Archive for the ‘Sela’ Category

Siulan Menggoda dan Kopi 

Posted: August 28, 2016 in Sela

​PERTANYAAN itu tidak pernah lenyap. Dari dulu ada saja yang bertanya, “Emang enggak takut, Win, jalan/pulang (dan sekarang sepedaan) sendirian malam banget?” “Emang aman, Win, jalan malam-malam gini?”

Kalau melihat berita-berita tentang kriminalitas, di Jabodetabek khususnya, memang enggak aman. Tapi gue selalu menjawab kurang lebih begini, “Aman kok. Masih lumayan rame, ga sepi-sepi amat. Jadi, enggak takut. Yang penting selalu berdoa.”

Orang bilang UKI rawan, apalagi malam-malam. Gue bertahun-tahun lewat situ, larut malam, tiap kali pulang kerja, belum pernah ada yang mengganggu. Sekarang, berkeliaran larut malam di daerah Jakarta Barat yang kalau disimak di pemberitaan tidak jarang timbul gangguan keamanan.

Bukan bermaksud jumawa dengan tidak merasa takut. Hanya saja, gue sangat percaya bahwa Allah sebaik-baiknya Pelindung. Lagipula bersepeda di larut malam itu lebih menyenangkan. Kendaraan bermotor hanya sesekali lalu lalang, hawa enggak panas, dan enggak banyak debu.

Air sungai yang tenang dalam gelap kelihatan semarak karena memantulkan lampu-lampu jalan dan rumah. Di pinggir sungai, mulai ada sejumlah orang yang memancing. Mudah-mudahan kelak lebih ramai.

Rasa amannya nyaris sama dengan di Groningen. Hanya saja Jakarta lebih semarak meski larut malam. Tapi kadang masih ada saja yang suka iseng bersiul menggoda, atau menyapa dengan kurang sopan.

Agak beda dengan di Groningen. Bukan bersiul menggoda atau menyapa dengan kurang sopan, melainkan ngajak ngopi.

Suatu ketika gue sedang melaju kencang dengan sepeda. Ransel di punggung. Waktu itu sekitar pukul 1 dini hari. Gue baru pulang ngetrip. 

Saat sedang berkonsentrasi mengayuh, tiba-tiba ada yang menyapa, “Hey!”

Gue menghentikan sepeda sekitar 5-10 meter di depannya dan menengok. Terlihat sosok langsing dan tinggi. Karena ga pakai kacamata gue enggak bisa mengenalinya. Gue kira salah satu teman sekelas. “Yes?”

Cowok itu bertanya setengah berteriak, “Would you like to have some coffee with me?”

Gue bengong sejenak, lalu menjawab,  “No, thank you!” 

Langsung berbalik dan ngibrit naik sepeda. Rasa takut tiba-tiba menyelinap. Setelah beberapa lama, gue mulai cengar-cengir sendiri. Curiga juga sih, bersepeda mungkin meningkatkan produksi serotonin.

Sampai sekarang peristiwa itu masih terbayang  di ingatan. Mungkin kalau gue doyan ngopi, gue akan menerima ajakannya…hahaha… *cewek murahan*

Baca juga: Rasa Takut Entah di Mana

*****

Dua Tiga Ruko Terlampaui

Posted: January 2, 2016 in Sela

SEKITAR dua bulan yang lalu gue akhirnya mengganti sepeda lipat 16 inchi gue dengan sepeda beroda 700c. Kalau dikonversi, diameter roda sepeda baru gue sekitar 28 inchi. Jenisnya sepeda balap, namun tanpa gigi alias single speed.

Sayangnya, sepeda tersebut produk impor. Mereknya London Taxi, berlogo SNI. Pas kebetulan harganya masih masuk di kantong dan bisa dicicil tanpa bunga.

Tadinya gue mengincar sepeda kota lokal keluaran Polygon. Tapi ga ada yg bisa dicicil tanpa bunga. Akhirnya, ‘terpaksa’ beli si Loxi. Dan di sini gue menuangkan tinjauan gue tentang sepeda tersebut.

Loxi ketika baru diantar pihak toko. Setang sudah gue naikkan.

Loxi ketika baru diantar pihak toko. Setang sudah gue naikkan.

Warnanya pink kombinasi warna putih pada setang dan roda. Seperti halnya sepeda balap, posisi setangnya nunduk. Gue ga tahan pakai setang begitu, ga bisa santai. Jadi gue putar posisinya supaya agak tegak.

Sadelnya terasa keras. Untuk mengatasinya gue pasang sarung sadel busa gel. Mayan, ga keras lagi.

Bodinya enteng, sekitar 12 kg sehingga cukup mudah diangkat-angkat. Ini sangat penting karena gue setidaknya dua kali mengangkat-angkat sepeda tiap perjalanan pp rusun-kantor (9-10 km). Itu terutama ketika menghadapi jalan berportal.

Walaupun bodinya enteng, rangkanya kokoh sehingga mantap dikayuh di jalan beraspal. Waktu memakai sepeda lipat 16 inchi gue perlu 2-3 kali kayuhan untuk melewati sebuah ruko. Dengan Loxi, 2-3 ruko terlampaui sekali kayuh..pake ancang-ancang dulu tapi..hehehehe..

Di sini Loxi parkir saat di kantor. Ga ada tempat parkir khusus sepeda.

Di sini Loxi parkir saat di kantor. Ga ada tempat parkir khusus sepeda.

Dan di sini Loxi berdiam saat di rusun.

Dan di sini Loxi berdiam saat di rusun.

Sekarang benar-benar bisa ngebut di jalan, asalkan jalanan longgar. Kalau dulu, pakai si Nitnit, mau ngebut ga bisa (baca juga : Kring, Kring, Gowes Gowes). Sekuat tenaga mengayuh, yang ada malah kaki lepas dari pedal karena pedal sepeda ga sanggup mengikuti gerak kaki.

Berkat Loxi, waktu tempuh lebih singkat dan relatif tidak melelahkan. Yang biasanya sejam saat perjalanan berangkat, sekarang cuma sekitar 45 menit. Dulu rasanya ga sanggup tiap hari bersepeda ke kantor. Sekarang tiap hari ke kantor bersepeda saja rasanya kurang. Nagih.

Memang kualitas, jenis, dan kondisi sepeda sangat menentukan. Waktu di Groningen beberapa tahun lalu, gue sempat lama memakai sepeda gunung, juga single speed. Di brosur iklan pendidikan disebutkan jarak dari asrama gue di Winschoterdiep ke kampus Fakultas Ekonomi dan Bisnis RuG di Zernikeplein, memakan waktu sekitar 15 menit bersepeda. Jaraknya kurang lebih 7 km.

Kenyataannya rata-rata gue menempuhnya dalam 25 menit. Gue penasaran masa ga bisa ngayuh cepat kayak para bule londo itu. Memang mereka rata-rata pakai sepeda onthel yang kayuhannya ringan dengan roda 28-29 inchi. Sedangkan sepeda gunung relatif lebih berat di jalan rata beraspal.

Satu waktu dengan sekuat tenaga gue berhasil sampai kampus dalam waktu 15 menit. Tapi setiba di parkiran sepeda, nyaris kehabisan napas dan pandangan gue berkunang-kunang. Terpaksalah duduk dulu di situ sekitar 5-10 menit. Sama juga akhirnya :p Gue yakin kalau pakai si Loxi, 15 menit sih bisalah, ga pake berkunang-kunang.

Kapan ya bisa jajal? 😀

*****

 

Rusun atau Rumah Tapak?

Posted: October 18, 2015 in Sela

ADA seorang rekan kerja yang mempertanyakan pilihan gue untuk membeli unit rumah susun (rusun) ketimbang rumah tapak. Bagi dia, sama sekali tidak terpikir untuk tinggal di rusun. Terlalu sempit, tidak aman untuk anak-anak, terlalu dekat dengan tetangga, dan banyak lagi minusnya menurut penilaian dia.

Gue membeberkan sejumlah alasan yang kemudian dia pertanyakan lagi. Misalnya, gue memilih unit rusun karena itu yang harganya terjangkau. Lokasinya pun relatif dekat dari tempat kerja di bilangan Kedoya, Jakarta Barat. Mudah naik angkutan umum, walau larut malam sekalipun, karena mobil udah gue jual untuk membayar uang muka dan biaya lain-lain ketika akad kredit.

Tiap bulan gue harus membayar cicilan kredit pemilikan apartemen sekitar Rp2,7 juta hingga tujuh tahun ke depan. Lebih dari itu, mungkin gue ga sanggup. Apalagi masih ditambah ‘jadwal’ ngetrip yang perlu biaya 😀

‘Kan dengan harga yang sama bisa dapat rumah tapak yang di pinggiran?’ Betul, tapi pulang kerja repot karena pekerjaan gue baru kelar jam 9 malam. Kadang-kadang malah baru pulang jam 11 malam atau setelahnya. Berangkatnya sih gampang. Lha pulangnya, ga bisa nyampe kalau pakai angkutan umum.

Taksi? Bangkrut lah ya, karena kalau gue beli rumah tapak pasti lokasinya jauh dari kantor. Sebagai contoh, ongkos taksi dari kantor ke rumah bapak di daerah Pondok Gede, Bekasi, sekitar Rp180 ribu. Bandingkan dengan ongkos taksi ke unit rusun gue di Cengkareng, cuma Rp50 ribu, itu udah dilebihin untuk tips sopir.

‘Ambil yang di daerah pinggiran Depok seperti si A. Itu kan dekat stasiun kereta. Kereta ada sampai jam 12.’ Ya bisa begitu, tapi selalu was-was ketinggalan kereta terakhir.

‘Kalau punya anak gimana? Itu kan tingkat, bahaya buat anak-anak kalau mereka mau main.’ Gue belum punya anak, tapi tetangga gue juga banyak yang punya anak-anak kecil. Kayaknya aman-aman aja.

Andaikan gue punya anak nanti,  ya kalau bisa tinggal di rumah tapak. Harapannya gue bisa beli rumah tapak dengan luasan yang layak, lebih besar daripada unit rusun gue yang hanya 33 m2 dengan dua kamar imut-imut. Plus halaman rumah buat nanam cabai (banyak maunya). Tapi itu perlu bantuan dari bapaknya anak-anak. Ga mampu beli/nyicil sendirian.

Untuk sekarang gue ga merasa perlu untuk memaksakan diri ambil tempat tinggal dengan harga yang lebih mahal demi mendapatkan ruang yang luas. Tapi, karena diberondong pertanyaan yang mengisyaratkan banyaknya minus rusun, ditambah argumen tempat tinggal adalah juga untuk masa depan seterusnya, agak mikir-mikir juga gue.

Sampai pada Sabtu lalu terlibat perbincangan dengan si A. Ingat si A kan? Itu yang rumahnya di daerah Depok minggir, yang dekat stasiun KA.

“Naik kereta kalau wiken penuh. Banyak ibu-ibu, keluarga bawa anak. Ga enak juga kalau duduk, akhirnya tetep gue kasih juga tempat duduk gue ke ibu-ibu gendong anak.”

“Kurang pagi kali. Emang tadi berangkat jam berapa?”

“Berangkat jam setengah 9. Nyampe kantor jam berapa gue tadi? Jam sebelas ya.”

“Oh, sama dong, gue juga setengah sembilan. Nyampe jam 10. Eh salah ding, tadi berangkat hampir jam setengah 10. Naik sepeda…lebih cepet daripada ngangkot.”

Ketika itulah gue kembali meyakini pilihan gue sudah tepat. Itu yang terbaik untuk saat ini karena gue bisa tidur pagi lebih panjang, walaupun dapat giliran tugas rapat pagi….hehehehe..

Plus, bisa buat bantu-bantu yang perlu penginapan-murah. Sejauh ini minusnya baru yang begini.

Rumah tapak? Nantilah kalau ada rejeki dan ada yang bantu beli 😀

****

Ingat-Ingat Penumpang Prioritas

Posted: September 27, 2015 in Catatan, Sela

BEBERAPA bulan lalu melalui curhatan di sini, gue menyatakan ga bisa memperbandingkan kondisi dan perilaku bertransportasi umum antara di Jabodetabek dan di Jepang. Sekarang gue ingin menceritakan pengalaman memakai kendaraan umum di ‘Negeri Matahari Terbit’ tersebut.

Berhubung gue hanya 8 hari di sana, mungkin belum bisa memberi gambaran yang sebenar-benarnya.  Namun, setidaknya bisa diambil gambaran umumnya.

Orang-orang Jepang memang sangat memperhatikan hak yang disediakan bagi penumpang prioritas. Penumpang prioritas itu cakupannya serupa dengan di Jabodebatek, yakni manula, orang sakit/cacat, ibu hamil, dan orang menggendong balita.

Penumpang yang tidak termasuk golongan prioritas lebih memilih berdiri ketimbang duduk di kursi-kursi prioritas. Walaupun, kendaraan cukup penuh. Kerap kali ketika gue naik bus maupun kereta MRT, pemandangan seperti itu yang terlihat. Kalaupun ada nonprioritas yang duduk di situ, biasanya orang asing.

When in Rome, do as Romans do…berperilakulah mengikuti adat istiadat setempat. Terutama bila kebiasaan di situ memang baik. Gue dan teman gue tentu saja mengikuti etika di Jepang. Sebelum duduk, selalu memperhatikan terlebih dahulu apakah ada tanda kursi prioritas.

Sebenernya itu ga susah. Gue sendiri udah terbiasa tidak menduduki kursi prioritas ketika naik Transjakarta dan Commuter Line. Dalam keadaan kosong maupun penuh. Cuma kan posisi kursi prioritas di kendaraan umum Jepang bisa berbeda dengan di negeri kita. Jadi tetep harus lihat-lihat dulu.

Namun, menurut penilaian gue dalam waktu yang pendek itu, etika bertransportasi di Jepang ga jempol-jempol amat. Jempolnya baru soal tidak mengambil hak penumpang  prioritas.

Satu waktu kami naik MRT di Tokyo. Kereta lumayan penuh, tapi masih cukup longgar. Seperti biasa deretan kursi prioritas terlihat kosong. Lalu naik dua orang asing, sepertinya warga negara AS didengar dari logat bahasa Inggrisnya, ibu-ibu. Salah satunya sudah agak tua. Dua lagi pria, sipit sih tapi seperti bukan orang Jepang. Mereka menduduki kursi prioritas.

“We can give it up if there is any…,” ujar ibu yang muda sambil tertawa kecil tanpa menyelesaikan kalimatnya.

Tak berapa lama, naiklah sepasang suami istri. Si istri menggendong bayi, si suami menggendong balita. Sesaat mereka menoleh ke arah kursi prioritas, tidak ada tempat tersisa. Orang-orang asing yang duduk di situ tetap asyik bercakap-cakap.

Tidak ada pula penumpang di dekat suami-istri itu yang seketika berdiri memberi tempat duduk. Sampai kemudian seorang pria yang duduk agak jauh menepuk bahu si istri mempersilakan duduk di kursi yang semula ia tempati. Pria itu bule, orang asing.

Si istri duduk, memangku bayi ditambah anak balitanya yang semula digendong si suami. Repot kelihatannya. Tapi penumpang-penumpang yang duduk di dekatnya seakan tidak peduli.

Di lain waktu, dari kejauhan gue melihat seorang ibu tua yang naik MRT, masih di Tokyo. Semua tempat duduk sudah ditempati, termasuk kursi prioritas. Hanya 2-3 penumpang yang berdiri. Sampai gue turun, ga ada penumpang yang merelakan tempat duduk untuk si ibu.

Jpeg

Agak-agak ga nyambung sih ilustrasinya. Tapi ini juga salah satu moda transportasi umum di Jepang. Daripada ga ada fotonya kan. (Hakone 4 September 2015)

Ada juga saat perjalanan gue naik kereta dari Himeji kembali ke Kyoto. Rupanya kereta itu termasuk kereta komuter. Cukup padat penumpangnya ketika mulai mendekati Osaka. Kebetulan pas jam pulang kerja.

Di suatu stasiun, gue lupa namanya, naiklah seorang bapak berjas memegang tas kantor. Rambutnya sudah putih semua dan kantung-kantung matanya tampak besar seperti bapak kita SBY. Menurut gue, si bapak sudah bisa dikategorikan manula, walaupun masih ngantor. Inget sama bapak gue sendiri di rumah..eh di Arab ding waktu itu.

Tapi ga ada tuh yang memberi dia tempat duduk. Padahal yang duduk di dekat dia masih muda-muda. Bahkan saat ada yang berdiri untuk turun, dengan sigap mbak di dekat si bapak duduk di kursi yang ditinggalkan.

Tiga stasiun berlalu, si bapak masih berdiri sambil terkantuk-kantuk. Akhirnya ada juga penumpang yang memberi si bapak tempat duduknya yang letaknya berjarak dua tempat duduk. Lagi-lagi orang asing.

Jadilah gue berdiri dari Stasiun Shin Osaka sampai Stasiun Kyoto. Untungnya udah longgar dan perjalanan lancar.

Hasil pengamatan gue itu mungkin belum bisa merepresentasikan perilaku orang Jepang ketika menumpang kendaraan umum. Yang jelas satu yang cukup konsisten dan sepatutnya kita contoh: sedapat mungkin tidak menduduki kursi prioritas jika kita tidak tergolong penumpang prioritas.

Mudah-mudahan nantinya penumpang angkutan umum di negeri kita sampai juga pada kebiasaan seperti itu.

*****

Cobaan Kemarau Panjang

Posted: September 20, 2015 in Sela

KALI pertama mengarungi hidup (halahhh) di rumah susun saat kemarau panjang, gampang-gampang susah. Aliran air ke tiap unit dibatasi, adanya hanya di jam-jam tertentu yang sampai sekarang gue ga ingat.

Pokoknya air mengalir di pagi hari dan sore, saat-saat gue jarang menggunakan air. Sore masih di kantor, pagi biasanya belum bangun, kecuali hari itu bertugas rapat pagi.

Penyedia jasa cuci baju langganan gue pun mengeluh. Soalnya jadwal air mengalir kurang sinkron dengan waktu operasional cuci-mencuci. Awalnya, gue cuma senyum-senyum mendengar keluhan itu. Sampai pada suatu ketika kena batunya juga.

Jadi, ceritanya gue baru balik dari tugas liputan di China. Esoknya gue masukan semua baju kotor yang gue bawa ngetrip, ditambah sisa baju kotor yang sebelumnya ga sempat gue setor. Hari itu hari Kamis. Biasanya dua hari kemudian cucian udah kelar.

Rencananya sebagian besar pakaian itu hendak gue bawa lagi. Kali ini ngetrip ke Jepang dalam rangka liburan, selama 8 hari. Berangkat Rabu. Selasa gue rapat pagi dan sebelum berangkat mampir ke tukang cuci, sekitar pukul setengah 9. Ternyata kiosnya masih tutup. Padahal biasanya pukul 8 udah buka. Ya sudah, besok aja, masih sempat lah ngepak, pikirku.

Rabu paginya, waktu itu tanggal 2 September, mampir lagi sambil membawa pakaian-pakaian kotor yang baru. Pakaian gue yang tersisa tinggal celana panjang yang gue pakai, dua lembar kaos oblong, satu blouse, dan atasan kebaya.

Lega melihat kios tukang cuci udah buka. Ketika menyodorkan baju kotor, langsung disambut mbak-mbak tukang cucinya. “Waa, Kak Windy, disatuin aja ya sama yang sebelumnya. Yang kemarin itu juga belum dicuci. Besok deh bisa selesai.”

JENG-JENG…selama beberapa saat gue ga bisa berkata-kata. Cuma bisa nyengir, tertawa dalam hati. Lalu berkata, “Yah, tapi saya mau pergi, baru balik tanggal 10.” Sambil masih nyengir-nyengir ga jelas, seakan kejadian itu ga terlalu berarti.

“Habis, airnya ga karuan ngalirnya, jadi bingung mau nyuci. Besok ga bisa ngambil dulu?” tanya si embak.

“Ga bisa, hari ini saya berangkat. Ya udah, nanti saya ambil kalau udah balik. (Ya apa mau dikata),” kata gue.

Baju sebenarnya masih banyak di lemari. Tapi di lemari kamar gue yang adanya nun jauh di sana, di rumah bokap. Ga sempat kalau harus ke sana dulu, karena jam 4 sore harus sudah tiba di bandara. Sedangkan gue masih bertugas dulu di kantor.

Gue ngepak pakaian yang ada, plus perlengkapan lainnya, sambil terus berpikir apa yang paling baik gue lakukan. Kadang sambil geli sendiri, kok bisa yang beginian terjadi. Biarpun begitu, ngetripnya tetep jalan lah ya. Masa hanya karena kekurangan baju, ga jadi berangkat.

Konsekuensinya, jadi pingin tiarap di got aja waktu berjalan-jalan di Harajuku. Minder banget kalau cuma pakai kaos oblong dan celana panjang di sana. Pas wiken pulak. Enggak stylish babar blas. Nasiib..

Takeshita Street, Harajuku, Japan. 6 September 2015.

Takeshita Street, Harajuku, Japan. 6 September 2015.

****

PROMO : HOMESTAY MURAH DI JAKARTA. HANYA Rp60 RIBU/BED/MALAM, ATAU  RP100 RIBU PER KAMAR (2 BED TINGKAT) PER MALAM. SIMAK DI SINI.