Archive for the ‘Uncategorized’ Category

RESOLUSI 2017

Posted: March 24, 2017 in Uncategorized

DEMI memenuhi salah satu resolusi 2017 (yang dua lagi helm baru dan Hua Shan), gue menghidupkan kembali kesukaan jaman sekolah dan kuliah dulu : membaca buku. Ketika sudah kerja, gue meninggalkan kesukaan itu. Ucapan Bapak bahwa dulu beliau saat seumuran gue membaca buku rata-rata dua buku per minggu, tidak menggoyahkan kepergian gue menjauh dari buku.

Gue membaca buku seperti gue makan. Selalu membaca sampai habis, apa pun bukunya. Agar tidak hilang begitu saja, tiap selesai membaca, gue membuat reviewnya. Berikut rinciannya:

JANUARI

1. The Banker’s New Clothes: Anat Admati & Martin Hellwig. 336 halaman; atau 398 halaman termasuk referensi. Hardcover, milik pribadi.

Membuka ‘dosa-dosa’ bankir yang kerap jadi biang krisis finansial. Pakai analogi dongeng ‘Baju Baru Sang Kaisar’. Setuju banget dengan apa yang diperjuangkan.  (*****)

2. Erebos : Ursula Poznanski; 558 halaman. E-book, iJakarta.

Fiksi yang cukup menarik dan seru. Tentang gim komputer canggih dan adiktif yang terasa sangat nyata bagi pemainnya, seakan ada yang mengawasi mereka. Gim melibatkan misi di dunia nyata, tidak peduli melanggar hukum. 

Agak gampang ditebak ceritanya sehingga di bagian menjelang akhir mengendur keseruannya. Mungkin lebih terasa memikat kalau yang baca remaja. (***)

3. Ketawa-Ketiwi Bareng Nasruddin Hodja : Dian Kristiani, 154 halaman. Ebook, iJakarta.

Isinya cerita-cerita singkat Nasruddin. Ga ada yang bisa bikin ketawa ngikik. Tapi ada satu cerita yang menggelitik, judulnya ‘Cara Tuhan atau Cara Manusia’. (**)

4. Tawa Ala Rasulullah: Abu Islam Ahmad bin Ali, 180 halaman. Ebook, iJakarta.

Berisi kumpulan hadist yang mengisahkan saat-saat Nabi Muhammad SAW tertawa. Di hampir semua hadist yang ada di situ disebutkan Rasul tertawa hingga terlihat gigi-gigi beliau yang putih. Mengingatkan buku kumpulan hadist lain yang kerap menyebut ketiak Rasul yang putih—> brarti ga berbulu kan yak? 😀 (***)

5. Lockwood & Co : The Screaming Staircase-Undakan Menjerit. Jonathan Stroud. 424 halaman. Ebook, iJakarta. 

Cerita horor bersetting London, 50 tahun setelah hantu-hantu mulai mewabah. Pengusiran hantu menjadi industri dengan badan pengawasan khusus. Bikin merinding kalau dibaca pada tengah malam yang sepi, pas di rumah sendirian. Jika dibaca siang hari nuansa detektifnya lebih terasa.

Ceritanya bisa ditebak, tapi kenapa dan bagaimananya yang mesti disimak sampai akhir. (***)

6. Muhammad #1 Lelaki Penggegam Hujan. Tasaro GK. 650 halaman. Ebook, iJakarta.

Novel biografi Nabi Muhammad SAW ini dibuat bak perpaduan buku sejarah Islam, tafsir Al Quran, kumpulan hadist, dan cerita silat Kho Ping Ho. Mencerahkan, seru, dan mengharu biru. Disisipi cerita fiksi kisah cinta segitiga Kashva-Astu-Parkhida yang juga bikin air mata menetes. Alur ceritanya maju-mundur, tapi enggak membingungkan. 

Bagian satu mengambil periode mulai dari jelang kelahiran Nabi Muhammad yang dinubuatkan oleh banyak agama di pelosok dunia, hingga penaklukan Kota Mekah oleh pasukan muslim tanpa peperangan. 

Ada sempilan kisah yang menggambarkan betapa sayangnya Rasulullah SAW kepada sesama makhluk. Sedangkan makhluk yang diceritakan itu sekarang malah banyak dilempari batu, dipukul, dan dibenci. (*****)

7. Seri Lawasan-Pit Onthel. 90 halaman. Ebook-iJakarta.

Isinya tentang sejarah sepeda dan pabrikan-pabrikan yang mulai ada sebelum Perang Dunia I. Kebanyakan ada di Belanda. Ini mungkin menarik buat penggemar sepeda onthel, sepeda yang dianggap barang kuno dan langka. Padahal di Belanda, mayoritas sepeda yang merajai jalanan hingga kini adalah model sepeda onthel. Dan produksinya baru. Di sini aja sepeda onthel istilahnya ‘enggak model’. (**)

FEBRUARI

1. Muhammad. Martin Lings. 680 halaman. Koleksi pribadi (dibeli ketika enggak kunjung bisa mengunduh jilid kedua seri novel biografi Muhammad karangan Tasaro GK).

‘Hei Win, dapat salam dari Tuhanmu!’

Kalimat tersebut diimajinasikan dengan bersumber dari salah satu kisah di buku biografi Nabi Muhammad SAW tulisan Martin Lings. Satu dari sedikit kisah di buku ini yang berhasil meninggalkan kesan mendalam. 

Buku ini detail membicarakan silsilah di sekeliling kehidupan Rasulullah dan musuh-musuhnya. Si anu menikah dengan A. Pamannya punya adik menikah dengan B. Adik ibunya punya saudara satu bapak yang menikah dengan saudaranya si C. 

Penyajiannya lebih mirip diktat ilmiah. Nyaris tanpa jiwa.  Rasulullah melakukan ini, mengatakan itu, perang sana, perang sini. Dapat rampasan ini, itu. Di sana melamar si X,  di situ melamar Y,  setelah anu gugur menikahi istrinya. Menyayangi si fulan, mengasihi si anu. Justru kurang mengagungkan Rasulullah. Emosinya enggak dapat. Hanya di 2-3 cerita saja mungkin yang bisa membangkitkan emosi.

Atau, barangkali penerjemahannya yang kurang menjiwai. Tapi setidaknya buku ini cukup lengkap memberikan pengetahuan tentang riwayat hidup Nabi Muhammad SAW. (***)
2. The Winter People. Jennifer McMahon. 447 halaman. Ebook, iJakarta.

Empat generasi, dua sumber kengerian. Yang satu abadi. Alur ceritanya berliku-liku menyusuri antargenerasi secara maju mundur. Semua bertalian. Susah ditebak apa yang sebenarnya terjadi. Horor yang lebih mencuatkan misteri ketimbang bulu kuduk. Cakep. (****)

3. Ibuk. Iwan Setyawan. 291 halaman. Ebook, iJakarta.

Novel jurnal hidup seorang anak yang lahir di tengah keluarga papa. Lumayan buat bacaan selingan di hari libur. Mengingatkan untuk selalu dekat dengan orangtua, memperhatikan dan sebisa mungkin bikin senang mereka yang sudah susah payah membesarkan kita. Satu yang agak bikin heran, kakak sulung karakter utama dalam novel ini dapat uang saku Rp1.000 sehari ketika di SMA. Sedangkan gue dulu cuma gopek, di Jakarta pula. Itu termasuk ongkos bus pp. Padahal usia gue beberapa tahun di bawah si karakter utama di novel ini dan hidup keluarga gue rasanya ga sesusah keluarga Ibuk. Hidup memang perjuangan. (***)

4. Kisah-Kisah Tengah Malam-Tales of Mistery and Terror . Edgar Allan Poe. 245 halaman. Ebook, iJakarta.

Capek bacanya. Bahasanya terlalu berbunga-bunga. Seperti nonton drama teater. Cerita-ceritanya absurd, dipenuhi karakter-karakter gila, atau setidaknya setengah sinting.

Enggak ada yang menyeramkan. Tapi ada yang mengundang tawa, yaitu perilaku para ilmuwan di cerita mummy. 

Setelah baca buku ini, jadi kepingin nanya, di mana bisa gabung ‘komunitas relatif sukses nan ceria’? (**)

5. Miracle of Endorphin. Dr Shigeo Haruyama. 262 halaman. Ebook, iJakarta.

Mengajak pembaca membayangkan tubuh manusia sebagai pabrik farmasi raksasa dan sangat canggih yang bisa memproduksi obat untuk menghancurkan hampir semua biang penyakit. Utamanya, penyakit yang disebabkan gaya hidup, seperti kanker dan jantung. Induk obat itu adalah morfin yang diproduksi secara alami oleh tubuh, tanpa efek samping, tanpa menimbulkan candu. Sebuah karunia Tuhan yang mendorong kita agar mengejar kebahagiaan hakiki. Ada tips-tipsnya.

Menarik, untuk yang ingin menghindari penuaan dini, dan ingin terus sehat sampai ajal menjemput.

Isinya agak bikin nguap, tapi banyak ilmunya.  Ingat: kemajuan perut berbanding lurus dengan jumlah kematian sel-sel otak. (***)

6. Without Remorse. Tom Clancy. 750 halaman. Buku yang udah lama teronggok di rak buku kamar di rumah Bapak.

Novel model begini yang menurut gue membuang-buang halaman. Deskripsinya terlalu panjang, ke mana-mana. Kalau ini difilmkan plek, di banyak bagian bisa ditinggal bikin mie instan dulu, tanpa perlu di-pause. Ceritanya so-so, enggak terlampau membangkitkan rasa penasaran. 

Yang menarik soal kehidupan di salah satu sudut Baltimore, AS, dalam cerita ini. Mulai pukul 20.30 ‘keramaian’ diisi pedagang narkoba dan pembelinya sampai sekitar pukul 02.00. Mirip di sini. Tinggal ganti pedagang narkoba dengan tukang pecel lele, martabak, sate, dan yang enak-enak lainnya.  (**)

MARET

1. Muhammad Sang Nabi. Karen Armstrong. Koleksi teman (berencana beli satu copy untuk koleksi sendiri). 409 halaman. 

Inti dari buku ini membantah persepsi yang menyebut Islam agama pedang dan tidak toleran. Begitu pula dengan pandangan-pandangan yang melecehkan sosok Nabi Muhammad.

Penulis menempatkan berbagai perilaku komunitas Islam di bawah kepemimpinan Nabi Muhammad SAW  dalam konteks-konteks tradisi Arab. Ini berbeda dengan karya Martin Lings yang miskin penjelasan kontekstual. Di buku ini lebih banyak menyisipkan ayat-ayat Al Qur’an dengan peristiwa yang melatarbelakangi.

Karen Armstrong lebih terang menerangkan tentang konteks berbagai ajaran/tradisi/peristiwa di periode kehidupan Nabi Muhammad SAW. Seperti yang terkait poligami, persepsi hijab, perseteruan Aisyah dan Ali, pengangkatan harkat perempuan, dan perampokan/penjarahan sebagai pencaharian. 

Gambaran tentang sifat-sifat Rasulullah SAW yang disebutnya seorang negarawan jenius sekaligus manusia berperasaan lembut dan berakhlak mulia menguatkan kesan kekaguman penulis pada sosok Muhammad. Kagum, tapi bukan secara berlebihan.

Kejeniusan Rasulullah, misalnya, membuat ‘acara duduk-duduk’ (istilahnya bikin ketawa) yang ternyata berujung pada kemenangan besar umat Islam.

Satu pertanyaan setelah baca buku ini: sejak kapan sesungguhnya shalat 5 waktu diterapkan?(****)

2. Middlesex. Jeffrey Eugenides. Koleksi teman. 529 halaman.

‘Pemenang Pulitzer Prize 2003 untuk Kategori Fiksi’. 

Kalau penghargaan itu menilai novel ini sangat menarik, menggugah, dan dipaparkan dengan alur yang mengesankan, berarti gue yang enggak ngerti.

Novel ini kayak persilangan antara Without Remorse-nya Tom Clancy dan Ibuk karya Iwan Setyawan. Enggak abis-abis menceritakan kisah hidup tiga generasi yang diselingi perilaku terlarang dan jalan hidup yang kontroversial. Deskripsinya detail mengarah ke membosankan. Banyak referensi-referensi yang Amerika banget, atau Turki vs Yunani banget, jadi bikin agak tersesat.

Yang bikin tetap bertahan baca adalah rasa penasaran terhadap apa yang terjadi dengan si narator.

Lainnya yang menarik, si penutur (yang berarti gaya penulisnya) bercerita dengan pandangan ringan, positif, disertai bumbu sarkasme dan humor. Padahal yang diceritakan banyak tragedi. Plus, Indonesia dan batik disebut. (***)

3. Pandemi Gengsi. Marga T. E book iJakarta. 351 halaman.

Kumpulan cerpen yang lumayan untuk bacaan ringan. Disajikan dengan satire menyoal perilaku dan layanan publik era 70-an dan 80-an. 
Era ketika merokok di ruangan kerja itu biasa. Bikin bersyukur enggak dilahirkan lebih cepat. 

Menyentil gaya hidup penuh gengsi yang masih relevan untuk masa sekarang.

Yang bikin ketawa cuma cerita tentang sekumpulan dokter di poliklinik yang beradu kepandaian. Lainnya bikin senyum-senyum saja. Cerita berjudul Bingo oh Bingo juga bagus. (***)

4. The Haunted Bookshop. Christopher Morley. 33, 30, 26, 25, 13, 28, 22, 20, 17, 13, 22, 17, 21, 26, 22. Ebook. iJakarta.

Deretan angka itu adalah jumlah halaman per bab. Tiap mulai satu bab, angka halaman kembali ke 1. 

Jangan menilai buku dari judulnya. Buku ini menyesatkan, dikira cerita horor, ternyata kisah detektif.

Untuk yang enggak sabar dengan alur ceritanya, buku ini membosankan. Dalam satu bab bisa isinya nyaris monolog ngomongin segunung buku dan pengarang-pengarangnya yang gue sama sekali ga kenal (ga tau juga ada beneran atau enggak) kecuali Shakespeare dan Dickens. Maklum buta sastra. 

Tapi ketika sudah masuk misterinya, berubah seru. Dan itu baru ketemu setelah lewat setengah buku. Enggak ketebak akhir misterinya. Bener-bener butuh penjelasan di akhir. (****)

Advertisements