoknya, plus cumi besar, dibakar, air mineral, es jeruk, total 170 ribu. Hasilnya? ga abis karena kekenyangan :p Mestinya ga usah makan pake nasi :) )

Ini baru satu ikan.

Dan cuminya…tapi cumi bakar tidak terlalu recommended. Kurang enak.

Kegiatan

Sabtu : tiba di Karimunjawa tengah hari. Nyari homestay, nego kapal, cari peralatan snorkeling, persiapan, alhasil baru siap berangkat hampir pukul setengah tiga. Menghabiskan sebagian besar waktu snorkeling di dekat Menjangan Kecil.

Sayangnya lupa bawa roti/biskuit untuk memancing ikan-ikan mendekat.

Sepertinya sudah banyak karang yang mati. Gara-gara turis tidak terlatih, seperti gue juga.

Dari Pulau Menjangan Kecil si tukang perahu menyarankan menikmati matahari terbenam di Jembatan Elizabeth, yang ternyata ada di dekat tempat pemberangkatan perahu tadi siang :P Pak Yasmini bilang kalau melihat sunset di Pulau Tanjung Gelam terlalu ramai, pasti semua turis ke sana. Kami pun termakan bujukannya…hihihi…ya sudahlah.

Menikmati matahari terbenam di Jembatan Elizabeth

Minggu : Janjian sama Pak Yasmini berangkat jam 7 pagi, tapi akhirnya baru siap jam 8 pagi :p Langsung dibawa ke Pulau Cemara Besar yang baguusss bangeettt!!

Karena tidak ada darmaga, jadi harus berjalan kaki sekitar 50 meter mengarungi air menuju Pulau Cemara Besar.

Sepppiiii…serasa pantai pribadi.

Sayang waktunya terbatas. Ga bisa telalu lama di Pulau Cemara Besar. Di situ kami hanya bisa menghabiskan waktu berenang-renang selama sekitar 1 jam. Lalu pergi menuju tempat penangkaran hiu.

Ini kolam hiu putih.

Dan di sebelah kolam hiu putih ada kolam hiu hitam dengan hiu-hiu yang tampak lebih agresif.

Hiunya galak? enggak kok, beneran bisa berenang bersama mereka. Lagipula hiu jenis yang ditangkar bukan hiu yang ganas.  Lihatlah tampangnya, lebih mirip lele tanpa kumis daripada hiu. Pokoknya asal kita ga mengeluarkan darah, ga apa-apa :D Dari kami berempat, cuma dua orang yang berenang dengan hiu, bayarnya Rp30 ribu berdua.

Berburu memoto hiu…susah juga ternyata, lincah-lincah mereka.

Kembali ke penginapan menjelang pukul 12.00. Mandi-mandi, dandan (hayyah), lalu berangkat ke darmaga. Kapal KMC Kartini 1 sudah anteng menunggu dan berangkat tepat pukul 13.00.

Dari kiri ke kanan, KMC Kartini dan Express Bahari di darmaga Karimunjawa.

Jadi berapakah pengeluaran per orang? (Peserta 4 orang)

Tanjung Mas-Karimunjawa-Tanjung Mas = 299 ribu+ (65 ribu:4) + (550 ribu :4) + 30 ribu + (170 ribu : 4) + (80 ribu :2) + Rp15 ribu = Rp580,25 ribu

Catatan : ga makan siang karena puasa :p

Bila ditambah dengan tiket pesawat pp = Rp872,25

Ujung Kulon

Posted: October 25, 2013 in Petunjuk Jalan

Ndy

26-30 April 2012 (Peserta 6 orang + 2 orang nemu on the spot)

Pantai Pulau Peucang. Airnya tenang, jernih (kecuali abis ujan), menyenangkan buat main air dan snorkeling.

Destinasi : Pulau Peucang, Cibom, Ciramea, Tanjung Layar, Cidaon, Pulau Handeuleum, Sungai Cigenter, sumber air panas Cibiuk.

Sebaiknya minum obat antimalaria (klorokuin) karena Ujung Kulon adalah daerah endemi malaria. Menurut keterangan Pak Karsa, Jagawana di sana, sekitar 70% penduduk Ujung Kulon punya penyakit malaria. Dia sendiri mengidap penyakit itu. Malaria belum bisa disembuhkan dan bisa kambuh. Obat antimalaria biasanya diminum seminggu sebelum berangkat. Kemudian diminum setiap minggu pada hari yang sama sampai 3-4 minggu setelah meninggalkan wilayah endemi.

Transportasi

Berangkat (dari depan Slipi Jaya, Jakarta) Kamis, 26 April, pukul 22.00.

Bis jurusan Merak, via Serang. Non-AC Rp10 ribu; AC Ekonomi Rp17 ribu; AC Eksekutif Rp20 ribu. Turun di Terminal Pakupatan Serang. Bis dari segala jurusan di Jakarta menuju Merak beroperasi 24 jam. Durasi 2 jam.

Dari Jakarta bisa juga naik bis jurusan Labuan, dari Terminal Kalideres. Dilanjut elf menuju Taman Jaya atau Cibaliung atau Sumur. Tarif yang umum Rp60 ribu per orang. Kapasitas elf 13-15 orang.

Suasana dalam elf yang kami sewa. Ini isi 6 penumpang. Kebayang kalo isinya full sampai 15 orang…jalan sekitar 6 jam.

Sewa Elf yang memang biasanya melayani jurusan Serang-Taman Jaya Rp1.300.000 pp. CP: Nur 087772246382 (keneknya Pak Sardan yang ngetop itu :p). Janjian ketemu di Terminal Pakupatan Serang. Apesnya bis non-AC dr Jakarta yang kami tumpangi ga masuk terminal. Jadi naik angkot ke terminal Rp10.000 untuk 6 orang.

Bila naik Elf yang umum, adanya sekitar jam 9 sampai tengah hari. Demikian juga elf dari Labuan. Sepertinya cuma ada 1 atau 2 elf yang menuju Taman Jaya. Menurut informasi, lebih banyak Elf yang menuju Cibaliung/Sumur, baik dari Serang maupun Labuan.

Durasi perjalanan Serang-Taman Jaya 6 jam! Karena selain jauh, kondisi jalan mulai dari Sumur sampai Taman Jaya rusak berat.

dari Taman Jaya ke Peucang dan sekitarnya + Handeuleum

Tiba di Taman Jaya sekitar pukul 06.00. Setelah istirahat sarapan dan belanja bahan makanan, berangkat menuju Peucang sekitar pukul 09.00.

Sewa kapal  kapasitas 12 orang Rp1.900.000 + Rp250.000 (tukang masak). Untuk 3 hari 2 malam. CP: Pak Komar 085753638232. Bisa sewa kapal dengan kapasitas lebih besar sampai dengan 20 orang dan 30 orang, mulai dari Rp3 juta.

Kapal berkapasitas 12 orang dengan penumpang yang ceria.

Alternatif sewa kapal, di Taman Jaya.

Jika start dari Sumur, untuk sewa kapal bisa menghubungi Pak Koni 081806296363 (info dari Balai TNUK). Sempat nanya, sewa kapal yang ditawarkan Rp3 juta.

Pulang

Taman Jaya-Serang pakai elf sewaan. Serang-Jakarta dengan bis umum dari Merak. Nunggu dari pintu tol (bukan di terminal) mulai pukul setengah satu dini hari, baru naik hampir pukul 2. Hati-hati copet!

Penginapan

Pulau Peucang (1 malam), kamar Fauna kapasitas 3 orang. Tarif Rp250 ribu per malam. Pesan langsung ke Balai TNUK. Biasanya dengan Pak Julianto. Syarat pemesanan, bayar DP minimal separuh dan dilunasi paling lambat 3 hari sebelum hari H.

Halaman depan penginapan di Pulau Peucang. Shift penampilan–>Malam hingga siang: babi hutan, sore hingga malam: rusa (atau kijang ya?) dan kera.

Kamar Fauna, cukup lega. Kamar mandi di luar.

Jangan lupa konfirmasi pembayaran dengan mengirim bukti transfer melalui fax dan bawa bukti transfernya untuk diserahkan di penginapan.  Karena pihak pengelola di Pulau Peucang jarang berkomunikasi dengan Balai TNUK. Ga ada sinyal euyy…

Info akomodasi http://www.ujungkulon.org/info-pengunjung/akomodasi.

Pulau Handeuleum (1 malam), kamar kapasitas 2 orang. Tarif Rp150 ribu per malam. Extra bed Rp50 ribu per unit. Dari 8 kamar yang tersedia, ada dua kamar di bawah yang memiliki kamar mandi di dalam. Pemesanan terpisah dengan yang di Pulau Peucang. Untuk Handeuleum pesan langsung ke Pak Hartoyo 08176618255. Atau tanya ke Balai TNUK, sapa tahu induk semangnya udah ganti.

Kamar Badak, penginapan di Handeuleum dengan kamar mandi di dalam.

Rusa di Handeuleum lebih jinak.

Tarif Obyek Wisata

Tiket masuk TNUK per orang Rp2.500 + asuransi Rp3.000. (bisa bayar di Peucang atau Handeuleum, pilih sendiri).

Tambat kapal Rp50 ribu. Kapal yang lebih besar Rp100 ribu.

Dermaga Pulau Peucang.

Tur per orang (sudah termasuk Jagawana yang akan memandu): Cidaon Rp10.000; Tanjung Layar Rp15.000; Ciramea Rp20 ribu; Karang Copong Rp10 ribu.

Kegiatan 

Hari pertama, tiba sekitar pukul 12.00 di Pulau Peucang. Perjalanan Taman Jaya-Peucang sekitar 3 jam. Leyeh-leyeh dan makan siang, setelah itu snorkelingan. Tapi karena malamnya abis hujan, airnya keruh jadi ga kelihatan ikan-ikan dan terumbu karangnya. Sore, jam setengah 5 ke Karang Copong menikmati sunset. Trekking sekitar 1 km, waktu tempuh 40-60 menit, tergantung kecepatan berjalan.

Biarpun kurang kondusif untuk snorkeling, tetep asyik buat floating-floating.

Matahari terbenam di Karang Copong. Sayang ketutup awan..Jangan lupa bawa senter.

Hari kedua, naik kapal ke Cibom, trekking Cibom-Ciramea (3 km), Ciramea-Tanjung Layar (3 km), Tanjung Layar-Cibom (1 km)—waktu tempuh dari jam 08.00 sampai 14.30. Fisik mesti kuat. Sarapan yang cukup dan bawa bekal makan siang. Bawa barang seperlunya, supaya ga berat selama di perjalanan. Saya sendiri cuma bawa sebotol Aqua 500 ml (mestinya bawa 2) dan kamera. Bekal makan siangnya dibawakan ABK (anak buah kapal). Dan kalau ga mau pulang-pulang dibilang erotis, eh eksotis, pakelah sunblock.

Sewa boat Cibom Rp200 ribu (aslinya Rp250 ribu, tapi didiskon) untuk mengantar ke pantai sebab kapal ga bisa merapat. Herannya knapa ga dibangun dermaga aja, biar ga boros bahan bakar.

Meski berjalan menembus hutan, hampir tidak mungkin ketemu badak di jalur trekking ini karena terlalu sering dilewati manusia. Kalau ingin bertemu badak, bikin appointment dulu (kyk dokter gigi) dan sabar-sabar nunggu sambil kemping berhari-hari dan berminggu-minggu di kawasan selatan Ujung Kulon. Itu pun belum tentu badaknya mau nongol :p

Speed boat yang mengantar rombongan jalan bego dari kapal ke pantai Cibom.

Di dalam hutan menuju Ciramea. Becek, ga ada ojek, paling pas pake sepatu boots, yang plastik karet tebel itu lho. Atau, sandal gunung.

Pantai Ciramea, tempat para penyu biasa bertelur bulan Juni-Agustus (katanya).

Menyusuri pantai Ciramea menuju Tanjung Layar. Setengah jam lebih menyusur pantai ini yang paling bikin gosong.

Pantai Tanjung Layar, indah dan menggairahkan…wkwkwkwk…

Lanjut naik kapal ke padang penggembalaan Cidaon sekitar 20 menit. Pas banget bantengnya udah keluar. Jadwal banteng tampil di Cidaon adalah pagi sekitar jam 8 dan sore sekitar jam 3.

Setelah itu ngeliat air laut keliatan lebih biru daripada hari sebelumnya, jd gatel pingin snorkeling. Pergilah kami dg kapal ke Legon Kobak. Masih di pantai Peucang, bisa jalan kaki ke kanan menyusuri pantai dari arah dermaga. Jalan terus sampai ketemu rerimbunan pohon yang membuat kita ga bisa terus. Pas di depan pantai yang ga bisa kita tembus jalan kaki itulah lokasinya. Peralatan snorkeling mesti bawa sendiri, karena di daerah UK tidak ada yang menyewakan. Bisa juga pinjam sama ABK (kalau ga keberatan dengan masalah higienis, kayak gue :p)

Rombongan banteng pantat putih di padang penggembalaan Cidaon. Kalau ke sini mesti pelan-pelan mendekat, jangan ribut.

Pemandangan bawah air Legon Kobak

Ikan warna warni di Legon Kobak

Hari ketiga, mendayung kano di sungai Cigenter.  Lokasi ini merupakan tempat badak kadang-kadang nyeberang dan berkubang. Ga nemu badaknya, cuma (katanya) jejak badak dan petunjuk arah ke spa badak. Nemu ular-ular phyton kecil yang sedang tidur bergelung di pohon. Tarif tur per orang Rp50 ribu.

Berkano di sungai Cigenter. Mbok ya sering-sering ikut mendayung, biar masnya ga capek :p

Anak ular phyton yang sedang tidur pulas (kedengeran lg ngorok :p)

Balik ke Taman Jaya tengah hari.  Sesampainya di Taman Jaya menikmati makan siang di tengah hujan. Istirahat. Setelah puas istirahat, matahari kembali muncul. Perjalanan lanjut ke mata air panas Cibiuk sekitar 2 km dari Taman Jaya. Perjalanan pp sekitar 1,5 jam.

Pemandu ke mata air panas Cibiuk dekat Taman Jaya, disediakan Pak Komar. tarif Rp100 ribu<—-kemahalan neh :p

Jalan menuju Cibiuk melewati hutan kecil yang kondisinya setali tiga uang dg perjalanan Cibom-Ciramea-Tanjung Layar. Abis ujan makin berat medannya, becek, sampai mendingan nyeker. Tapi Pak pemandu selalu siap membantu. Gendong pun bisa…

Mata air panas Cibiuk…Iyaaaakk, keciil! Ga bisa snorkelingan di sini..Tapi bisa kok buat mandi-mandi, jangan lupa bawa gayung..

Makan

Begitu tiba di Taman Jaya, Pak Komar langsung menyodorkan nasi uduk untuk sarapan pagi. Dan waktu pulang, beliau menyediakan makan siang kotak. Tentunya setelah itu bayar :p

Sebenarnya ada dapur dan kita bisa masak di Peucang maupun Handeuleum. Bawa bahan makanan sendiri. Di Taman Jaya ada koperasi yang jual makanan kering dan kalengan, termasuk beras, gula, kecap, minyak goreng, dll.Ga jauh dari situ ada yang jual sayur seadanya, bener2 seadanya. Sempat nengok di dapur Peucang, tapi cuma keliatan kompor, entah ada peralatan masaknya atau enggak.

Sewa kapal dengan Pak Komar harus sepaket sama tukang masak. Dan si tukang masak bawa peralatan masak mulai dari langseng penanak nasi, penggorengan sampai piring dan gelas. Tetep mesti beli bahan makanan sendiri.

Waktu itu lupa tanya apakah bisa beli ikan dari ABK (anak buah kapal) karena saat malam mereka pergi mancing. Mestinya bisa dan para ABK itu seharusnya bisa bikin ikan bakar yang enak. Pasti lebih lezat makan ikan bakar daripada sardin kalengan…hiks..*sesal kemudian rasanya lapar*

Pengeluaran

Tim start dari Slipi Jaya 6 orang. Ketemu 2 orang turis keleleran di Taman Jaya yang akhirnya kami tampung sekalian buat meringankan beban saweran kapal :D

Bis non-AC Slipi Jaya-Serang Rp10.000

Angkot ke terminal Rp12.000/6= Rp2.000

Sewa elf : Rp1.300.000 pp/6 = Rp217.000

Sewa kapal (1.900.000)+ tukang masak (Rp250.000) + sarapan 8 orang (Rp60 ribu)+ makan siang 8 orang (Rp86 ribu) + pemandu cibiuk (Rp100.000)= Rp2.386.000/8= Rp298.250

Penginapan Peucang 2 kamar, 6 orang Rp500.000/6= Rp83 ribu

Penginapan Handeuleum 3 kamar, 8 orang Rp450 ribu + Rp100 ribu (extra bed)= Rp400 ribu/6= Rp69 ribu

Bahan makanan —6 buah Aqua 1,5 liter, 2 kaleng sarden, 1 kaleng kornet, 1 kg telor, 6 liter beras, 1 bungkus simas= Rp140.000/6= Rp23 ribu

Tiket masuk TNUK+ asuransi Rp5.500

Tur Cibom, Ciramea, Tanjung Layar, Cidaon Rp55 ribu

Sewa Boat Cibom Rp200.000/8= Rp25 ribu

Kano Cigenter Rp50 ribu

————————————

Rp837.750/orang* +

Tips pemandu (Rp50.000)+ABK (Rp30.000)yang ngikutin sambil bawa bekal makan siang tim Rp80.000/8= Rp10.000

+ bis balik ke Jakarta Rp20 ribu (dpt yang eksekutif, tp kenyamanan duduk ekonomi )

*ngitung saweran di Taman Jaya menjelang magrib sebelum bertolak ke Serang ternyata menghasilkan angka yang tidak akurat. Tiap orang saweran Rp855 ribu, berarti kelebihan Rp17.250 per orang :p

****

Green Canyon (Cukang Taneuh)

Posted: October 25, 2013 in Petunjuk Jalan

Ndy

Kolam renang alam di Green Canyon, Pangandaran

7-9 September 2011 (Peserta 2 orang)

Destinasi : Pantai Batukaras, Green Canyon dan Cagar Alam Pangandaran.

Transportasi

Berangkat (dari Terminal Kampung Rambutan):

Kampung Rambutan-Terminal Pangandaran : bus AC Gapuraning Rahayu, berangkat pukul 07.00, nyampe sekitar jam 16.00 (9 jam). Ongkos Rp95 ribu (tarif normal Rp60 ribu).

Terminal Pangandaran-Terminal Cijulang : bus 3/4 jurusan Kr.Anyar, turun di Terminal Cijulang. Ongkos Rp30 ribu-masih tarif lebaran (kayaknya ini mestinya Rp10 ribu atau Rp15 ribu)

Terminal Cijulang-Pantai Batukaras : ojek 15 menit. Ongkos Rp15 ribu (lagi-lagi tarif lebaran). Normalnya sepertinya Rp10 ribu.

Pantai Batukaras-Green Canyon: ojek 15 menitan. pesen ojek yang nganter dari terminal Cijulang. Ongkos 15 ribu (kemahalan nih, mestinya Rp10 ribu)

Pantai Batukaras, merupakan pantai matahari terbit

Pantai Batukaras diminati peselancar lokal maupun asing. Bisa ikut pelatihan singkat berselancar di sini.

Green Canyon-Pantai Batukaras-Pantai Pangandaran. Ojek dicharter untuk nganterin. Ongkos Rp50 ribu. dari Batukaras ke Pangandaran sekitar setengah jam.

Pulang :

Pantai Pangandaran-Terminal Pangandaran. Becak 10 menitan. Ongkos Rp15 ribu.

Terminal Pangandaran-Terminal Tasik. Bus 3/4 jurusan Cijulang-Tasik non-AC. Ongkos Rp30 ribu (tarif lebaran juga).

Terminal Tasik-Terminal Kamp.Rambutan. Bus AC Primajasa Rp50 ribu (ini tarif normal). Terpaksa lewat Tasik karena bus dari Terminal Pangandaran ke Jakarta cuma ada di pagi hari dan malam sekitar jam 7-8. Di Tasik bis menuju Jakarta, banyaak. Primajasa berangkat tiap jam.

Penginapan

Pantai Batukaras : Hotel Teratai, kamar double bed, semalam Rp160 ribu (ini normalnya mestinya sekitar Rp100 ribu-non wiken).

Pantai Pangandaran. Hotel (lupa :p), deket pintu masuk Cagar Alam, Rp125 ribu twin bed semalam. Mungkin mestinya juga Rp100 ribu-nonwiken.

Tarif Obyek Wisata

Green Canyon. Tiket masuk+perahu = Rp75 ribu, kapasitas 5 orang. Pemandu+jalan,renang sepuasnya di Green Canyon Rp120 ribu optional, tapi kalo ga mau, rugi banget dah). Ga harus bisa renang karena setiap pengunjung dibekali pelampung. Pemandu dilengkapi tas kedap air untuk membawa kamera sekaligus jadi tukang foto :D

Jam buka Green canyon: 07.30-16.00. Jumat 13.00-16.00.

Sungai menuju Green Canyon

Bagian dalam Green Canyon (harus pakai renang ke sini)

Masih di dalam Green Canyon yang harus dicapai dengan berenang.