Archive for the ‘Trekkie’ Category

Menjajal Transporter

Posted: July 4, 2014 in Trekkie

DENGAN memanfaatkan momen Star Trek Exhibition (STE) : The Final Frontier di Gandaria City, Jakarta, yang digelar 31 Mei-13 Juli, gue membuat klip vide0 tentang pergi ke Bromo ‘berkendara’ Star Trek Transporter.

Mulanya, gue mencari tahu dari internet bagaimana membuat trik transporter. Sayang ga nemu yang bisa kasih footage efek transporter terbaru versi JJ Abrams. Ada yang pakai, tapi softwarenya ga tersedia trial version. Akhirnya gue menggunakan yang di sini http://www.mediacollege.com/video/special-effects/star-trek/transporter/, berikut tutorialnya.

Lalu, kebetulan gue punya agenda travelling ke Bromo dan Ijen 4-7 Juni 2014. Sekalian lah membuat klip yang berlokasi di tangga menuju puncak kawah Gunung Bromo, Jawa Timur. Klip itu menggambarkan gue baru tiba di Bromo, padahal sih udah nyampe dari dini hari :p Dilanjutkan pada 24 Juni, gue bikin klip kedua yang mengambil lokasi di Transporter Room STE.

Editing dan kompilasi dengan menggunakan Adobe Premiere Pro versi trial 30 hari.

Hasilnya adalah seperti ini :

https://www.facebook.com/video.php?v=10152522173137558&l=7810881213703079868

Invasi Manusia Perenang

Posted: February 23, 2014 in Mimpi, Trekkie

Gue menemukan diri gue sedang menengadah ke langit. Di awan terlihat bayangan samar-samar kapal antariksa yang bentuknya mirip banget USS Voyager. Orang di kapal tersebut menyampaikan pesan bahwa mereka berasal dari tahun 2077.

Penampakan USS Voyager dari bawah. Sumber : http://en.memory-alpha.org/wiki/File:USS_Voyager,_ventral_view.jpg

Penampakan USS Voyager dari bawah. Sumber : http://en.memory-alpha.org/wiki/File:USS_Voyager,_ventral_view.jpg

Tujuannya hendak membantu manusia era sekarang meraih peradaban lebih maju. Salah satunya dengan menularkan kemampuan bergerak di udara tanpa alat bantu. Bukan dengan terbang, tapi dengan berenang. Iya, berenang di udara.

Entah kenapa, itu terdengar mengerikan. Gue bersama sekelompok orang terbirit-birit melarikan diri dengan mobil sejauh-jauhnya dari lokasi kapal tersebut terlihat. Kami ga mau jadi manusia perenang di udara.

Di mobil sambil ketakutan gue juga mikir kenapa gue takut. Kan enak bisa berenang di udara. Tetap aja ga ngaruh, ada dorongan yang sangat besar untuk menghindari manusia-manusia masa depan itu.

Sampai terbangun pun gue masih menyesal kenapa ga mau bisa berenang di udara? Yang lebih membingungkan lagi, kenapa gue mimpi soal kapal antariksa dari masa depan, padahal yang gue tonton sebelum tidur adalah rerun Sherlock. Bukan habis nonton Star Trek.

Sebuah misteri ga penting yang sampai sekarang bikin gue geli pingin ketawa…

Eh, tapi setelah diingat-ingat lagi, malam itu penutupnya nonton Doctor Who pas episode tentang serangan mannequin. Berarti masih ada hubungannya dikit-dikit 😀

 

****

I’m Only Human

Posted: November 21, 2013 in Trekkie

Last night I cried
This morning I laughed
You make me so common
After all I’m only human

Why should I envy the vulcans?
Running around without emotions
I’d rather cry in silent
Being alive in that moment.

Resensi Star Trek Into Darkness

Posted: November 20, 2013 in Trekkie
Media Indonesia, 19 Mei 2013

 

Penjahat Super Kalah Pamor

Kehadiran efek tiga dimensi (3D) pada film Star Trek into Darkness membuatnya lebih nyata dan menarik untuk ditonton.

KAPTEN USS Enterprise James T Kirk (Chris Pine) dan Dr Leonard ‘Bones’ McCoy (Karl Urban) dikejar-kejar sekelompok anggota suku primitif di sebuah planet. Belakangan diketahui, Kirk bersama kru Enterprise tengah mencoba menyelamatkan suku pribumi di planet yang disebut Nibiru dari kepunahan yang disebabkan letusan gunung api.

Kirk memutuskan menyelamatkan Spock meski itu berarti Enterprise harus terbang menampakkan diri. Sebuah rangkaian adegan spektakuler yang diakhiri dengan melesatnya Enterprise ke angkasa disaksikan orang-orang planet Nibiru.

Bukannya mendapat penghargaan, sekembalinya ke Bumi, Kirk dan Spock sebagai pucuk pimpinan Enterprise justru kena sanksi. Aksi kru Enterprise menyelamatkan penghuni Nibiru dari kepunahan melanggar sejumlah aturan Perintah Utama Federasi. Jabatan Kirk diturunkan dari kapten menjadi perwira utama Enterprise, sedangkan Spock dipindahkan ke kapal lain.

Sebuah serangan yang berujung pada tewasnya sebagian besar pemimpin Starfleet membuat Kirk kembali ditempatkan sebagai kapten Enterprise dan Spock menjadi perwira utamanya.

Dari situ kisah bergulir menampilkan manusia super sebagai musuh utama Kirk dan kawan-kawan. Bagi para trekkie, sebutan penggila Star Trek, sang musuh yang bernama asli Khan Noonien Singh tersebut tidaklah asing. Khan yang bersama ke-62 rekannya lahir dari hasil rekayasa genetika dan sempat hampir menguasai dunia pada tiga abad sebelum masa Kirk merupakan salah satu musuh terbesar kru Enterprise.

Dalam Star Trek into Darkness, Khan diperankan Benedict Cumberbatch. Sayangnya, meski mampu memerankan aksi-aksi sebagai manusia super, Benedict kurang menggigit dalam melakoni karakter Khan yang penuh ambisi memusnahkan manusia. Amarah yang diperlihatkannya kalah pamor jika dibandingkan dengan amarah Nero, musuh utama Kirk dan kawan-kawan dalam film terdahulu.

Di sisi lain, pengembangan karakter Kirk, Spock, Uhura, Bones, Scotty, Sulu, dan Chekov cukup memuaskan. Dialog-dialog di antara mereka tidak hanya disisipi ungkapan-ungkapan yang akrab di telinga para penggemar Star Trek, tetapi juga menghibur penonton biasa.

Dalam dua film Star Trek produksinya, JJ Abrams tampaknya ingin menonjolkan Uhura yang pada Star Trek Original Series tidak memiliki peran berarti selain muncul di setiap episode sebagai perwira anjungan. Pekerjaannya bak resepsionis penerima telepon yang tidak pernah ke mana-mana. Uhura yang dulunya tidak diketahui nama depannya kini diberi nama Nyota.

Perwira komunikasi keturunan Afrika itu dalam Star Trek besutan Abrams lebih sering mendapat tugas mendampingi Kirk dan Spock untuk beraksi di luar kapal.

Di luar pakem

Pengembangan karakter yang sedikit di luar pakem adalah karakter Spock. Di Star Trek into Darkness, Spock tergolong sering terlihat emosional.

Itu seperti pada saat Carol Marcus duduk di antara Kirk dan Spock setelah Carol memperkenalkan diri sebagai perwira sains yang baru untuk Enterprise.

Perwira sains merupakan bidang kerja Spock di samping menjabat perwira utama. Meski Kirk sudah menerima Carol, Spock sesaat masih memandangi gadis itu menunjukkan ketidaksenangannya.

Ia bahkan sempat terlihat menangis lalu berteriak penuh dendam di hadapan Kirk yang menghembuskan napas terakhir. Padahal selama ini Spock dikenal sebagai vulcan setengah manusia yang hampir tidak pernah menunjukkan emosi.

Spock yang lebih emosional mungkin tercipta setelah ia menyaksikan planet Vulcan musnah bersama ibunya pada Star Trek (2009). Suatu peristiwa yang tidak pernah dialami Spock versi The Original Series.

Secara umum, visualisasi Star Trek into Darkness amat mengesankan dengan efek-efek visual yang memanjakan mata. Gambaran kapal antariksa masa depan tersaji dengan nuansa teknologi tinggi yang terasa kental.

Salah satu visualisasi yang sangat fantastis ialah ketika tiba-tiba Enterprise dihampiri sebuah kapal Starfleet tidak dikenal yang besarnya dua kali lipat. Padahal seharusnya Enterprise sebagai kapal utama Starfleet memiliki ukuran terbesar dan tercanggih.

Efek visual selanjutnya dengan menampilkan Enterprise yang dikejar-kejar dan dihajar kapal raksasa tersebut juga mampu mencuatkan ketegangan.

Star Trek dan Star Trek into Darkness memunculkan harapan bagi para penggemar akan kehadiran kembali serial baru. Jika pun masih menampilkan kisah Kirk dan kawan-kawan, setidaknya setiap kali Spock memainkan tricorder (alat pemindai) tidak akan lagi tampak seperti pengamen bus kota siap berkaraoke dengan tape portabelnya.